Adanya istilah DEWA2an yang belakangan ini merebak di group (padahal masih rehat) menggelitik penulis untuk menuangkan sedikit suaranya pada artikel kali ini. Setelah begitu banyak karakteristik Dewa sudah penulis tuangkan dalam artikel yang lalu, penulis pun sepenuhnya menyadari bahwa istilah Dewa yang dimaksud di dalam arena 225 maupun 226 BUKANLAH istilah Dewa yang mengacu pada kegiatan penjarian pada umunnya.

Seorang player DotA yang bernickname X Arm, beberapa saat yang lalu memberikan definisi Dewa yang menurut penulis sangat mendekati kebenaran untuk Dewa yang ada di lingkungan 225. Demikian definisinya:

DEWA adalah player yang senantiasa menjadi target dan ditutuki beramai-ramai.

(jadi jelaslah DEWA di 225/226 BUKANLAH player yang mempunyai skill melebihi teman2nya)

Ketika seseorang sudah mendeklarasikan dirinya sebagai DEWA, maka dirinya harus siap untuk mengalami hal2 sebagai berikut: (tentu saja hal ini HANYA berlaku di arena 225)

1. Diharuskan untuk memilih hero/gacoannya terlebih dahulu! Selalu ada player yang mengatakan “AYO DEWO MILIH SEK!!!” dan player yang mengucapkan hal itu sebenarnya orangnya sama dan itu2 saja, namun tidaklah etis apabila disini penulis menyebutkan sebuah nama. Nah, jika “DEWA” ini sudah memilih gacoannya duluan, maka player yang disebut diatas akan dengan gampangnya mengambil hero yang menjadi weakness dari hero yang sudah dipilih DEWA tersebut.

2. Menjadi target sejak awal. Dengan mengusung slogan “KEKUATAN RAKYAT” musuh2 DEWA ini akan mentarget DEWA sejak awal sehingga dirinya tidak diberikan kesempatan untuk mengembangkan level maupun duitnya karena selalu dihajar beramai2! (Nasibmu WOOO…)

3. Gak boleh LEAVER!!! Saat player lainnya dengan ENTENGnya bisa leave saat posisi sudah tidak menguntungkan ataupun saat mengalami pemelokotoan, ataupun yang lebih parah lagi, leave sejak awal game, saat komposisi pemain dinilai merugikan dirinya. Dan anehnya hal ini SERING terjadi dan dilakukan oleh pemain yang juga itu2 saja, yang sekali lagi namanya tidak penulis sebut disini karena alasan etika.

4. Harus siap KALAH tersu-menerus. Dengan kekuatan rakyat dan juga disuruh milih duluan, membuat “DEWA” di lingkungan 225 mempunyai peluang yang sangat tipis untuk menang. Apalagi sepanjang permainan, musuh2 DEWA HAMPIR SELALU bersama2 dan HAMPIR SELALU menggunakan hero yang itu2 saja, yang ditengarai penulis sebagai hero cekelane sejak bayek.

5. Mengalami tekanan MENTAL yang luar biasa. Hampir sepanjang permainan, musuh2 DEWA selalu menggunakan moncol2 lambenya untuk menekan “DEWA”

Jika melihat beberapa hal yang dialami DEWA diatas, maka pantaslah apabila DEWA di lingkungan 225/226 tidaklah disegani sebagaimana dewa2 lainnya yang ada diluar, melainkan menjadi object pemelokotan habis2an oleh musuh2nya. Dan menurut pantauan penulis, adalah hal yang sangat aneh, apabila ada seorang player di 225, demi mendapatkan kemenangan terus-menerus, berusaha memasangkan titel DEWA secara sepihak kepada salah seorang player yang lain. Bagi penulis sendiri, hanya ada satu orang yang MAU menerima gelar DEWA, sekalipun Dewa Babel pun menerima Dewanya dengan enggan. Dan orang itu adalah Dirty Dewa Syu yang kebetulan yang bersangkutan saat ini sudah tidak ngglibet lagi di arena 225.

Namun istilah DEWA2an ini alangkan herannya masih tetap berlanjut pasca absennya Dirty Dewa Syu. Sebut saja Dewa Babel, yang karena titel DEWAnya, dia selalu dipasangkan dengan AI ataupun player yang masih rookie, yang tentunya mengakibatkan kekalahan telak yang beruntun bagi Dewa Babel dan bahkan sempat membuat Dewa Babel agak enggan melangkahkan kakinya ke arena 225 akibat perbuatan salah seorang player yang mendiskreditkan Babel dengan istilah Dewa2annya.

Jadi kalau sudah seperti ini, siapakah yang patut bertanggung jawab???

Istilah DEWA yang digunakan, menurut pantauan penulis, justru membuat ketidakseimbangan permainan dan permainan menjadi kurang seru dengan adanya pihak2 yang DIPAKSA menjadi DEWA. Bagi penulis sendiri, yang kebetulan juga adalah salah satu player yang berlaga, penulis enggan terlibat dalam Dewa2an, karena hal ini akan menghapus unsur -fun yang ada di kegiatan penjarian itu sendiri, dan hal sekecil apapun yang sempat dikoar2kan oleh salah seorang player di group ini maupun di situs jejaring sosial yang lain, ttg pemaksaan titel DEWA terhadap penulis, sebaiknya tidak dilanjutkan karena seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, permainan akan menjadi kurang seru. Lain halnya apabila ada player yang dengan lantang menyatakan dirinya sebagai DEWA BACOT sebagaimana yang sudah dilakukan oleh Dirty Dewa Syu, yang mana, walaupun dengan kekuatan rakyatpun, masih sangat sulit mengalahkan seorang Syu.

Semoga, di tahun depan tidak ada lagi penyalahgunaan Dewa2 ini, sehingga semua player dapat bertanding secara sehat dan akhirnya sebagai penutup, penulis mengutip perkataan dari seorang Dave Horman: “It’s just a GAME man…!!!”

===