Chapter 3

I returned to my room after a nice dinner.

Dark.

Apparently Tobias was gone.

I lay back on the bed. Half grateful, this bed becomes completely mine anymore. After what had happened some time ago, when I was divided into two personalities, I had to give up half of my bed to the other Rachel. Really nightmare.

But luckily all that has passed.

Suddenly the phone rang. Not long after that, Jordan shouted.

“Hey Rachel. For you!”

“From whom?” I replied.

“Jake.”

I jumped from my bed and rushed receive calls. Jake is my cousin. He’s tall and stocky. He also was the leader of the Animorphs.

“Hey Jake …” I said.

“Hey Rachel. Mmmm … I’ve got some tasty snacks. Yesterday my brother came from India, and he brought lots of these. Perhaps you could come to my house tomorrow. I assure you’d like.”

“Okay Jake, I’m definitely coming., You know I most liked that kind of snack. Until tomorrow. Bye …”

“Bye …”

Telephone connection disconnected. We did not ever talk frankly if by phone. We worried that our telephone tapped. Anyway, Tom, Jake’s brother is the controller. So if we would hold a meeting, we usually use some sort of code language to disguise the actual conversation.

I went back to my room. The rain still fell. I walked to the window and saw the state of the road in front of my house. The streets are very quiet. Occasional dark streets it looks bright, as lightning followed by the sound of thunder.

I lay my body back on the bed. Not long after that, I was asleep.

I do not know how long I was asleep, when I heard a voice calling me.

<Rachel … Rachel …!>

I sat down on the bed. I’m still regain my conscious when I realize that it is a language-mind!

“Tobias? Is that you?” I said in the dark.

<Not. I’m not Tobias. I’m also not your other friend.>

I got out of bed and looked around my room.

“Who are you?” I asked.

Ellimist then?

As if reading my mind, a voice was heard again,

<I’m also not Ellimist. Listen, Rachel. You may consider me a part of you. I’m just like you. I … can also morph.>

I was flabbergasted. Stood my ground. But, how could it? After the unpleasant incident with David, we’ve made ​​sure no one could touch the blue box again. We’ve decided, no other Animorphs again.

<I know it sounds absurd. You’ve sealed blue box, right? The explanation is long. I just want to say, if tomorrow Jake invite you all to do the mission, do not go. Because it’s the trap of Visser Three.>

“What, How did you know?”

<I can not explain it now. Trust me and all of you will avoid the trap Visser Three.>

“Where are you now?”

<I was right next to you.>

I looked down. A cockroach.

<Okay. I’m going to go. I just want to say this once again. How interesting the mission later, and how much you wanted to beat the Yeerks, for this time DO NOT GO! Do you understand?>

“I do not know … I mean, I do not know you. And if it’ a trap, usually we always managed to escape.”

<You do not understand her. This time is different … Just do not go, okay?>

“Wait a minute. Did you … a human?”

There was a pause.

<Yeah, I’m human. I am a girl like you.>

“Then you can demorph and maybe we can chat together in the flesh. Would not it be more comfortable?”

<Yeah, I actually want to do it. But for the moment I can not. Maybe later when it was time.>

I’m getting irritated.

“Why will not you reveal your true form? If you’re human, I ask you to demorph now. What are you doing sneaking in my room in the middle of the night as cockroaches and brought news that does not make sense to me?”

Without realizing it, I had half a shout.

Silence.

“HEYYY … I’M TALKING TO YOU !!!”

I throw a pillow on the floor, I was so annoyed. Apparently she’s gone. Why all of a sudden there are other people who can morph? I sat on my bed, bending my knees and buried my face in there. My brain was busy thinking. It seems she knows all about us, I mean Animorphs. What if she’s the enemy? Do we have to experience the same event when we had to knock out David?

===

Bab 3

Aku kembali ke kamarku setelah makan malam yang menyenangkan.

Gelap.

Rupanya Tobias sudah pergi.

Aku membaringkan tubuhku di atas pembaringan. Setengah bersyukur, tempat tidur ini menjadi sepenuhnya milikku lagi. Setelah apa yang kualami beberapa waktu yang lalu, ketika aku terbagi menjadi dua kepribadian, aku harus merelakan setengah dari pembaringanku untuk Rachel yang satu lagi. Benar-benar mimpi buruk.

Tapi untunglah semua itu sudah berlalu.

Mendadak telepon berdering. Tak berapa lama terdengar teriakan Jordan.

“Hei Rachel. Telepon untukmu!”

“Dari siapa?” balasku.

“Jake.”

Aku melompat dari tempat tidurku dan bergegas menerima telepon. Jake adalah sepupuku yang berbadan jangkung dan kekar. Dia juga adalah pemimpin Animorphs.

“Hei Jake…” kataku.

“Hei Rachel. Mmmm… Aku punya beberapa kudapan enak. Saudaraku dari India kemarin datang, dan dia bawa oleh-oleh banyak sekali. Mungkin kau bisa datang ke rumahku besok. Aku jamin kau pasti suka.”

“Okay Jake, aku pasti datang. Kau kan tahu aku paling suka kudapan semacam itu. Sampai besok. Bye…”

“Bye…”

Sambungan telepon diputuskan. Kami memang tidak pernah ngomong terus terang jika lewat telepon. Kami kuatir, telepon kami disadap. Lagian, Tom, kakak Jake adalah Pengendali. Jadi kalau kami akan mengadakan pertemuan, biasanya kami menggunakan semacam bahasa sandi untuk menyamarkan pembicaraan yang sebenarnya.

Aku kembali ke kamarku. Hujan masih saja turun. Aku berjalan ke arah jendela dan melihat keadaan jalan di depan rumahku. Jalanan sangat sepi. Sesekali jalanan yang gelap itu tampak terang, saat kilat menyambar dan diikuti dengan suara guntur yang menggelegar.

Aku kembali merebahkan tubuhku di atas tempat tidur. Tidak berapa lama aku tertidur.

Entah sudah berapa lama aku terlena, saat aku mendengar ada suara memangggilku.

<Rachel… Rachel…!>

Aku duduk di atas tempat tidur. Setengah sadar aku baru memahami kalau itu adalah bahasa-pikiran!

“Tobias? Kaukah itu?” aku berkata di dalam gelap.

<Bukan. Aku bukan Tobias. Aku juga bukan teman-temanmu yang lain.>

Aku bangkit dari tempat tidur dan memandang ke sekeliling kamarku.

“Siapa kau?” tanyaku.

Ellimist kah?

Seolah bisa membaca pikiranku, suara itu terdengar lagi,

<Aku juga bukan Ellimist. Dengar, Rachel. Kau boleh anggap aku bagian dari dirimu. Aku sama sepertimu. Aku… juga bisa morf.>

Aku terperangah. Berdiri mematung di tempatku. Tapi, itu mana mungkin? Setelah kejadian yang tidak mengenakkan bersama David, kami sudah memastikan tidak ada yang bisa menyentuh kotak biru itu lagi. Kami sudah memutuskan, tidak ada Animorphs yang lain lagi.

<Aku tahu kedengarannya tidak masuk akal. Kalian sudah menyegel kotak biru itu, kan? Penjelasannya panjang. Aku hanya mau bilang, jika besok Jake mengajak kalian semua untuk melakukan misi, jangan pergi. Soalnya itu jebakan dari Visser Three.>

“Apa? Darimana kau bisa tahu?”

<Aku belum bisa menjelaskannya sekarang. Percayalah padaku dan kalian semua akan terhindar dari jebakan Visser Three.>

“Dimana kau sekarang?”

<Aku ada tepat di bawahmu.>

Aku melihat ke bawah. Seekor kecoa.

<Okay. Aku akan pergi. Aku hanya mau mengatakan ini sekali lagi. Seberapa menariknya misi itu nanti, dan seberapa inginnya kau menghajar Yeerk, untuk kali ini JANGAN PERGI! Kau mengerti?>

“Aku tidak tahu… Maksudku, aku tidak mengenalmu. Dan kalaupun jebakan, biasanya kami selalu bisa meloloskan diri.”

<Kau tidak mengerti Rachel. Kali ini berbeda… Pokoknya jangan pergi, okay?>

“Tunggu dulu. Apa kau … manusia?”

Hening sejenak.

<Yeah, aku manusia. Aku cewek seperti kau.>

“Kalau begitu kau bisa demorf dan mungkin kita bisa ngobrol bersama dalam wujud manusia. Bukankah itu lebih nyaman?”

<Yeah, aku sebenarnya ingin melakukan itu. Tapi untuk saat ini aku belum bisa. Mungkin nanti jika tiba waktunya.>

Aku mulai jengkel.

“Kenapa kau tidak mau menampakkan wujud aslimu? Kalau kau memang manusia, aku minta kau demorf sekarang. Apa yang kau lakukan mengendap-endap di kamarku tengah malam dalam morf kecoa dan membawa berita yang bagiku tidak masuk akal?”

Tanpa sadar, aku sudah setengah berteriak.

Hening.

“HEIII… AKU BICARA DENGANMU!!!”

Aku melempar bantalku ke lantai saking jengkelnya. Kelihatannya dia sudah pergi. Mengapa tiba-tiba ada orang lain yang bisa morf? Aku duduk di atas tempat tidurku, menekuk kedua lututku dan membenamkan wajahku disana. Otakku sibuk berpikir. Tampaknya dia tahu semua tentang kami, maksudku Animorphs. Bagaimana jika dia musuh? Apakah kami harus mengalami kejadian yang sama saat kami terpaksa harus melumpuhkan David dulu?

Tags: , ,