Sudah lama sekali Baginda Raja merasa gelisah karena selalu dikalahkan oleh Abunawas. Abunawas memang cerdik. Setiap pertanyaan yang diberikan oleh Baginda Raja selalu dapat dijawabnya dengan mudah. Berminggu-minggu, beliau berpikir tentang sebuah pertanyaan jitu yang bisa menyudutkan Abunawas. Sampai pada suatu hari, Baginda mendapat sebuah pencerahan. Sambil tersenyum2, disuruhnya seorang punggawa Kerajaan untuk memanggil Abunawas. Tidak berapa lama, Abunawas pun datang menghadap.

Sambil bersujud, berkatalah Abunawas,”Baginda Raja Yang Mulia, ada apa gerangankah Paduka memanggil hamba pada pagi-pagi hari seperti ini?”

Titah Raja,”Wahai Abunawas, hambaku yang cerdik. Pagi ini aku ingin menantang kepandaianmu lagi. Tapi untuk kali ini, jika kau tidak dapat menjawab pertanyaanku, kau harus membayar seribu dinar. Namun jika kau sanggup menjawabnya, aku akan membayarmu sepuluh ribu dinar.”

Melihat Abunawas terbengong-bengong, Baginda pun melanjutkan,”Kau cukup membayar seribu dinar saja, karena aku yakin kali ini aku bisa mengalahkanmu!” Baginda merasa yakin pertanyaannya bisa menyudutkan Abunawas, karena beliau sudah mencoba bertanya pada beberapa penasehatnya dan tak ada seorangpun dari mereka yang mampu menjawabnya.

“Baiklah, hamba setuju. Silakan bertanya Baginda Raja,” kata Abunawas.

“Hmmm… Pertanyaanku singkat saja. Dimanakah tempat di dunia ini yang tidak ada lalatnya?” tanya Baginda.

Abunawas terdiam dan berpikir beberapa saat lamanya.

Baginda Raja tertawa-tawa,”Nah… Bagaimana Abunawas? Kau tidak bisa menjawab kan? Menyerah sajalah dan serahkan seribu dinarmu itu! Hahahahaha…”

Setelah terdiam sesaat lalu Abunawas berkata dengan hati-hati,”Ampun Paduka, demikianlah jawaban hamba. Tempat dimana tidak ada lalat di dunia ini adalah tempat dimana tidak ada manusianya.”

Seketika itu juga Baginda Raja tertawa lebih keras dan dengan penuh kemenangan dia bersorak dan berkata kepada Abunawas,”Jawabanmu jelas-jelas salah!!! Sekarang ayo ikut denganku, kita akan bersama-sama ke suatu tempat dimana tidak ada manusianya. Aku yakin disana bisa menemukan lalat.”

Kemudian Baginda Raja dan Abunawas dengan mengendarai kuda masing2 pergi ke daerah paling ujung dari Kerajaan yang memang sangat sepi.

“Kita berhenti disini, Abunawas. Aku yakin disini tidak ada manusia,” kata Baginda.

Belum lama berselang, terdengar dengung lalat dan Baginda yang tampak kegirangan segera menangkap lalat itu dan melambai2kannya di depan hidung Abunawas.

“Nah Abunawas. Kau tahu binatang apa ini?”

“Ampun Tuanku. Itu seekor lalat.”

“Hahaha… Kalau begitu aku menang. Kau berhutang padaku seribu dinar.”

“Justru sebaliknya Baginda yang berhutang sepuluh ribu dinar kepada hamba,” timpal Abunawas kalem.

“Lho… kok bisa begitu?” protes Raja. “Jawabanmu tadi adalah tempat dimana tidak ada lalat adalah tempat dimana tidak ada manusianya. Kau sendiri yang mengatakan kalau yang kupegang ini adalah lalat, bukan?”

“Benar Baginda. Tapi apakah Baginda dan hamba disini bukan manusia?” sanggah Abunawas dengan tersenyum.

Baginda melongo dan sekali lagi harus mengakui kecerdikan Abunawas. Maka sesuai perjanjian, beliau harus menyerahkan sepuluh ribu dinar kepada Abunawas.

dari majalah Bobo tahun 80-an