Makin maraknya depot dan restoran yang notabene berjualan langsung di tempat, sedikit banyak menggusur jumlah penjaja keliling atau bakul yang biasanya menjajakan dagangannya dengan keluar masuk kampung ataupun kompleks perumahan. Beberapa bakul yang sempat mewarnai perjalanan hidup saya antara lain:

Pangsit Mie Bromo
Penjaja makanan yang satu ini orangnya cukup humoris dan selalu mengajari saya cara menulis aksara Jawa yang baik. Baca selengkapnya disini: http://www.wahyukurniawan.info/?p=1847

Bakwan Prengus
Kalau yang satu ini, orangnya sudah cukup tua. Dan biasanya saya cukup lama berlangganan dengan bakwannya, yang biasanya 5 biji pentol alus. Namun beberapa kali dia sempat menyuruh saya untuk selalu beli dagangannya, sehingga karena bosan, saya tidak menghabiskan bakwan yang saya beli. Hal ini membuat orang tua saya curiga dan terbongkarlah bahwa saya ternyata memang sudah emoh dan jawaban polos saya yang masih kecil waktu itu adalah “wong disuruh sama bapaknya”. Dan hal ini sempat membuat ibu saya mencak2 dan penjual bakwannya juga sempat ditegur oleh ibu saya. Sejak saat itu, saya jadi takut ketemu sama si penjual bakwan. Manakala dia lewat dengan kentongannya itu, saya selalu bersembunyi di balik tirai, hehehe… Belakangan dia sempat berubah profesi menjadi penjual gado-gado, namun ketika disadarinya tidak begitu laku, dia kembali menjadi penjual bakwan. Beberapa tahun kemudian, dia menjual jerohan juga, sehingga cukup laris dibeli oleh teman2 saya sekampung. Dari sinilah istilah Bakwan Prengus itu muncul. Akibat diisi jerohan yang bermacam2, kuahnya memancarkan aroma yang khas, yang kata teman2 dinamakan prengus…

Tahu Tek Tek – No Time For Love
Penjual yang satu ini saya tengarai selalu lemes. Dan saat menggoreng tahu ataupun menggunting tahu dan lontongnya, dia selalu kelihatan loyo, dan hampir setiap hari saya yang ketika itu masih SD langganan sama penjual tek tek yang satu ini. Di rombongnya ditulisi “No Time For Love” yang waktu itu langsung saya tanyakan artinya sama ibu saya. Dan saya masih ingat ibu saya menjawab dengan nasehat, bahwa ketika kita menjadi dewasa, adalah lebih baik untuk bekerja terlebih dahulu daripada mencari pacar. Betul sekali!!! 🙂

Rujak Manis Bibik (tidak keliling)
Saya masih ingat, harganya cuma seratus rupiah. Jadi saat hari Minggu/libur, saya sering bawa satu piring dan berjalan kaki sampai di ujung kampung, sambil membawa uang logam seratusan, sudah bisa makan rujak manis yang enak.

Tahu Campur Cak Rojin
Seperti yang saya pernah singgung di artikel saya sebelumnya tentang sepeda jengki Pak Tamin, dua rumah di sebelah timur rumah saya adalah sebuah rumah milik Pak Asrun yang mana disekat2 menjadi dua ruangan. Ruangan yang pertama dihuni oleh Abang Kredit Bang Salim yg dari Bandung, sementara ruangan lain disewa oleh bakul tahu campur, yang salah satunya adalah Pak Tamin ini. Yang lainnya ada Cak Marwan, Cak Di yang juga anaknya Pak Tamin dan Cak Rojin. Yang belakangan ini yang cukup menjadi favorit orang2 sekampung, ketika rombongnya keluar pas Maghrib, banyak yang sudah ngantri mau beli tahu campurnya. Sayangnya agak pelit kalau memberi kuah, yang mana selalu diberi alasan seperti ini,”Gak enak lek kakehan kuahe”

Soto Daging Balungan Cak Mat
Beroperasi di sore hari dan lumayan juga rasanya, sangat khas Soto Madura. Sebenarnya ada semacam perkumpulan bakul soto daging yang tinggal di belakang kampung kami. Saya baru tahu saat saya jalan2 pagi, saya melihat para wanita istri2 mereka sedang mengulek bumbu soto yang akan dijajakan oleh suaminya pada sore harinya. Wah, benar2 senang melihat semangat mereka yang kerja tidak kenal lelah. Tapi diantara mereka, Cak Mat ini yang paling muda dan paling gaul, jadi dia yang lebih disukai oleh orang2 kampung… 🙂

Lontong Balap Renegade
Sebenarnya ga ada yang istimewa dari makanannya, cuma saya sendiri yang menamakan Renegade karena bentuk rombongnya yang unik, menyerupai sepeda motor si Lorenzo Lamas, bintange Renegade dan yang lebih mantap lagi, jam lewatnya selalu hari Minggu, saat film Renegade ditayangkan 🙂

Gado-gado Wiro Sableng (tidak keliling)
Rasanya mantap, bumbu kacangnya pas dan murah… Kalau beli gado-gado ini, saya selalu berjalan kaki ke belakang kampung dan biasanya saya beli dua bungkus untuk saya sendiri dan ibu saya. Dan kami selalu menikmati gado-gado ini sambil menonton film Wiro Sableng di RCTI, jadi kami hanya bisa menikmati gado-gado ini seminggu sekali.

Soto Daging Bu Patah (tidak keliling)
Ada sedikit cerita tentang makanan yang satu ini. Karena jaraknya yang cukup jauh, saya selalu naik sepeda untuk beli soto daging ini sambil membawa rantang kiriman. Dan di perjalanan, rantang ini selalu berkelontangan dan menimbulkan suara yang sangat berisik. Saya sendiri merasa terganggu dengan bunyi berisiknya, dan dibutuhkan suatu perjuangan untuk menjaga agar rantangnya tidak terlalu berisik. Beberapa orang yang ada di jalan sempat memandangi saya dengan pandangan menyalahkan. Mungkin saja mereka juga terganggu dengan kelontangan rantang yang saya bawa. Semua itu karena sepeda yang saya naiki tidak mempunyai keranjang ataupun tempat lain untuk meletakkan rantang, sehingga rantang itu saya pegang sambil tetap memegang setir sepeda. Dan yang paling membuat gondok adalah jika sotonya tidak jualan. Astaga… Itu artinya saya harus membawa kembali rantang yang kosong yang tentunya akan berkelontangan kembali di tengah jalan. Jika ingat masa2 itu, rasanya sungguh merepotkan. Namun ketika saya sudah dewasa, terkadang bahkan saya rindu suara kelontangan rantang yang berisik itu.

Dan masih banyak lagi, bakul2 yang mewarnai masa kecil saya. Yah, mudah2an walaupun depot dan restoran semakin menjamur, namun penjaja keliling ini masih tetap eksis, paling tidak bisa dijadikan alasan untuk bernostalgia buat beberapa dari kita… 🙂