Rekan-rekan,
Terima kasih atas perhatian dan doa rekan-rekan semua …….
Seperti yang oleh beberapa anggota milis ini minta supaya saya berbagi pengalaman, maka walaupun ini sedikit menyimpang dari ‘thema’ milis ini, saya akan menuliskannya dengan syarat bagi yang tidak suka langsung di ‘delete’ aja dan mohon maaf atas ‘interupsi’ ini.
Sebenarnya sudah sejak saya kuliah dulu, saya adalah penderita sakit batu ginjal, tepatnya batu asam urat. Pertama-tama juga dokter tidak tahu, dikiranya cuma infeksi kandung kemih. Tapi begitu diketahui bahwa penyebab sakit pinggang bagian belakang ( kadang kanan kadang kiri, tergantung ginjal mana yang sakit) itu adalah batu ginjal, maka dengan segera saya minum ramuan obat tradisional China yang resepnya saya dapatkan dari saudara saya (ada yang minat resep ramuan obat China tersebut ? silakan japri ke saya), dan hasilnya batu itu berhasil mengecil dan keluar lewat saluran kencing. Setelah peristiwa itu, setiap 6 bulan sekali saya minum ramuan tersebut untuk mencegahnya ( kan obat tradisional efek sampingnya jauh lebih kecil jadi bisa diminum meskipun kita tidak sakit, untuk pencegahan – atas saran sinshe juga ).
Kemudian kira-kira 1 tahun yang lalu, saya mengalami sakit pada lambung / perut bagian kanan, cholic berat, sakit sekali, rasanya perut mau pecah – mual bahkan muntah – dan rasanya mau buang air besar (devekasi) tapi tidak bisa. Saya periksa ke dokter dan langsung di USG, hasilnya diketahui bahwa di dalam kantong empedu saya ada lumpur (belum berbentuk batu). Dokter langsung perintahkan saya untuk menjalani operasi, tapi waktu itu saya berpikir kalau batu ginjal saja bisa keluar tanpa operasi / hanya minum obat, mengapa yang ini – yang masih lumpur – tidak. Dokter itu sudah menerangkan sebenarnya bahwa posisi lubang ginjal dan kantong empedu itu lain, jadi kalau ginjal ada kemungkinan dengan obat / di ‘laser’ bisa dihancurkan dan ‘remukan’ batu / pasir-nya bisa keluar dari ginjal asal kita minum yang banyak. Tapi di empedu, lubangnya menghadap ke atas, jadi walaupun sudah dihancurkan (dengan obat / laser) tetap saja tidak mau keluar atau suatu ketika akan terkumpul dan menjadi batu lagi.
Waktu itu, saya tetap tidak percaya – bagaimana mungkin saya hidup tanpa kantong empedu – dan malahan ganti dokter yang ahli di bidang empedu. Dokter ahli empedu ini bilang, kalau anda periksa ke dokter bedah ya tentunya disuruh bedah / operasi, tapi kalau anda periksa di tempat saya (dokter ahli empedu – red), pasti akan saya sembuhkan lewat obat (obatnya adalah Chenovalk) dan pasti bisa. Wah ini dia, pikir saya, untung belum telanjur dioperasi. 4 bulan berlalu (tepatnya awal Januari 2000), dengan mengorbankan maag saya (obat yang saya minum untuk menghancurkan batu itu berakibat maag / lambung saya sakit, meskipun diminum dengan 2 macam obat maag sekaligus yaitu Gestamaag dan Gastridin) dan setelah di USG hasilnya bagus alias hilang / tidak ada lagi.
Tapi …… hari Minggu, 16 Juli 2000, saya mengalami sakit lagi dengan gejala yang mirip sakit batu empedu yang pernah saya derita 1 tahun lalu. Tanpa pikir-pikir lagi, daripada merasakan sakit luar biasa (biasanya di bagian lambung sebelah kanan – ya di bagian empedu) keesokan harinya saya periksakan ke dokter bedah yang pernah memeriksa saya dulu.
Kembali saya di USG lagi, dan astaga hasilnya malahan terdapat batu-batu kecil berdiameter 0.5 cm sebanyak 7-8 butir. Bukankah dokter ahli empedu sudah bilang hilang total, kok malahan jadi batu – banyak lagi jumlahnya. Jadi benar apa yang dikatakan oleh dokter bedah ini, bahwa batu empedu hanya bisa diatasi dengan cara mengambil kantong empedu si pasien, bukan hanya batunya – besok akan tumbuh lagi – dan tokh kalau kantong empedu itu sudah terkena batu tidak bisa berfungsi lagi dengan baik seperti semula.
Bagaimana pengaruhnya apabila seseorang itu tanpa kantong empedu ? Dokter itu bilang sedikit sekali (ya memang tidak seperti orang normal lagi), paling-paling kalau kita terlalu banyak makan makanan berlemak kita langsung diarre (mencret – maaf). Fungsi empedu itu sebenarnya untuk menyimpan cairan empedu yang diproduksi oleh Liver (hati), yang fungsinya untuk meng-emulsi lemak. Jadi tanpa kantong empedu-pun, cairan empedu tetap diproduksi oleh Liver hanya saja kelebihan produksinya tidak bisa disimpan lagi alias terus dibuang.
Operasinya-pun sudah canggih, dengan sistem laparoscopy (benar yang dikatakan oleh bang Yusuf – pakai kamera dan pipa-pipa) – hanya dengan 3 lubang sebesar 0.5 cm/lubang dan 1 lubang lagi di pusar untuk kamera, kantong empedu serta batunya bisa diambil. Jahitannyapun hanya satu-satu. Malahan kata dokter itu, sebentar lagi akan datang alat yang lebih canggih, yaitu hanya membuat lubang sebesar 0.3 cm. Tidak sakit, kok. Seperti tidak mengalami operasi saja.
Hasilnya, sehari setelah operasi boleh berjalan dan ternyata memang bisa berjalan (tidak sakit).
Tapi memang ada pengaruhnya sewaktu devekasi (buang air besar – maaf), yaitu seperti lumpur. Kata dokter itu akan diobati dengan penambahan enzym.
Menurut dokter, 3 bulan pertama apabila kita banyak mengkonsumsi makanan berlemak, kita akan mengalami diarre.

Kesimpulan Penyakit Batu Empedu.
Gejala : Seperti sakit maag, cholic (perut mau pecah – keras), mual bahkan muntah, keluar keringat dingin. Yang sakit di bagian lambung sebelah kanan (rasanya mulai dari tengah ke kanan). Kalau pinggang belakang, kanan atau kiri, kemungkinan besar batu ginjal.
Cara mengatasi pertama : Di ‘gilas’ (kompres) dengan botol berisi air panas, minum air putih hangat (jangan dingin), atau pakai obat anti cholic yang dimasukkan lewat anus. Tapi ingat, ini hanya untuk sementara, selanjutnya tetap periksakan ke dokter.
Pengobatan : Operasi (biasa atau laparoscopy) untuk mengambil kantong empedu beserta batunya. Kalau hanya batunya saja, besok pasti kambuh lagi. Karena penderita sakit batu ginjal ataupun empedu adalah orang yang membawa sifat membuat batu pada ginjal atau empedunya, seperti orang yang punya karang gigi (hari ini dibersihkan, beberapa bulan kemudian akan timbul lagi karena ludahnya bersifat membuat karang gigi). Tidak bisa hanya di obati atau ditembak laser.
Perawatan : Kurangi makanan berlemak, jerohan (hati, ampela, ginjal) dan otak.

Semoga bermanfaat dan tidak ada yang mengalaminya ………..

NB : Pertanyaan tentang hal tersebut di atas langsung japri ke saya saja, daripada nanti ada yang merasa terganggu ………….

salam,
Hadi Santoso

Sumber:
http://groups.yahoo.com/group/saham/message/16315

2 Comments on Pengalaman dari Sdr. Hadi Santoso

  1. Dunia aMe says:

    Saya juga pernah merasakan gejala seperti itu namun dokter mengatakan radang empedu, sekarang udah gag sakit tapi maag saya kayaknya tambah menjadi, tapi belum sempat check ke dokter lagi krn blm ada duit, he…he…