Anggapan bahwa seorang guru tidak mudah dilupakan oleh murid2nya ternyata benar juga. Dan hal itu saya alami sendiri, sejak saya menekuni dunia pendidikan, mulai dari memberikan les privat, memberikan training atau pelatihan kepada instansi, maupun menjadi pengajar tetap sampai saat ini. Beberapa siswa yang sudah lulus masih sempat kontak dengan saya dan kami sempat ngobrol masa lalu, dimana dia masih menjadi bagian dari sekolah. Dari hal ini sudah dapat dipastikan, adanya kesan mendalam yang terpatri di dalam ingatannya, yang tentunya akan dibawanya sampai seumur hidupnya. Oleh karena itu dampak yang diberikan seorang guru terhadap anak didiknya sangat penting. Dan semoga yang diberikan adalah dampak yang positif dan kesan2 yang baik.

Beberapa guru yang masih saya ingat sampai sekarang diantaranya adalah guru PMP waktu saya masih SMP. Setiap pelajaran dimulai, guru yang satu ini selalu mengawali dengan pertanyaan yang sama dan pada siswa yang sama:
“Mas Anang sekarang pelajaran apa?”
“PMP Pak”
“Singkatan dari apakah PMP itu?”

Kami semua sampai speechless karena tiap pelajaran selalu diawali dengan kata2 yang sama, dan ketika ulangan, soal ulangannya terdiri dari 100 soal pilihan berganda semuanya. Pokoknya sampai kemeng tangan kami semuanya… wew.

Lain halnya dengan guru Fisika kami, yang bagiku metode pengajarannya cukup unik, dimana dia bisa menerangkan sambil menulis sesuatu di papan tulis, yang mana hal yang ditulis dan diterangkan merupakan hal yang berbeda walaupun masih dalam lingkup Fisika. Dan dia adalah salah seorang guru yang suka memberikan hukuman fisik buat mendisiplin kami, karena bagi dia, hukuman fisik selalu memberikan hikmah yang positif bagi kami. Metode ulangannya bagi saya sangat tidak umum, dan sempat membuat saya uring2an. Setelah semalaman saya belajar teori, latihan soal2 Fisika… eh ternyata ulangannya dua puluh soal dan semua soalnya adalah seperti ini: sifat bayangan cermin cekung, diisikan di nomor 1 sd 4. sifat bayangan lensa cekung diisikan di nomor 5 sd 8 dst. Tentu saja soal seperti ini membuat saya kebakaran jenggot dan memaksa saya untuk mengajukan protes kepada guru tersebut, karena praktis hasil belajar saya sia2 belaka. Untungnya beliau cukup demokratis dan mau mendengarkan protes saya.

Guru PSPB, yang kelihatannya terobsesi dengan drama, sehingga hampir seluruh materi pelajarannya disampaikan dalam bentuk drama dari siswa2nya sendiri. Ketika suatu saat kami harus main drama, saya berperan sebagai Jendral Sudirman dan kami cukup menikmati metode pembelajaran yang diberikan oleh guru kami itu dimana kami bisa belajar sambil melatih kemampuan akting kami 🙂

Ada juga guru matematika yang cukup killer dimana dia dalam satu waktu mengadakan ulangan tanpa pemberitahuan sebelumnya, yang mana membuat kami semua kelabakan. Untungnya saya tidak menemukan kesulitan yang berarti dalam menjawab soal2nya.

Sebenarnya masih banyak kesan2 yang dapat ditimbulkan dari seorang guru terhadap siswanya. Ketika saya saat ini berada di pihak guru, saya merasa beberapa siswa yang pernah saya ajar, mungkin sempat teringat2 juga akan tugas2 mereka saat mereka masih di sekolah, ataupun kenangan2 mereka di dalam kelas dan lain sebagainya. Jika berbicara soal high school, anak2 hanya memiliki waktu selama 3 tahun bersama guru2 mereka sebelum kemudian mereka melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. karena itu bagi saya, yang selalu mengajar grade 12, semoga project2 yang mereka kerjakan tidak menjadi beban yang lain buat mereka disamping kesibukan mereka lainnya (terutama pelajaran UNAS), tapi biarlah menjadi sesuatu yang dengan senang hati mereka kerjakan dan dapat menorehkan cerita tersendiri dalam perjalanan hidup mereka.