Sebuah judul yang cukup panjang yang menggambarkan kondisi Dewa Babel pada sore hari ini, dimana dia merasa lemas dan loyo setelah dua hero gacoannya dipelokoto pada pertandingan dua babak yang berlangsung dengan tim yang sama.

Jadi memang di DotA, tidak ada yang namanya Ultimate Hero. Semua Hero mempunyai kelebihan dan kekurangan masing2. Mengandalkan pada satu hero untuk dipakai secara terus menerus, kemungkinan di pihak musuh akan mencermati perilaku hero tersebut dan buru2 memikirkan strategi yang jitu untuk membuat antinya.

Kentara sekali seusai pertandingan, Dewa Babel yang paling utama, tampak cukup kecewa dengan permainan Juragan, yang entah karena apa, tampaknya Juragan tidak bermain secara maksimal pada pertandingan kali ini. Mantra2 NGALOP yang sempat dilontarkan Dewa Babel pada pertandingan kedua (walaupun dia Guru Reacter) untuk menetralisir mantra iMboh yang terkenal manjur itu, tampaknya masih kurang sakti jika dibandingkan dengan keSAKLEKan Juragan.

Sementara itu Dirty Dewa Syu tidak kelihatan batang hidungnya pada sore hari ini, setelah kemarin dikalahkan dengan telak oleh Serenade dan iMboh. Tampaknya walaupun skill permainannya sudah selevel Dewa, namun tetap saja tidak bisa mengalahkan team worknya Serenade dan iMboh. Namun keabsenan Dirty Dewa Syu menyebabkan permainan menjadi cukup imbang.

Sebelum saya mulai menulis review ini, ada baiknya saya tekankan kepada Dewa Babel, bahwasanya Babel masih layak menyandang gelar Dewa, dan keinginan untuk pensiun dari DotA adalah salah satu pemikiran yang kurang dewasa dari tokoh sepopuler Babel. Ingatlah bahwa DotA hanya permainan, dan yang namanya permainan selalu ada yang menang dan yang kalah. Jika hari ini Dewa Babel ketiban sampur yang kalah, maka seyogyanya hal itu diterima dengan lapang dada, untuk selanjutnya bisa kembali muncul sebagai pemenang dan memelokoto musuh2nya. Sementara Juragan sebagai murid dari Dewa Babel, seyogyanya mensupport Dewanya (Gurunya) secara habis2an agar tidak terjadi hal2 yang tidak memancing kemurungan dan keloyoan. Sementara itu, untuk Muzifreak yang kebetulan edisi kali ini join, hendaklah engkau menjadi jembatan antara Dewa Babel dan Juragan agar permainan kalian bisa menjadi lebih cantik lagi di edisi2 selanjutnya. Selamat menikmati review kali ini dan… No Offense Please!!! 🙂

PERTANDINGAN PERTAMA
================

SENTINEL
Dewa Babel: Slythice, Naga Sirens
Juragan: Bradwarden, Centaur Warchief
Muzifreak: Legion Commander
— vs —
SCOURGE
YooHoo: Jah’rakal, Troll Warlord
iMboh: Axe, Mogul Kahn
Serenade: Lich King

Lama Permainan: 35 menit

Mode Permainan: -apsp

Setelah dishuffle player, didapatilah komposisi hero seperti tersebut diatas. Jah’rakal mengambil lane bawah berhadapan dengan Legion Commander, sementara iMboh di lane atas melawan Dewa Babel dengan Naga Sirennya, dan Juragan berhadapan dengan Lich King yang dijalankan oleh Serenade.

Pemilihan hero Legion Commander oleh Muzifreak dinilai oleh Dewa Babel sebagai tindakan yang cukup gegabah, mengingat Muzi baru saja menggunakan hero ini, yang walaupun menurut YooHoo sendiri, Muzi cukup mahir menggunakannya. Jah’rakal cukup mampu memelokoto Legion Commander pada level2 awal dengan rangenya. Sementara itu, Axe pun tidak ada kesulitan dalam memelokoto Naga Sirens di lane atas. Serenade yang ada di lane tengah malah berhasil membunuh Juragan dengan Lich Kingnya. Dengan kode dari YooHoo, Serenade pun sempat mondar-mandir di sepanjang sungai dalam rangka mencari relic.

Ketika Serenade mendapatkan relic Illusion, maka dia langsung bergerak menuju lane bawah untuk membokong Muzi yang saat itu dalam upaya melarikan diri dari kejaran Jah’rakal. Walhasil, Muzi berhasil dibunuh, karena ulti duelnya yang mestinya sangat sakit itu, malah digunakan pada salah satu ilusi Lich, sehingga saat ilusi selesai, yang ada tinggal pemelokotoan terhadap Legion Commander. Serenade sendiri tampak sangat puas setelah melihat taktik tipuannya berhasil.

Jah’rakal yang masih level 9, langsung meminta ijin kepada teman2nya untuk mengambil Aegis dari Roshan. Dan akibat perbuatan yang tergolong cukup nekat itu, tower lane bawah milik Scourge berhasil dihancurkan oleh Naga Siren sendirian. Namun kekalahan itu ditebus oleh Jah’rakal dengan mengantongi Aegis, serta level upnya bisa naik dua level langsung!!!

Beberapa battle sempat terjadi, yaitu posisi Muzi dan Juragan yang hanya berdua di hutan, dimanfaatkan dengan sangat baik oleh Serenade yang mengcast Chain Frostnya sehingga dia mampu mendapatkan double kill. Posisi awal sampai tengah permainan, Sentinel unggul tower dan Dewa Babel yang sangat terkenal dengan permainan solo toweringnya, selalu seolah2 mampu muncul di lane yang berbeda dan terus2an memelokoto tower2 Scourge.

Melihat hal ini, mau tidak mau membuat YooHoo dan kedua temannya geram juga. Apalagi sempat terjadi beberapa kali pada saat battle, dan sudah yakin menang, namun Siren mengcast Songnya dan berjalan dengan enak diantara musuh2nya yang tertidur. Maka dari itu, YooHoo segera mengkode teman2nya untuk langsung menghajar lane tengah terlebih dahulu. Dengan Jah’rakal yang mempunyai Aegis, dia berada di garis depan musuhnya dan bahkan behind the enemy lines, bersama iMboh. Item Battle Fury dan Buriza yang dimiliki Jah’rakal tak pelak sempat membuat keder musuh2nya.

Juragan yang memang tidak mempunyai apa2 juga tidak luput dari pemelokotoan tim Scourge. Bahkan dengan Blade Mail aktif pun, masih bisa ditutuki oleh YooHoo dan kedua temannya, tanpa merasakan return damage yang berarti. Tanpa menunda2 waktu lebih lama lagi, YooHoo dan kedua temannya langsung fokus pada dua tower terakhir untuk mengakhiri penderitaan Dewa Babel dan teman2nya. Setelah permainan usai, berkat abab panas iMboh, langsung disambung dengan edisi yang kedua, yang masih melibatkan pemain2 yang sama.

PERTANDINGAN KEDUA
================

SENTINEL
YooHoo: Raijin, Storm Spirit
iMboh: Axe, Mogul Kahn
Serenade: Rooftrelen, Treant Protector
— vs —
SCOURGE
Dewa Babel: Meepo, Geomancer
Muzifreak: Balanar, Night Stalker
Juragan: Slark, Murloc Nightcrawler
Lama Permainan: 38 menit

Mode Permainan: -ap

Pemilihan Meepo sebagai gacoan Dewa Babel, sempat membuat ciut nyali tim YooHoo, apalagi Serenade yang menyesali pilihannya, mengapa ia tidak menggunakan Rikimaru saja untuk meredam keberingasan Dewa Babel. Namun iMboh langsung mengeluarkan mantranya yang sangat tersohor itu, walaupun mesti dipancing2 dulu oleh YooHoo.
“Lek kalah gak popo yo rek…”
“Nothing to lose, lek iki menang maneh berarti miracle…”
Diluar dugaan, ternyata Sang Dewa Babel pun menggunakan trik yang sama, yaitu mengeluarkan ucapan2 yang NGALOP di awal pertandingan agar musuh lengah dan akibatnya dapat mencuri hasil pertandingan.

YooHoo langsung berhadapan dengan Meepo di lane bawah, sementara teman2nya menghadapi hero sisanya. Sejak awal, Raijin sudah dipandang sebelah mata oleh Sang Dewa, dan satu Meepo ternyata bisa ngepuff ke dirinya sendiri yang mampu mengahasilkan damage kepada musuh2nya. Jika dibandingkan dengan pertandingan pertama tadi, tampaknya pertandingan kedua lebih kacau keadaannya dan kelihatannya tidak ada koordinasi yang baik antar pemain2nya sehingga gampang dibaca.

Disupport oleh Treant, maka pemelokotoan terhadap Meepo pun dimulai. Skill ultinya Treant selalu digunakan untuk menjerat Meepo, yang disusul dengan kombinasi jurus Raijin dan diakhiri dengan pukulan Dagon. Tampaknya Meepo sendiri pun kebingungan untuk mentarget yang mana terlebih dahulu… wew.

Sementara itu Slark sendiri ternyata tidak mampu menjadi tumpuan harapan Dewa Babel, dimana Babel setengah berharap agar Slarnya menjadi Dewa Killer, namun dalam kenyataannya Slark malah dipelokoto habis2an oleh YooHoo bertiga. Dan sejak saat itu Slark menjadi pengamen di hutan2 karena hampir tidak pernah kelihatan lagi batang hidungnya. Himbauan Dewa Babel seringkali tidak dipedulikan oleh Juragan sehingga sempat membuat Dewa Babel agak jengah juga menghadapi Juragan. Sempat terjadi dialog yang kira2 sebagai berikut:
Babel: “Slark iku maju di depan tempatnya. Dia yang memulai War”
Juragan:”Opo ga salah?”
Babel: “Ayo wes maju…”
Juragan: “Yo wes aku maju iki” (Namun maju ke depan seperti setor nyawa, soalnya tidak ulti kabutnya tidak digunakan, sementara dipihak lawan, banyak hero2 disabler, seperti Axe, dengan Berserker Callnya dan Raijin dengan jiretnya, serta Treant juga menjiret secara area, sehingga semakin mudah untuk dipelokoto)

Semakin lama, tim Scourge semakin terdesak. Balanar sendiri juga tidak mampu menghasilkan pemelokotan yang cukup memuaskan, sehingga mengakibatkan semakin menjadi2nya Scourge dan semakin tertinggalnya tim Sentinel. Sementara itu saat terjadi battle, Dewa Babel sebagai target utama, langsung dipegangi oleh Raijin sementara teman2nya membantu menutuki. Dengan Dewa Babel menjadi sasaran utama, Slark dan Balanar mau tidak mau merasa kebingungan juga. YooHoo kembali mengkode teman2nya untuk membolongi Scourge, sehingga cukup terbantu dalam ngepush lane2 lainnya apabila satu lane creepnya sudah gede2.

Dagon yang dimiliki Raijin terbukti cukup efektif memelokoto musuh2nya, karena sudah digunakan berkali2 untuk melakukan instan kill terhadap beberapa hero, termasuk Meepo. Untung sekali, tim Sentinel cukup kompak dan Serenade sendiri sudah memiliki item Radiance yang mengakibatkan semakin sakitnya serangan2nya terhadap musuh2nya. Sama seperti pada permainan pertama, YooHoo cs langsung merangsek maju dan menghancurkan tower dan building serta Frozen Throne, tanpa menunggu apa2 lagi.

Analisa kekalahan Dewa Babel
==================

Saat battle masih kurang terkoordinasi
Terlalu mengandalkan kemampuan individu, sementara di tim lawan, hampir semuanya bercombo, terutama pada permain kedua
Memicu keSAKLEKan Juragan, yang diikuti dengan sikap NGAMBOL dan NGELEWES
Sebenarnya Balanar adalah hero antinya Raijin, namun hal ini tidak dapat dimanfaatkan secara baik oleh Muzifreak
Salah satu personel kebanyakan ngamen di hutan (besar kemungkinannya Juragan :))
Memicu emosi dari Sang Dewa sehingga permainan Sang Dewa menjadi agak kurang terkontrol dan tidak seperti biasanya
Cenderung Mendewakan hero2 tertentu sehingga mudah dibaca oleh tim lawannya
Sering salah timing dan kurang jeli mengenali lawan, apakah itu real hero atau cuma ilusinya saja

-fin