Saat tubuh mencerna makanan, sejatinya bukan hanya lambung dan usus (organ yang kerap dihubungkan dengan sakit maag) yang bekerja keras banting tulang. Ada organ lain yang tak kalah sibuk. Salah satunya kandung (kantung) empedu. Jeroan yang satu ini ikut membantu mencerna lemak makanan. Apa jadinya proses pencernaan lemak kalau organ ini ngadat oleh suatu sebab.
Prof. Dr. H. M. Sjaifoellah Noer, internis gastroentero-hepatologi di RS Mitra Internasional, Jakarta, bilang, gangguan pada kantung empedu bisa berupa infeksi saluran empedu dan adanya batu di kandung atau saluran empedu. Dari keduanya, orang paling ngeri kalau di dalam kantung empedu ternyata ngendon segumpal batu. Biasanya, penyakit ini diderita kaum hawa bertubuh gemuk dan berumur di atas 40 tahun, tetapi masih subur. Julukannya, sindrom 4F (female, forty, fat, dan fertile).
Menurut Sjaifoellah, hal ini terjadi karena wanita seumuran itu cenderung hobi makan. Apalagi jika komposisi makanannya banyak mengandung kolesterol macam goreng-gorengan. Meski begitu, pria atau wanita di bawah usia 40 tahun bisa dihinggapi penyakit ini. Batu empedu juga bisa muncul bila seseorang menjalani diet tinggi lemak. Sebab, cairan empedunya jarang terpakai. Akibatnya malah jadi mengendap dan mengkristal. Pola hidup serta pola makan padat lemak dan bakat lemak dari faktor keturunan juga dapat memicu kemunculannya.
Kelebihan berat badan, kencing manis, serta sakit liver kronis pun bisa memicu. Dari hasil penelitian, ada perbedaan penyebab sakit batu empedu yang menimpa orang di Asia dan orang Barat. Penyakit batu empedu di Asia umumnya disebabkan infeksi di saluran pencernaan. Faktor pencetus infeksi itu misalnya makanan yang dikonsumsi tidak bersih dan bebas kuman. Infeksi bisa merambat ke saluran empedu sampai ke kantung empedu. Kuman penyebab infeksi saluran pencernaan biasanya Escherichia coli. Adanya di dalam usus. Ia mampu bergerak dan dapat memasuki saluran empedu sampai ke kantungnya. Lantas, di situ ia membuat perubahan komposisi cairan dan keseimbangan di dalam kandung empedu. Perubahan komposisi ini membentuk inti, lalu lambat laun menebal dan mengkristal.
Proses pengkristalan dapat berlangsung lama, bisa sampai bertahun-tahun. Hasilnya, ya batu empedu. Jika diteropong lewat mikroskop elektron, susunan yang terkandung dalam batu empedu hasil infeksi itu berupa bilirubin dan garam-garam empedu. Sedangkan di Barat, kebanyakan penderitanya masuk rumah sakit karena tubuh mereka kelebihan kolesterol. Maklum, karena mereka gemar mengonsumsi makanan tinggi lemak. Misalnya, fast food yang sedikit sekali kandungan seratnya. Makanan berkolesterol tinggi jelas membuat kerja organ pencernaan tambah berat. Padahal, kolesterol atau lemak sulit dicerna.
Jika kolesterol berlebih, ia bisa mengendap di saluran pencernaan. Juga di saluran atau kantung empedu. Jika proses itu terus-menerus berlangsung, kolesterol akan mengkristal dan jadilah batu yang bermasalah itu. Biasanya, batu yang terbentuk dari kolesterol berbentuk bulat, berwarna putih. Lain dengan batu empedu yang tersusun dari bilirubin dan garam-garam empedu yang terjadi gara-gara infeksi. Batu yang ini warnanya cokelat kehitaman dan jauh lebih keras serta lebih banyak mengandung kapur.

Lebih gawat
Penyumbatan di saluran empedu, selain bikin mampat aliran ke kandung empedu, juga bisa menyebabkan infeksi dan pembusukan di kantung tersebut. Sampai akhirnya, kantung pecah sehingga cairan empedu meracuni tubuh. Penderita bisa langsung kehilangan kesadaran, dan dalam hitungan jam nyawa bisa melayang. Gejala sakit batu empedu mirip dengan sakit maag.
Menurut Sjaifoellah, itu karena lambung dan kantung empedu terletak di ulu hati. Jika salah satu organ ini mengalami peradangan, “rasanya” ya hampir sama. Orang banyak sering menyebutnya dengan istilah kembung. Untuk membedakannya dari maag, perhatikan penjalaran nyerinya. Kalau kantung empedunya yang meradang, nyeri terasa di bawah tulang iga agak sedikit ke kanan. Rasa nyeri juga berpotensi menjalar sampai ke pinggang bagian kanan dan bahu kanan. Sedangkan jika lambung yang meradang, nyerinya terasa lebih sedikit ke atas ulu hati dan ke kiri.
Batu di kandung empedu bisa saja tidak terlalu berat dan membahayakan, asalkan tidak menyumbat saluran empedunya. Bahkan, batu itu sebenarnya bisa keluar sendiri kalau ukurannya kurang dari 5 mm. Keluarnya ketika ada gerakan mengerut dan mengembang dari kandung empedu. Begitu meninggalkan sarangnya, batu langsung menuju ke saluran pencernaan ke usus 12 jari dan penderita tidak merasakan keluhan apa-apa. Jika batunya tidak keluar secara normal, penderita akan mengalami serangan kolik, yaitu gerakan spontan empedu yang berkontraksi atau mengerut. Kontraksi itu sebenarnya dalam rangka “membela diri”. Ketika mengerut, kantung empedu berusaha mengeluarkan batu atau kuman di dalamnya. Istilah kedokterannya cholecystokinin. Celakanya, kontraksi itu tidak selalu berhasil. Apalagi kalau ada sumbatan. Tak heran kalau penderita kolik merasakan sakit yang amat sangat, lalu demam, mual, dan muntah-muntah.

Operasi sedikit luka
Lantas, apa yang harus dilakukan jika telanjur “mengoleksi” batu tak berharga ini? Kata Sjaifoellah, jika kantung empedunya masih berfungsi dengan baik, jumlah batunya cuma satu dan tak lebih dari 2 cm besarnya serta terbentuk karena kolesterol, masih bisa diobati dengan menelan obat. Pasien diberi obat yang mengandung asam dan garam empedu, yakni cheno deoxy uric acid (CDC) dan urso deoxy uric acid (UCDC).
Dengan obat-obat itu diharapkan batu empedu bisa larut, meski tidak sekejap. Garam-garam empedu mengikis secara perlahan dan bertahap serta membentuk keseimbangan komposisi cairan dalam kandung empedu. Proses pengobatan ini terbilang cukup lama, dapat mencapai satu tahun. Selain minum obat, batu empedu dapat juga dihancurkan dengan cara ditembak pakai sinar radiasi tertentu (ESWL), seperti rontgen. Namun, ada syaratnya. Empedu harus masih berfungsi dengan baik. Sebab, kandung empedu yang habis ditembak biasanya akan sedikit meradang. Fungsi empedu tetap oke, sehingga peradangan tak mempengaruhi kemampuannya mengeluarkan batu yang baru saja dihancurkan.
Namun, kalau ternyata empedu sudah tidak dapat berfungsi dengan baik, sementara batu di dalamnya sudah sangat mengganggu, mau tak mau harus diambil. “Batu tadi tetap harus diangkat, tapi dengan cara memotong empedu. Tidak apa-apa kok, yang hilang ’kan hanya kantung empedunya. Empedu tetap dihasilkan oleh sel-sel hati. Fungsi kantung empedu nantinya dapat digantikan oleh saluran empedu. Kantung empedu yang sudah tidak bagus fungsinya, kalau dipertahankan, malah dapat menghasilkan batu selanjutnya,” jelas Sjaifoellah. Kandung empedu yang kronis juga bisa dioperasi, sebutannya cholecyctectomy dengan cara laparoskopi. Cara ini terbilang canggih. Zaman dulu, pembedahan untuk menyingkirkan batu empedu menghasilkan luka parut di perut sepanjang 12 cm. Sekarang, dengan teknik laparoskopi luka yang dihasilkan cuma selebar 2 cm di tiga tempat. Tiga hari setelah menjalani operasi, pasien sudah bisa pulang. Namun, seringan-ringannya dampak yang ditimbulkan oleh operasi, tentu masih lebih nyaman kalau kita hidup sehat tanpa “koleksi” batu di kantung empedu. Salah satu caranya, dengan mengonsumsi makanan yang bergizi seimbang. Itu saja.

Mengerut Jika Berlemak
Bentuk kandung empedu mirip buah alpukat. Letaknya di balik hati, persisnya di sisi sebelah kanan. Posisinya sengaja diletakkan di dekat hati karena fungsinya sebagi penampung cairan yang dihasilkan oleh sel-sel hati.
Empedu hanya bekerja jika ada order dari usus, ketika ada lemak yang harus dicerna. Cairan empedu akan mengalir melewati saluran empedu, kemudian langsung menuju ke usus 12 jari, tempat proses pencernaan lemak berlangsung. Peran empedu ini penting, karena lemak merupakan zat makanan yang tidak mudah dicerna. Meski sudah dipecah-pecah oleh cairan yang ada di lambung, lemak masih perlu diurai lagi.
Sebab, pada dasarnya lemak tidak larut dalam air. Butuh unsur-unsur yang ada dalam cairan empedu, seperti asam empedu dan garam-garam empedu, agar lemak yang sudah dipecah oleh cairan lambung melarut. Proses ini disebut emulsi. Setelah mengalami emulsi, lemak jadi mudah diserap usus, kemudian disalurkan ke seluruh tubuh dalam bentuk asam lemak dan protein. Ketika masih berfungsi baik, lazimnya kandung empedu akan mengerut (berkontraksi) jika datang rangsangan. Misalnya, ketika ada makanan yang berlemak yang mesti dilumat. Untuk mengecek apakah fungsinya masih berjalan sebagaimana mestinya, bisa dilakukan lewat USG. Untuk itu pasien dipuasakan selama 5 – 10 jam, supaya kantung empedunya kendur. Setelah itu diberi makan makanan berlemak, seperti susu, telur, dan mentega. Sekitar satu jam (setelah makanan tadi mencapai lambung), empedu akan mengerut. Jika di layar USG empedu tampak mengerut 30 – 50%, berarti dia masih berfungsi dengan baik. Namun, jika di bawah 30%, lekaslah berkonsultasi dengan dokter.

Sumber: http://syamsikusyanti.multiply.com/journal/item/82