By Republika Newsroom

Jumat, 07 Agustus 2009

JAKARTA– Teknologi medis terus berkembang
termasuk metode dan teknik operasi yang digunakan. Salah satunya, metode untuk
mengatasi gangguan empedu akut. Teknik operasi konvensional bukan lagi pilihan
satu-satunya. Kini,pasien bisa memilih teknik yang menawarkan jaminan
efektifitas dan efisiensi atasi gangguan akut empedu.

Teknik bedah yang diberi nama Laparoskopi atau bedah invasif minimal ini telah
menjadi buah bibir dunia kedokteran diawal tahun 1990-an. Berbeda dengan teknik
bedah konvensional yang mengandalkan kejelian teknik menyayat dokter ahli
bedah, teknik itu membutuhkan bantuan teknologi seperti kamera endokopis,
monitor dan instrumen-instrumen khusus.

Teknik bedah Laparoskopi tidak membutuhkan sayatan lebar dalam melakukan
eksplorasi. Bagian tubuh pasien yang disayat hanya sepanjang 0.2-2 cm pada
empat titik hingga membentuk pola jajaran genjang. Nantinya, kamera mini
dimasukan ke dalam bagian pusar. Kamera itu yang akan memandu dokter melihat
posisi empedu. Sementara, tiga titik lain digunakan untuk memasukan alat
pencapit (tokar) yang mengantikan fungsi pisau dan gunting pada bedah
konvensional.

Ahli bedah Teknik Laporoskopi sekaligus founding Fathers teknik Lapaorskopi di
Indonesia, Dr. Hermansyur Kartowisatro menyatakan teknik bedah invasif minimal
sekarang telah menjadi gold standar dari berbagai macam operasi seperti
kelainan empedu, appenditis akut dan penyakit berat lain yang membutuhkan
tingkat efisiensi maksimal.

“Saat pengangkatan empedu misalnya, penggunaan teknik bedah
konvensional tidak memungkinkan dokter melihat seluruh bagian organ
tubuh. Gerak dokter begitu terbatas, hal ini yang kerap menimbulkan kesulitan.
Berbeda dengan teknik bedah Laparoskopi. Teknik ini memungkinkan dokter dengan
jarak yang lebih dekat bisa menjangkau seluruh organ dengan arahan yang
jelas,” ungkapnya kepada Republika Online, Kamis (6/8).

Keunggulan

Selain menawarkan gerak dokter yang begitu luas, teknik bedah laparoskopi
dikatakan Hermansyur juga memiliki keunggulan-keunggulan lain seperti, teknik
bedah laparoskopi bersifat kosmetik pada penggangkatan empedu (cholecystectomy)
yaitu 2 cm pada epigastrium, 1.5-2 cm pada umbilicus dan 0.5 cm pada sebela
kanan abdominal. Titik-titik tersebut membentuk pola jajaran genjang pada
tubuh. Berbeda dengan operasi konvensional yang membutuhkan sayatan yang dalam
dan lebar.

Saat menjalani operasi, pasien tidak diberikan analgetik dalam jumlah besar.
Hal ini disebabkan sayatan hanya berkisar antara 0.2-2 cm sehingga kemungkinan
rasa sakit pada pasien berkurang.

Masalah pasca operasi, teknik bedah Laparoskopi ini memungkinkan tidak
munculnya bekas (scar) pada bedah. Insisi atau toorehan kecil untuk maksuknya
trokar (alat operasi) memang membutuhkan benang untuk menjahit .Karena kategori
luka terhitung kecil, resiko infeksi juga kecil.

Terkait masa penyembuhan, pasien tidak membutuhkan waktu lama. Teknik bedah ini
menjamin waktu rawat psien hanya berlangsung tiga hari hingga menurunkan biaya
rumah sakit. “Rata-rata masa penyembuhan pasien bedah konvensional
membutuhkan waktu 6.75 hari sedangkan pasien yang menggunakan bedah Laparoskopi
hanya 2.75 hari. Ini kan bedanya sangat signifikan,pasien pun bisa menekan
biaya rumah sakit dan pengobatnya,” jelasnya.

Keunggulan lainnya, masalah pendarahan yang kerap terjadi pada pengangkatan
empedu dapat diminimalisir oleh teknik bedah ini.”Resiko pendarahan memang
sulit dihindari mengingat posisi anatomi empedu. Perlu diperhatikan disini,
teknik bedah laparoskopi memungkinkan resiko pendarahan bisa ditekan,”
ujar Hemansyur

Proses Operasi

Setelah pasien batu empedu akut didiagnosa dokter untuk segera diangkat melalui
operasi, maka proses pengangkatan pun dimulai. Langkah pertama yang dilakukan
membuat empat titik pada bagian epigastrum, umbilicus dan sebelah kanan
abdominal. Khusus memasukan alat kamera endoskopis, dokter melalui jalur pusar.

Tahapan selanjutnya, masukan alat pencapit (tokar) pada tiga bagian. Tokar
pertama mencari posisi empedu. Tokar kedua dan ketiga menjadi penganti tangan
dokter. Pada pasien dengan pembuluh darah yang mengecil, lemak menempel pada
empedu. Hal ini disebabkan lemak melihat infeksi pada empedu. Langkah
pembersihan lemak dilakukan dokter dengan memberi pemanas pada tokar. Pemanas
ini mencegah pendarahan berlebih saat mengelupas lemak.

Usai membersihkan lemak, dokter kemudian mencari saluran yang menghubungkan
antara empedu dan lever. Saluran tersebut dipotong dan dikaitkan dengan
menggunakan semacam perekat plastik. “Biasanya memang menggunakan bahan
yang terbuat dari bahan tembaga namun penggunaan plastik jauh lebih efektif,
” tutur Hermansyur.Usai memotong saluran, pengangkatan pun dilakukan.
Empedu pun ditarik dan dikeluarkan melalui salah satu titik terdekat.

Keseluruhan proses operasi memakan waktu dua-tiga jam. Meski terlihat
sederhana, Hermansyur menyatakan operasi pengangkatan empedu tidaklah mudah.
Posisi empedu yang sulit diprediksi menjadi kesulitan tersendiri bagi para
dokter.”operasi ini sama berbahayanya dengan jenis operasi lain,”
tuturnya.

Hermansyur menjelaskan, pengangkatan empedu menggunakan teknik laparoskopis
bisa mengalami kegagalan walau prosentasenya kecil. “Hanya 10% teknik
bedah ini mengalami kegagalan. Ada kemungkinan empedu terikat saluran. Dengan
mempertimbangkan keselamatan pasien dilakukan pola operasi konvensional,”
tegasnya.

Terkait biaya, pasien harus membayar 20-30 juta rupiah. Faktor pemeliharaan
alat-alat operasi menjadi perhitungan tersendiri. Dikatakan Hermasnyur,
terdapat alat-alat operasi yang hanya bisa dipakai satu kali operasi saja.
Sudah bisa ditebak, harga alat tersebut bisa mencapai jutaan rupiah.

Meski begitu Hermansyur bisa menjamin bahwa biaya operasi laparoskopis dengan
konvensional tidak jauh berbeda. “Dari segi level biaya operasi, Memang
operasi bedah konvensional berada dibawah Laparoskopi. Tapi itu belum dihitung
biaya tambahan rumah sakit dan obat. Karena itulah secara keseluruhan tak
berbeda jauh,” kata dia.

Teknik bedah Laparoskopi mulai diperkenalkan tahun 1990-an di Pondok Indah
Health care Group (PIHG) yang memayungi Rumah sakit Puri Indah, Jakarta Barat
dan Rumah sakit Pondok Indah, Jakarta Selatan. Sejak diperkenalkan telah
dilakukan 500 operasi pengangkatan batu empedu melalui Laparoskopi. (cr2/rin)

Sumber: http://zanikhan.multiply.com/journal/item/7114