BAB ENAM
MISTERI PERMAINAN CATUR

“Menarik… menarik sekali .”
Stefanus bergumam sendiri di dalam gudang tempat dimana ia dan kawan-kawannya berkumpul. Ia baru saja pulang dari rumah Yuli setelah Inspektur Budi mengantarkannya bersama Yuli.
Remaja itu menyeringai. Ia duduk di depan komputer kesayangannya dan baru saja menyelesaikan program permainan catur. Salah satu kelebihan Stefanus adalah ia sangat gemar membuat program-program komputer. Stefanus menambahkan beberapa baris terakhir pada programnya sebelum kemudian ia mencoba menjalankan program permainan catur itu.
“Yap… berhasil ,” katanya. Saat berikutnya ia tenggelam dalam permainan tersebut. Seperempat jam kemudian, ia mematikan komputernya.
“Dan sekarang… aku siap menghadapi Pak Hartono .”
Remaja itu kembali terdiam. Bermacam-macam pertanyaan berkecamuk di dalam pikirannya. Ia melirik arloji digital yang melekat di pergelangan tangannya.
“Hmmm, rasanya tidak ada salahnya jika aku berkunjung ke rumah Pak Yohanes. Sekarang kan belum terlalu malam .”
Stefanus kembali berhasil mengelabuhi Bik Inah dan dengan gerakan cepat ia sudah ada di atas sepeda motornya dan sedetik kemudian sepeda motor itu melesat pergi.

Tepat jam tujuh malam sepeda motor yang dikendarai Stefanus membelok ke jalanan kecil. Dan tidak sampai semenit berikutnya ia sudah memasuki pekarangan rumah Pak Yohanes. Dalam hati Stefanus berpikir tentang alasan yang akan dikatakannya untuk menutupi maksud yang sebenarnya. Ia melihat cukup banyak mobil yang diparkir di pekarangan rumah Pak Yohanes. Stefanus menduga pemilik mobil-mobil itu adalah sahabat-sahabat pak Yohanes yang ingin mengucapkan bela sungkawa kepada keluarga Pak Yohanes. Sambil terus merenung, Stefanus berjalan mendekati rumah besar itu. Di teras depan, ia menangkap sosok seseorang yang dikenalnya.
“Astaga, Stef… Apa yang kau lakukan di sini ?”
“Eh, Kak Viola… ” sambut Stefanus pura-pura terkejut. “Maaf jika saya mengganggu. Saya cuma sekedar mampir, kok. Kebetulan setelah dari rumah Dokter Andre tadi, saya harus mengembalikan buku milik teman saya. Rumahnya tidak jauh dari sini. Jadi sekalian saja mampir. Mudah-mudahan saya tidak mengganggu .”
Viola tersenyum.
“Ah, sama sekali tidak. Mari duduk di sebelah sini. Kurasa di dalam masih banyak orang-orang kenalan paman Yohanes .”
Selain Viola, disitu juga ada dua orang lain. Stefanus menduga mereka adalah orang tua gadis itu.
“Selamat malam, Oom… Tante… ” tegur Stefanus.
“Selamat malam ,” sahut yang disapa.
Viola memperkenalkan Stefanus kepada kedua orang tuanya. Stefanus mengambil tempat duduk di sebelah Viola.
“Ngomong-ngomong saya lihat banyak tamu di dalam. Apakah mereka kenalan Pak Yohanes ?” Stefanus berusaha memancing pembicaraan.
Bu Gregorius mendesah.
“Yah… Mereka semua kawan-kawan Yohanes. Semasa hidupnya, kurasa Yohanes tidak pernah berbuat salah kepada siapa pun. Tak disangka hidupnya akan berakhir seperti ini .”
Suaminya menyahut,
“Ah.. Kau ini. Bagaimana kau bisa tahu kalau Yohanes tidak mempunyai musuh ? Kita kan jarang-jarang datang kemari ? Apalagi belakangan ini kita malah tidak pernah mampir kemari .”
“Itu memang benar. Tapi aku sangat mengenal Yohanes sebagaimana aku mengenal diriku sendiri. Aku kan masih mempunyai ikatan saudara dengannya .”
Akhirnya suaminya mengalah.
“Terserah kau saja ,” lanjutnya.
Viola berkata dengan pelan,
“Kasihan paman Yohanes. Ia tidak seharusnya mengalami nasib sedemikian buruk .”
Stefanus masih berusaha mendapatkan bahan pembicaraan yang baik agar ia dapat mengumpulkan keterangan sebanyak-banyaknya. Otak remaja itu bekerja keras.
Viola memperhatikannya diam-diam.
“Anak ini memang lain… Aku tidak akan heran jika suatu saat kasus kematian Paman Yohanes akan diselesaikan dengan baik olehnya ,” pikir gadis itu dalam hati.
“Oh.. ya, apakah Pak Yohanes tidak mempunyai saudara kandung lain selain Tante dan Bibi Larasati ?”
Bu Gregorius menjawab,
“Tidak… Hubungan kami pun tidak bisa dibilang dekat. Belakangan ini kami jarang berjumpa satu sama lain .”
Suaminya menyahut,
“Seharusnya kalian bertiga dapat menjalin hubungan kekeluargaan yang baik. Tapi.. yah, barangkali karena masing-masing sibuk dengan urusan sendiri-sendiri .”
“Malam itu, Oom dan Tante tidak hadir ke pesta itu ?” lanjut Stefanus.
“Sebenarnya kami mau hadir. Namun kebetulan Oom ada urusan mendadak. Lagipula Viola datang tanpa memberitahu kami terlebih dahulu. Anak ini memang nakal sekali .”
Pak Gregorius memandang ke arah Viola yang sementara itu telah memasang tampang masam.
“Ah… papa ini kerjanya cuma menggoda Viola saja .”
Pak Gregorius tertawa mendengarnya.
“Oh.. ya. Bibi Larasati juga tidak hadir malam itu ?”
“Kebetulan ia juga sedang ada urusan. Jadi semua saudara Yohanes tidak ada yang datang pada pesta itu. Ironis sekali kedengarannya tapi… mau bagaimana lagi ?”
Pak Gregorius mengakhiri ucapannya sambil menyalakan rokoknya. Stefanus teringat akan kebiasaan Inspektur Budi yang sangat gemar merokok. bagi Inspektur Budi, rokok adalah segala-galanya.
Stefanus terkejut ketika tiba-tiba Viola menyentuhnya.
“Ayo kita masuk ke dalam. Kita akan bercakap-cakap dengan Patty, Helen dan Jenny. itu pasti lebih menyenangkan .”
Stefanus berpaling ke arah orang tua Viola dan mengangguk ke arah mereka lalu ia masuk ke dalam rumah bersama Viola.
Bu Gregorius terus memandanginya.
“Anak yang aneh…” gumamnya.
“Hmmm ???” gumam suaminya pula.
“Mengapa ia tahu banyak akan seluk beluk keluarga kita ? Apa maunya sebenarnya ? Aku cemas, jangan-jangan… “
Pak Gregorius langsung memotong,
“Sudahlah… Kau ini cepat sekali merasa curiga. Ia adalah anak yang baik dan sopan .”
Pak Gregorius menghisap rokoknya dalam-dalam.
“Kau selalu tidak bisa sependapat denganku. Aku sendiri heran kenapa aku dulu bisa tertarik kepadamu .”
Pak Gregorius tertawa mendengar ucapan istrinya.
“Ah… Itu kan sudah lama sekali. Mengapa sekarang kau ungkit-ungkit lagi ? Jika kita tidak jadi menikah, Viola tidak akan ada .”
Bu Gregorius akhirnya mengalah.
“Yah… Kau benar. Aku sangat menyayangi Viola .”
“Aku pun demikian. Dan tidak lama lagi, anak gadis kita akan menikah dengan seorang dokter. Tak dapat kubayangkan kalau aku akan jadi seorang kakek … “
“Dan aku seorang nenek … ” sahut istrinya.
Kedua orang itu terus berbicara tentang masa depan sementara malam terus merambat.

“Kelihatannya sudah tidak ada acara lagi ,” bisik Viola.
Stefanus menimpali,
“Yah… orang-orang sudah mulai pulang satu persatu .”
“Lihat… ” seru Viola. Tangan gadis itu menuding ke sudut ruangan dimana Patricia, Helen dan Jenny kelihatan duduk di sofa dan bercakap-cakap.
“Ayo kita ke sana ,” ajak Viola.
Ketiga gadis yang dimaksud menghentikan pembicaraan mereka saat Viola dan Stefanus datang mendekat.
“Sedang apa kalian ?” tegur Viola.
“Kami lelah sekali, Viola… Kami mau istirahat sejenak ,” kata Patricia.
“Hampir seharian kami sibuk terus .”
Patricia menengok ke arah Stefanus.
“Eh… Anak ini kan temannya Inspektur Budi ?”
Stefanus tersipu-sipu.
“Aku lupa, siapa namamu ?”
“Stefanus… Stefanus Anggara .”
“Hmmm… Nama yang bagus. Mari ikut bergabung bersama kami. Kurasa tidak ada salahnya kalau kita bercakap-cakap. Yah… untuk saling mengenal, begitulah kira-kira .”
Lanjut Patricia,
“Oh..ya Berapa usiamu, Stef ?”
“Dua puluh tahun .”
“Kalau begitu kau lebih tua sedikit dari Jenny. Barangkali hanya beda beberapa bulan saja .”
“Tapi kau kelihatan sudah dewasa sekali ,” sambung Helen.
“Ah, masa ?” komentar Stefanus. Pandangan remaja itu tidak lepas dari orang-orang yang ada di ruangan itu.
“Dia memang sudah matang… ” sahut Viola sambil nyengir. “Tapi sudahlah… Lebih baik kita berbicara hal yang lain saja. Ngomong-ngomong… mana Maria dan Henry ?”
Kali ini Jenny yang menjawab,
“Mereka sudah masuk ke kamar .”
“Kurasa Maria tampak lebih tegar sekarang ,” lanjut Viola. “Bagaimana dengan kalian ?”
“Kami baik-baik saja …” sahut Helen.
“Yah… ” Patricia mendesah perlahan sambil mengibaskan rambutnya. “Kurasa semua itu sudah takdir. Tidak ada gunanya kita menyesalinya. Toh, semua itu sudah terjadi .”
“Ada banyak hal yang harus diketahui sehubungan dengan meninggalnya Pak Yohanes .”
Patricia menoleh ke arah remaja itu.
“Oh.. ya ? Apa memang benar kalau papa telah dibunuh dengan darah dingin ?”
Stefanus mengangguk pelan.
“Aku kuatir hal itulah yang terjadi … “
“Apakah kau mempunyai dugaan siapa yang kira-kira telah melakukannya ?”
Stefanus buru-buru mengangkat tangannya.
“Nanti dulu… Aku sebenarnya ingin menanyakan tentang kepribadian Pak Yohanes. Bagaimana dan seperti apa beliau semasa hidupnya .”
“Papa orang yang penuh kasih dan ia sangat mencintai kami semua. Aku tidak melihat adanya alasan seseorang untuk membunuhnya. Ia orang yang sangat baik .”
Stefanus mengerutkan kening.
“Lalu apakah ia juga orang yang suka berhemat ?”
“Tentu saja… “
“Kalau begitu, apakah tidak aneh jika orang seperti Pak Yohanes mempunyai hutang ?”
“Ah… masalah itu. Mungkin papa hanya berolok-olok saja. Sampai saat ini kami tidak mengetahui kepada siapa papa telah mempunyai hutang sebesar itu .”
“Ini benar-benar menarik .”
Stefanus berkata lagi,
“Pada malam terjadinya peristiwa itu… banyak orang yang telah menelurkan teori yang berbeda-beda. Kurasa tindakan itu terlalu tergesa-gesa. Untuk menyusun sebuah teori yang baik, kita harus terlebih dahulu meneliti permasalahannya, mengumpulkan dan merangkaikan fakta-fakta yang ada dan pada akhirnya mulai menyusun teori itu sendiri .”
“Ada satu hal yang menarik… Apakah Pak Yohanes suka sekali bermain catur ?”
Helen menjawab,
“Wah… Papa memang sangat senang bermain catur. Pak Hartono adalah musuh bebuyutannya sejak dulu. Keduanya memang tidak pernah tahu waktu kalau sedang bermain catur .”
“Begitu… ” komentar Stefanus.
“Bagaimana dengan Pak Kosasih ?” lanjutnya.
“Terus terang aku tidak begitu mengenalnya. Diam-diam kurasa ia membenci papa karena usaha papa lebih maju dari usaha yang dikelolanya. Jadi, katakanlah… Pak Kosasih orang yang pendengki .”
Stefanus tersenyum.
“Kita jangan terburu-buru menarik kesimpulan .”
Stefanus berpaling ke arah Patricia.
“Apakah Kak Patty sependapat kalau ketidakhadiran Pak Kosasih dalam upacara pemakaman ada hubungannya dengan peristiwa malam itu ?”
Patricia terdiam sesaat.
“Ya, mungkin juga… ” katanya. “Seperti Helen dan Jenny, aku juga kurang menyukai orang itu .”
Stefanus menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Mengapa setiap orang menaruh curiga kepada Pak Kosasih ? Ia memang sangat mungkin melakukan kejahatan itu karena ia adalah satu-satunya orang yang memiliki peluang yang besar dan motif yang cukup kuat. Tapi… benarkah kejadiannya sesederhana itu ?”
Lanjut Stefanus,
“Apakah tidak mungkin jika Pak Yohanes dibunuh oleh salah seorang dari keluarganya sendiri ?”
Helen cepat-cepat memotong,
“Husss… Kau ini. Bicaramu semakin ngawur, Stef. Kami tidak akan tega melakukan perbuatan keji itu .”
“Memang tidak mungkin. Tapi bagaimana dengan yang lain ? Saudara Pak Yohanes ? Pembantu rumah tangga ? Atau bahkan tukang kebun ?”
Viola menjawabnya,
“Kau kan tahu sendiri. Orang-orang yang kau sebutkan itu tidak berada di sini pada malam itu. Orang tuaku dan Bibi Larasati sedang ada urusan sedangkan Bibi pembantu itu ikut melayani di pesta itu tapi mustahil ia yang melakukan perbuatan itu .”
“Mengapa mustahil ? Ia kan memegang kunci kamar itu juga. Kan sangat gampang baginya untuk membuka pintu kamar itu dan menukar isi botol obat Pak Yohanes .”
Patricia menyela,
“Ia sudah seperti ibu kami sendiri. Sudah lama sekali ia ikut keluarga kami. Aku yakin bukan dia pelakunya .”
“Baiklah… jika bukan dia, lalu bagaimana dengan kawan Kak Patty dan Kak Helen itu ?”
Patricia dan Helen berseru kaget.
“Ngawur… “
“Sembarangan saja… “
Stefanus buru-buru menambahkan,
“Semua itu kan baru dugaan saja. Kita ingin memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan lain. Jadi… ?”
“Roni tidak punya alasan untuk melakukan perbuatan itu. Walaupun ia sudah lama mengenalku tapi ia belum begitu akrab dengan papa. Jadi bagaimana mungkin ia mempunyai maksud jahat terhadap papa ?”
Helen ikut-ikut menyahut,
“Fredy juga tidak mungkin melakukannya. Ia laki-laki yang sangat baik .”
Stefanus merasa geli mendengar pembelaan Patricia dan Helen terhadap kekasih mereka masing-masing.
“Baiklah… ” kata Stefanus sambil terus berusaha menyembunyikan senyumnya. “Aku juga percaya kalau mereka bukan pelaku perbuatan itu .”
Stefanus menambahkan,
“Tapi bagaimana dengan tukang kebun ?”
Viola menjawab dengan agak kesal,
“Kan sudah kukatakan kalau tukang kebun itu tidak ada di sini pada saat itu. Jadi mana mungkin… “
“Tunggu dulu ,” sergah Stefanus. “Tukang kebun itu mengaku tidak ada di sini. Bagaimana jika ia berbohong ? Ia dengan mudah bisa menyelinap datang di pesta lalu melakukan perbuatan itu. Dengan demikian ia memiliki alibi yang sangat kuat. Bukankah demikian ?”
Viola tampak gugup.
“Yah..eh, bisa saja. Tapi aku tetap tak percaya kalau tukang kebun itu melakukannya .”
“Disamping itu… ” sela Patricia. “Aku sudah mengirim kabar kepadanya mengenai masalah ini. Dia pasti akan datang dalam satu dua hari ini. Dan kau akan menilainya sebagai seorang tua yang budiman .”
Stefanus tersenyum.
“Sebenarnya aku sudah dapat menduganya. Ia adalah seorang laki-laki yang sangat telaten dan mencintai keindahan. Rasanya tidak masuk akal kalau ia terlibat dalam peristiwa itu .”
Viola berkata,
“Sejak tadi kita hanya menyingkirkan orang-orang yang ada dalam pesta itu. Dua belas orang itu… Siapa diantara mereka yang telah melakukannya ? Sebenarnya itulah yang menjadi pokok persoalannya .”
“Masih ada beberapa orang yang lain… ” sahut Stefanus.
“Siapa ?”
“Henry dan Maria ,” jawab Stefanus kalem.
“Kau edan… Makin lama dugaanmu makin keterlaluan dan pada akhirnya kau bahkan menaruh curiga kepada semua orang yang hadir dalam pesta itu. Lebih dari itu… Orang yang tidak hadir pun ikut kau curigai. Sebenarnya apa sih maksudmu ?” seru Patricia.
Stefanus berusaha mengatasi keadaan.
“Aku kan cuma ingin dengar pendapat dari Kak Patty dan Kak Helen. Jangan terus emosi begitu, dong… “
Patricia menghembuskan nafas. Ia tampak kesal.
“Pendapatku sudah jelas. Mereka berdua memiliki hubungan yang sangat erat dengan papa. Hubungan seorang anak dan seorang menantu. Sangat tidak masuk akal jika keduanya merencanakan perbuatan itu. Bagiku… ” suara Patricia sudah menjadi agak tenang kali ini. “… aku tetap menaruh curiga terhadap Pak Kosasih. Sejak dulu aku tidak begitu cocok dengannya .”
“Aku sependapat denganmu, Patty ,” sambung Helen menyetujui pendapat Patricia.
“Jadi… lagi-lagi Pak Kosasih yang dicurigai .”
Stefanus teringat akan sesuatu hal. Ia menghampiri Jenny yang duduk agak memisah dari kedua saudaranya.
“Sejak tadi kau diam saja… Apakah kau sakit ?”
Jenny menoleh. Mata yang bening dan indah itu menatap Stefanus.
“Lalu aku harus bicara apa ?” sahutnya dengan dingin.
Stefanus mengangkat bahu.
“Yah… Apa saja. Katakan pendapatmu tentang peristiwa ini .”
“Aku tidak punya gambaran apa-apa tentang masalah ini. Bagiku, aku sependapat dengan Patty dan Helen. Pak Kosasihlah yang harus dipersalahkan dalam hal ini .”
Stefanus manggut-manggut. Lalu katanya,
“Eh, ngomong-ngomong… katanya kau mengalami kecelakaan yang membuatmu menjadi kehilangan sebagian ingatanmu. Apakah ingatanmu itu belum pulih ?”
Jenny kembali menatap Stefanus. Ia merasa heran mengapa Stefanus menanyakan masalah itu.
“Jika benar, lalu apa hubungannya denganmu ?”
Stefanus berkata lambat-lambat,
“Jika ingatanmu belum pulih, aku akan mencoba membantu mengembalikan ingatanmu. Aku memang bukan seorang psikiater tapi aku pernah membaca tentang amnesia. Aku bahkan menulis artikel mengenai amnesia tersebut… “
Patricia menyela,
“Kau ? Kau mau menyembuhkan Jenny ? Ha.. Jangan membuatku tertawa, Stef. Beberapa waktu yang lalu, seorang psikiater kenalan papa sudah mencoba melakukan pengobatan terhadap Jenny. Tapi hasilnya nihil .”
Kata Stefanus,
“Seorang penderita amnesia tidak akan dapat sembuh dalam waktu singkat. Tapi satu hal yang pasti bahwa ia akan sembuh jika ia berhasil mengingat suatu kejadian atau seseorang atau suatu tempat atau sebuah benda atau hal-hal lainnya yang sangat berkesan di hatinya. Jika ia sudah berhasil mengingat hal tersebut, maka ingatannya pasti akan pulih seperti sediakala .”
Viola tampak merenung.
“Perkataanmu ada benarnya juga, Stef. Aku pernah membaca tulisan tentang amnesia di perpustakaan di Amsterdam dan kurang lebih isinya memang mengulas hal-hal semacam itu .”
“Barangkali kita memang harus mencobanya ,” ujar Helen.
Stefanus bertanya lagi kepada Jenny.
Katanya,
“Apakah kau tidak pernah bermimpi buruk lagi ?”
Jenny menggeleng.
“Aku sendiri juga heran. Sebelum peristiwa itu terjadi, hampir tiap hari aku bermimpi buruk. Selalu mimpi yang sama. Sayang tak ada seorang pun yang mau mendengarkan perkataanku .”
Lanjutnya,
“Apakah kau yakin bisa menyembuhkanku, Stef ?”
Stefanus mengangkat bahu.
“Itu semua tergantung kepadamu sendiri. Tapi ada seseorang yang sangat membantu teori penyembuhan ini .”
Patricia mengerutkan kening.
“Siapa ?” tanyanya.
“Kurasa aku tahu… ” sela Viola. “Ia pasti orang yang diceritakan Inspektur Budi… Michael .”
Stefanus mengacungkan jempol.
“Seratus buat Kak Viola. Memang Michael orangnya. Nama Michael sangat berarti bagimu, bukan ?”
Jenny mengerutkan kening.
“Ya… Nama itu sepertinya tidak asing lagi bagiku. Tapi tetap saja aku tidak ingat apa hubungannya denganku …”
“Tapi menurut penuturan Inspektur Budi, ia juga tidak hadir dalam upacara pemakaman ,” kata Viola.
“Mungkin ia ada urusan sendiri ,” komentar Patricia.
“Yah… mungkin juga .”
Stefanus berkata lagi,
“Jadi pada akhirnya kita berkesimpulan bahwa orang yang patut dicurigai atau orang yang besar kemungkinannya melakukan tindakan itu adalah Pak Kosasih ?”
Semua lawan bicaranya mengangguk bersamaan.
“Tapi semua itu harus dibuktikan terlebih dahulu. Sekarang aku ingin kembali ke permainan catur …”
Viola menyahut,
“Lagi-lagi permainan itu. Sebenarnya apa sih hubungan permainan catur yang membosankan itu dengan peristiwa ini. Sepanjang pengetahuanku, catur adalah semacam permainan otak. Permainan semacam itu jelas tidak ada sangkut pautnya dengan kejadian ini .”
“Wah… Bagiku permainan itu sangat penting karena aku yakin dari dalam permainan catur pada malam itu kita bisa mengetahui peristiwa yang sesungguhnya .”
Jenny melongo.
“Bagaimana mungkin ?” tanyanya.
Lagi-lagi Stefanus mengangkat bahu.
“Aku masih belum tahu. Tapi yang jelas kedudukan permainan catur pada malam itu antara Pak Yohanes dengan Pak Hartono akan sangat membantu menyelesaikan kasus ini .”
Patricia berkata,
“Lalu apa yang ingin kau ketahui dari permainan itu ?”
Stefanus memegang dagunya sambil berbicara,
“Apakah tidak ada yang pernah memperhatikan permainan catur kedua orang itu pada malam itu.. maksudku Pak Yohanes dan Pak Hartono ?”
Viola berpikir sejenak.
“Pak Kosasih menjadi wasit dalam permainan itu. Namun cuma sebentar. Setelah beberapa menit ia keluar ruangan dan sejak itu tidak pernah kelihatan lagi sampai paman Yohanes ditemukan meninggal dunia .”
Stefanus terus mendesak.
“Bagaimana dengan orang-orang lainnya ?”
“Kurasa mereka sibuk dengan urusan masing-masing… ” sahut Patricia dengan cepat.
“Apakah saat itu di ruangan itu hanya ada kedua belas orang itu ?”
“Sebelas orang… Pak Kosasih tidak ada di ruangan pesta .”
“Jadi ada dua orang yang sibuk bermain catur dan sembilan lainnya sibuk dengan urusannya sendiri. Bagaimana dengan para pelayan ?”
“Mereka sudah pulang dan pembantu kami juga sudah masuk ke dalam kamarnya .”
“Jadi jelas diantara sembilan orang itu, tidak ada yang sempat memperhatikan kedua orang yang tengah bermain catur itu. Bukankah demikian ?”
Tanpa menunggu jawaban Stefanus melanjutkan,
“Apakah juga tidak ada yang melihat kapan persisnya Pak Yohanes meninggalkan ruangan pesta ?”
Patricia menjawab dengan sedikit bimbang,
“Kurasa… tidak .”
“Kesimpulannya, hanya berdasarkan kesaksian Pak Hartono saja kita mengetahui kapan persisnya Pak Yohanes meninggalkan ruangan pesta .”
Helen mengerutkan kening.
“Maksudmu… kau tidak mempercayai ucapan Pak Hartono ?”
Stefanus menggeleng.
“Bukan begitu… Aku hanya ingin merekayasa kejadian malam hari itu dan memperhitungkan segala kemungkinan lain yang mungkin terjadi .”
“Tapi, untuk apa Pak Hartono membunuh papa ?”
“Apakah hubungan antara keduanya sangat akrab ?”
“Lebih dari itu. Mereka berdua seperti saudara kandung. Rasanya tidak masuk akal jika Pak Hartono sampai tega melakukan perbuatan seperti itu .”
Stefanus merenung.
“Apakah Pak Hartono selalu menang dalam permainan catur ?”
Patricia menggeleng.
“Entahlah… Tapi menurut cerita papa, mereka berdua seimbang. Kadang papa yang menang, kadang Pak Hartono yang menang. Tidak bisa dipastikan …”
“Hanya ada seorang yang bisa memastikan kedudukan permainan catur itu dan hanya orang itulah yang menjadi saksi terakhir dalam permainan catur malam itu .”
Viola menjawab,
“Maksudmu, Pak Kosasih ?”
Stefanus mengangguk.
“Sayang, saat ini ia tidak ada .”
Tiba-tiba Jenny menyela,
“Mungkin ia sudah melarikan diri .”
“Ya… mungkin saja. Ia merasa bersalah atas perbuatan yang dilakukannya malam itu ,” sahut Helen.
Stefanus tidak menjawab. Pandangannya tertuju ke arah seseorang yang datang menghampiri mereka. Seorang dengan tampang yang kocak. Stefanus sendiri tidak menyangka orang itu akan muncul di situ. Ia merasa mendapatkan kesempatan yang sangat baik.
Pak Hartono berdiri di depan mereka sambil tertawa lebar.
“Wah… Rupanya kalian sedang kumpul-kumpul. Tadi aku kebetulan mampir .”
Orang itu memakai kemeja lengan panjang berwarna biru muda serta celana panjang hitam yang agak longgar. Ia menoleh ke arah Viola. Katanya,
“Aku tadi sempat bercakap-cakap dengan kedua orang tuamu. Tapi sekarang mereka sudah pergi .”
“Oh… ” sahut Viola dingin.
“Stefanus… Kau juga ada di sini ?”
Stefanus menjawab dengan agak segan,
“Yah, kebetulan saya dari rumah teman saya yang letaknya tak jauh dari sini. Jadi sekalian saya mampir .”
“Rupanya saya datang terlambat ,” ujar Pak Hartono. “Para tamu kebanyakan sudah pulang .”
“Tidak ada kata terlambat ,” sahut Patricia. “Silakan bergabung dengan kami .”
Pak Hartono duduk diantara mereka sementara gadis-gadis itu mulai bercakap-cakap satu dengan lainnya.
Stefanus menggamit lengan Pak Hartono.
“Lebih baik kita urusi diri kita sendiri… Biarkan mereka bercakap-cakap ,” bisiknya.
Pak Hartono tersenyum.
“Yah… Kurasa kau benar, Stef .”
Stefanus melihat adanya suatu peluang.
“Apakah anda masih lama di sini ? Maksud saya, apakah anda tidak terburu-buru ?”
Pak Hartono menggeleng.
“Kurasa tidak. Di rumah aku juga tidak ada pekerjaan yang pasti .”
“Kalau begitu, bersediakah anda main catur dengan saya ?”
Pak Hartono mengernyitkan alisnya. Ia merasa agak aneh dengan ajakan Stefanus.
Saat berikutnya, Pak Hartono menyahut,
“Ya… mengapa tidak ? Aku juga ingin mengetahui sampai sejauh mana kepandaianmu .”

Stefanus menguap lebar.
“Tidak kusangka ternyata Pak Hartono sangat hebat permainannya .”
Saat itu, remaja itu telah kembali berada di dalam gudang di rumahnya, tempat dimana ia dan kawan-kawannya berembuk dalam menghadapi sebuah masalah. Ia berbaring di sebuah dipan yang ada di sudut ruangan itu.
Stefanus memejamkan matanya. Ia ingin mengingat kembali suasana permainan catur antara dirinya dengan Pak Hartono. Ia membayangkan… Seandainya dirinya adalah Pak Yohanes… Seandainya dirinya adalah Pak Yohanes… Otak remaja itu berpikir keras. Ia membayangkan dirinya sebagai Pak Yohanes yang tahu-tahu merasa sakit kepala dan bergegas meninggalkan ruangan.
Tunggu dulu… Ruangan itu… Ruangan dimana Pak Yohanes dan Pak Hartono bermain catur. Bukankah mereka agak berada di sudut ruangan malam itu ? Stefanus terhenyak… Tirai penyekat ruangan. Bukankah itu menghalangi pandangan orang-orang lainnya terhadap kedua orang itu ? Botol minuman itu ada di atas meja di dekat jendela. Seandainya kedua orang itu benar-benar larut dalam permainan itu, maka tak seorang pun dari mereka yang tahu jika ada orang yang telah menyelinap. Stefanus menyadari hal itulah yang telah luput dari perhatian mereka selama ini.
Tiba-tiba Stefanus bangkit dan duduk di pinggir dipan. Matanya berkilat-kilat penuh sinar kemenangan.
“Aku tahu… Aku tahu… ” desisnya.
Gumamnya lagi,
“Tapi aku masih belum tahu bagaimana ia melakukan penukaran obat itu. Pertanyaan ini yang agak sulit dijawab .”
Stefanus kembali merebahkan tubuhnya.
Pikirannya kembali menerawang, namun akhirnya rasa kantuk mengalahkannya. Ia tertidur sangat nyenyak…

Oleh: Wahyu Kurniawan, 1998