Permainan yang satu ini memang mengasyikkan. Tentu saja, mungkin beberapa generasi sekarang yang lebih mengenal mainan elektronik, bahkan tidak pernah tahu makanan apa sih karambol itu 🙂

Kalau dilihat dari kata2nya, karam-bol adalah bola yang karam. Sebenarnya bukan bola sih, tapi bentuknya bundar dan tugas pemain adalah memasukkan buah2 ini ke dalam empat lubang yang ada di sudut papan permainan karambol. Kalau dianalogikan, kurang lebih seperti billiard. Hanya saja, kalau billiard menggunakan tongkat stick, untuk karambol, pemain menggunakan jarinya sendiri untuk menyelentik satu bola yang lebih tipis yang dikenal sebagai gacoannya … (aduh sulitnya cari bahasa yang pas wkwkwkwk). Itu belum lagi dengan istilah2 yang digunakan di dalam permainan karambol, yang kedengaran aneh2…

Teman saya yang bernama Amir, yang tinggalnya persis di sebelah rumah saya, punya sebuah karambol yang ukurannya sangat besar, dan semuanya terbuat dari kayu jati dan bagus sekali. Setiap sore hari, jika kami tidak bermain2 diluar, kami selalu bermain karambol bersama teman2 yang lain. Dan asyiknya permainan ini bisa dimainkan boloan berempat, jadi lebih seru banget. Disamping itu, banyak strategi dan taktik yang bisa diterapkan. Ternyata pemain bukan hanya dari anak2, kakeknya Amir yang biasa dipanggil Abah, ternyata juga sangat jago bermain karambol. Bahkan ayah saya sendiri kadang2 juga ikut main…

Kalau main berempat lebih seru, dengan adanya taktik yang menghalangi buah lawan agar tidak dapat dimasukkan langsung ke lubang. Mematikan buah lawan ke sudut mati pemain, sehingga untuk bisa menghidupkan kembali buah itu, temannya yang harus memukul buah itu, atau dengan istilah ‘ngeban’ atau ‘mbantol’

Teman2 semua pada jago main, apalagi salah seorang teman kami dari gang sebelah yang bernama Sutikno, yang sangat titis / jitu dalam memasukkan buah2nya. Dalam sekejap saja, buahnya sudah tinggal sedikit, dan saat buahnya tinggal satu, dia langsung memasukkan maskot raja tanpa kesulitan. Dan kelebihan Sutikno ini adalah dia bisa memasukkan buah karambol dari lokasi yang sangat jauh. Kalau saya sendiri, tidak terlalu jitu mainnya, karena saya lebih suka main taktik, menghambat beberapa jalan pemain lain, sehingga terakhir seringkali ketinggalan karena buah saya sendiri masih banyak berkeliaran 🙂

Yang lebih seru lagi, kami selalu menggunakan tepung kanji yang disebarkan di seluruh permukaan permainan karambol, agar buahnya bisa lebih licin saat dipukul dengan gacoan. Dan permainan menjadi lebih menarik, saat tim yang kalah bisa ditoleti (baca: dibedaki) dengan tepung kanji. Saya sendiri biasa menjadi pemain kunci yang menjadi penentu kemenangan, yaitu dengan esek2 maut, memasukkan buah yang ada di pinggir lubang yang ada di sudut mati saya sendiri.

Permainan ini sempat populer dan sering kami mainkan bersama saat saya masih SD, dan ketika kami sudah sama2 beranjak dewasa, saya sendiri sampai lupa bertanya sama teman saya Amir, dikemanakan papan karambolnya, karena kami sudah sibuk dengan urusan kami masing2…