BAB LIMA
PERBINCANGAN DI RUMAH ANDRE

Stefanus menguap lebar.
“Sepertinya aku terlalu memaksamu, Stef ,” kata Inspektur Budi dengan nada menyesal.
Saat itu jam sudah menunjukkan pukul tiga lebih sedikit. Stefanus dan Inspektur Budi saling berhadapan satu sama lain. Inspektur Budi baru saja selesai menuturkan seluruh peristiwa kematian Pak Yohanes.
“Mata saya terasa berat, Inspektur ,” kata Stefanus. Remaja itu kembali menguap untuk yang kesekian kalinya.
Inspektur Budi tersenyum.
“Baiklah… ” kata perwira Polisi itu. “Kita akan bersama-sama menyingkap kasus ini. Sebaiknya kau ikut hadir dalam upacara pemakaman Pak Yohanes .”
Stefanus bertanya,
“Kapan ?”
“Nanti… Sekitar jam sebelas… Karena itu sebaiknya kita beristirahat sejenak untuk memulihkan kondisi badan. Untuk sementara ini kau jangan memberi komentar apa pun tentang kasus ini. Nanti akan kuperkenalkan kau dengan orang-orang yang merupakan kerabat ataupun sahabat dekat Pak Yohanes. Dari situ kau akan dapat memperoleh gambaran tentang karakter masing-masing .”
Stefanus mengangguk.
“Ya… saya pikir juga begitu. Terus terang saat ini saya tidak sanggup berpikir apa pun apalagi memainkan logika seperti yang biasanya saya lakukan. Yang paling saya dambakan saat ini adalah tidur… “
Inspektur Budi terbahak-bahak.
“Tidak disangka… Ternyata orang cerdas sepertimu sama saja dengan lainnya. Kali ini aku memang agak keterlaluan .”
Stefanus mengangkat bahu.
“Namanya juga manusia… Biarpun kuat seperti apapun jika tidak pernah tidur lama-lama juga bisa jatuh sakit .”
“Baiklah… Kau boleh pulang sekarang. Tapi ingat, nanti jam sebelas kita akan hadir di pemakaman tersebut. Ajaklah juga Hartomo dan Anton .”
Stefanus menganggukkan kepala.
Tanpa berkata apa-apa lagi ia segera bangkit meninggalkan ruangan itu. Inspektur Budi terus mengawasinya.
Stefanus sudah sampai di rumahnya ketika ia teringat akan kisah yang dituturkan oleh Inspektur Budi.
“Sebuah kasus yang unik… ” gumam remaja itu. “Begitu banyak kejanggalan dan misteri yang menyelubungi kasus itu. Jika kasus itu benar-benar merupakan pembunuhan yang direncanakan… “
Stefanus bangkit dari dipan yang ditidurinya. Saat itu ia berada di dalam gudang yang merupakan markas dimana ia dan teman-temannya sering berkumpul. Tom dan Anton sangat sering berada di ruangan itu bersamanya. Dua anak yang disebut belakangan adalah sahabat akrab Stefanus. Mereka bertiga sudah bersahabat sejak masih kecil dan memiliki kegemaran berpetualang.
Stefanus berjalan mondar-mandir di dalam ruangan itu. Namun tidak lama. Akhirnya rasa kantuk mulai menyerang dan mengalahkan rasa penasaran Stefanus terhadap kasus kematian Pak Yohanes. Remaja itu tertidur juga.

Suara bising kendaraan membangunkan Stefanus. Ia mengejap-ngejapkan matanya yang masih terasa sepat. Matanya melirik ke arloji yang masih melekat di pergelangan tangannya.
“Astaga… ” serunya. “Sudah jam sembilan lewat… “
Stefanus bangkit dan segera keluar dari gudang masuk ke dalam rumah. Bik Inah, pembantu rumah tangga yang telah bertahun-tahun mengabdi pada keluarga Stefanus tampak terkejut.
“Lho… Stef, Kok… ???” kata wanita setengah tua itu dengan pandangan bingung.
“Bik… Tadi malam aku jalan-jalan sama teman-teman… Jadi pulang agak terlambat. Dan karena takut mengganggu, maka aku tidur di gudang ,” Stefanus menjawab sekenanya.
Bik Inah memang tidak tahu kalau Stefanus sudah pulang dan kemudian keluar lagi malam-malam. Karena itu wanita berperawakan gendut itu tidak berkata apa-apa lagi.
Stefanus paling ngeri jika harus berhadapan dengan Bik Inah. Bukan karena wanita itu berbadan seperti pesumo Jepang melainkan karena Bik Inah jago bergunjing nomor satu. Jika ada sedikit berita yang agak aneh terdengar di telinganya… wah, bisa-bisa berita itu disebarluaskan ke seluruh kampung. Dan ada satu lagi yang ditakuti Stefanus. Bik Inah juga seorang pengadu. Karena itu Stefanus selalu berhati-hati dengan pembantunya itu. Namun bagaimanapun juga ia juga sangat menyayangi Stefanus.
Tidak berapa lama kemudian, Stefanus telah selesai mandi dan berpakaian. Ia beranjak menuju ke ruang makan. Diambilnya selembar roti dan dimasukkannya ke dalam mulut setelah roti itu sebelumnya dipoles dengan sedikit mentega.
“Bik… Aku pergi dulu… “
Stefanus berpamitan dengan Bik Inah. Ia bersyukur karena pembantunya itu sedang sibuk di dapur, jadi tidak berkata apa-apa lagi. Ia segera mengeluarkan sepeda motornya dan langsung tancap gas ke rumah teman-temannya.

Sudah hampir pukul sepuluh saat sepeda motor yang dikendarai Stefanus memasuki pekarangan rumah Yuli. Stefanus melihat sahabatnya itu tengah duduk-duduk di teras sambil membaca sebuah novel.
“Hai Stef… ” tegur gadis itu.
Sebenarnya Stefanus berniat mengejutkan gadis itu, namun temannya itu terlebih dahulu mengetahui kedatangannya.
Yuli bangkit dari kursi yang didudukinya selama ini. Rambutnya yang panjang dibiarkan tergerai. Ia mengenakan kaos oblong longgar dan celana pendek yang panjangnya menyentuh lutut. Kelihatannya gadis itu tidak berniat untuk pergi.
“Hai Yul… Lama juga kita tak jumpa. Bagaimana keadaanmu ?” kata Stefanus berbasa-basi.
“Baik-baik saja. Tumben kau datang sendiri ? Biasanya kau selalu mengajak Tom dengan Anton .”
Stefanus mendesah.
“Baru saja aku dari rumah mereka. Namun mereka tidak ada di tempat. Katanya sih… mereka menghabiskan masa liburan dengan keluar kota. Aku sendiri heran… mengapa mereka tidak memberitahu kalau mereka berlibur keluar kota ? Aku sendiri tidak mungkin bisa keluar kota karena aku disuruh menjaga rumah .”
Yuli mengerutkan kening.
“Lho… Memangnya kedua orang tuamu pergi kemana ?”
Stefanus mengangkat bahu.
“Mereka ke Bali. Yah… Jadi begitulah, aku tidak dapat pergi kemana-mana sekarang. Dan kau sendiri ? Apakah kau tidak mempunyai rencana tertentu untuk menghabiskan liburan ?”
“Kurasa tidak. Aku tidak mempunyai rencana khusus untuk liburan kali ini .”
Stefanus mengalihkan pembicaraan.
“Oh..ya, apakah kau sudah membaca koran ? Atau kau sudah mendengar berita tentang kematian Pak Yohanes ?”
Lagi-lagi Yuli mengerutkan kening.
“Pak Yohanes ? Ya..ya, aku tahu. Aku melihat beritanya di koran kemarin sore. Kabarnya kasus itu ditangani oleh Inspektur Budi. Dan ada keterangan kalau kematian orang itu tidak wajar. Ada dugaan kalau ia dibunuh dengan darah dingin .”
“Apakah kau tertarik untuk mengetahui kelanjutan kasus ini ?”
“Apa maksudmu, Stef ?” tanya Yuli.
Stefanus berkata dengan santai.
“Ya… Seperti dulu. Kita akan membantu Inspektur Budi untuk memecahkan masalah ini. Kau mau bantu, kan ?”
Yuli tertawa kecil.
“Tentu saja, Stef. Sayang Tom dan Anton sedang keluar kota. Kalau tidak, tentunya mereka akan membantu kita. Terus, apa rencanamu sekarang ?”
Stefanus melirik arlojinya.
“Sebentar lagi kita akan menemui Inspektur Budi .”
“Baiklah… ” kata Yuli. “Aku akan mengambil jaket. Perlukah aku mengeluarkan sepeda motorku ?”
Stefanus buru-buru mengangkat tangannya.
“Tidak perlu ,” katanya. “Kita berboncengan saja .”
Yuli mengangguk. Lalu ia masuk ke dalam rumah. Tidak lama kemudian ia keluar lagi sambil memakai helm dan jaket berwarna merah muda.
“Yuk, Stef.. Kita berangkat .”
Setelah berpamitan dengan orang tua Yuli, kedua remaja itu berangkat menuju ke kantor Polisi.
Kira-kira seperempat jam kemudian, kedua remaja itu telah sampai di kantor Polisi. Inspektur Budi langsung menyambut begitu melihat kedatangan mereka.
“Inspektur… Anda tentu masih ingat dengan kawan saya yang cantik ini… ” komentar Stefanus menggoda Yuli. Karuan saja wajah gadis itu memerah. Dengan cepat tangannya bergerak mencubit pinggang kawannya yang sering menggodanya itu. Stefanus mengaduh perlahan sambil terus tertawa.
“Tentu saja aku ingat. Kalau tidak salah, namamu Yuliawati Kurnia. Kau juga sahabat Hartomo dan Anton .”
Yuli hanya mengangguk.
Stefanus kembali berkomentar,
“Ia juga sangat tertarik dengan kasus ini, Inspektur. Dan memang… kelihatannya kasus ini sangat menarik untuk diselidiki .”
Inspektur Budi berkata,
“Ngomong-ngomong… bagaimana pendapatmu terhadap masalah ini, Stef ? Aku ingin sekali mendengar pendapatmu .”
Stefanus menggeleng.
“Saya belum bisa memberikan pendapat apa pun. Biarkan saya berjumpa dengan orang-orang yang terlibat dengan kejadian itu terlebih dahulu. Baru setelah itu saya dapat mengutarakan pendapat saya .”
“Begitu. Lalu mengapa Hartomo dan Anton tidak kau ajak ?”
Kali ini Yuli yang menyahut,
“Kebetulan mereka sedang keluar kota, Inspektur .”
“Sayang sekali ,” kata Inspektur Budi.
Inspektur Budi melirik arlojinya.
“Baiklah… Ayo kita berangkat .”
Ketiga orang itu bersama-sama masuk ke dalam mobil Inspektur Budi. Sepeda motor Stefanus dititipkan di kantor Polisi. Tidak sampai lima menit berikutnya, mobil itu sudah bergerak meninggalkan pelataran parkir.
Selama di perjalanan, Inspektur Budi tidak banyak bicara. Sementara itu Stefanus menceritakan secara ringkas kepada Yuli kejadian tragis yang menimpa keluarga Pak Yohanes sebagaimana yang dituturkan Inspektur Budi kepadanya pada malam sebelumnya.
Yuli mengomentari,
“Jadi pada akhirnya semua pihak berkesimpulan bahwa Pak Yohanes telah dibunuh dan bukan bunuh diri ?”
Stefanus mengangkat bahu,
“Kira-kira begitulah. Entahlah, saat ini aku tidak ingin terlalu banyak berkomentar. Yang penting adalah berjumpa dengan orang-orang yang pulang belakangan pada malam hari itu .”
“Aku ingin berjumpa dengan sebelas orang lainnya. Dari situ aku akan mencoba menyibak kepribadian dan karakteristik masing-masing. Rasanya cerita Inspektur semalam belum cukup untuk melukiskan kepribadian orang-orang tersebut. Apalagi aku belum pernah mengenal mereka .”
Inspektur Budi sependapat dengan Stefanus.
“Kurasa benar juga perkataanmu .”
Sambungnya kemudian,
“Nanti kau akan kuperkenalkan dengan Viola. Kurasa kalian akan cocok satu sama lain. Ia gadis yang pandai bergaul .”
Selang beberapa saat, ketiga orang itu membisu. Mobil yang dikendarai Inspektur Budi semakin mendekati kediaman Pak Yohanes.
Yuli membuka jaket yang dikenakannya.
“Ahhh, gerah sekali rasanya ,” keluhnya.
Stefanus menimpali,
“Barangkali akan turun hujan .”
Ia sendiri juga merasa kegerahan. Inspektur Budi bolak-balik mengusap keringat di dahinya.
Sebagaimana yang dikatakan Stefanus, cuaca memang kurang cerah hari itu. Sinar matahari sudah tidak kelihatan lagi, tertutup oleh awan mendung yang semakin pekat. Kelihatannya cuaca hari ini tidak jauh berbeda dengan cuaca pada hari sebelumnya.
Inspektur Budi membelokkan laju mobilnya memasuki pekarangan suatu rumah.
“Kita sudah sampai ,” katanya dengan suara pelan.
Stefanus dan Yuli mengangguk hampir bersamaan.
Bertiga mereka turun dari mobil dan berjalan menuju ke rumah Pak Yohanes.
Stefanus sangat menikmati cuaca hari itu. Seperti Viola, ia juga sangat menyukai saat-saat dimana hujan akan turun. Ia merentangkan kedua tangannya lalu menghirup napas sedalam-dalamnya seolah-olah berusaha melepaskan segala beban ynag mengganjal di hati.
Setelah beberapa saat, ia bergegas menyusul Yuli dan Inspektur Budi yang sudah beberapa meter di depannya.
Tetes-tetes hujan mulai berjatuhan. Hawa dingin segera menyergap. Angin berhembus makin kencang.
Inspektur Budi dan Yuli mempercepat langkah mereka sementara Stefanus tenang-tenang saja. Sambil berjalan santai, ia mencoba mendeskripsikan rumah itu berikut keadaan sekelilingnya.
“Rumah ini cukup besar, yah boleh dikatakan besar. Arsitektur rumah ini seperti model kuno. Kurasa banyak ruangan yang ada di dalamnya. Pekarangan di depan rumah juga cukup luas. Ada taman yang cukup indah di sebelah sana. Tukang kebun yang memeliharanya pasti mengerti akan seni dan mempunyai jiwa seni .”
Inspektur Budi menegurnya.
“Stef… Ayo cepat .”
Stefanus bergegas menyusul Yuli dan Inspektur Budi yang telah berada di teras rumah Pak Yohanes.
Beberapa orang ikut menyusul mereka. Rupanya mereka adalah orang-orang kenalan Pak Yohanes. Stefanus menduga bahwa salah satu diantara mereka pasti pernah hadir dalam jamuam makan pesta malam hari itu.
Stefanus, Yuli dan Inspektur Budi telah sampai di ambang pintu ketika mereka melihat begitu banyak orang yang mengenakan pakaian hitam di dalam rumah.
“Rupanya sudah banyak orang yang hadir ,” bisik Inspektur Budi.
Mereka berjalan masuk ke ruang tengah dimana lebih banyak lagi orang berkumpul di dalamnya. Kiranya di ruangan itu tengah diadakan upacara pemberkatan arwah.
Seperti biasa, Stefanus menyaksikan orang-orang disekitarnya.
Sebuah peti mati yang cukup bagus terletak di tengah-tengah ruangan. Beberapa gadis tampak ikut memegangi peti mati tersebut sementara Bapak Pendeta berdiri tidak jauh dari mereka sambil terus mengucapkan doa. Stefanus menduga bahwa gadis-gadis tersebut adalah puteri-puteri Pak Yohanes. Ia mengamati salah seorang diantara mereka. Gadis ini lebih cantik dan lebih anggun dari gadis-gadis lainnya. Mungkin gadis inilah yang bernama Jenny.
Stefanus tidak perlu berlama-lama untuk mengetahui jawabannya karena tepat pada saat itu Bapak Pendeta melakukan pemberkatan terhadap keluarga yang ditinggalkan.
“… dan semoga kepada kalian, keluarga yang ditinggalkan olehnya, diberikan kekuatan agar senantiasa kuat dan tabah didalam menempuh kehidupan ini… ” beberapa patah kata dari Pendeta itu sempat terdengar oleh Stefanus. Namun selanjutnya, ia kembali asyik mengamati orang-orang itu.
Inspektur Budi hampir-hampir tidak dapat menahan tawanya.
Stefanus melihat ekspresi jenaka di mata Inspektur Budi.
“Ada yang lucu, Inspektur ?” bisik remaja itu.
Kebetulan mereka berdiri agak jauh dari kerumunan orang, jadi mereka dapat berbisik-bisik dengan leluasa.
Sambil tersenyum-senyum Inspektur Budi menunjuk ke arah Viola.
“Coba kau lihat ekspresi wajah Viola .”
Stefanus dan Yuli serentak menengok ke arah Viola.
Yuli mengerutkan kening.
“Mengapa wajah gadis itu agak cemberut ?” katanya.
“Kurasa aku tahu jawabnya ,” kata Inspektur Budi kemudian. “Pasti ia merasa kesal karena harus mengenakan gaun hitam yang tebal. Ia lebih menyukai berpakaian santai, kaos oblong dan jeans. Mungkin saat ini adalah merupakan suatu sikaan baginya .”
Inspektur Budi tersenyum lagi. Ia tahu betul watak Viola karena selama beberapa hari belakangan ini, Inspektur Budi sering bercakap-cakap dengannya.
Stefanus berbisik,
“Gadis yang berdiri paling ujung… Apakah dia yang bernama Jenny, yang menderita amnesia itu ?”
Inspektur Budi mengangguk.
“Ya, memang dia .”
Lalu tambahnya,
“Bagaimana menurutmu, Stef ? Cantikkah gadis itu ?”
Dengan pandangan mata agak bandel Stefanus menjawab,
“Kecantikannya luar biasa, Inspektur. Tapi, orang yang bernama Michael itu, apakah benar-benar kekasihnya ?”
“Itu menurut pengakuannya sendiri. Benar atau tidaknya, aku sendiri juga belum bisa memastikan ,” kata Inspektur Budi.
Yuli menanggapi,
“Lalu apakah ia hadir di sini ?”
Sejenak Inspektur Budi sibuk mencari-cari orang yang dimaksud.
“Sepertinya… ia tidak ada ,” katanya.
Tiba-tiba Inspektur Budi seperti teringat sesuatu.
“Pak Kosasih ,” desisnya.
Stefanus terperangah.
“Kenapa dengan Pak Kosasih, Inspektur ?”
“Pak Kosasih juga tidak hadir dalam upacara ini .”
“Aneh sekali… ” kata Yuli. “Padahal, Pak Kosasih adalah sahabat Pak Yohanes. Lalu apakah Pak Hartono juga tidak hadir ?”
Inspektur Budi menunjuk ke arah seseorang.
“Dialah Pak Hartono .”
Kesan pertama yang didapat Stefanus saat melihat Pak Hartono sama dengan Inspektur Budi. Sosok Pak Hartono lebih pantas sebagai sosok seorang tokoh komedi dengan kumis serta janggut yang menghiasi wajah kocaknya.
Saat berikutnya, Inspektur Budi menunjukkan orang-orang lainnya kepada Stefanus dan Yuli. Tentu saja orang yang bersangkutan tidak mengetahui bahwa dirinya tengah diamati oleh Inspektur Budi, Stefanus dan Yuli.
“Pemuda yang ada di sebelah Patricia itu bernama Roni. Sedangkan yang di sebelah Helen bernama Fredy. Katanya mereka sudah berpacaran. Lalu orang yang berdiri di samping Viola adalah seorang dokter yang baru lulus. Namanya Dokter Andre .”
Yuli bergumam sambil menghitung-hitung,
“Jadi kedua belas orang itu selain anda adalah Maria dan Henry suaminya, Patricia, Helen, Jenny, Viola, Roni, Fredy, Dokter Andre, Pak Hartono dan Pak Kosasih. Dan salah seorang dari mereka telah melakukan perbuatan itu .”
Kata Inspektur Budi,
“Mengapa Pak Kosasih tidak hadir ?”
Stefanus menimpali,
“Bukankah ia sedang ada janji dengan salah seorang rekan usahanya di luar kota ?”
“Aku curiga kalau itu hanya alasan saja. Bukankah ia juga telah berbohong pada waktu aku berkunjung ke rumahnya dengan mengatakan bahwa dirinya sedang tidak enak badan ?”
Stefanus terdiam memikirkan kata-kata Inspektur Budi.
Sementara itu upacara pemberkatan telah selesai. Beberapa orang kekar mengangkut peti mati yang berisi jenazah Pak Yohanes dan memasukkannya ke dalam sebuah mobil yang telah dipersiapkan sebelumnya. Tidak berapa lama kemudian, mobil itu berangkat dengan sirine meraung-raung. Semua orang, tidak terkecuali Stefanus, Yuli dan Inspektur Budi, masuk ke dalam kendaraannya masing-masing dan mengikuti mobil jenazah tersebut.
Hujan telah benar-benar turun dengan cukup deras ketika iring-iringan itu memasuki daerah pemakaman. Dengan susah payah, orang-orang kekar itu kembali mengangkat peti mati itu dan memasukkannya ke dalam liang yang telah dipersiapkan. Hadirin mengikuti mereka sambil membentangkan payung masing-masing untuk melindungi diri dari siraman hujan.
Khotbah Bapak Pendeta itu kembali diteruskan untuk mengiringi kepergian Pak Yohanes. Maria, Patricia, Helen dan Jenny tidak tahan untuk tidak meneteskan air mata. Mereka sangat menyesali kepergian Pak Yohanes yang begitu cepat dan tiba-tiba. Beberapa orang dari hadirin juga ikut terharu menyaksikan keadaan itu.
Suasana hening. Hanya gemericik air hujan yang terdengar bising. Kerumunan orang yang ada di sekitar makam Pak Yohanes tampak diam dan tenang. Rupanya mereka tengah berdoa di dalam hati, mendoakan perjalanan Pak Yohanes ke dunia baru yang belum pernah dikenalnya. Lalu satu demi satu dari mereka meninggalkan kawasan pemakaman untuk kembali ke rumahnya masing-masing. Sampai akhirnya hanya ada beberapa orang yang masih ada di situ.
Maria menjatuhkan kepalanya dalam dekapan Henry sementara suaminya itu berusaha menenangkan istrinya. Patricia, Helen dan Jenny berdiri di sampingnya dengan pandangan sendu. Bahkan Viola pun kelihatan agak sedih bersama Andre di sisinya. Ia ikut larut dalam suasana kesedihan itu. Pak Hartono, Roni dan Fredy berdiri agak memisah dari mereka.
Stefanus, Yuli dan Inspektur Budi juga masih ada di situ. Mereka menunggu saat yang tepat untuk mendekat. Guyuran air hujan yang cukup deras seolah tidak dipedulikan oleh orang-orang yang masih tersisa di daerah pemakaman itu.
Beberapa menit berikutnya, Inspektur Budi memutuskan untuk mendekati keluarga Pak Yohanes.
“Maaf ,” tegurnya. “Saya ikut berbela sungkawa atas musibah yang menimpa keluarga ini .”
Ia menyalami Maria dan saudara-saudaranya. Stefanus dan Yuli ikut menyalami mereka sambil sekaligus berkenalan.
“Saya berterima kasih bahwa Inspektur mau menghadiri upacara pemakaman papa ,” kata Maria. Ia terlihat lebih tegar sekarang.
“Ah, itu bukan apa-apa ,” kata Inspektur Budi dengan nada merendah.
“Sekarang segala persoalannya telah beres. Tidak ada lagi yang dapat kita lakukan di sini. Lebih baik kita pulang ,” kata Henry.
Inspektur Budi masih berusaha berbicara namun segera dipotong oleh Henry.
“Maaf, Inspektur. Saya sangat tersanjung anda mau hadir dalam upacara tadi. Namun saya rasa saat ini bukan saat yang tepat untuk membicarakan hal-hal lainnya .”
“Baiklah kalau begitu ,” kata Inspektur mengalah.
Henry membimbing Maria pergi meninggalkan daerah itu. Saudara-saudaranya mengikuti di belakangnya. Roni dan Fredy juga mengiringi pacar mereka masing-masing. Sekarang yang masih ada di situ adalah Stefanus, Yuli, Inspektur Budi, Pak Hartono, Viola dan Andre.
Inspektur Budi memperkenalkan Stefanus dan Yuli kepada orang-orang lainnya.
Viola memamerkan senyum keramahan.
“Oh ,” katanya. “Jadi kalian berdua sahabat baik Inspektur. Saya pikir anda sangat beruntung, Inspektur. Mereka kelihatan remaja-remaja yang sangat cerdas .”
Stefanus dan Yuli sedikit tersipu.
“Ah… Kak Viola bisa saja ,” kata Yuli malu-malu.
Viola langsung menyahut,
“Tapi itu adalah kenyataan. Bukan begitu, Inspektur ?”
Inspektur Budi hanya tersenyum-senyum.
Lalu perwira Polisi itu berpaling kepada Pak Hartono.
“Ngomong-ngomong… ” katanya. “Apakah anda berjumpa dengan Pak Kosasih ? Mengapa ia tidak hadir dalam upacara pemakaman ini ?”
Pak Hartono mengangkat bahu.
“Entahlah ,” katanya dengan suara serak. “Kabarnya ia sedang menyelesaikan urusan bisnis di luar kota. Barangkali satu dua hari lagi ia akan kembali .”
Andre tampak gelisah.
“Kalau anda tidak berkeberatan, Inspektur ,” akhirnya ia membuka mulut. “Perkenankanlah saya dan Viola untuk pergi .”
“Tentu saja. Anda berhak pergi meninggalkan kawasan ini kapan saja .”
Tiba-tiba Viola berkata,
“Kau pergi sajalah dulu. Pasien-pasienmu pasti sudah banyak menantimu. Aku masih ingin berbincang-bincang di sini .”
Sambil mengangkat bahu Andre berjalan meninggalkan mereka.
Baru beberapa langkah ia berjalan, Inspektur Budi sudah berdiri di sisinya.
“Kapankah anda ada waktu ? Saya dan kedua teman saya akan merasa sangat senang jika anda mau meluangkan waktu satu atau dua jam untuk bercakap-cakap dengan kami .”
Andre berpikir sesaat.
“Saya rasa nanti sore anda bisa mengunjungi saya. Kebetulan sekali nanti sore saya bebas tugas. Tapi anda jangan kaget jika melihat rumah saya yang jelek .”
“Tentu tidak ,” potong Inspektur Budi.
“Dan saya rasa… ” lanjut dokter muda itu. “Viola bisa mengantar anda, bukankah demikian ?”
“Yah, asal dia bersedia .”
“Ia pasti bersedia ,” kata Andre. “Baiklah, saya pergi dulu. Sampai nanti sore, Inspektur .”
Inspektur Budi terus mengikuti langkah-langkah Andre dengan pandangan matanya sampai akhirnya mobil yang dikemudikannya melesat keluar dari daerah pekuburan itu.
Inspektur Budi kembali ke tempat orang-orang lainnya. Rupanya hanya ada Stefanus, Yuli dan Viola disitu. Pak Hartono pasti juga sudah pulang.
“Mana Pak Hartono ?” tanya Inspektur Budi.
“Ia lupa kalau ada janji lalu buru-buru pergi setelah berpamitan pada kita ,” kata Viola.
Keempat orang itu berdiri dengan tegak. Hujan sudah tidak begitu deras.
Viola menyentuh nisan makam Pak Yohanes.
“Tidak disangka …” katanya pelan. “Paman meninggal dengan cara seperti ini .”
Stefanus menatap Viola.
“Apakah semuanya ini terjadi begitu saja ?” tanyanya.
Viola menoleh.
“Apa maksudmu ?”
Stefanus berjalan beberapa langkah menjauhi ketiga orang itu.
“Beberapa pihak menyatakan bahwa kematian Pak Yohanes disebabkan oleh seseorang yang telah lama menaruh dendam kepadanya. Jadi bukan bunuh diri seperti dugaan semula .”
Viola sependapat. Kata gadis itu,
“Sepertinya kau tahu sesuatu. Apakah kau tahu siapa yang berada di balik semua peristiwa ini ?”
Stefanus menggeleng.
“Untuk sementara ini, belum. Tapi aku sudah mempunyai dugaan tentang itu .”
Viola mendesak,
“Apakah Pak Kosasih ?”
“Semua orang merasa curiga kepadanya ,” sahut Stefanus. “Tapi kurasa tidaklah sesederhana itu .”
Inspektur Budi memotong,
“Oh..ya, Stef. Kau kan belum memberikan komentarmu tentang perkara ini. Menurutmu, siapa yang melakukan penukaran obat itu ?”
Stefanus mendekat ke arah Inspektur.
“Ngomong-ngomong, bagaimana akhir permainan itu, Inspektur ?”
“Permainan ?” ulang Yuli keheranan.
“Permainan apa ?” tanya Viola.
“Yang dimaksud Stefanus pasti permainan catur antara Pak Yohanes dan Pak Hartono. Tapi aku tidak melihat hubungan permainan itu dengan kasus yang kita hadapi ,” kata Inspektur Budi.
“Mungkin bagi anda tidak, Inspektur. Namun bagi saya hal itu sangat penting .”
“Tapi bagaimanapun… ” kata Inspektur Budi. “Aku tidak sempat memperhatikan kedudukan permainan itu .”
Stefanus mendesak,
“Yang saya maksud adalah kedudukan akhir setelah Pak Yohanes meninggalkan ruangan .”
Inspektur berusaha mengingat-ingat.
“Kalau tidak salah.. kedudukan itu pada permainan akhir. Ya.. benar, aku ingat sekarang. Posisi Pak Yohanes di atas angin .”
Lalu Viola menambahkan,
“Apa hubungannya dengan kasus ini ?”
Yuli pun kelihatan tidak mengerti sementara Stefanus hanya tersenyum-senyum.
“Setidaknya hal itu memberikan fakta bagiku. Oh, hampir lupa. Apakah minuman anggur itu diedarkan setelah semua orang meninggalkan ruangan itu ?”
“Seingatku sih, ya ,” kata Viola membenarkan.
“Apakah ada kemungkinan bahwa minuman itu telah dicampur sesuatu sebelum pesta itu berlangsung ?”
“Kurasa tidak .”
Yuli menyahut,
“Apakah tidak lebih baik jika kita mencari tempat yang lebih enak untuk bercakap-cakap ?”
“Yuli memang benar ,” kata Inspektur Budi.
Stefanus dan Viola pun menyetujui usul tersebut.
Tak sampai dua puluh hitungan kemudian, keempat orang itu telah berada di dalam mobil milik Inspektur Budi dan meninggalkan kawasan pemakaman itu. Suasana di daerah pekuburan itu kembali lengang. Titik-titik hujan membasahi tanah di makam Pak Yohanes. Tak seorang pun yang terlihat di sana.
Viola merapikan gaun hitamnya di dalam mobil Inspektur Budi yang tengah melaju dengan kecepatan sedang.
“Kurasa Kak Viola tidak begitu senang memakai gaun ,” kata Yuli memperhatikan Viola.
Viola membenarkan ucapannya.
“Aku lebih suka memakai kaos serta celana jeans. Dan kau sendiri ?” Viola memperhatikan jaket serta celana pendek yang dikenakan Yuli.
Yuli menjawab sambil tersipu.
“Aku ? Bagiku itu tidak menjadi soal .”
Ia berpaling ke arah Stefanus yang duduk di sampingnya. Sahabatnya itu tampak diam dan tenang seolah tidak mempedulikan keadaan di sekelilingnya. Kening remaja itu berkerut. Yuli sudah sering melihat ekspresi wajah temannya itu. Jika Stefanus dalam keadaan seperti itu, berarti ia tengah sibuk berpikir dan merangkai-rangkaikan fakta-fakta yang berhubungan dengan kasus kematian Pak Yohanes.
“Stef… ” tiba-tiba Viola memanggil.
Stefanus tergagap.
“Eh.. Oh, ada sesuatu yang aneh, Kak ?”
Viola tertawa melihat ekspresi remaja itu. Katanya,
“Kau yang aneh. Masa sejak tadi kau hanya diam saja sepertinya di dunia ini hanya ada kau seorang .”
Inspektur Budi yang berada di belakang kemudi ikut mencampuri pembicaraan.
“Ia sedang sibuk berpikir. Itu sebabnya ia jadi seperti itu. Menurutku, kau terlalu serius dalam hal ini, Stef .”
“Nanti kau cepat tua, lho…” goda Yuli.
Stefanus masih berusaha mengelak dari serangan ketiga orang itu yang ditujukan kepadanya.
“Sudahlah ,” kata Inspektur Budi. “Eh, sekarang hampir jam setengah satu. Bagaimana kalau kita makan dahulu ?”
Stefanus langsung menyahut,
“Wah… Inspektur tahu juga kalau sejak tadi perutku sudah berbunyi minta diisi. Tapi kemana kita, Inspektur ?”
“Bagaimana menurut anda, Viola ?” Inspektur Budi meminta usul dari gadis itu.
Gadis itu hanya mengangkat bahu.
“Saya sih terserah kalian saja. Apalagi saya sudah lama sekali tidak pulang. Pokoknya saya menurut saja, Inspektur .”
Inspektur Budi terlihat berpikir.
“Baiklah, kalau begitu kita pergi ke rumah makan seorang kenalanku saja. Masakannya cukup lezat dan tempatnya juga tidak begitu jauh dari sini .”
Tanpa menunggu komentar dari lainnya, Inspektur Budi membelokkan arah mobilnya.
Pukul satu kurang seperempat menit. Keempat orang itu telah berada di dalam rumah makan milik kenalan Inspektur Budi. Di hadapan mereka masing-masing telah tersedia hidangan yang siap untuk disantap.
“Kelihatannya enak ,” bisik Stefanus kepada Yuli. Dilihatnya sepiring nasi goreng di depannya.
Kata Inspektur Budi,
“Lho… Ayo dimakan, jangan cuma dilihat saja. Nanti keburu dingin .”
Tanpa disuruh dua kali, mereka berempat segera menyantap hidangan tersebut. Dan memang ternyata masakan rumah makan itu lezat sekali.
“Mmm, aku kenyang sekali ,” kata Yuli seraya mengusap bibirnya dengan selembar tissue.
“Masakannya benar-benar enak ,” sahut Stefanus menambahkan.
Viola ikut-ikut mengomentari,
“Sudah lama aku tidak makan makanan seenak ini .”
Inspektur Budi bertanya kepada Viola,
“Setelah ini, anda mau pulang ?”
Viola mengangkat bahu.
“Yah… Mau kemana lagi ?” katanya.
“Tapi nanti sore saya harap anda mau menemani kami ke rumah Dokter Andre. Apakah anda bersedia ?”
Viola tampak sangat senang.
“Tentu saja saya bersedia, Inspektur .”
“Bagus ,” gumam Inspektur Budi.
Lalu tambahnya,
“Kalau anda tidak berkeberatan, saya akan mengantarkan anda. Biar Stefanus dan Yuli kita turunkan di kantor Polisi karena sepeda motor Stef tadi dititipkan di sana. Bagaimana menurutmu Stef ?”
Stefanus berusaha protes tapi Yuli sudah menduluinya.
“Tidak apa-apa, Inspektur ,” kata gadis itu sambil memberi isyarat mata kepada Stefanus.
“Sebaiknya kita segera berangkat ,” kata Inspektur Budi.
Setelah membayar di kasir, Inspektur Budi beserta tiga orang lainnya meninggalkan rumah makan itu. Di depan kantor Polisi, Stefanus dan Yuli turun dari mobil Inspektur Budi. Sejenak kemudian mobil itu melaju lagi.
“Inspektur Budi terlihat sangat akrab dengan gadis itu ,” kata Stefanus saat berusaha menghidupkan kendaraannya.
“Maksudmu, Kak Viola ?” kata Yuli.
“He-eh ,” kata Stefanus sambil lalu. Perhatiannya saat itu tercurah pada usahanya menstater sepeda motornya. Karena guyuran hujan, ia agak sulit menghidupkan sepeda motornya. Saat itu hujan masih juga belum berhenti walaupun cuma rintik-rintik.
Yuli menaungkan kedua tangannya di atas kepalanya.
“Aduh… cepat dong, Stef ,” katanya dengan tidak sabar. Jaketnya mulai basah karena tetesan air hujan.
Setelah beberapa kali mencoba, akhirnya Stefanus berhasil.
“Ahh, berhasil juga. Yuk, kita cepat pulang sebelum pakaian kita basah semua .”
Tanpa menunggu apa-apa lagi, Yuli segera naik ke boncengan sepeda motor Stefanus dan mereka segera berlalu dari pelataran parkir di depan kantor Polisi.
“Huh… Ternyata hujannya cukup deras juga ,” Yuli menggerutu setelah mereka berdua sampai di rumahnya. Stefanus meraih majalah yang ada di bawah meja lalu menggulungnya, membukanya lagi, menggulungnya lagi. Perbuatan itu dilakukan berulang-ulang.
Yuli tidak sabar lagi.
“Aduh, Stef. Apakah tidak ada pekerjaan lain yang lebih baik selain itu ? Dan lihat itu.. Aduh, itu kan majalah Gadis yang baru kubeli kemarin ? Bisa-bisa rusak nanti. Ayo, kemarikan .”
Stefanus berniat menggoda temannya itu.
“Coba ambil ,” katanya.
Yuli merasa jengkel. Diambilnya bantal lalu dilemparkannya ke arah Stefanus. Plok… Kepala remaja itu kena lemparan bantal.
“Aduh, ya deh… Aku tidak akan mengganggumu lagi .”
Sambil tertawa-tawa diserahkannya majalah itu kepada Yuli. Yuli langsung merampasnya dengan wajah cemberut.
“Kadang-kadang kau bisa sangat menjengkelkan ,” desisnya.
Tahu-tahu Bu Wiryo, ibunya Yuli muncul dari dalam.
“Aduh… kalian ini kok masih seperti anak kecil saja ,” katanya sambil membawa nampan. Dua cangkir susu coklat panas dengan asap yang masih mengepul ada di atas nampan itu.
Yuli mulai merajuk.
“Ini, Ma. Stefanus dari tadi menggoda Yuli terus ,” katanya dengan cemberut.
Stefanus menyahut dengan santai,
“Ah, tidak kok, Tante. Saya kan cuma main-main .”
Bu Wiryo hanya tersenyum tipis. Ia seorang ibu yang sangat baik dan mengerti perasaan puterinya.
“Silakan diminum, Stef. Tante tinggal dulu ,” katanya sambil terus berlalu masuk ke dalam.
Dalam hati, Stefanus teringat akan saudara sepupunya yang sikap manjanya melebihi Yuli.
Yuli mengaduk-aduk cangkir coklatnya. Wajahnya masih menunjukkan sikap sebal. Stefanus merasa serba salah.
“Sori, deh… ” akhirnya Stefanus berkata. “Aku kan cuma ingin bergurau tadi. Masa kau tanggapi serius, sih ?”
Yuli melirik temannya yang satu itu. Katanya,
“Sebenarnya aku masih merasa sebal kepadamu. Tapi, saat ini kita kan mendapat tugas untuk membantu Inspektur Budi memecahkan kasus itu, jadi kurasa tidak ada gunanya jengkel lebih lama lagi kepadamu .”
Stefanus bertepuk tangan.
“Nah, begitu dong… ” katanya.
“Sekarang, minum coklatmu, nanti keburu dingin ,” kata Yuli.
Mereka menikmati susu coklat masing-masing. Hujan di luar masih belum juga berhenti sekalipun tidak begitu deras. Langit tampak berwarna hitam kelam tertutup oleh awan mendung. Angin bertiup makin kencang. Hawa dingin semakin terasa. Sesekali langit tampak terang oleh cahaya petir yang tampak di kejauhan.
Stefanus dan Yuli masih diam di tempat semula sambil menikmati susu coklat panas yang dihidangkan Bu Wiryo.
“Stef… ” panggil Yuli tiba-tiba.
“Hmmm ,” gumam Stefanus.
“Sepertinya kau tidak tertarik terhadap kasus ini… “
“Nanti dulu ,” potong Stefanus dengan cepat.
Lanjutnya kemudian,
“Aku tidak mengatakan kalau aku tidak tertarik terhadap kasus ini. Seperti yang kukatakan sebelumnya, kasus ini rumit, lebih rumit dari sangkaan kita semula. Kasus ini sangat menantang. Bagiku aku tidak akan berhenti sebelum aku berhasil membongkar misteri dibalik kematian Pak Yohanes. Hanya saja… “
Stefanus berhenti sebentar.
“Hanya saja apa ?” tanya Yuli tidak sabar.
“Metode yang kugunakan saat ini berbeda dari biasanya. Hal itu kulakukan karena kita menghadapi lawan yang tidak tampak. Jadi kita harus bersikap hati-hati jangan sampai ia tahu kalau kita sedang memburu jejaknya. Namun dalam kenyataannya, otakku selalu merangkai-rangkaikan fakta-fakta kasus ini seperti yang kudengar dalam cerita Inspektur Budi. Aku akan menarik kesimpulan jika fakta-fakta telah dikumpulkan dan eksperimen telah dilakukan. Setelah itu, barulah kita bisa menyusun teori yang benar. Itu adalah langkah-langkah metode ilmiah. Masa kau lupa, Yul ?”
Yuli menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Jalan pikiranmu sangat sulit ditebak, Stef ,” katanya.
“Tidak juga ,” kata Stefanus sambil meneguk minumannya.
Yuli mencoba memancing perhatian Stefanus.
“Menurutmu… ” kata gadis itu lambat-lambat. “Benarkah Pak Kosasih yang melakukan perbuatan itu ?”
“Kurasa tidaklah semudah itu… ” gumam Stefanus.
“Kau pasti punya dugaan tertentu dari kasus ini. Ayolah, Stef. Beritahu aku ,” desak Yuli.
“Kupikir, kejadian malam hari itu memang diatur oleh seseorang. Mari kita telaah… ” Stefanus mengambil roti yang ada di meja dan menggigitnya. Lanjutnya,
“Ada satu kejadian yang agak janggal dari pembunuhan itu .”
Yuli langsung merasa tertarik.
“Apanya yang janggal ?”
“Begini… ” kata Stefanus. “Obat penenang yang dimasukkan ke dalam botol obat Pak Yohanes mempunyai kemampuan untuk membunuh orang jika diminum dalam dosis yang berlebihan. Sebenarnya, orang yang berniat membunuh Pak Yohanes, cukup dengan menukar isi botol itu saja, tidak perlu memasukkan zat lain ke dalam botol minuman anggur. Dengan tindakannya itu, kecurigaan yang timbul akan semakin besar .”
Stefanus merenung.
Yuli menimpali,
“Sebenarnya apa zat yang dimasukkan ke dalam minuman anggur itu ?”
Stefanus mengangkat bahu.
“Entahlah. Kau kan tahu sendiri, aku tidak begitu jago dalam ilmu kimia. Tapi yang jelas, zat itu tidak berbahaya. Buktinya, semua orang yang minum pada malam itu merasa pusing-pusing dan lelah. Bahkan Inspektur sendiri juga terkena pengaruhnya. Dan, celakanya, Pak Yohanes buru-buru minum obat yang disangkanya adalah obat yang rutin diminumnya jika penyakitnya kambuh. Celakanya lagi, zat itu mempunyai pengaruh fatal jika tercampur dengan obat penenang. Segala kejadian itu seperti disusun dengan rapi sebagaimana yang dikatakan oleh Inspektur Budi. Tapi, menurutku kejadian itu seperti tindakan sembrono. Ada kejanggalan… yah, seperti kataku tadi. Orang tidak perlu mencampurkan suatu zat ke dalam minuman anggur jika ia sudah menukar obat di dalam botol obat itu. Perbuatan itu lebih sederhana dan aman serta tidak mengundang resiko ketahuan .”
Yuli memberikan pendapat.
“Barangkali, orang itu ingin secepatnya menghabisi Pak Yohanes jadi ia menempuh resiko itu .”
Stefanus mengeleng sambil berdecak.
“Jika memang seperti itu kejadiannya, maka orang itu nekat sekali. Tindakannya sangat sembrono…”
Remaja berotak cerdas itu melanjutkan,
“Dan mengenai Pak Kosasih… “
Stefanus membenamkan giginya pada roti yang ada di tangannya, menggigitnya lalu mengunyahnya.
“Mungkin Pak Kosasih mengetahui sesuatu namun ia enggan untuk mengutarakannya. Kemungkinan lain adalah dialah pelaku pembunuhan itu .”
Yuli membisu. Dalam hati, ia mencoba menalarkan penuturan temannya yang kadang-kadang agak aneh itu.
“Yul… ” kata Stefanus.
“Apa ?” sahut Yuli pelan.
“Bagaimana pendapatmu tentang puteri-puteri Pak Yohanes ? Adakah diantara mereka yang menarik perhatianmu ?”
“Menurutku, tidak mungkin jika diantara mereka adalah dalang pembunuhan Pak Yohanes. Mereka semua kelihatan seperti anak-anak yang berbakti pada orang tua .”
“Tapi, ingat ,” kata Stefanus. “Hanya seorang diantara mereka yang lebih dikasihi oleh Pak Yohanes. Apakah tidak mungkin jika salah seorang dari tiga orang gadis lainnya menaruh dendam dan melakukan perbuatan itu ?”
Yuli tersentak.
“Astaga… Benar juga .”
Tapi kemudian ditepiskannya dugaan itu. Katanya,
“Namun bagaimanapun aku tetap tidak percaya kalau pelakunya adalah salah seorang dari empat puteri Pak Yohanes .”
“Mengapa kau begitu yakin ?” tanya Stefanus.
“Naluriku yang mengatakannya ,” jawab Yuli kalem.
“Baiklah ,” kata Stefanus mengalah. “Untuk sementara ini, kita anggap pembunuhnya bukan dari keempat puteri Pak Yohanes. Bagaimana dengan yang lainnya ? Bagaimana dengan … Kak Viola ?”
Lagi-lagi Yuli tersentak.
“Mengapa kau mencurigai Kak Viola, Stef ? Kau kan tahu sendiri kalau Kak Viola adalah orang yang baik dan supel .”
Stefanus menyahut,
“Aku tidak mengatakan mencurigainya… Aku kan hanya ingin tahu pendapatmu. Bagaimanapun juga, ia juga tersangka .”
Yuli menjawab dengan pasti.
“Aku yakin pasti bukan Kak Viola .”
“Lalu, apakah kau juga tidak menolak tersangka lainnya, seperti Pak Hartono, Dokter Andre, Henry, Roni dan Fredy ?”
“Nah… kalau mereka, aku tidak tahu ,” kata Yuli. “Tapi aku tetap sependapat dengan Inspektur Budi. Kurasa Pak Kosasih yang paling patut dicurigai saat ini .”
Stefanus mengiakan.
“Untuk sementara ini memang tidak ada pilihan lain .”
Setelah itu kedua remaja itu membisu beberapa saat lamanya. Hujan sudah agak mereda, namun langit masih tampak hitam. Padahal hari masih siang.
Stefanus melirik arlojinya.
“Eh, Yul… Aku mau balik dulu. Nanti sore kau kujemput dan kita langsung ke tempat Inspektur Budi .”
Yuli mengangguk.
“Ya.. deh ,” katanya.
Setelah berpamitan dengan Bu Wiryo, Stefanus melarikan sepeda motornya pulang ke rumahnya. Di perjalanan ia sempat membeli pisang goreng hangat, oleh-oleh buat Bik Inah. Setelah sampai di rumah, ia segera memberikan jajan itu kepada Bik Inah yang langsung menerimanya dengan gembira. Stefanus lalu melangkah masuk ke dalam markas. Ia ingin beristirahat sejenak.

Rumah Dokter Andre ternyata tidak sejelek yang dikatakannya. Bahkan boleh dikatakan cukup besar untuk rumah seorang dokter sekalipun tidak dapat disejajarkan dengan rumah Pak Yohanes. Inspektur Budi mengajak kedua sahabatnya yang masih remaja itu untuk memasuki halaman rumah Dokter Andre. Mereka sempat terpukau akan keindahan rumah itu.
Inspektur Budi menekan bel. Tidak sampai semenit kemudian, pintu terbuka dan Viola muncul dari balik pintu.
“Ah, Inspektur. Rupanya anda sudah datang. Maafkan saya karena saya mendahului datang ke sini ,” sambut gadis itu.
Inspektur Budi tersenyum.
“Tidak apa-apa ,” katanya.
Gadis itu membentangkan pintu lebar-lebar dan mempersilakan para tamunya untuk masuk ke dalam rumah.
“Mari… silakan. Yang lainnya sudah menunggu .”
Viola berjalan mendahului mereka sementara Stefanus dan Yuli saling berpandangan. Mereka tidak mengerti apa yang dimaksud Viola. Apakah yang hadir bukan hanya mereka ?
Pertanyaan itu segera terjawab saat mereka memasuki ruang tengah. Beberapa pemuda asyik bercakap-cakap di ruangan itu. Namun mereka segera berhenti ketika Inspektur Budi dan yang lainnya memasuki ruangan. Dokter Andre dan kedua laki-laki lainnya bangkit dari tempat duduk masing-masing. Kedua laki-laki yang disebut belakangan tidak lain adalah Roni dan Fredy. Mereka bertiga menghampiri Inspektur Budi.
“Silakan Inspektur… Kami sudah menunggu anda sejak tadi ,” kata Andre.
Mereka berjalan menuju ke sudut ruangan dan duduk di tempat duduk yang ada di situ. Diam-diam Stefanus memperhatikan ruangan itu. Ruangan itu memang tidak begitu luas. Sofa yang cukup empuk dan beberapa kursi lainnya terletak di sudut ruangan dimana ia berada saat ini. Sementara itu, di sudut lain adalah lorong yang menghubungkan ruangan itu dengan ruangan lain. Beberapa lukisan terpajang di sepanjang dinding. Pot dan guci keramik yang kelihatannya antik dan kuno terletak di sudut-sudut ruangan. Sebuah kipas angin ada di langit-langit bersama sebuah lampu yang kelihatannya cukup mahal. Ruangan itu memang terkesan agak elite dan mewah.
“Nah… ” kata Andre. “Apa yang harus kita bicarakan sekarang, Inspektur ?”
Viola menyahut,
“Kalian berbicaralah dulu. Aku akan membuat minuman untuk kalian semua. Anda minum kopi, Inspektur ?” Viola bertanya kepada Inspektur Budi.
Inspektur Budi agak segan menjawab,
“Sebaiknya kita semua minum teh saja ,” katanya.
“Baiklah, saya akan segera kembali ,” kata Viola sambil berlalu dari hadapan mereka.
“Sekarang kita bisa ngomong-ngomong dengan enak ,” kata Inspektur Budi. “Sebagaimana anda ketahui, saat ini saya sedang mengusut kejadian kematian Pak Yohanes. Pada akhirnya kami menarik kesimpulan bahwa kejadian malam itu telah diatur dan direncanakan sedenikian rupa sehingga hampir saja mengecoh pihak kepolisian. Jika saja pemeriksaan mayat tidak dilakukan, barangkali kejadian itu masih tetap dianggap bunuh diri. Namun dari hasil pemeriksaan mayat, telah ditemukan zat lain di dalam tubuh korban yang merupakan penyebab utama dari kematiannya .”
Roni menimpali,
“Tapi menurut saya, tidak seorang pun dari orang-orang yang pulang belakangan yang mempunyai motif kuat untuk membunuh Pak Yohanes. Saya yakin sepenuhnya .”
Fredy menyahut,
“Ya, saya sependapat dengan Roni. Saya dan Roni sudah kenal dengan Pak Yohanes cukup lama dan kami tahu betul kepribadiannya yang sangat baik. Rasanya sangatlah tidak masuk akal jika seseorang tega melakukan perbuatan itu kepadanya .”
“Tapi itulah kenyataannya. Pak Yohanes telah dibunuh .”
Inspektur Budi berpaling kepada Andre.
“Bagaimana pendapat anda ?”
Andre tidak segera menjawab. Lambat-lambat Ia berkata,
“Saya rasa … orang yang merencanakan perbuatan itu mengenal sedikit ilmu kedokteran. Orang awam tidak mudah untuk mengenali suatu obat tertentu. Apalagi obat-obatan biasanya menggunakan nama ilmiah dari bahasa latin .”
“Saya sependapat dengan anda ,” kata Inspektur Budi. “Adakah diantara orang-orang itu yang menarik kecurigaan anda ?”
Andre berkata dengan sedikit berbisik,
“Mungkin kecurigaan saya tidak masuk akal, tapi biarlah… Inspektur, ada yang aneh pada diri Jenny, puteri bungsu Pak Yohanes yang cantik itu .”
Inspektur Budi terkejut.
“Mengapa anda mencurigainya ? Tidak tahukah anda kalau gadis itu sedang mengalami amnesia ?”
“Justru karena itulah saya mencurigainya. Anda kan tahu, orang yang mengalami amnesia sering terobsesi dengan pikiran dan alamnya sendiri dan saya cemas hal itulah yang menimpa Jenny. Ia terobsesi dengan alam bawah sadarnya dan pikiran bawah sadarnya yang telah menggerakkannya untuk melakukan perbuatan itu. Anda kan ingat, waktu itu ia yang paling ngotot mengatakan kalau Pak Yohanes telah dibunuh sementara kita masih bingung menarik kesimpulan. Hal itu dilakukannya atas dorongan alam bawah sadarnya karena sebenarnya ialah pelaku pembunuhan itu. Namun pikiran sadarnya tetap normal dan ia tetap merasa sangat bersedih karena kematian Pak Yohanes. Apakah anda juga tahu kalau sejak kecelakaan itu menimpanya, ia jadi seperti orang gila ? Katanya, ia selalu dihantui mimpi-mimpi buruk setiap malam .”
Inspektur Budi menyahut,
“Ya.. Ia sendiri pernah menceritakannya kepada saya .”
“Nah… ” kata Andre melanjutkan. “Berdasarkan pengetahuan yang saya peroleh, penderita amnesia sering mengalami obsesi-obsesi semacam itu dan biasanya mereka selalu berusaha dengan cara apa pun untuk mewujudkan obsesinya .”
Inspektur Budi termenung. Dalam hati ia berusaha memikirkan teori yang dikemukakan Dokter Andre. Ia ingat pada malam itu saat ia menjumpai Jenny di taman, gadis itu langsung mengatakan akan terjadi sesuatu di pesta itu. Mengapa ia bisa meramalkan dengan tepat kejadiannya ? Atau apakah amnesia yang dideritanya hanya karangan belaka ? Jika teori Andre benar, maka sangat masuk akal bahwa Jenny adalah pelaku pembunuhan itu karena hanya ia yang mengetahui bahwa akan terjadi sesuatu yang mengerikan di pesta itu. Jika hanya ia yang telah mengetahui sebelumnya, maka hanya ia juga yang telah merencanakan perbuatan itu sekalipun rencana itu terbentuk di bawah alam sadarnya dalam upaya mewujudkan mimpi-mimpi buruknya.
Andre melanjutkan,
“Jika seorang penderita amnesia telah berhasil mewujudkan obsesinya, maka ia akan terbebas dari bayangan-bayangan yang selalu menghantuinya. Dalam hal ini, saya rasa Jenny ingin melepaskan diri dari mimpi-mimpi buruknya yang sangat menakutkan itu. Karena itu terbentuklah rencana untuk mewujudkan mimpinya itu sehingga ia bisa bebas dari mimpi-mimpi itu. Saya yakin, saat ini ia tidak akan pernah mimpi semacam itu lagi. Dengan demikian, pembunuhan terhadap Pak Yohanes tidak memiliki motif sama sekali. Mudah-mudahan pendapat saya ini tidak berlebihan .”
Inspektur Budi menyahut,
“Sama sekali tidak. Sebaliknya… anda telah memaparkan teori baru yang masuk akal. Tentang kebenaran teori tersebut, akan kita selidiki lebih lanjut .”
Yuli ikut berbicara,
“Apakah tidak keterlaluan jika puteri Pak Yohanes sendiri yang menghendaki kematian ayahnya ?”
Andre menggeleng. Katanya,
“Jangan lupa nona manis, kejadian itu terjadi diluar kehendaknya sendiri .”
Yuli tetap berkeras.
“Pokoknya saya yakin tidak seorang pun dari puteri-puteri Pak Yohanes yang telah melakukan perbuatan terkutuk itu .”
“Mengapa kau begitu yakin ?” tanya Fredy.
“Eh.. entahlah ,” ujar Yuli agak gugup.
“Kita tidak boleh mengutamakan perasaan. Jika teori yang dikatakan Andre memang benar, yah.. mau apa lagi ?”
Saat itu Viola muncul dari dalam sambil membawa minuman. Ia meletakkan cangkir minuman di atas meja.
“Mari, silakan diminum… ” ujarnya.
Semua orang mengambil cangkir miliknya masing-masing dan meminumnya.
Stefanus minum teh sambil berpikir. Ia terus memikirkan teori yang dikemukakan Dokter Andre tadi. Rasanya tidak masuk akal. Tapi ia sendiri belum berjumpa dengan Jenny jadi ia harus menerima pendapat Andre tersebut. Remaja itu tersentak saat Yuli menyikutnya. Rupanya Inspektur Budi sudah berbicara lagi dan Stefanus begitu larut dalam pikirannya sendiri sehingga tidak mendengarkan perkataan Inspektur Budi.
“Pendapat anda memang dapat diterima, Dokter, sekalipun kedengarannya agak keterlaluan .”
Viola menoleh kepada kekasihnya.
“Kau bicara apa sih ?”
Andre menceritakan pembicaraan mereka beberapa saat yang lalu kepada Viola. Selesai mendengarkan penuturan Andre, Inspektur Budi bertanya,
“Bagaimana menurut anda ?”
Viola kelihatan sedikit bingung.
“Wah, saya tidak dapat berkomentar apa-apa. Tapi kalau dipikir-pikir, rasanya agak mustahil jika Jenny yang melakukan perbuatan itu .”
“Saya setuju dengan pendapat Kak Viola .”
Semua orang berpaling. Stefanus yang berbicara tadi.
“Teori tentang penderita amnesia seperti yang diungkapkan Dokter Andre memang benar. Saya juga pernah membacanya di buku. Seorang penderita amnesia sering terobsesi akan kejadian-kejadian aneh dan berusaha melepaskan dari bayangan-bayangan tersebut. Namun dalam kasus ini, saya rasa cinta Jenny kepada ayahnya mengalahkan perasaan tersebut. Pendapat ini baru perkiraan kasar saja jadi tidak menutup kemungkinan lain .”
Stefanus melanjutkan,
“Selama ini kita hanya berpikir bahwa satu diantara kedua belas orang yang pulang terakhir adalah pelaku pembunuhan terhadap Pak Yohanes karena mereka sama sekali tidak memiliki alibi yang kuat. Mereka berada di tempat kejadian pada saat itu sehingga sangat masuk akal jika salah seorang dari mereka melakukan perbuatan itu. Tapi bagaimana jika yang terjadi diluar dugaan kita ? Bahwa pembunuh itu sudah ada di belakang rumah dan membuntuti Pak Yohanes masuk ke dalam ruang kerjanya ? Bagaimana jika perbuatan Pak Yohanes minum pil-pil itu bukan karena kecelakaan melainkan karena dipaksa ? Jika memang benar, maka tak seorang pun dari kedua belas orang itu yang telah melakukan perbuatan itu. Dan sang pembunuh dengan tenang pergi meninggalkan pesta setelah rencananya berhasil dengan sukses .”
Inspektur Budi mengaduk-aduk teh di cangkirnya. Ia merenung, memikirkan pendapat Stefanus. Mereka yang duduk di ruangan itu tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Stefanus masih tetap diam saat Roni mengalihkan bahan pembicaraan. Ia bercerita tentang keahliannya memancing. Inspektur Budi, Fredy maupun Dokter Andre segera larut dalam pembicaraan tersebut. Namun Stefanus masih tetap terbenam dalam pikirannya sendiri. Dan tanpa sadar, kakinya telah membawa dirinya menuju teras samping. Stefanus menggoyang-goyangkan rambutnya yang agak gondrong. Sudah lebih dari sebulan ia belum mencukur rambutnya. Agaknya Stefanus masih belum memikirkan masalah rambut. Ia sedang merenungkan masalah lain. Masalah yang menantang kemampuannya sebagai penyelidik.
Remaja itu menengadah. Langit masih tampak mendung walaupun hujan sudah berhenti. Di kejauhan cahaya kilat menerangi sebagian langit. Stefanus membiarkan tubuhnya dihembus angin yang kencang. Baginya, saat-saat seperti itu adalah saat yang menyenangkan.
“Apa yang kau lakukan di sini, Stef ?”
Stefanus mengenali suara Yuli. Tanpa berpaling, ia menjawab,
“Aku lagi cari angin .”
Yuli menaikkan alisnya.
“Apa ? Kau hanya cari penyakit saja. Apa kau tidak merasa dingin ?”
Stefanus berpaling. Ia melihat Yuli tegak berdiri di hadapannya. Rambut gadis itu tergerai dipermainkan angin sementara kedua tangannya terlipat di depan dada.
“Ada sesuatu yang mengusik pikiranku sejak tadi ,” kata Stefanus dengan nada serius.
Air muka Yuli langsung berubah.
“Oh..ya ??? Apa yang kau pikirkan ? Apakah tentang kemungkinan bahwa kematian Pak Yohanes karena dipaksa seseorang ?”
Stefanus mengangkat bahu.
“Bukan… Aku menyusun sebuah kemungkinan lain. Tapi aku belum menemukan fakta dan petunjuk yang dapat mendukung pendapat itu .”
“Mengapa tidak kau ceritakan kepada Inspektur Budi ?”
Stefanus menggeleng.
“Belum saatnya… ” gumamnya.
Remaja itu kembali terdiam sambil terus menengadahkan wajahnya ke langit. Diam-diam Yuli meninggalkan Stefanus. Ia tahu bahwa tidak ada gunanya untuk terus mendesak Stefanus agar ia mau menceritakan teorinya. Temannya itu sangat keras kepala seperti keledai. Jika ia mengatakan tidak, maka jawabnya adalah tetap tidak.
Yuli kembali masuk ke dalam. Ia menemukan Inspektur Budi, Dokter Andre, Viola, Roni dan Fredy masih berbincang-bincang satu dengan lainnya. Gadis itu menghampiri Inspektur Budi.
“Lho.. Mana Stef ?” tanya Inspektur Budi. Yang lainnya menghentikan pembicaraan dan memperhatikan Yuli.
“Eh.. dia ada di teras samping. Katanya mau cari angin sebab di sini terlalu panas ,” jawab Yuli.
Roni mencibir,
“Omong kosong… Masa hawa dingin seperti ini dibilang masih panas ?”
“Kadang-kadang ia memang agak aneh ,” sahut Yuli mencoba membela kawannya itu.
“Tapi ngomong-ngomong ,” sahut Dokter Andre. “Pendapatnya tadi cukup masuk akal. Kelihatannya ia anak yang sangat cerdas .”
“Terlalu cerdas ,” sahut Inspektur Budi. “Ia sangat menyukai petualangan dan masalah yang berhubungan dengan teka-teki yang misterius. Sudah beberapa kali ia dan kawan-kawannya membantu saya dalam menyelesaikan kasus-kasus kriminal .”
“Saya memang sudah menduga bahwa Stefanus adalan anak yang pintar ,” komentar Viola.
Yuli tertawa dalam hati. Ia berpikir bagaimana jika Stefanus ada di sini. Ia harus bawa meteran untuk mengukur seberapa besar kepalanya karena terus-menerus disanjung.
Saat itu Stefanus masuk ke dalam ruangan itu. Ia merasa heran karena orang-orang yang ada di ruangan itu spontan tertawa begitu melihat ia masuk.
“Ada apa sih ?” tanyanya tak mengerti.
“Ah… Tidak ada apa-apa. Kita baru saja membicarakan hal-hal yang kocak dan konyol ketika tiba-tiba kau masuk .”
Stefanus mengangguk-angguk.
“Oh… begitu ,” katanya dengan nada datar.
Inspektur Budi melirik arlojinya lalu bangkit.
“Saya pikir tidak ada lagi yang bisa kita kerjakan di sini .”
Perwira Polisi itu menjabat tangan Andre dan kedua temannya.
“Terima kasih atas kesediaan anda menerima kami .”
Dokter Andre menjawab dengan sopan,
“Ah… Inspektur terlalu merendah. Saya justru merasa senang mendapat tamu kehormatan sore ini .”
“Kami mohon diri ,” kata Stefanus dan Yuli bersamaan.
Andre dan yang lain-lainnya mengantar sampai di depan pintu. Mereka masih sempat melambaikan tangan saat mobil Inspektur Budi melaju meninggalkan pekarangan rumah itu.
“Nah ?” kata Inspektur Budi setelah mereka sudah ada di jalan lagi. “Bagaimana pendapat kalian ?”
Stefanus menyahut dengan perasaan enggan.
“Saya rasa tidak banyak yang kita dapatkan dari percakapan tadi, Inspektur .”
“Saya juga sependapat dengan Stef ,” sahut Yuli.
“Yah… Kita memang harus mengumpulkan keterangan yang lebih banyak lagi agar kasus ini dapat secepatnya terungkap .”
Kata Inspektur lagi,
“Tapi ngomong-ngomong… Adakah kemungkinan bahwa seseorang yang lain, katakanlah seorang tamu tak diundang telah menyelinap ke dalam pesta dan melakukan pembunuhan itu sebagaimana yang kau ungkapkan di rumah Dokter Andre tadi, Stef ?”
“Kemungkinan itu memang ada, Inspektur. Tapi kita masih harus berjumpa dengan orang-orang lainnya untuk mendapatkan gambaran yang nyata mengenai kasus ini .”
“Jadi ?” tanya Inspektur Budi meminta penegasan dari Stefanus.
Sekilas terlihat senyum di bibir Stefanus.
“Saya akan menemui si penderita amnesia itu. Ia adalah bagian dalam kasus ini yang sangat menarik perhatian saya. Saya mempunyai firasat ia adalah kunci dari kasus ini .”
Inspektur Budi membenarkan.
“Kurasa kau benar, Stef. Sejak semula aku sudah menduga adanya hubungan antara gadis itu dengan kasus kematian Pak Yohanes .”
Yuli mengeluh.
“Aduh… Semoga ia tidak terlibat. Semoga dugaan Dokter Andre tadi salah. Ia kelihatan begitu baik dan manis .”
Stefanus melanjutkan,
“Namun sebelum itu, tidak ada salahnya jika kita menemui tersangka lainnya seperti Pak Hartono dan Pak Kosasih. Oh ya, ngomong-ngomong soal Pak Hartono… “
“Ada apa dengannya, Stef ?” tanya Inspektur Budi saat dilihatnya remaja itu berhenti berbicara.
“Saya ingin sekali bermain catur dengannya. Inspektur, maukah anda membujuknya untuk datang ke rumah Pak Yohanes ? Saya dan Pak Hartono akan bermain catur di sana .”
Inspektur Budi merasa heran. Namun ia menyanggupi permohonan Stefanus untuk mengundang Pak Hartono.
“Tapi saya ragu, apakah pemilik rumah akan mengizinkan kita bertamu ke rumahnya ?”
“Kurasa Maria tidak akan keberatan ,” kata Inspektur Budi.
Stefanus bergumam,
“Dan mengenai Jenny… saya akan mengadakan sedikit eksperimen dengannya. Eksperimen yang sangat penting .”
Yuli berpaling ke arah Stefanus. Demikian pula halnya dnegan Inspektur Budi.
“Eksperimen ? Eksperimen apa ?” tanya Inspektur tak mengerti.
Sambil tersenyum Stefanus berpaling,
“Kita lihat saja nanti ,” katanya.

Oleh: Wahyu Kurniawan, 1998