Chicho adalah burung peliharaan ayah saya yang cukup unik. Dia ini jenis burung murai batu yang ngocehnya tidak lazim seperti burung2 lainnya seperti burung kepodang atau cucak rawa. Bulunya dari kepala sampai kedua sayapnya berwarna hitam pekat. Lalu sampai ke bawah warnanya kuning tua, sangat kontras. Dan bulu ekornya harusnya bisa panjang sampai 30-40 cm. Tapi bulu ekor Chicho tidaklah sepanjang itu, malah sama dengan bulu ekor kebanyakan burung2 lainnya. Dan apa yang saya katakan tadi, Chicho diperlakukan secara spesial oleh ayah saya, dimana sangkarnya diletakkan di ruang tamu, yang tentunya lebih aman dari ancaman tikus ataupun kucing, sementara burung-burung lainnya ada di loteng atas.

Chicho ini jarang sekali ngoceh. Suaranya yang sering terdengar adalah seperti orang yang sedang mendecak. Dan untuk makanannya sendiri spesial, yaitu kroto yang masih segar, lengkap dengan semut anggrangnya, masih ditambah lagi suplemen berupa beberapa ekor jangkrik, sehingga tubuh Chicho terlihat sangat gemuk. Terkadang saya melihat begitu lahapnya Chicho memakan kroto pemberian saya, dan saya sempat berpikir apakah bagi Chicho rasa kroto itu seperti rasa Kolokee yang merupakan salah satu favorit saya waktu itu? hehehe… Kalau Chicho bisa menimpali pemikiran saya, mungkin dia akan berpikiran yang sama, yaitu apakah bagi saya, rasa Kolokee seperti rasa krotonya? Yang jelas dia makan dengan sangat lahap.

Ketika burung2 lainnya banyak yang mengeluarkan suara merdu di pagi hari, tidak demikian halnya dengan Chicho. Chicho justru akan mengeluarkan suara merdunya saat malam hari ketika lampu ruang tamu dipadamkan. Dia akan mengoceh beberapa menit lamanya sebelum kemudian tidur. Saya sangat senang menggoda Chicho, karena dia sangat sensitif ketika ada gerakan di dekatnya, dia akan langsung meloncat kesana dan kemari. Terkadang saya suka mengendap-endap di belakangnya, dan terlihat kepalanya celingukan ke kanan dan ke kiri untuk bisa melihat bayangan yang ada di belakangnya.

Chicho hidup bersama2 dengan kami sampai beberapa waktu lamanya sebelum kemudian dia jatuh sakit dan akhirnya mati. Dan kandang Chicho oleh ayah saya langsung diletakkan di loteng atas, namun tidak diisi burung lainnya. Entah kemana larinya kandang itu, yang jelas, Chicho adalah burung peliharaan ayah yang terakhir, karena setelah itu beliau tidak pernah membeli burung lagi.