Semua mengeluhkan cuaca yang panas dan semakin panas belakangan ini. Saya pribadi sih tidak terlalu banyak mengurusi masalah cuaca. Sementara Kidung Mendung masih jalan terus, saya jadi teringat pengalaman saya beberapa tahun silam, ketika saya masuk SMA. Waktu masuk di kelas satu, kebetulan saya masuk siang hari, dan setelah pengalaman bersepeda jengki kemarin di SMP, saya bersyukur bisa naik sepeda motor Astrea Prima ke sekolah. Nah, saat pagi hari, saya sempat diajak teman saya untuk berenang di kolam renang Atom. Kebetulan teman saya ada ekstra kurikuler renang dan karena waktu itu saya belum bisa berenang, saya jadi ingin ikut berenang bersama teman saya.

Kolam renang Atom waktu itu cukup besar dan yang saya sukai adalah tidak dalam, karena saya sendiri belum bisa berenang 🙂 Soalnya saya punya trauma yang agak berat dimana waktu kecil saya pernah tenggelam di kolam renang ini. Jadi agak canggung juga melihat saya hanya kum kum di kolam renang yang di bagian paling dangkal, sementara banyak anak2 kecil seliweran di kanan kiri saya. Belum lagi ada seorang cewek yang usil menanyai saya,”Ngga bisa berenang ya, mas?” Astagaaa… Usil amat sih, udah tau ga bisa berenang, mbok ya diajarin, tapi si cewek hanya berenang menjauh 🙁

Teman saya rupanya sudah mulai berenang, padahal janjinya dia mau mengajari saya berenang. Hal ini membuat saya bertambah nelangsa, berada di pinggiran kolam renang dengan hanya mengayun2kan kaki yang menimbulkan cipratan2 yang cukup banyak sampai mengenai cewek yang tadi … hehehe… Untungnya penderitaan saya tidak berlangsung lama, karena tahu2 ada seorang Oom yang menyapa saya dan dengan ramah mau mengajari saya berenang. Wah, ini namanya pucuk dicinta ulam tiba, batin saya. Dengan semangat saya mengatakan bersedia diajarin. Dan si Oom mengatakan bahwa yang penting dalam belajar berenang adalah keberanian dan bonek (alias bondo nekad)

Kemudian saya diajari untuk menjadi batang pohon di atas air. Saat pertama kali meluncur, saya merasa was-was, bagaimana kalau nanti tenggelam. Tapi saya bulatkan tekad untuk meluncur. Dan saat meluncur, saya merasakan badan saya bergoyang ke kanan dan ke kiri terkena air. Setelah beberapa kali meluncur, saya cukup pede dan berani meluncur sendiri. Asyik juga yah, saya baru sadar kalau tubuh manusia itu kalau diam di dalam air, bisa mengambang dengan sendirinya. Apa yang dilakukan orang2 yang tidak bisa berenang adalah selain tubuhnya belum bisa seimbang dengan air, mereka sudah terlebih dahulu panik, sehingga air masuk ke dalam tubuh mereka.

Ketika sudah cukup lancar meluncur, saya mulai diajari gaya katak yang menurut Oom itu adalah gaya berenang yang paling gampang. Dan alamakkk… Ternyata cewek yang tadi adalah murid dari Oom itu, sehingga praktis saya akan diajarin oleh cewek ini. Yah sebenarnya malu juga bila mengingat sudah segede ini tapi baru belajar berenang. Tapi saya kesampingkan jauh2 perasaan malu demi bisa berenang. Ternyata si cewek cukup sabar dalam mengajari saya dan tidak berapa lama kemudian saya sudah bisa berenang gaya katak. Saat itu saya sampai merasa keasyikan berenang, sehingga saat si Oom dan cewek tadi sudah selesai, saya masih berenang mondar-mandir.

Karena kolam renang Atom waktu itu adalah kolam renang yang terbuka, maka dipastikan kulit saya jadi gosong terbakar matahari dan saat saya pulang dan masuk sekolah, badan saya terasa panas dan malam harinya terasa capek semua. Namun hal itu tidak menghentikan keinginan saya untuk sering2 berenang setelah saya bisa berenang. Berenang memang mengasyikkan, apalagi jika cuaca sedang panas2nya seperti sekarang ini.