Review:

Film ini mengisahkan beberapa remaja (Slo, Betha dan Silvany) yang mengerjakan tugas di rumah Donny. Tak ada seorangpun yang menyadari perubahan sikap Donny yang tidak seperti biasanya. Saat mereka akhirnya menyadari ada sesuatu yang tidak beres, satu demi satu mereka meninggalkan tempat itu. Slo, yang pulang belakangan digambarkan menjadi korban di akhir cerita. Demikian pula Suci, di lokasi terpisah harus menjadi korban, sementara Betha dan Silvany yang pulang lebih dulu kelihatannya selamat.

Film ini bertema thriller/horror, dan sebagaimana kebanyakan film horror lainnya, setting film hanya seputar apartemen Donny. Sepanjang film sengaja dibuat hitam putih, mungkin untuk memberikan efek horror yang lebih terasa. Kemudian, pemilihan judul “MINUM DULUAN” kelihatan kurang relevan dengan jalan cerita secara keseluruhan. Memang sempat ditonjolkan adegan Donny membuat sirup dan permintaan Slo yang minta tambah minum, namun sebenarnya tidak ada kaitannya dengan keadaan Donny yang saat itu sebenarnya sudah meninggal. Akting para pemain cukup bagus, hanya ada beberapa yang kurang, yaitu pada saat membaca SMS dari Suci, seharusnya efek kaget dan ketakutan bisa ditampakkan (mungkin terjatuh dari kursi atau adegan lainnya), sedangkan yang divisualisasikan adalah Betha dan Silvany yang langsung pergi. Beberapa adegan detail sudah dimunculkan, seperti Betha yang gelisah menunggu teman-temannya maupun close up jam dinding. Di akhir film, Slo tampil dengan cukup bagus dan mewakili orang yang ketakutan, meskipun di wajahnya masih belum kelihatan. Donny sendiri tampil dengan bagus, walaupun sebenarnya perubahan suara dengan efek pitch malah membuat suaranya menjadi janggal, dimana hal ini sebenarnya bisa direspon oleh teman-temannya dengan dialog “Kamu nggak apa2 ta Don?” atau “Don, suaramu kok jadi gini? Kamu sakit ya?” Namun secara keseluruhan, film ini dapat membawa penonton untuk kaget, ditambah dengan ending yang cukup mengejutkan, walaupun ide ceritanya sebenarnya sederhana.

Tags: , ,