Ketika saya masih berusia 10 tahun, saya mempunyai sebuah obsesi menjadi seorang penulis misteri, karena saat itu saya sangat suka dengan cerita-cerita detektif. Pada waktu itu di televisi sempat disiarkan film Lima Sekawan (jadwal siarannya saya lupa) yang sangat menginspirasi saya. Saya juga membeli beberapa buku Lima Sekawan dan mulai menulis cerita detektif yang iramanya seperti Lima Sekawan. Tokoh detektifnya ada 3 cowok: Rangga, Tommy, Jack, 1 cewek: Nana dan seekor anjing bernama Bruno. Sebuah cerita berjudul MERINGKUS PEMALSU UANG selesai saya tulis, ya tentunya dengan gaya anak kecil saat itu. Kalau saya baca sekarang, saya bisa tertawa sendiri dengan tokoh detektif yang saya ciptakan karena banyaknya hal yang tidak masuk akal yang diucapkan sang detektif dalam penyelidikannya. Yah… Fantasi anak kecil.
Selang beberapa tahun, cerita detektif dimarakkan dengan kemunculan Trio Detektif, yang menurut saya ceritanya tak kalah menariknya dengan Lima Sekawan. Waktu saya masih SMP, kembali saya menulis sebuah cerita detektif yang terinspirasi dari Trio Detektif. Tokoh utamanya adalah 3 detektif muda bernama Stefanus, Tom dan Anton. Namun saya menambahkan tokoh cewek bernama Yuli. Tokoh ini belakangan muncul dalam tulisan saya yang terakhir untuk membantu Stefanus memecahkan kasus. Saat itu saya sempat menulis dua buah cerita berjudul MISTERI SURAT WASIAT dan MISTERI PATUNG ANTIK yang dua2nya sayang sekali tidak sempat selesai, walaupun seluruh kerangka cerita itu termasuk endingnya sudah ada di benak pikiran saya. Dari judulnya saja, kita bisa tahu betapa saya terobsesi dengan tokoh detektif ciptaan Alfred Hitchcock itu yang hampir semua judul bukunya diawali dengan kata MISTERI.
Dan akhirnya saya juga membaca buku2 misteri karya Agatha Christie, yang kebanyakan bercerita tentang pembunuhan. Bagaimana suatu pembunuhan itu dirancang begitu artistik oleh pengarangnya, dan kita dibuat terkejut saat pembunuhnya terungkap pada akhir cerita. Saya suka dengan gaya bahasanya dan kembali saat saya duduk di bangku SMA, saya menulis sebuah cerita tentang pembunuhan. Pada saat saya membuat blog ini, saya jadi ingin menaruh sebagian hasil tulisan saya itu disini…

BAB SATU
PESTA PERNIKAHAN

KRINGGG …
Untuk ketiga kalinya telepon sialan itu berdering. Stefanus mengerang di dalam tidurnya. Ia sebenarnya masih ingin melanjutkan tidurnya. Namun deringan yang keempat menyebabkan ia terpaksa bangkit dari tempat tidurnya. Jam yang melekat pada pergelangan tangan remaja itu menunjukkan pukul satu dini hari.
Stefanus melangkah dengan langkah gontai menuruni tangga menghampiri pesawat telepon. Sementara itu, benda sialan itu telah berdering untuk yang kesekian kalinya.
“Siapa sih malam-malam begini ?”
Ia menguap lebar sebelum kemudian tangannya meraih gagang telepon. Kantuknya langsung lenyap begitu mendengar suara yang sangat dikenalnya, Inspektur Budi. Ia langsung berpikir, pasti sesuatu yang buruk telah terjadi.
“Hallo … Stef. Maaf mengganggu malam-malam begini, tapi kurasa kau akan tertarik mendengar ceritaku .”
“Apa ada sesuatu yang telah terjadi, Inspektur ?”
“Memang, tapi lebih baik kau datang ke kantor. Nanti aku ceritakan seluruhnya .”
Setelah itu hubungan terputus.
Stefanus termenung beberapa saat lamanya. Ia masih memikirkan sikap Inspektur yang misterius. Ia yakin sesuatu telah terjadi dan ia ingin mengetahuinya.
Saat berikutnya, remaja itu telah mengenakan jaketnya yang tebal dan bergegas menuju garasi. Dikeluarkannya Astrea Prima miliknya dan bayangannya segera menghilang di balik tikungan jalan.
Saat itu kedua orang tua Stefanus sedang tidak ada di rumah. Mereka sedang berlibur ke Bali, sehingga Stefanus diberi tugas untuk menjaga rumah. Namun saat itu, ia telah mengabaikan tugas tersebut untuk menemui Inspektur Budi.
Malam terus merambat. Jalanan kota B terlihat sepi seperti layaknya kota mati. Terpaan angin yang cukup kencang sempat membuat Stefanus menggigil kedinginan.
Beberapa menit kemudian, Stefanus telah sampai di kantor polisi. Petugas jaga langsung mempersilakan anak itu untuk menemui Inspektur Budi di ruangannya.
Inspektur sedang mondar-mandir di ruangannya. Kelihatan sekali ia sangat bingung. Ruangan itu telah dipenuhi asap rokok. Ia lega begitu melihat Stefanus muncul.
“Sebenarnya apa yang telah terjadi, Inspektur ?” Stefanus membuka pembicaraan.
“Kejadiannya berlangsung … kira-kira tiga hari yang lalu. Dan masalah tersebut benar-benar memusingkan .”
Inspektur mengusap keringat yang membasahi dahinya. Ia menyulut rokok yang kesekian dan menghisapnya dalam-dalam.
“Terlebih lagi sejak datangnya surat kaleng yang berhubungan dengan kasus itu ,” ujarnya sambil mendesah. “Terus terang surat itu memperkuat dugaanku .”
“Kasus macam apa, Inspektur ?” tanya Stefanus.
Stefanus mengambil tempat duduk kemudian ia duduk dengan wajah serius.
Inspektur memandangi wajah remaja yang ada di hadapannya.
“Saat ini aku benar-benar bingung. Lebih baik kuceritakan dari awal. Semua bermula dari sebuah pesta pernikahan. Siapa yang akan menyangka pesta yang berbahagia tersebut berakhir dengan sebuah tragedi. Begini ceritanya … “

Hari Minggu sore di bulan Oktober. Cuaca sangat cerah. Sinar matahari membias dari ufuk barat. Begitu indah dan mempesona.
Seorang laki-laki berperawakan agak gendut dan berpakaian seragam dinas kepolisian terlihat baru keluar dari kantor polisi.
“Ah … Senja yang menyenangkan ,” gumamnya sendirian.
Sambil menyungging senyum, ia berjalan dengan santai meninggalkan kantor polisi. Sejenak ia menghentikan langkahnya seperti teringat akan sesuatu hal, lalu ia melihat arlojinya dan bergumam,
“Hmmm, masih terlalu sore untuk datang ke pesta itu. Paling-paling pestanya sendiri baru mulai jam delapan. Aku berani bertaruh, pesta pernikahan itu pasti dirayakan secara besar-besaran karena pesta itu adalah pesta pernikahan Maria, puteri Pak Yohanes yang paling disayanginya .”
Inspektur Budi melanjutkan langkahnya sambil terus berpikir. Pak Yohanes termasuk salah seorang dari sepuluh jutawan terkaya di kota B. Tentunya merupakan suatu kehormatan tersendiri bagi Inspektur Budi untuk dapat hadir pada pesta pernikahan Maria, puteri bungsu Pak Yohanes. Ia sendiri tidak begitu kenal dengan Pak Yohanes.

Pukul tujuh malam. Inspektur Budi tengah mempersiapkan diri untuk menghadiri pesta tersebut. Malam itu ia ingin tampil sebaik mungkin. Setelan jas yang sudah licin telah dikenakannya. Kemudian ia mengagumi penampilannya seraya berkaca di depan cermin. Rambutnya yang hanya tinggal beberapa helai itu berkali-kali dirapikannya. Sejenak ia termenung. Kenangan akan mendiang istrinya merasuki pikirannya.
“Lebih baik aku segera berangkat ,” gumamnya setelah beberapa menit lamanya terdiam.
Saat berikutnya, ia sudah berada di trotoar di depan rumahnya. Tangannya melambai-lambai berusaha menghentikan sebuah Taxi yang tampak dari kejauhan. Setelah Taxi itu menghentikan lajunya, Inspektur segera masuk ke dalamnya.
Kira-kira setengah jam perjalanan dengan Taxi, Inspektur Budi telah sampai di rumah Pak Yohanes. Setelah membayar ongkos kendaraan itu, Inspektur Budi memperhatikan bangunan megah yang berdiri dengan anggun di hadapannya.
“Benar-benar mengagumkan ,” tanpa sadar terlontar ucapan itu dari mulut Inspektur Kepolisian itu.
“Yah… saya rasa juga demikian .”
Inspektur Budi terkejut mendengar suara seseorang yang tiba-tiba saja ada di sampingnya. Seorang gadis yang rupawan dan anggun. Inspektur mencoba menaksir umur gadis itu, kira-kira sekitar dua puluh lima tahun.
Gadis itu sedikit gugup melihat kekagetan Inspektur Budi. Ia membungkukkan badannya dengan hormat.
“Maafkan saya… Saya tidak bermaksud mengejutkan anda ,” ujar gadis itu dengan ramah.
“Tidak apa-apa, nona. Saya hanya sedikit kaget. Oh ya, apakah anda juga merupakan salah seorang undangan ? Kalau boleh saya menduga anda pasti masih mempunyai hubungan kekerabatan dengan tuan rumah. Apakah benar demikian ?” kata Inspektur Budi.
“Pengamatan anda jeli sekali. Saya berani bertaruh anda pasti Inspektur Budi yang terkenal dengan ketangkasannya dalam menyelesaikan kasus kriminal itu .”
“Ah… anda terlalu memuji. Sebenarnya, saya tidak begitu hebat seperti apa yang dikatakan orang-orang. Mereka terlalu membesar-besarkan .”
Inspektur Budi menyulut rokoknya, sebelum kemudian menyambung pembicaraannya,
“Karena anda sudah tahu siapa saya, maka perkenankan saya mengetahui nama anda dan hubungan anda dengan Pak Yohanes .”
Wajah gadis itu memerah.
“Wah… maafkan saya. Setahun di negeri Belanda telah mengubah kebiasaan saya. Nama saya Viola. Ibu saya adalah adik dari Paman Yohanes. Jadi saya adalah keponakannya .”
Inspektur Budi mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Sekarang, mari kita masuk ke dalam… Saya yakin sepupu saya Maria akan terkejut melihat kehadiran saya .”
Ucapan gadis itu yang terakhir membuat heran Inspektur Budi. Namun petugas kepolisian itu tidak mengatakan apa-apa lagi.