Injil Mateus 18:21, Petrus bertanya kepada Yesus, “Tuhan, kalau saudara saya berdosa terhadap saya, sampai berapakalikah saya harus mengampuni dia? Sampai tujuh kalikah? Yesus menjawab, “Tidak. Bukan sampai tujuh kali, tetapi tujuh puluh kali tujuh kali (tidak terbatas)

Dua ibu secara kebetulan ketemu di stasiun mobil, di kecamatan. Mereka berasal dari kampung sama, bertetangga, lebih lagi satu gereja. Yang membedakan ialah ibu yang satu adalah pengusaha, kaya, dan terkenal dikampung itu namun rupanya sangat pelit. Ibu yang satu hanyalah seorang guru SD, sederhana tapi murah hati. Ia juga bersama anakkya berumur 2 tahun saat itu. Saat itu sore menjelang malam hari dan dari kecamatan ke kampung mereka sekitar 2 jam perjalanan.

Sekitar 30 menunggu akhirnya, bus pun berangkat menuju kampung. Tapi tiba-tiba kepanikan melandai ibu guru itu karena ia tidak menemukan dompet di tasnya. Ia mencari dan mencari tapi alhasil, ia tidak menemukan. Ia keringat dingin. Di sisi lain, ia belum membayar ongkos mobil Rp 20. 000. Dengan suara memelas ia mengatakan, “Ibu bolehkah saya minjam uangmu sekedar untuk ongkos saja. Nanti saya bayar selekas kita sampai di kampung.” Ibu kaya itu dengan ketus mengatakan, “Kamu pikir Rp. 20.000 itu kecil? (Sebenarnya sangat kecil untuk dia bagaikan setitik pasir di pesisir pantai). “Tidak ada uangku dan saya juga tidak mau meminjamkan kepada orang yang belum tentu bisa mengembalikan, tandasnya lagi. Ibu guru itu kembali memohon,”Tolonglah bu, kami harus cepat sampai di rumah karena anakku ini sedang sakit dan kami baru saja pulang dari puskesmas. Tanpa iba dan belaskasihan, ia kembali mengatakan, “Sory!.

Tidak mau menanggung malu bila dipermalukan pegawai (kernet) mobil karena ia tidak punya ongkos, maka ibu itu pun minta turun. Dan saat itu hujan sangat lebat. Ia turun dengan menangis,,,,, bukan meratapi dirinya tetapi meratapi anaknya yang sedang demam. Ia sedih tetapi bukan untuk dirinya tetapi untuk anaknya yang “tidak mampu” menggerakkan orang untuk iba. Ia mengambil mantel hujan dari tasnya dan membungkus anaknya yang makin menggigil karena dinginnya cuaca dan lebatnya hujan. Ibu itu tidak peduli akan dirinya. Ia hanya mau menghangatkan dan memeluk anaknya supaya tidak basah. Tidak lama kemudian, ia melihat lampu mobil, perlahan dan mendekat persis di depannya. Ia mau minta tolong. Tiba-tiba keluarga yang berada di mobil itu terkejut, “Ibu Mary, kog berada di sini? Rupanya keluarga itu adalah orang tua dari muridnya. Dalam tangisan sambil memeluk anaknya, Ia menceritakan kisahnya panjang lebar kepada keluarga yang baik dan murah hati itu.

Satu bulan kemudian, Suami ibu orang kaya itu kena serangan stroke. Ia panik dan tidak tahu mau buat apa. Ia jarang berkomunikasi dengan tetangganya. Ia cemas, gelisah dan takut akan keselamatan suaminya tetapi di lain pihak ia tidak tahu mau buat apa. Tiba tiba ia ingat ibu Mary tetapi ia ragu apakah ibu Mary mau menolongnya karena sikapnya yang sangat “kejam” bulan lalu. Tetapi karena keadaan menuntut ia pun segera ia pergi ke rumahnyaIbu Mary membuka pintu dan dengan lembut mengatakan, “Oh ibu, silahkan masuk. Ia menangis menceritakan suaminya yang tidak berdaya. Ia pun minta tolong membawanya ke rumah sakit. Kali ini dia yang memelas, “Ibu Mary, apakah mau memaafkan saya? Ibu Mary dengan penuh kelemah lembutan mengatakan, “KETIKA SAYA MEMBUKA PINTU, KETIKA SAYA MENYAPAMU OH IBU…., KETIKA SAYA MENGATAKAN SILAHKAN MASUK, SAYA TELAH MEMAAFKANMU. Ia pun memeluk ibu Mary dan menangis.

Saudara-i terkasih. Dalam injil kita tahu, Petrus bertanya kepada Yesus, “Berapa kalikah ia harus mengampuni saudara yang bersalah, tujuh kali? Yesus mengatakan, “Bukan tujuh kali melainkan tujuh puluh kali tujuh kali.” Yesus menegaskan pengampunan bukan dibatasi oleh Jumlah tetapi terus dan menerus. Kita pasti berpikir berat kali urusan maaf memaafkan ini. Tetapi bukan mustahil bukan? Yesus teladan kita dalam hal ini. Ia senantiasa mengatakan, “Dosamu telah diampuni, pergilah dalam damai.” Dan jelas dalam benak kita bagaimana Yesus dengan suara kuat mengatakan, “Bapa ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat,” kepada para serdadu yang mencambuki Dia.

Bukankah setiap kali kita mendoakan Doa Bapa Kami, kita berseru, “Ampunilah kesalahan kami seperti kamu pun mengampuni orang yang bersalah kepada kami? Apakah doa yang indah ini masih bergema dalam sanubari kita?

Ibu Mary telah melakukan ini. Ia sama seperti kita. Ia telah mengambil bagian dari teladan Yesus. Mau kah kita mengatakan kepada orang yang mencaci, menghina, memfitnah dan memandang rendah, “Saudara-i ku, aku telah memaafkanmu walau kamu belum meminta maaf. Aku telah memaafkanmu sebelum kamu datang meminta maaf.” Semoga.