Beberapa waktu yang lalu, saya sempat membaca salah satu postingan dari rekan guru saya tentang kucing tetangganya yang tahu2 mencuri telur sarapan suaminya. Dan saya sempat tertawa membaca bahwa kucing itu bernama Rambo. Menurut pandangan saya, kalau sampai seekor kucing diberi nama Rambo oleh majikannya, tentunya ada kebanggaan tersendiri terhadap kucing tersebut. Saya belum sempat tanya tentang penampilan kucing yang belakangan jago mencuri makanan. Kalau dipanggil Rambo, kemungkinan kucing jantan dan badannya juga besar.

Berbicara tentang kucing, beberapa tahun yang lalu ketika saya masih SD, saya pernah menyukai kucing sebelum tahu kebiasaan dari kebanyakan kucing yang suka mencuri. Seorang tetangga saya memelihara sepasang kucing, dan kucing2 ini beranak pinak sampai 4 ekor. Karena waktu itu saya suka iseng, akhirnya saya namai saja mereka dengan nama yang unik, yaitu Swang-Swang, Swing-Swing, Sweng-Sweng dan Swong-Swong. Dan setiap saya mempunyai sisa makanan, saya selalu membawa sisa makanan ke rumah tetangga saya tersebut.

Sebagai gambaran, kucing-kucing ini masih kecil2. Swang-Swang dan Swing-Swing berbulu kuning, sementara si Sweng-Sweng yang bagi saya adalah yang terlucu diantara mereka berempat berbulu belang. Si Swong-Swong yang paling hitam dan dalam waktu beberapa bulan ternyata di Swong-Swong minggat dan tidak pernah ditemukan lagi. Ketika kucing biasa dipanggil dengan panggilan “Pusss…” tidak demikian dengan kucing2 ini. Mereka malah datang ketika saya memanggil si Sweng-Sweng… (atau mungkin mereka sudah bisa mencium bau tulang ikan yang saya bawa?)

Selama beberapa bulan, kucing2 ini hidup dengan cukup makmur karena saya selalu memberikan ‘nutrisi’ tambahan buat mereka, sementara dari pemiliknya sendiri mereka hanya mendapat semangkuk nasi dengan hanya bau ikan saja. Pada awalnya semua berjalan baik2 saja, dan saya yang waktu itu masih kecil tidak pernah tahu bahwa kucing2 ini ternyata cuma memasang tampang manis dan mengeong2 dengan suara halus. Sampai pada akhirnya, suatu hari saya menjumpai teman saya yang akan menyantap telur mata sapi, tahu2 telurnya raib entah kemana, dan di lantai ditemukan jejak kucing! Dan ketika saya melihat si Swang-Swang yang menggondol telur di mulutnya, langsung saja saya dan teman saya mengejar si Swang-Swang yang tentunya bisa lari lebih cepat dari kami berdua dan bisa meloncat langsung naik ke atas rumah.

“Kurang ajar si Swang-Swang,” batin saya. “Biar nanti tidak saya kasih jatah makannya”. Ternyata hal itu tidak berhenti sampai disitu. Beberapa orang yang lain mengeluh kehilangan makanan di mejanya akibat ulah kucing2 ini. Loh, bagaimana bisa kucing masuk ke dalam rumah? Soalnya di kampung kami, kebanyakan rumahnya punya loteng yang terbuka. Jadi untuk seekor kucing, bukanlah sebuah masalah besar untuk naik ke atap rumah dan masuk ke rumah orang lewat lotengnya. Dan ketika kucing2 ini semakin meresahkan, akibat beberapa makanan raib dari meja makan dan selalu diikuti dengan jejak kucing yang lari ke atas, akhirnya kami semakin berhati2 dalam menjaga makanan kami, karena rupanya kucing juga mempunyai naluri pemburu yang tajam, dimana mereka selalu tahu ketika ada yang menggoreng ikan.