Ibu siapa yang tidak akan pontang-panting bila ia sendirian berjuang demi perjalanan hidup keluarganya. Ibu yang mana tidak akan berpeluh keringat bila ia seorang diri harus membutuhi hidup suami, dan anak-anaknya. Dan setiap ibu yang memegang tanggujawab sepenuhnya dan semua urusan berada di pundaknya, pasti akan mengalami banyak derita hidup yang jelas bukan diundang, apalagi diharapkan. Ibu dalam kisah ini mengalami semua pahit getirnya hidup, ia merasakan lebih banyak derita daripada kebahagiaan, sedih daripada tawa, terenyuh dari pada rileks. Ia lebih banyak menghabiskan waktunya bekerja demi keluarga tercinta daripada darpada tenang. Ia menatap hari esok dengan segala tantangan dan perjuangan.

Namanya adalah bu Claren. Ia hanya seorang tukang jahit biasa tetapi ia percaya bahwa lewat pekerjaan ini, ia akan mampu mengemban “missi” demi kabahagiaan keluarganya. Suaminya sakit-sakitan, tidak berdaya, pastilah menambah daftar tantangan bagi sang ibu ini. Anak-anak dalam pertumbuhan, apalagi. Mereka pasti membutuhkan biaya banyak. Tetapi ibu Claren ini tidak pernah menyerah apalagi putus asa. Ia punya moto dalam hidupnya, “Allah tidak akan membiarkan saya gagal” Inilah curahan doanya setiap hari.

Pada suatu hari, ia sungguh mengalami terjalnya hidup. Mesin jahit yang dipakenya, dibelinya secara kredit. Ia harus membayar bulanan, tepat tanggal 01, sekitar Rp. 150. 000. Pada saat yang sama suaminya harus dibawa ke rumah sakit dan anak-anak butuh biaya sekolah. Ia tidak punya uang. Rasa kegalauannya dilengkapi dengan datangnya surat dari toko mesin jahit itu demikian, “Bu Claren, jika ibu tidak bisa melunasi kredit mesin jahit tanggal 03 .” (lewat tiga hari dari perjanjian kredit), kami akan datang mengambil mesin jahit itu. Seorang dari anaknya jelas melihat perubahan wajah ibu tercintanya segera setelah ia membaca surat ini. Sang anak cemas, sedih dan menangis. Kendati sang ibu juga mengalami kesedihan dan kecemasan yang sama, Ia tidak mau lebay apalagi menangis di depan anak-anaknya. Ia mengatakan, “Anakku, Allah tidak akan membiarkan saya gagal.”

Pada tanggal tanggal 03 (pagi), tiba-tiba seseorang mengetok pintu rumah. Sang anak berpikir bahwa itu adalah orang dari toko mesin jahit mau melaksanakan ancaman mereka sebelumnya, menyita mesin jahit tersebut. Setelah sang ibu membuka pintu, tampaklah seorang laki-laki berpakayan necis, rapi dan wajah simpatik. Laki-laki itu bertanya, “Apakah kamu bu Claren? si ibu menjawab, “Ya, benar saya bu Claren. Bapak itu melanjutkan, “Maaf bu saya mengganggu, saya ada urusan mendesak pagi ini, Nama saya Dokter Smith dan saya mau membuka kantor dokter gigi di tempat ini, tetapi saya tidak punya kenalan di sini. Saya harus buru-buru ke rumah sakit di kota lain karena ada yang darurat. Orang-orang di sekitar sini mengatakan, “Pergi saja ke rumah bu Claren, ia ibu yang baik, jujur, ramah dan bertanggung jawab. Saya mau minta tolong sama ibu menjaga anak saya ini (sekitar 3 tahun) selama tiga hari dan saya akan memberi ibu sekedar, sambil memberi sejumlah uang jauh melebihi pembayaran kredit mesin jahit. Dengan penuh suka cita si ibu menjawab, “Ya saya akan menjaga anak bapak.” Segera setelah itu, bapak itu berlalu dan anak itu “ad home” di pangkuan sang ibu.

Saudara-i terkasih, Allah tidak akan membiarkan kita gagal kalau kita sungguh percaya dan berseru kepadanya. Dalam Mateus 11: 28, di katakan, “Datanglah kepadaKu, semua kalian yang lelah dan memikul beban berat, dan Aku akan memberikan kelegaan kepadamu. Dan dalam Filipi 4:6 dikatakan, “Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan ucapan syukur.

Ini adalah sapaan Allah yang meyakinkan, menyejukkan dan sungguh menyemangati kita. Ini adalah janji Allah bahwa ia tidak akan membiarkan kita gagal. Silih berganti tantangan dan perjuangan kita, masalah ekonomi, kesehatan, salah pengertian, tantangan iman, masalah keluarga (ketidak setiaan, kurang terbukaan dan salah paham), dst. Sekali lagi Allah tidak akan pernah membiarkan kita gagal. Doa dan seruan iman adalah “pelarian” kita. semoga.