Beberapa hari yang lalu, salah seorang dari teman saya berulang tahun, dan kita sama2 makan di salah satu depot di jalan Mulyosari, yang mana makanan spesialnya adalah Mie. Berbicara tentang Mie, ketika saya masih kecil dulu, ada seorang penjual Pangsit Mie yang selalu lewat di kampung saya sekitar jam delapan malam saban harinya. Dan saya hampir selalu beli Pangsit Mie ini. Rasanya lumayan nikmat dan dia menyebut dagangannya dengan Pangsit Mie Bromo.

Penjualnya cukup ramah dan dia selalu mengajari saya saat saya sedang menghadapi kesulitan dalam mengerjakan PR Bahasa Daerah. Dulu kami mendapat pelajaran Bahasa Jawa dan salah satu bagian yang paling menarik bagi saya adalah menulis aksara Jawa, alias Hanacaraka. Nah, penjual Pangsit Mie Bromo ini sangat mahir menulis aksara hanacaraka, jadi saya cukup tertolong apabila saya menghadapi PR yang cukup susah, jadi saya bisa tanya sama bapak penjual pangsit untuk mengajari menulis hanacaraka

Yang paling saya ingat adalah menikmati Pangsit Mie Bromo pada saat hujan turun. Sungguh nikmat makan pangsit yang hangat selagi hujan. Saya sempat membayangkan, kenapa dinamakan Mie Bromo yah? Apa mungkin Bapak penjual dan gerobaknya ini muncul dari kawah Bromo? :o)

Pada suatu ketika, mungkin karena sudah terlalu sering beli, saya sempat prei tidak beli Pangsit Mie Bromo, sampai akhirnya si penjual tidak pernah lewat kampung saya lagi sampai beberapa lama. Ketika sudah cukup lama, Mie Bromo ini tidak muncul, saya jadi ngidam dan kepingin sekali makan Mie Bromo. Satu hari, ternyata si penjual lewat dengan gerobaknya yang baru, yang ditulisi dengan aksara Jawa : “Pangsit Mie Bromo Gagrag Anyar” – yang artinya Pangsit Mie Bromo Gerobak Baru… dan tanpa tunggu lagi, saya langsung beli Mie nya dan saya habiskan sampai licin tandas.

Saat ini saya sampai berpikir, apakah tidak ada yang melanjutkan berjualan Pangsit Mie Bromo? Seolah baru kemarin saya menikmati Mie Bromo, sebelum kemudian saya sadar bahwa sudah beberapa tahun lewat. Sayup2 masih terdengar kentongannya… Tuk… Tutuk tuk…