Mungkin tidak banyak anak2 sekarang yang tahu akan sepeda jengki. Pada awalnya saya juga tidak tahu sepeda jengki itu seperti apa. Ketika saya masuk SMP, yang lokasinya cukup jauh dari rumah saya, saya biasanya mengendarai sepeda BMX bareng2 sama beberapa teman. Namun ketika sepda BMX itu sudah tidak bisa dinaiki lagi, ayah saya mengusulkan kepada saya untuk beli sepeda jengki saja. Katanya enak, kuat dan tahan lama. Saya yang waktu itu masih tidak tahu apa-apa, hanya ho-oh saja saat pada satu hari ayah saya mengajak saya pergi ke Pasar Turi untuk membeli sepeda jengki yang menurut beliau, sepeda yang luar biasa.

Setelah mencari di beberapa toko, ternyata sepeda jengki ini sangat sulit ditemukan. Yang ada malah sepeda balap dengan bentuk dan model yang bermacam2, yang saya tahu diluar budget kami saat itu. Sedangkan untuk membeli sepeda model BMX lagi, kok kayaknya sudah tidak cocok untuk dinaiki anak seusia saya waktu itu. Akhirnya pada toko ketiga, ayah saya sempat melihat satu sepeda jengki yang ditaruh di pojok, tertimpa sepeda2 lainnya.

Astaga… saya hanya melongo saja ketika tahu bentuk sepeda jengki. “Kok kayak punya Pak Tamin, bakul tahu campur yang tinggal di sebelah rumah kami?” batin saya, namun saya tidak bisa menolak pemberian ayah saya, melihat beliau yang begitu gembira menemukan sepeda jengki yang akan diberikan buat anaknya. Saya jadi teringat, setiap hari Pak Tamin selalu menuntun sepeda jengkinya yang berwarna hitam, dengan keranjang yang dijepit di boncengannya untuk belanjaannya dari pasar. Dan setiap lewat depan rumah saya, sepeda itu selalu berderit2 dan membuat kuping saya kadang2 terasa geli. Eh… tidak tahunya saya akan memiliki sepeda model seperti ini… Wew.

Tapi untuk menyenangkan ayah saya, saya terima saja pemberian beliau, dan segera setelah selesai membayar, kami pulang ke rumah. Sepeda jengki yang kami beli itu hampir sama dengan milik Pak Tamin, cuma punya Pak Tamin warnanya hitam dan keliatan sudah usang, sedangkan sepeda jengki yang baru kami beli berwarna hijau dan keliatannya cukup gagah (untuk ukuran angkatan 60-70an tentunya)

Menurut ayah saya, kalau beli sepeda tidak perlu yang model2 karena pasti tidak tahan lama. “Beli saja sepeda jengki… Lebih kuat dan tahan lama…” beliau bolak-balik menekankan hal yang sama. Dan reaksi awal dari teman2 saya di kampung, diluar dugaan juga bahwa semuanya cukup terpesona melihat sepeda jengki saya, karena saya pikir mereka mungkin akan menertawai saya. Tapi bisa saja, karena mungkin sebagian besar dari mereka tidak ada yang bisa mengganti sepeda usangnya. Saya memang patut bersyukur sekalipun kami hanya bisa membeli sepeda jengki, tapi itu anugerah yang luar biasa, jika saya melihat teman2 sekampung saya yang bahkan ada yang harus berjalan kaki ke sekolah karena tidak mampu membeli sepeda.

Hari pertama, mengendarai sepeda jengki, saya merasa canggung, karena sepeda ini sebenarnya tidak didesain untuk anak remaja seusia saya. Dan reaksi teman2 di sekolah membenarkan dugaan saya sebelumnya, karena kebanyakan dari mereka menertawai sepeda yang saya miliki, ada yang mengatakan kalau saya mengendarai sepeda kebo dan macam2 lagi. Saya tidak terlalu peduli dengan semuanya itu, walaupun sempat juga merasa minder dengan sepeda teman2 yang kebanyakan sepeda balap (waktu itu lagi musim2nya sepeda balap)

beruntunglah setelah beberapa lama, ejekan dari teman2 mulai mereda, namun saya menghadapi masalah baru dengan sepeda jengki saya (yang katanya ayah saya awet dan tahan lama … wew). masalah yang pertama muncul adalah ban sepeda jengki yang terlalu kecil, ternyata sering sekali gembos dan bahkan gampang bocor, jadi saya harus sering2 masuk bengkel hanya untuk menambah angin ataupun menambal ban yang bocor. Seolah belum selesai penderitaan saya, pada satu ketika saya bersepeda cukup jauh dengan beberapa teman saya, di daerah Delta Plaza, dan saat melintas di depan Delta, pedal sepeda saya tahu2 mrotol seperti keripik. Astaga… apa-apaan ini. Pada saat itu saya sempat merasa dongkol sama ayah saya.

“Tahan lama apanya?” batin saya. Dan teman2 spontan menertawai sepeda saya, bahkan semuanya tertawa terpingkal2 melihat saya yang hanya mengayuh sepeda dengan satu kaki, karena otomatis pedal satunya sudah tidak bisa dipakai. Ketika sampai di rumah saya langsung melaporkan kejadian itu pada orang tua saya, dan apa yang dilakukan ayah saya hanyalah mengganti pedal yang lepas. padahal waktu itu saya sempat mengira, sepeda jengki ini akan dijual dan dibelikan sepeda baru yang lebih sesuai dengan anak seusia saya. Perasaan dongkol dan uring2an saat itu bercampur menjadi satu dan hal itu membuat saya semakin tidak merawat sepeda jengki yang saya miliki, karena kekesalan saya, saya tumpahkan ke sepeda jengki.

Namun, lambat laun, saya mulai menyukai sepeda jengki saya, dan rasa kesal dan dongkol yang pernah ada pada saat awal2 saya memiliki sepeda jengki sudah tidak ada lagi. Sepeda jengki saya menjadi teman setia saya yang mengantarkan saya pulang pergi ke sekolah. Akhirnya saya menggunakan sepeda jengki selama kurang lebih dua tahun sampai saya lulus SMP. Kalau saat ini sepeda jengki itu masih ada, tentunya sudah dimasukkan museum ya.

4 Comments on Sepeda Jengki

  1. Lani says:

    Whaaaaa msh ada kah sepeda jengkinya?? Warisno anakmu wang :))

  2. bunga says:

    manteb tenan mas