Penderita penyakit batu empedu saat ini makin meningkat jumlahnya tidak hanya diderita oleh orang berusia lanjut tapi juga bisa diderita oleh orang usia produktif. Dulu, orang mengatasi masalah batu empedu dengan operasi konvensional atau terbuka, sekarang batu empedu bisa dihilangkan dengan tindakan bedah invansi minimal (laparoskopi).

Batu empedu muncul akibat tidak adanya kemampuan kantung empedu dalam menyimpan empedu berbentuk cair dengan baik, sehingga cairan yang harusnya berbentuk cair akan mengeras dan menjadi batu yang bisa menyumbat atau menginfeksi kandung empedu.

“Penanggulangan gangguan batu empedu dan peradangan kandung empedu dapat dilakukan dengan berbagai terapi. Untuk kasus yang masih dini bisa dilakukan dengan menjaga pola makan, tapi pada kasus yang akut dilakukan operasi untuk pengangkatan kandung empedu,” ujar Dr. Hermansyur Kartowisastro, SpB-KBD dalam acara “Laparoskopi Sebagai Terapi Terkini Penanggulangan Batu Empedu” di RS Puri Indah, Jakarta, Kamis (6/8/2009).

Dr. Hermansyur mengatakan jika menggunakan teknik konvensional, sayatan yang dibuat bisa mencapai 10-15 cm sedangkan dengan laparoskopi sayatannya hanya sekitar 0,2-2 cm. Dengan teknik ini dokter tidak perlu membuka perut pasien, tapi hanya memasukkan kamera ke dalam perut dan melakukan operasi dari luar dengan mengontrol keadaan di dalam melalui layar.

Pada teknik ini setelah kamera dan alat dimasukkan maka dokter akan melepaskan lemak yang menempel pada kandung empedu, setelah kandung empedu bebas dari lemak-lemak saluran empedu tersebut ditutup dengan menggunakan clips dan dipotong, sehingga kandung empedu terlepas. Lalu kandung empedu tersebut dikeluarkan dari dalam tubuh. Proses operasi ini berlangsung sekitar 56 menit dan meminimalisisr pendarahan yang terjadi.

“Kegagalan dengan teknik laparoskopi sebesar 1 persen dan biasanya karena struktur anatomi tubuh pasien sehingga harus dilakukan operasi konvensional atau terbuka,” ujar Dr. Hermansyur yang merupakan salah satu pelopor teknik laparoskopi di Indonesia.

Komplikasi yang mungkin terjadi dengan laparoskopi adalah adanya saluran pembuluh darah yang ikut terputus atau saluran di empedu yang langsung menempel ke hati terkena saat operasi akibatnya cairan menumpuk, tapi hal ini sangat jarang terjadi dan bisa diatasi dengan baik.

Keuntungan yang didapatkan dengan teknik laparoskopi adalah jumlah sayatan lebih kecil bahkan seperti lubang, antibiotik dan obat analgesik yang digunakan lebih sedikit, mengurangi rasa tidak nyaman setelah operasi, menurunkan kemungkinan infeksi serta waktu perawatan setelah operasi lebih cepat sehingga bisa menghemat pengeluaran.

“Saya sudah melakukan operasi laparoskopi untuk batu empedu dan sampai saat ini saya Alhamdulillah tidak pernah mengalami komplikasi apapun, bahkan saya hanya butuh waktu istirahat 2-3 hari saja lalu bisa beraktivitas kembali,” ujar Ibu Aisyah Amini yang menjalani operasi laparoskopi pada tahun 2005.

Untuk melakukan pengangkatan kandung empedu menggunakan tindakan bedah invansi minimal (laparoskopi) dibutuhkan biaya sebesar 20-30 juta. Pasien dengan usia berapapun bisa menggunakan teknik ini tergantung dari hasil tes toleransi operasi, apakah memenuhi syarat untuk melakukan laparoskopi.