Cerita berikut ini saya ingat dari majalah Bobo tahun 80-an, namun saya lupa nama tokoh utamanya. Oleh karena itu saya beri nama saja dengan nama Pak Toha. Berikut ceritanya…

Pak Toha adalah seseorang yang kaya raya dan di usianya yang sudah separuh baya, dia tinggal di rumahnya yang besar seorang diri. Tabiat Pak Toha yang tidak pernah tersenyum dan menegur orang2 yang ada di sekelilingnya membuatnya hidup menyendiri dan bahkan tidak pernah berkomunikasi dengan tetangganya. Para tetangganya yang selalu melihat Pak Toha dengan wajah yang selalu merengut, cemberut dan tidak pernah tertawa, juga merasa segan untuk mulai menyapa. Mereka takut jangan2, Pak Toha nantinya malah tidak mengacuhkan teguran mereka.

Setiap pagi, Pak Toha selalu berjalan-jalan mengelilingi kampungnya dengan mengenakan topi. Dan setiap hari itu pula, tidak sedikitpun tersungging senyum di wajah pak Toha sehingga mereka yang melihat Pak Toha menjadi segan untuk menegurnya. Sementara dari sisi Pak Toha sendiri, dia sebenarnya merasa heran, mengapa orang2 disekelilingnya tidak pernah menegurnya tanpa menyadari bahwa sikapnya sendiri yang tidak pernah tersenyum yang menjadi penyebabnya. Padahal dia berharap setiap pagi dia bisa mendapatkan teman bicara saat dia berjalan-jalan pagi.

Pagi itu, Pak Toha terbangun dan rupanya listrik sedang padam, sehingga suasana gelap gulita. Seperti biasa Pak Toha bersiap-siap untuk berjalan-jalan. Karena suasana yang gelap, tanpa disadarinya bukan topi yang diambilnya melainkan kap lampu dengan hiasan rumbai-rumbai disekelilingnya. Berangkatlah dia dengan mengenakan kap lampu itu. Setiap Pak Toha berjalan, rumbai-rumbai di sekeliling topi itu selalu bergoyang-goyang memberikan kesan yang kocak. Orang pertama yang dijumpai Pak Toha adalah tetangganya sendiri Bu Burhan yang penjual sayur. Saat dilihatnya Pak Toha berjalan dengan kap lampu bertengger di atas kepalanya, Bu Burhan pun tersenyum. Pak Toha merasa terkejut. Baru pertama kali dilihatnya tetangganya yang biasanya tidak pernah mengacuhkannya tersenyum kepadanya Padahal semua itu karena kap lampu yang dikenakan Pak Toha.

“Kok aneh sekali, tetanggaku bisa tahu2 tersenyum kepadaku,” pikir Pak Toha keheranan. Berikutnya dia berjumpa dengan Pak Abas yang sedang sibuk memandikan burungnya. Sama dengan yang tadi, pandangan Pak Abas tertuju pada kap lampu yang ada di atas kepala Pak Toha dan dia pun tersenyum. Dengan muka bingung Pak Toha melanjutkan perjalanannya. Langkahnya semakin tegap dan penuh percaya diri.

“Hari apakah hari ini sehingga seolah-olah semua tetanggaku menjadi ramah kepadaku? Baiklah… kalau ketemu orang lagi, akan kusapa telebih dulu,”pikir Pak Toha. Beberapa saat kemudian, dia melihat Parmin, tukang air. Disapanya keras-keras, tetangganya itu,”Halo Min… Cuaca bagus ya?” kata Pak Toha. Dan Parmin yang terkejut, kembali tersenyum melihat kap lampu di kepala Pak Toha. Sementara itu Pak Toha melanjutkan perjalanannya.

“Ternyata tersenyum itu sesuatu hal yang menyenangkan,” pikir Pak Toha setelah beberapa kali berjumpa dengan tetangganya dan semuanya tersenyum ramah kepadanya. Sesampai di rumah, Pak Toha melepas ‘topi’ nya dan tersadarlah dia bahwa selama ini dia tidak mengenakan topi, melainkan kap lampu. Sejenak dia terduduk dan berpikir,”Ternyata tetanggaku tersenyum bukan karena aku, tapi melihat kap lampu ini.” Pak Toha berdiri dan membulatkan tekad. “Aku akan mengadakan pesta besar dan mengundang semua orang. Aku tidak mau cemberut lagi.”

Demikianlah, pesta yang diadakan Pak Toha sukses besar. Semua tetangganya datang menghadiri pesta Pak Toha yang menyambut sendiri para tamunya dengan senyuman lebar. Sejak saat itu, tabiat Pak Toha berubah, dia menjadi sering tersenyum dan semua tetangganya mau menerima dia, dan semuanya itu berkat jasa kap lampu yang tidak sengaja dikenakan oleh Pak Toha.