“Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar pada pengertianmu sendiri.” (Amsal 3:5)

Setiap pilot pasti akan menghadapi momen-momen yang sulit ketika menerbangkan pesawat. Ketika cuaca tidak bersahabat, ketika kabut pekat menutup pandangannya, dan ketika ia sama sekali dibuat “buta” oleh awan gelap, maka ada satu pelajaran dalam ilmu penerbangan yang harus mereka ingat yaitu percaya dan mengandalkan peralatannya, bukan mengikuti perasaannya. Peralatan pesawat yang berupa sinyal atau radar harus menjadi acuan utama, bukan feeling atau perasaan.

Pernakah kita menghadapi awan gelap dan kabut pekat dalam kehidupan? Kita dihadapkan dengan pilihan hidup yang sulit dan harus segera mengambil keputusan untuk memilih salah satu di antaranya. Saat itulah kita belajar untuk beriman, bukan main perasaan. Percayalah dengan apa yang Tuhan katakan melalui firman-Nya sebab iman timbul dari pendengaran akan firman Tuhan, bukan apa yang kita rasa benar. Banyak dari kita yang salah mengambil jalan dan berakhir dengan konsekuensi fatal karena mengandalkan perasaannya.

Layaknya seorang pilot harus mengandalkan peralatan bukan pada perasaan, demikian juga hidup kita ketika awan pekat dan kabut gelap datang dalam hidup kita.

Percayalah kepada apa kata Firman Tuhan, bukan apa kata perasaan kita.