BAB TUJUH
MERANGKAIKAN FAKTA-FAKTA

“Stef… Stef… “
Suara itu terdengar samar di telinga Stefanus. Remaja itu hanya mengerang di dalam tidurnya. Nah… terdengar lagi. Sekarang ada juga suara ketukan. Sejenak kemudian kesadaran Stefanus berangsur-angsur pulih. Ia menyadari kalau ia tertidur di gudang dan Bik Inah tengah berusaha membangunkannya.
“Ya, Bik… ” sahut Stefanus.
“Ada telepon untukmu ,” ujar Bik Inah.
Bik Inah segera berlalu. Stefanus bangkit dari dipan yang ditidurinya lalu menggeliat sambil menguap lebar.
“Hmmm… Nyenyak sekali tidurku .”
Stefanus bergegas masuk ke dalam rumah dan mengambil gagang telepon yang tergeletak di samping pesawat telepon.
“Hallo … “
“Stef… Ini aku. Bisakah kau datang ke kantor polisi ? Ada beberapa saksi yang ingin kami minta keterangannya sehubungan dengan kasus kematian Pak Yohanes. Kurasa kau akan sangat tertarik jika kau mendengarnya secara langsung .”
Stefanus menyahut,
“Tentu saja, Inspektur. Aku akan segera ke sana .”
Setelah itu hubungan diputuskan.
Tanpa banyak hambatan, seperempat jam kemudian Stefanus sampai di kantor polisi dengan Yuli. Remaja itu berpendapat bahwa Yuli harus ikut supaya dapat membantunya.
“Selamat pagi, Inspektur ,” tegur Stefanus saat masuk ke dalam ruangan Inspektur Budi. Dilihatnya Inspektur tengah duduk termenung. Tegurannya tadi jelas telah mengagetkannya.
“Ah, kalian sudah datang. Bagaimana ? Apakah ada perkembangan baru ? Baru saja aku berbicara dengan Viola lewat telepon. Katanya, kemarin malam kau ke rumah Pak Yohanes. Apa kau mendapatkan petunjuk baru ?”
Stefanus dan Yuli mengambil tempat duduk. Kedua remaja itu duduk berhadapan dengan Inspektur Budi.
Kata Stefanus pelan,
“Saya harap, saya telah menemukan siapa pembunuh Pak Yohanes .”
Inspektur Budi mengerutkan kening. Ia merasa bingung dengan pernyataan yang dilontarkan Stefanus. Yuli pun tidak mengerti.
“Apa maksudmu, Stef ?” tanya Yuli.
“Apakah kau telah berhasil mengetahui siapa dibalik pembunuhan itu ?”
Stefanus memotong,
“Saya baru menduga saja. Saya memperoleh gagasan itu setelah saya bermain catur dengan Pak Hartono. Hanya saja masih ada beberapa hal yang belum dapat saya jelaskan. Masih ada beberapa kejadian yang samar. Seperti sebuah adegan film yang terlewatkan. Ya… Ada mata rantai yang hilang… “
“Lalu siapa yang kau curigai ?” lanjut Inspektur Budi.
Stefanus menggeleng.
“Saya tidak berani mengatakannya sekarang sampai saya betul-betul mampu menyusun teori yang menjelaskan kejadian yang terjadi pada malam hari itu .”
Inspektur Budi tampak kurang puas.
“Apakah Pak Kosasih ?”
“Saya tidak berani memastikan .”
Lanjut remaja itu,
“Namun ada satu yang agak janggal. Hutang itu ! Benarkah Pak Yohanes memiliki hutang ? Saya merasa aneh dengan pernyataan itu .”
“Bagaimana mungkin seorang seperti Pak Yohanes yang dikenal orang sebagai orang yang hemat bisa memiliki hutang ?” sahut Yuli menimpali Stefanus.
Stefanus berkata dengan sedih,
“Itulah yang agak janggal .”
Inspektur Budi berkata,
“Ngomong-ngomong, sebentar lagi kita akan kedatangan tamu .”
“Siapa, Inspektur ?” tanya Yuli.
“Para pembantu rumah tangga di rumah Pak Yohanes. Mereka mungkin dapat memberikan keterangan yang berharga, sebab … “
Tahu-tahu ada ketukan di pintu dan Letnan Haris muncul di ambang pintu bersama beberapa orang.
“Inspektur… “
“Ya.. ya, suruh mereka masuk, Letnan ,” potong Inspektur Budi dengan cepat.
Stefanus mempersilakan orang-orang itu duduk sementara ia sendiri dan Yuli bersandar pada dinding di sudut ruangan. Ia memandangi orang-orang itu lewat sudut matanya. Empat orang wanita dan dua pria. Tidak heran, dengan orang sebanyak itu ruangan Inspektur Budi kelihatan semakin sempit dan sesak. Stefanus tidak habis pikir mengapa Inspektur mengundang mereka sekaligus.
Sementara Inspektur Budi mulai bercakap-cakap dengan orang-orang itu, Stefanus berbisik kepada Yuli,
“Apa pendapatmu tentang hal ini ?”
Yuli berbicara dengan berbisik pula,
“Kurasa hal ini perlu dilakukan. Kesaksian para pelayan yang tinggal di rumah Pak Yohanes boleh jadi sangat diperlukan dalam membantu memecahkan kasus ini .”
Gadis itu melanjutkan,
“Di sini kita lihat ada enam orang pembantu. Empat wanita dan dua pria. Yang seorang diantara wanita itu sangat menyolok penampilannya. Badannya besar seperti pegulat sedang tiga lainnya berpenampilan biasa-biasa saja. Sedang yang pria, seorang berusia lebih dari setengah baya sedangkan yang seorang masih muda .”
Stefanus nyengir.
“Badan wanita gendut itu mengingatkanku pada Bik Inah .”
Yuli ikut tersenyum.
“Benar juga, Stef ,” katanya. “Tapi lebih baik sekarang kita ikuti pembicaraan mereka. Tampaknya Inspektur Budi sudah mulai menanyai mereka .”
Stefanus mengangguk mengiakan. Ia sendiri mulai mereka-reka nama mereka berdasarkan cerita Inspektur Budi. Wanita gendut itu pastilah yang bernama Bibi Lusi, pengasuh puteri-puteri Pak Yohanes. Laki-laki tua itu mungkin adalah tukang kebun itu, Pak Selo. Laki-laki yang lebih muda menurut dugaan Stefanus adalah sopir keluarga Pak Yohanes. Sedangkan tiga gadis itu pastilah para pembantu lainnya.
Inspektur Budi membuka percakapan.
“Selamat pagi saudara-saudara semua .”
Keenam orang yang duduk di hadapan Inspektur itu terlihat agak kikuk dan salah tingkah.
“Tidak perlu tegang ,” kata Inspektur Budi melanjutkan. “Saya hanya menginginkan sedikit keterangan dari anda .”
Inspektur Budi berpaling ke wanita gendut itu.
“Kita berjumpa lagi, bukan ?”
“Eh… Ya, Inspektur ,” kata wanita itu gugup.
“Saya mulai dari anda. Saya ingin tahu apa saja yang anda ketahui dari kasus kematian majikan anda .”
Wanita itu mendesah.
“Saya rasa semua sudah saya ceritakan kepada anda .”
Inspektur Budi menggeleng.
“Tidak. Belum semua. Ada satu hal yang anda sembunyikan dari saya. Tentang penyakit Pak Yohanes .”
Sejenak Bibi Lusi tampak sangat terkejut.
“Darimana anda tahu, Inspektur ?”
Inspektur Budi tersenyum tipis.
“Seharusnya anda tahu, anda tidak akan bisa menyembunyikan sebuah fakta dari seorang polisi. Saya sudah berbicara dengan dokter pribadi Pak Yohanes. Dari dia saya mengetahui kalau Pak Yohanes mempunyai penyakit kronis, yaitu sering mengalami rasa sakit pada kepalanya .”
Tatapan Inspektur semakin tajam.
“Saya ingin bertanya, mengapa anda menyembunyikan sebuah fakta yang sangat penting ?”
Bibi Lusi kebingungan. Untuk beberapa saat lamanya ia bungkam.
“Bagaimana ?” ulang Inspektur Budi.
“Sa-saya minta maaf, Inspektur. Saya tidak bermaksud membohongi Inspektur. Ini adalah pesan dari dokter pribadi Pak Yohanes sendiri agar saya merahasiakan penyakit kronis yang diderita Pak Yohanes. Namun saya tidak menyangka kalau kejadiannya menjadi seperti ini. Sungguh… Saya menyesal .”
Inspektur Budi menghela nafas.
“Selain anda… ” lanjut Inspektur. “Siapa lagi yang tahu tentang penyakit yang diderita Pak Yohanes ?”
“Saya rasa semua saudara Pak Yohanes tahu. Juga anak-anaknya. Yah… begitulah .”
“Apakah penyakit itu sudah lama dideritanya ?”
“Wah… saya kurang tahu pasti .”
“Baiklah. Sekarang tentang kejadian malam itu. Sungguhkah tidak ada sesuatu lagi yang dapat anda sampaikan ?”
Bibi Lusi tampak sedang berpikir.
“Saya rasa… tidak ada .”
“Sejak semua orang pulang, anda masuk ke dalam kamar anda di belakang rumah. Yakinkah anda tidak ada yang mencurigakan di belakang rumah itu ?”
Bibi Lusi menjawab dengan ragu-ragu,
“Saya kurang yakin, Inspektur. Soalnya saat itu saya merasa agak pusing. Jadi saya ingin cepat-cepat tidur. Hei… Saya kan pernah menceritakannya kepada anda .”
“Saya cuma menginginkan ketegasan cerita anda. Siapa tahu ada yang terlewatkan dari cerita itu .”
Inspektur Budi melanjutkan,
“Jadi, dua belas orang ada di ruang pesta sementara anda tidur di belakang rumah. Kemana pelayan lainnya ?”
“Mereka semua sudah pulang sedangkan Pak Selo sedang cuti .”
“Apakah dalam ruangan pesta itu tinggal dua belas orang sampai Pak Yohanes ditemukan meninggal ?”
Tiba-tiba Stefanus menyela,
“Maaf Inspektur. Cuma sebelas orang. Yang seorang, Pak Kosasih berada di luar rumah sampai ia ditemukan sedang berdiri di depan kamar kerja Pak Yohanes .”
Inspektur Budi bergumam,
“Benar juga .”
Stefanus menyahut lagi,
“Apakah interior ruangan pesta pada malam itu tidak pernah berubah dengan keadaan sekarang ?”
Pertanyaan itu dengan sendirinya ditujukan pada Bibi Lusi. Wanita itu menoleh dan menganggukkan kepalanya.
“Tapi saya tidak dapat membayangkan bagaimana interior ruangan itu dapat berhubungan dengan kasus ini .”
Stefanus bergumam,
“Mungkin… sangat erat hubungannya .”
Kemudian remaja itu terdiam.
Inspektur Budi melanjutkan,
“Benarkah tidak ada kejadian lain lagi yang dapat anda ceritakan kepada saya ?”
Wanita itu menggeleng.
“Saya rasa sudah semua .”
Inspektur Budi beralih kepada orang kedua.
“Sekarang giliranmu… “
Gadis di depannya tampak agak kaget. Stefanus mencoba mendeskripsikan gadis itu. Seorang gadis yang tidak begitu cantik. Wajahnya dipenuhi dengan jerawat dan matanya agak cekung. Tidak ada hal yang menarik dari diri gadis itu. Perawakannya pun tidak bisa dikatakan tinggi. Rambutnya yang ikal dipotong pendek.
Gadis itu memperkenalkan dirinya,
“Saya biasa dipanggil Susi. Saya bekerja di rumah Pak Yohanes kira-kira dua atau tiga tahun… ah, saya tidak ingat kapan persisnya. Saya masuk bersama kawan saya ini, Erni .”
Inspektur memandang ke arah gadis yang duduk di sebelah Susi. Gadis ini lebih buruk penampilannya. Perawakannya gendut pendek dan wajahnya juga tidak cantik.
Inspektur Budi merasa kedua gadis ini tidak akan bisa membantunya.
“Apakah kalian benar-benar yakin tidak dapat memberikan keterangan apa pun tentang kasus ini ?”
Susi dan Erni menggeleng hampir bersamaan.
Inspektur Budi bersandar pada kursi sandarnya yang empuk.
Dari kedua gadis tadi, Inspektur Budi beralih ke gadis ketiga. Gadis ini kelihatan lebih tertutup dan tidak banyak bicara. Stefanus memperhatikan saat Inspektur Budi berbincang-bincang dengan gadis itu. Tidak ada yang penting. Tidak. Belum ada petunjuk baru.
“Nah… ” kata Inspektur Budi. “Kurasa kau juga tidak dapat membantu banyak .”
Sinta, gadis ini, hanya terdiam saja. Tampaknya ia tidak suka diinterogasi seperti itu. Wajahnya lebih rupawan dibanding dengan kedua kawannya sekalipun usia mereka bertiga tidak terpaut terlalu jauh, sekitar tiga puluh sampai tiga puluh lima tahun. Stefanus sendiri merasa heran karena ketiga gadis itu mengaku belum ada yang menikah. Tapi sementara itu, ia kembali memperhatikan percakapan Inspektur Budi dengan Pak Selo, tukang kebun itu.
“Pak Selo… “
“Ya, Inspektur .”
“Anda sudah cukup lama ikut keluarga Pak Yohanes .”
Pandangan Inspektur Budi semakin tajam ke arah orang tua itu. ia berkata dengan pelan, hampir berbisik,
“Percayakah anda kalau Pak Yohanes mempunyai hutang ?”
Sejenak Pak Selo kaget. Katanya,
“Sungguhkah ? Tidak… Tidak mungkin. Orang seperti beliau tidak mungkin mempunyai hutang. Ia sangat hemat. Kekayaannya pun berlimpah. Untuk apa ia berhutang lagi ?”
Bibi Lusi menimpali,
“Benar, Inspektur. Saya sependapat dengan Pak Selo. Usaha Pak Yohanes maju pesat. Perusahaannya ada di mana-mana. Ia tidak memerlukan hutang dari siapa pun .”
“Apakah anda berdua yakin ?” tanya Inspektur.
“Saya yakin sekali ,” sahut Pak Selo.
“Begitu pula dengan saya .”
Inspektur Budi berpikir sejenak. Lanjutnya,
“Baiklah. Kita sampingkan dulu masalah tersebut. Sekarang tentang kepribadian Pak Yohanes. Bagaimana sosok Pak Yohanes semasa hidupnya menurut pandangan anda ?”
Pak Selo menjawab dengan segera,
“Baik. Bahkan terlalu baik. Saya sangat berhutang budi padanya. Sayang sekali tidak ada kesempatan buat saya untuk membalas segala kebaikannya .”
“Jadi, kalau dipikir-pikir, sangat tidak masuk akal kalau Pak Yohanes mempunyai musuh. Ia seorang dermawan dan selalu membantu sesama yang kekurangan .”
“Benar, Inspektur .”
“Tapi harus ada seseorang yang tidak menyukainya, bahkan membencinya. Tapi siapa ?”
Pak Selo menghela nafas.
“Saya sangat senang jika dapat membantu, tapi saya bahkan tidak tahu apa-apa tentang kejadian malam itu .”
Saat berikutnya Inspektur menanyai sopir Pak Yohanes. Stefanus ikut memperhatikan. Kemudian anak itu berpendapat bahwa sopir itu juga tidak banyak membantu.
Percakapan orang-orang itu masih berlangsung sekitar seperempat jam berikutnya. Setelah itu, Inspektur Budi memperbolehkan mereka untuk meninggalkan ruangan itu. Serta merta para tamu Inspektur beranjak pergi, kembali pada kegiatan mereka masing-masing.
“Nah… ?” kata Inspektur Budi setelah keenam orang itu keluar dari ruangannya. “Kurasa tidak ada hal ataupun fakta baru yang kita peroleh dari orang-orang tadi .”
Stefanus tersenyum.
“Sebaliknya … ” katanya. “Ada yang kita peroleh. Saya memang hampir mengetahui kebenarannya .”
Inspektur Budi menaikkan sebelah alisnya. Ia berkata dengan pandangan menyelidik,
“Apakah menurutmu… Kau sudah memecahkan kasus ini ? Kalau begitu siapa pembunuh Pak Yohanes ?”
“Sekarang belum waktunya, Inspektur. Dugaan itu masih harus dibuktikan terlebih dahulu .”
Yuli memandang temannya itu.
“Kadang-kadang, Stefanus bisa jadi seseorang yang sangat menyebalkan ,” pikirnya dalam hati.
Stefanus mulai bicara lagi.
“Sekarang coba dengarkan… Tadi saya menanyakan kepada Bibi Lusi tentang interior rumah itu, terutama ruangan dimana pesta naas itu dilangsungkan. Dan menurutnya, tidak ada satu pun barang bergeser dari tempatnya. Nah, kemarin malam perhatian saya tertuju pada tirai pemisah ruangan. Keadaan tirai itu sedemikian rupa sehingga dapat menutupi atau menyembunyikan sesuatu dibaliknya. Dan dibalik tirai itu … “
Stefanus berhenti sejenak.
“Dibalik tirai itu ,” lanjutnya lagi. “Pak Yohanes dan Pak Hartono bermain catur pada malam hari itu. Tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui keadaan dibalik tirai itu. Bahkan tidak ada juga yang tahu jika mereka tidak meneruskan permainan catur mereka setelah Pak Kosasih keluar rumah .”
“Kapankah Pak Yohanes keluar ruangan ? Tidak seorang pun tahu kecuali Pak Hartono. Jadi, hanya berdasarkan kesaksiannya kita mengetahui kapan persisnya Pak Yohanes meninggalkan pesta. Siapa yang tahu kalau Pak Yohanes menderita sakit di kepalanya sejenak sebelum kematiannya ? Lagi-lagi hanya Pak Hartono. Kisah yang diceritakannya tentang Pak Yohanes mungkin saja benar. Namun kita tidak harus berpedoman pada kesaksian Pak Hartono saja .”
Sahut Inspektur Budi,
“Jadi, kesimpulannya… Kau mencurigai Pak Hartono ?”
Kata Stefanus,
“Saya belum berani memastikan. Lagipula masih banyak yang belum saya ketahui. Banyak mata rantai yang masih hilang .”
Yuli menyela,
“Menurutmu, apakah Pak Yohanes benar-benar berhutang pada seseorang ? Kurasa hanya Pak Hartono dan Pak Kosasih saja yang mengetahui perihal hutang itu .”
Stefanus mengerutkan kening.
“Masalah ini sangat mencurigakan. Apakah kita bisa memastikan mengenai hal ini dari pengacara Pak Yohanes ?”
Pertanyaan itu jelas ditujukan kepada Inspektur.
“Mungkin bisa… Biar hal itu diurus oleh Letnan Haris .”
Yuli mendesah.
“Rasanya banyak kejadian janggal yang terjadi di dalam kasus ini. Kasus ini benar-benar unik .”
Inspektur Budi sependapat.
“Pertama kali, kurasa kasus ini sederhana. Tidak kusangka kasus ini dapat berkembang sedemikian rumitnya .”
Stefanus tampak merenung. Katanya,
“Saya memikirkan pembicaraan anda dengan Bibi Lusi tadi pada saat-saat terakhir .”
“Oh.. ya ?” komentar Inspektur Budi. “Apa yang ada di pikiranmu ?”
“Begini… Kita telah menemukan fakta bahwa Pak Yohanes mempunyai penyakit kepala yang kronis. Fakta lainnya yang baru kita peroleh tadi adalah bahwa secara periodik obat untuk Pak Yohanes diantarkan oleh perawat dari dokter pribadi Pak Yohanes. Nah… ada satu hal yang sangat menarik. Obat itu diantarkan pada pagi hari sebelum pesta malam itu. Jadi, hari Minggu. Dan Bibi Lusi seperti kebiasaannya, memasukkan obat itu ke dalam botol obat di kamar kerja Pak Yohanes …”
Inspektur Budi terdiam.
“Kurasa tidak ada yang mencurigakan ,” katanya. “Aku justru merasa heran bahwa pada pagi hari itu banyak kejadian lain. Seperti kunjungan Pak Hartono yang tidak seperti biasanya dan pertengkaran antara Henry dan mertuanya, Pak Yohanes .”
Yuli mengibaskan rambutnya yang dikepang ke belakang.
“Lalu… Bagaimana tentang penyabotan mobil itu ? Apakah hal itu ada hubungannya dengan tragedi malam itu ?”
Stefanus menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab. Tapi, aku yakin kita akan segera menemukan jawabnya .”
“Apakah semuanya ini ada hubungannya dengan kecelakaan yang dialami Jenny serta surat kaleng itu ?”
Kata Yuli,
“Jangan-jangan ada masalah terpendam di dalam keluarga Pak Yohanes yang tidak kita ketahui. Dan masalah itu yang menyebabkan terjadinya seluruh peristiwa ini .”
Inspektur Budi memikirkan pendapat Yuli.
“Itu sangat mungkin. Tapi aku sendiri sudah mengetahui kilas balik kehidupan Pak Yohanes .”
Stefanus menyela,
“Dan anda mendapatkan informasi itu dari Pak Hartono .”
Inspektur menggaruk-garuk kepalanya.
“Ya… Memang benar. Tapi kurasa tidak akan ada untungnya ia menyembunyikan fakta dariku .”
Stefanus merenung.
“Mungkin ada sebuah fakta yang sangat penting yang disembunyikannya dari anda .”
“Tapi sudahlah… ” lanjut remaja itu. “Inspektur, apakah anda tahu bagaimana hubungan Pak Yohanes dengan kedua saudara kandungnya ? Benarkah hubungan mereka baik ? Ataukah justru sebaliknya ?”
“Berdasarkan kesaksian dari beberapa orang, kurasa tidak ada masalah yang serius diantara mereka .”
Stefanus merenung lagi.
“Aku memikirkan ucapan Bibi yang mengatakan tentang juru rawat yang mengantarkan obat untuk Pak Yohanes .”
Inspektur Budi menyahut,
“Lalu… apa pendapatmu ?”
“Ucapannya terasa agak janggal. Bibi Lusi merasa belum pernah melihat perawat itu, tapi ia merasa pernah mengenalnya. Bukankah hal ini aneh ?”
Stefanus meneruskan.
“Bukan itu saja… Ia juga merasakan ada dandanan yang agak janggal pada perawat itu. Itu bukan merupakan kebiasaan. Dan kita semua tahu, apa yang bukan menjadi kebiasaan adalah hal yang tidak wajar .”
Inspektur Budi memikirkan kata-kata remaja yang pernah beberapa kali menolongnya memecahkan kasus kriminal itu.
“Kasus ini benar-benar kusut ,” keluhnya. “Lebih kusut dari gulungan benang yang dipermainkan kucing .”
Kata Stefanus,
“Lalu apa tindakan anda selanjutnya, Inspektur ?”
Sikap Inspektur Budi agak berubah. Ia menyadari akan tanggung jawabnya untuk segera menyelesaikan kasus ini.
“Pertama-tama kita akan menarik kesimpulan. Itu sudah jelas karena teori yang pernah kuutarakan sama sekali tidak berguna. Pak Yohanes telah dibunuh dengan darah dingin. Itu merupakan fakta yang tidak dapat dipungkiri. Caranya adalah dengan membubuhkan zat tertentu ke dalam minuman anggur. Efeknya adalah rasa pening di kepala. Kemudian obat yang tidak seharusnya berada dalam botol obat di dalam kamar kerja Pak Yohanes. Jadi, jelas kalau ada yang menginginkan kematiannya. Yang jadi masalah sekarang, siapa kira-kira yang telah membubuhkan zat ke dalam minuman anggur dan menukar obat dalam botol Pak Yohanes ?”
Yuli menyela,
“Inspektur… Apakah tidak sebaiknya anda menghubungi dokter pribadi Pak Yohanes ? Barangkali anda dapat menemukan petunjuk .”
Stefanus mendukung gagasan temannya itu.
“Saya rasa pendapat Yuli ada benarnya juga. Barangkali dengan begitu, kita dapat memperoleh sesuatu .”
Inspektur berpikir sejenak.
“Baiklah… Kurasa kalian benar .”
“Masih ada beberapa hal yang masih perlu diselidiki .”
“Hal yang mana ?”
“Kecelakaan yang menimpa Jenny. Sosok Michael yang tahu-tahu muncul sebagai kekasihnya. Peristiwa sabotase terhadap mobil Kak Patty. Dan juga menghilangnya Pak Kosasih seakan menghindari pemeriksaan Polisi .”
Inspektur Budi bangkit dari kursi yang didudukinya selama ini, lalu meraih rokoknya. Ia melangkah ke sudut dekat jendela dan menyalakan rokoknya. Asap rokok segera menyebar. Yuli sempat terbatuk-batuk karenanya.
“Maaf… ” kata Inspektur. “Aku tidak akan dapat berpikir jika tidak merokok .”
“Benar-benar sulit… ” ujar polisi gendut itu. “Kurasa jawaban dari semua masalah ini adalah kepribadian masing-masing orang dan kehidupan mereka .”
Yuli menggamit Stefanus. Dengan isyarat mata mereka berpendapat untuk meninggalkan Inspektur Budi berpikir sendiri.
“Inspektur… Kami masih ada sedikit urusan, jadi kami mohon diri dulu .”
“Baiklah kalau begitu .”
Inspektur Budi kembali duduk di tempatnya semula. Ia melihat kedua remaja itu meninggalkan ruangan pribadinya.

Saat itu sudah pukul sebelas lewat beberapa menit. Stefanus dan Yuli duduk berhadapan di kedai hamburger yang sudah bertahun-tahun menjadi langganan mereka. Stefanus menggigit hamburgernya sambil terus memperhatikan Yuli.
“Ada apa sih ? Sejak tadi kau cuma memperhatikan aku tapi tidak bicara apa-apa ,” kata Yuli dengan tampang masam.
Stefanus buru-buru menyahut,
“Tunggu dulu dong… Jangan terus marah begitu. Aku sedang berpikir, nih. Nah.. Pikiranku baru akan jalan kalau sambil lihat kamu yang can… “
“Sembarangan… ” potong Yuli. Ia meremas-remas kertas tissue lalu dilemparkannya ke arah temannya yang suka menggoda itu.
Stefanus terkekeh.
“Aduh… Ya deh, aku kan cuma ingin bercanda .”
“Kalau Lala ada di sini, habis deh kamu… ” kata Yuli.
“Wah, aku tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau Lala tahu-tahu muncul ,” sahut Stefanus.
Stefanus selalu merasa repot menghadapi Lala, saudara sepupunya yang tinggal di Bandung. Walaupun sudah SMA kelas tiga, namun sikap Lala masih seperti anak kecil. Stefanus hampir-hampir tidak dapat pergi sendiri. Kemana pun dia pergi, Lala selalu ikut. Itu sebabnya ia sering merasa sebal kalau saat liburan besar tiba. Lala sering datang ke Bogor untuk berlibur di rumahnya.
Sambil terus cemberut Yuli berkata,
“Mestinya Lala dihubungi untuk menemani kamu selama satu bulan .”
Stefanus nyengir. Katanya,
“Ah, jangan bicara seram begitu. Lebih baik kita cepat-cepat selesaikan makan, lalu cabut ke markas .” Markas yang dimaksud Stefanus adalah gudang di rumahnya.
Lanjut remaja itu,
“Aku punya beberapa dugaan yang ingin kumintakan pendapatnya padamu .”
Yuli langsung tertarik.
“Sungguh ?” tanya gadis itu.
Stefanus mengangguk dengan mantap. Ia mengusap mulutnya dengan saputangannya sebelum kemudian bangkit dari tempat duduknya.
“Yuk, kita berangkat… “
Tidak berapa lama setelah itu, mereka berdua sudah ada di dalam markas yang sebenarnya merupakan sebuah gudang di samping rumah Stefanus. Banyak petualangan mereka yang berawal dari tempat itu.
“Kita mulai saja ,” ujar Stefanus dengan gaya agak sok tahu seperti biasanya.
“Aku ingin menanyakan satu hal kepadamu. Apakah kau masih mencurigai Pak Kosasih sebagai pelaku pembunuhan terhadap Pak Yohanes ?”
Yuli mengangkat bahu. Katanya,
“Yah… Adakah pilihan lain ?”
Stefanus tersenyum.
“Yul… Kau sudah lama mengenalku, bukan ? Apakah kau tahu betapa pentingnya peranan permainan catur itu dalam kasus ini ?”
“Lagi-lagi permainan itu… “ desis Yuli.
Stefanus mendekati gadis itu lalu berbisik,
“Kau tahu, orang seperti Pak Hartono mempunyai harga diri yang sangat tinggi dalam bermain catur dan dia tidak akan pernah membiarkan dirinya dikalahkan oleh orang lain, terutama sekali oleh Pak Yohanes .”
“Darimana kau tahu ?” tanya Yuli.
Stefanus tersenyum lagi.
“Aku kan pernah bermain catur dengannya .”
Remaja itu berjalan mondar-mandir.
“Semakin kupikir, aku semakin curiga. Pak Hartono dan Pak Yohanes bermain catur berdua saja. Ingat… hanya berdua. Tidak ada seorang pun yang tahu apa yang dilakukan Pak Hartono saat itu bersama Pak Yohanes, lalu … “
Yuli memotong perkataan Stefanus.
“Astaga… Apakah kau hendak mengatakan bahwa Pak Hartono yang membunuh Pak Yohanes ?”
Stefanus menggelengkan kepalanya.
“Bukan sesederhana itu, tapi aku yakin masalah hutang Pak Yohanes itu pasti hanya karangan Pak Hartono saja .”
“Mengapa kau begitu yakin ?”
Kata Stefanus,
“Cerita tentang hutang itu untuk mengalihkan perhatian kita dari hal terpenting dalam kasus ini. Dan menurutku adalah keadaan permainan catur antara Pak Hartono dan Pak Yohanes .”
“Kalau begitu, kau benar-benar mencurigai Pak Hartono ,” desak Yuli.
“Aku belum berani memastikan ,” sahut Stefanus.
“Lalu apa yang dilakukan Pak Kosasih ?”
Stefanus mendesah.
“Kalau jalan pikiranku tidak salah, Pak Kosasih pasti telah melihat sesuatu. Sesuatu yang membuatnya merasa tidak enak. Sesuatu yang mencemaskan dan yang jelas apa yang dilihatnya itu telah menempatkannya pada posisi yang serba tidak mengenakkan. Hal itu juga telah menjawab pertanyaan mengapa dia selalu menghindari pemeriksaan polisi .”
“Tapi dengan berbuat seperti itu, malah akan menyulitkan posisinya ,” protes Yuli.
“Mungkin posisi Pak Kosasih benar-benar sulit. Gambaran kasus ini mulai tampak jelas bagiku .”
Yuli menggelengkan kepalanya.
“Bagiku, semuanya masih gelap .”
Stefanus melanjutkan,
“Ada satu fakta lain yang sangat menarik. Pagi hari itu, Bibi Lusi membawa obat yang seperti biasa diantar oleh juru rawat Dokter Ahmadi, dokter pribadi Pak Yohanes. Yang agak aneh adalah Bibi Lusi seolah mengenal juru rawat itu dan dandanan yang dikenakannya terasa agak janggal. Rasanya sangat aneh… “
Remaja itu terdiam sebentar.
“Aku tidak melihat keanehan dari ceritamu, Stef ,” sahut Yuli sambil meneguk minuman es sirop yang ada di meja di sampingnya.
“Lalu, pagi hari itu juga, Pak Yohanes sempat berselisih paham dengan Henry. Apa yang mereka bicarakan ?”
Stefanus melanjutkan,
“Lalu mobil kak Patty yang tahu-tahu tidak beres mekanismenya. Kak Patty sendiri mengatakan waktu sore harinya, mobil itu masih dalam keadaan baik-baik saja. Siapa yang menyabot mobil itu ?”
“Pertanyaan yang lebih penting adalah, siapa yang membunuh Pak Yohanes ?”
Kedua remaja itu terdiam beberapa saat lamanya, tenggelam dalam lamunan masing-masing.

Sementara itu, langit tiba-tiba tertutup mendung yang sangat tebal sampai jalanan di kota Bogor terlihat seperti sudah pukul lima sore. Pepohonan di pinggir jalan meliuk-liuk dipermainkan angin yang berhembus semakin kencang. Suara guntur menggelegar berkali-kali. Beberapa jalan utama kota Bogor terlihat lengang. Hanya ada beberapa mobil yang masih terlihat di jalan. Para pejalan kaki berjalan dengan langkah tergesa-gesa berusaha sampai ke tempat tujuannya secepat mungkin. Di jalan kecil, beberapa orang anak kecil menandak-nandak sambil bernyanyi, menantikan turunnya hujan. Titik-titik air hujan mulai berjatuhan membasahi bumi. Hawa segar mulai terasa setelah saat sebelumnya sempat terasa gerah. Halaman rumah Pak Yohanes yang hijau tampak subur oleh siraman air hujan.
Viola duduk di sebuah kursi di beranda rumah Pak Yohanes. Berulang kali gadis itu mendesah. Kaos longgar yang dipakainya diremas-remas menandakan gadis itu dalam keadaan sebal.
Patricia muncul di ambang pintu dan sejenak, ia memperhatikan sosok Viola yang masih terdiam.
“Kelihatannya kau sedang sebal ,” tegur Patricia.
Tanpa menoleh Viola menyahut,
“Aku bosan sekali. Rasanya tidak ada yang bisa kulakukan saat ini. Aku heran, kenapa Inspektur Budi tidak menghubungiku ?”
Patricia tertawa.
“Kau kira, kau sudah menjadi asisten Inspektur Budi, ya ? Kau terlalu berlebihan dalam menilai dirimu sendiri .”
Patricia duduk di sebelah Viola. Posisi Viola masih belum berubah. Gadis itu menggoyang-goyangkan kakinya.
“Kan boleh saja aku berharap ,” rajuk Viola. “Barangkali saat ini Inspektur sedang sibuk mengadakan penyelidikan lebih lanjut. Mungkin pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada Bi Lusi dan yang lainnya tadi pagi bisa memberikan petunjuk baru baginya .”
Saat itu sebuah mobil masuk ke halaman.
“Lihat… Itu Andre ,” kata Patricia.
Viola langsung bangkit. Ia melihat Andre keluar dari mobil lalu berlari-lari ke arahnya.
“Kau cuti, ya ?” tegur Viola.
Andre merapikan rambutnya yang sempat basah oleh air hujan.
“Ah… tidak juga. Aku hanya kebetulan mampir. Lagipula, kurasa saat-saat seperti ini orang-orang akan malas keluar rumah .”
“Ada tamu, ya … “
Helen keluar dari dalam rumah sambil membawa secangkir teh hangat.
“Wah… kau ini egois. Masak kau hanya membawa secangkir gelas ,” goda Andre.
Wajah Helen terlihat bersemu merah.
“Maaf deh… Akan kubuatkan. Sebentar, ya .”
Tiba-tiba, gelas di tangan Helen terlepas dari pegangannya. Pranggg…
“Aduh… “ seru gadis itu. Viola, Patricia dan Andre segera memburunya.
“Helen, kau terluka. Kakimu berdarah ,” seru Patricia sambil memperhatikan kaki adiknya.
“Wah, gawat. Rasanya lukanya agak parah ,” timpal Viola yang berdiri di sisi Patricia.
“Kurasa tidak apa-apa ,” kata Andre sambil memeriksa kaki gadis itu. “Sebentar, aku akan mengambilkan antiseptik untuk mengobati lukamu .” Dokter muda itu bergegas masuk ke dalam rumah. Sebagaimana Viola, Andre sudah sering datang ke rumah itu sehingga ia mengenal segala liku-liku lorong rumah itu. Dalam beberapa langkah, Andre sudah sampai di lorong yang menuju kamar kerja Pak Yohanes. Ia merasakan bulu kuduknya sedikit meremang saat ia melewati lorong itu.
“Tidak ada apa-apa di sini ,” bisik dokter muda itu menenangkan dirinya sendiri.
Dengan langkah lebar, Andre melewati kamar kerja Pak Yohanes. Ada sedikit perasaan aneh saat melewati kamar kerja itu. Apakah ini yang dinamakan perasaan takut akan hantu ? Andre tidak perlu lama-lama memikirkannya. Ia segera menemukan apa yang dicarinya. Lemari obat. Dibukanya lemari obat dan ia melihat antiseptik itu ada di antara obat-obatan lainnya. Tangannya bergerak mengambil antiseptik itu, ketika kemudian ia tertegun. Dengan hati-hati, Andre mengambil botol kecil yang ada di sebelah antiseptik itu. Keningnya semakin berkerut ketika ia membaca label pada botol kecil itu. Tanpa berkata apa-apa, ia memasukkan botol kecil itu ke dalam saku bajunya. Ditutupnya kembali lemari obat itu lalu ia berpaling dan menyusuri lorong yang sama.
Andre mempercepat langkahnya saat melintas di depan kamar kerja Pak Yohanes. Tiba-tiba wajah dokter muda itu menjadi pucat. Pegangan pintu kamar kerja Pak Yohanes bergerak-gerak. Siapa itu ? Mungkinkah … Andre berdiri mematung saat pintu kamar kerja Pak Yohanes terbuka dan sesosok tubuh muncul dibaliknya.
“Astaga… Jenny !!!” seru Andre lega.
Jenny sendiri terkejut.
“Kak Andre. Apa yang kau lakukan di sini ?”
Andre menjelaskan persoalannya.
Jenny mengangguk-angguk. Gadis itu memakai gaun putih yang panjang dan agak tipis. Rambutnya dibiarkan tergerai sehingga penampilan gadis itu kalau dilihat sepintas lalu memang seperti hantu… hantu yang cantik.
“Aku hanya ingin menyendiri di kamar kerja papa ,” ujar Jenny ketika Andre menanyakan mengapa Jenny ada di kamar kerja Pak Yohanes. Kecurigaan Andre sendiri semakin bertambah besar terhadap gadis itu.
Tidak berapa lama, keduanya sudah kembali di beranda dan kaki Helen yang terluka juga sudah diobati dengan antiseptik.
Viola tertawa terbahak-bahak ketika Andre menceritakan cerita di lorong tadi.
“Aku sama sekali tidak menyangka kalau kau takut sama hantu. Tapi mungkin kalau hantunya cantik seperti Jenny, kau tidak perlu merasa takut lagi ,” kata Viola di sela-sela tawanya.
“Namanya juga manusia ,” kata Andre menggerutu.
Saat berikutnya ia melihat Jenny, lalu ia memberi isyarat kepada Viola untuk ikut memperhatikan gadis itu. Viola berhenti tertawa. Patricia dan Helen saling berpandangan. Mereka melihat Jenny berdiri membelakangi mereka dan menatap halaman rumah dengan pandangan kosong. Gaun putih yang dikenakannya berkibar-kibar seirama dengan rambutnya yang tergerai dipermainkan angin.
Patricia mendekatinya dan memeluk bahu gadis malang itu.
“Ada apa denganmu ? Kenapa kau berdiri di sini ? Nanti masuk angin, lho ,” tegur Patricia dengan lembut.
Jenny berpaling. Ditatapnya wajah saudara-saudaranya dengan tatapan mata sedih.
“Aku tidak apa-apa ,” kata gadis itu sambil berjalan ke dalam rumah.
Viola dan Andre saling mengangkat bahu sementara Patricia dan Helen terheran-heran.
“Lebih baik aku menyusulnya ke dalam ,” kata Patricia. Gadis itu berjalan bergegas masuk ke dalam rumah diikuti Helen. Sekarang yang ada di beranda itu tinggal Viola dan Andre.
Hujan masih juga belum berhenti. Hawa dingin sangat terasa menusuk tulang. Viola berdiri menyandarkan tubuhnya ke salah satu pilar sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Andre bangkit dari kursi yang didudukinya dan berjalan menghampiri Viola.
“Apa yang kau pikirkan ?”
“Berapa lama Jenny harus menderita seperti itu ?” kata Viola dengan nada bergetar.
Andre menyentuh bahu gadis itu.
“Sudahlah… Mungkin tidak lama lagi, ingatannya akan pulih seperti sediakala. Peranan seseorang yang bernama Michael itu mungkin sangat besar artinya dalam pemulihan ingatannya .”
Nada suara Viola berubah.
“Berarti, setelah Jenny sembuh, kita akan mengetahui duduk persoalannya .”
Andre mendengus, katanya,
“Wah… Dalam pikiranmu cuma ada itu. Apakah kau sudah ketularan penyakit detektif-detektifan dari Inspektur gendut itu ?”
Viola langsung cemberut.
“Kau selalu suka menggodaku ,” katanya.
“Ngomong-ngomong, mana Henry dan Maria ?” tanya Andre.
“Mungkin di kamarnya ,” kata Viola dengan nada dingin.
“Bibi Laras ?”
“Dia menghubungi pengacara Pak Yohanes untuk mengurus masalah warisan yang akan diperolehnya… Oh.. ya, aku hampir saja lupa. Tadi pagi, Bibi Laras sempat bertengkar dengan Henry .”
Andre mengerutkan kening.
“Aneh sekali ,” katanya.
Viola mengangguk.
“Memang aneh. Dan kau tidak akan pernah menduga bahwa yang membuat mereka bertengkar adalah warisan yang diterima Bibi Laras ternyata sebesar setengah dari harta kekayaan Paman Yohanes sementara anak-anaknya hanya mendapatkan sisanya. Kurasa pembagian itu tidak adil dan hal ini sangat menarik .”
“Mengapa bisa begitu ?” timpal Andre.
Viola mendesah. Kata gadis itu,
“Pagi hari sebelum paman terbunuh, Henry juga sempat berselisih paham dengan paman masalah warisan yang tidak adil itu. Paman hanya bisa berjanji untuk mengubah isi surat warisan itu segera setelah pesta pernikahan malam itu. Tapi niatnya itu akhirnya tidak tercapai .”
Viola melanjutkan dengan mata yang bersinar.
“Kalau semua ini kuceritakan kepada Inspektur Budi, ia tentu sangat tertarik .”
Andre seperti teringat sesuatu.
“Oya, aku sendiri juga harus menghubungi Inspektur Budi. Ada sesuatu hal yang harus kuceritakan kepadanya .”
Viola langsung tertarik.
“Kau menemukan sesuatu ?”
Andre mengangguk.
“Aku menemukan sesuatu yang tidak pada tempatnya. Aku sendiri tidak habis pikir kenapa benda itu bisa berada di tempat yang salah .”
“Aku harus segera pergi ,” kata dokter muda itu lalu berlari menembus titik-titik hujan ke mobilnya.
“Tunggu… Apa yang kau temukan ?” tanya Viola.
Tapi dokter muda itu hanya melambaikan tangannya seraya masuk ke dalam mobilnya. Tidak berapa lama kemudian, mobil yang dikendarainya telah melesat pergi.
Viola merasa kesal… Sangat kesal…
“Andre… Aku benci kamu !!!” seru gadis itu.

Inspektur Budi meletakkan gagang teleponnya. Saat itu, lima belas menit sudah berlalu sejak kepergian Andre dari rumah Pak Yohanes. Inspektur Budi menikmati rokoknya. Telepon yang baru diputuskannya adalah dari Viola. Di tengah kekesalannya, gadis itu menceritakan segala sesuatu yang menyangkut masalah warisan. Ya… Warisan. Akhirnya, pola kasus itu mulai terbentuk. Akibatnya bahkan semua orang yang termasuk dalam keluarga Pak Yohanes bisa dicurigai. Cerita Viola tadi benar-benar mengubah sudut pandang kasus itu. Kalau memang demikian, siapa yang paling beruntung atas kematian Pak Yohanes. Tentu saja Larasati, karena ia penerima bagian warisan yang terbesar. Tapi tidak mungkin dia yang melakukan pembunuhan. Pasti salah satu diantara anak-anak Pak Yohanes, atau bahkan… mungkin… Viola !!!
Inspektur Budi tersentak dari lamunannya ketika Dokter Andre dengan diantarkan oleh Letnan Haris tahu-tahu masuk ke dalam ruangannya.
“Ah… Rupanya Dokter Andre. Ada sesuatu yang akan anda sampaikan kepada saya ?”
Dokter Andre diam sejenak. Dengan sudut matanya, diliriknya Letnan Haris. Letnan yang cukup lama bekerja dengan Inspektur Budi itu mengetahui isyarat tersebut dan dengan segera beranjak pergi.
“Inspektur, anda tidak akan percaya dengan apa yang telah saya temukan di rumah Pak Yohanes .” Sambil berbicara, dokter muda itu mengeluarkan sebotol obat yang telah dibungkus dengan saputangannya.
Kening Inspektur Budi berkerut.
“Botol apakah itu ?”
“Sepanjang pengetahuan saya sebagai seorang dokter, botol ini adalah sejenis obat penenang yang digunakan pada pasien apabila mereka mengalami kesulitan tidur .”
Tiba-tiba Inspektur Budi bangkit dengan gerakan cepat.
“Jadi… Apakah botol itu… “
Andre mengangguk.
“Ya… Sangat besar kemungkinannya, botol ini adalah alat yang digunakan untuk melakukan pembunuhan itu. Dan karena tadi saya ada waktu sebentar, saya sempat berkonsultasi sejenak dengan Dokter Ahmadi, dokter pribadi Pak Yohanes. Dan dia membenarkan dengan sungguh-sungguh bahwa isi dari botol ini, tidak lain adalah obat yang sesungguhnya diperuntukkan bagi Pak Yohanes .”
Inspektur Budi mengangguk.
“Jadi, rupanya begitu. Sang pembunuh belum sempat menghapus jejaknya. Sebaiknya anda tinggal saja botol itu di sini biar diperiksa oleh pihak kepolisian secara cermat .”
“Ngomong-ngomong… “ kata Inspektur melanjutkan. “Tadi anda berjumpa dengan Dokter Ahmadi. Benarkah obat itu dikirimkan oleh juru rawatnya pada hari Minggu, pagi hari sebelum pembunuhan itu terjadi ?”
Andre berpikir sejenak.
“Benar. Tapi saya tidak dapat melihat apa pentingnya fakta itu terhadap kasus ini .”
Dokter muda itu melihat arlojinya.
“Saya rasa saya harus pergi, Inspektur. Pasien-pasien saya sudah lama menanti .”
Saat itu kilat menyambar dengan keras sekali dan suara angin menderu-deru di tengah lebatnya guyuran air hujan terdengar semakin menakutkan.
Inspektur Budi segera menelepon Stefanus setelah bayangan dokter muda itu menghilang dibalik pintu ruangan kerjanya.

Oleh: Wahyu Kurniawan, 1998