Ketika saya masih berusia 9 atau 10 tahun, saya pernah kepingin banget jadi tukang sulap, yang istilah kerennya saat ini adalah the magician atau the illutionist atau banyak lagi deh. Maraknya reality show tentang magic atau sulap mengingatkan saya pada beberapa tahun yang lalu, dimana saat pertama kali saya menonton pertunjukan sulap secara live dan jujur saja pertunjukan itu benar-benar memukau anak seusia saya pada saat itu.

Adalah seorang teman ORARI ayah saya, yang ternyata juga seorang tukang sulap. Bahkan dia mengadakan pertunjukan sulap keliling bersama istrinya. Melihat kenyataan ini, saya langsung memohon kepada ayah saya untuk diperkenalkan dengan temannya ini. “Sapa tahu bisa belajar sulapan” batin saya pada saat itu. Jadilah pada satu hari yang cerah, saya diantar oleh ayah saya untuk menemui temannya yang tukang sulap ini. Untunglah, bapak pesulap ini ternyata tidak pelit dalam membagikan ilmunya dan bahkan dia cukup senang dengan minat saya terhadap sulap yang begitu besar.

Saya masih ingat bagaimana dia masuk ke dalam kamar dan membawa sebuah kotak yang terbuat dari kaca. Lalu saya disuruh menyobek kertas kecil dan dimasukkan ke dalam kotak kaca tersebut, kemudian kotak itu ditutupnya dengan kain, dan dengan sedikit kata2 magic, ketika dibuka, ada uang sepuluh ribu gambar kartini di dalamnya… wow! uang sepuluh ribu pada masa itu adalah pecahan uang tertinggi. Saya sampai terbengong-bengong memikirkan rahasianya, yang untungnya langsung diajarkan pada saat itu juga. Dan bapak pesulap itu juga mengatakan, sulap kalau dibalik: palsu! artinya semua pertunjukan sulap pada dasarnya hanyalah kepalsuan dan kebohongan semata. Selanjutnya, dia juga memeragakan beberapa alat sulap miliknya dan sekaligus mengajarkan semua triknya kepada saya.

Awalnya saya merasa cukup antusias. Namun setelah mengetahui trik dan rahasianya, saya merasa pertunjukannya menjadi kurang menarik lagi. Memang benar juga apa yang dikatakan orang: “A Great Magician who made a mistake to reveal his secret either in purpose or not, his magic show will no longer considered as magic”

Namun yang terjadi selanjutnya adalah saya diajak pentas bareng pada acara copy darat ORARI beberapa bulan setelah kejadian tersebut. Awalnya saya menolak karena merasa kurang pede dan kebetulan, teman saya Amir juga ikut karena diajak sama ayah saya. Si Amir yang mengetahui bahwa saya akan mengadakan pertunjukan sulap, tampak sangat penasaran dengan alat-alat sulap yang sementara itu sudah ada di rumah saya. Beberapa kali dia ingin mengorek rahasia dari alat2 tersebut, namun selalu bisa saya tolak dengan halus. Namun sempat pula dia memergoki saya yang tengah membeli sebungkus besar permen yang saya persiapkan untuk pertunjukan sulap.

Ketika tiba harinya, saya berangkat bersama ayah dan teman2nya dengan naik mobil langsung ke daerah Batu. Disitu kami menginap semalam sebelum keesokan harinya berangkat ke tempat tujuan. Pertunjukan sulap pun berjalan dengan lancar. Dan saya bersyukur untuk sulap makan kertas dan sulap tebak bendera dengan mata tertutup tidak jadi kami lakukan karena saya sendiri kurang begitu menguasai triknya. Ketika pada pertunjukan terakhir, kami mengeluarkan sejumlah besar permen dari kotak sulap, si Amir langsung mengenali permen2 itu, yakni permen yang pernah saya beli dan kebetulan dipergoki sama dia. Tapi bagaimanapun dia masih merasa penasaran dan sampai beberapa bulan berikutnya dia tetap tidak berhasil mengetahui trik sulap tersebur sampai akhirnya saya ceritakan juga sama dia karena melihat dia begitu penasaran.