BAB EMPAT
KESAKSIAN GADIS-GADIS JELITA

Pagi hari berikutnya, Inspektur Budi bangun agak terlambat. Semalaman ia hampir-hampir tidak bisa tidur dengan nyenyak. Pikirannya terus terganggu dengan kasus yang tengah dihadapinya saat ini. Dalam hati kecilnya, sebenarnya ia ingin langsung menutup kasus kematian Pak Yohanes dan menyatakannya sebagai tindakan bunuh diri. Namun ia percaya kepada firasat Jenny yang mengatakan bahwa Pak Yohanes telah dibunuh. Inspektur tidak sampai hati mengingkari janjinya untuk menangkap pembunuh itu. Karena itu, walau bagaimanapun, ia bertekad untuk berupaya semaksimal mungkin menemukan bukti-bukti yang dapat membuktikan bahwa peristiwa itu adalah suatu tindak kriminal pembunuhan.
Dengan sedikit tergesa-gesa, Inspektur mengenakan seragam dinasnya dan bergegas mengeluarkan sepeda motornya. Inspektur memang lebih menyukai mengendarai sepeda motor. Ia baru mengendarai mobil jika sedang mengadakan perjalanan jauh seperti kemarin saat ia mengunjungi Pak Hartono dan Pak Kosasih.
Tidak berapa lama, sepeda motornya sudah memasuki halaman kantor Polisi. Setelah memarkirkan kendaraannya, Inspektur Budi bergegas masuk ke dalam ruangan pribadinya.
Cuaca hari itu agak mendung. Hawa dingin pagi itu sempat membuat Inspektur Budi kedinginan juga. Ia menggosok-gosokkan kedua tangannya sambil sedikit gemetar.
“Huh… Pagi ini lumayan dingin .”
Saat berikutnya, pintu ruangannya diketuk seseorang.
“Ya… silakan masuk ,” kata Inspektur Budi.
Letnan Haris segera masuk. Di tangannya terlihat ada dua buah cangkir dengan asap yang masih mengepul. Inspektur menduga bahwa di dalam cangkir itu adalah kopi kegemarannya.
“Kau tahu saja keinginanku, Letnan ,” kata Inspektur.
Letnan Haris tersenyum.
“Saya kira anda kedinginan, Inspektur. Udara pagi ini memang tidak dapat dikatakan hangat. Yah… begitulah, tidak terasa sudah saatnya musim hujan lagi .”
Inspektur membenarkan pendapat bawahannya.
“Memang tidak terasa. Waktu berjalan demikian cepat .”
Inspektur mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Bagaimana ? Apakah orang yang kemarin belum muncul juga ? Mudah-mudahan saja ia menepati janjinya .”
“Sampai sekarang belum kelihatan batang hidungnya ,” sahut Letnan Haris.
“Kurasa ia akan memberitahukan sesuatu kepada kita tentang hal-hal yang berkaitan dengan peristiwa itu .”
“Semoga saja begitu, Inspektur .”
Inspektur mendesah. Lalu katanya,
“Kau boleh pergi, Letnan. Tapi jika nanti orang itu muncul, segera kau suruh untuk menemui aku .”
“Baik, Pak ,” kata Letnan Haris seraya meninggalkan ruangan tersebut. Inspektur Budi mengambil surat kabar yang tergeletak di atas meja kerjanya. Ia tenggelam dalam keasyikan membaca surat kabar tersebut.
Entah sudah berapa lama, perwira Polisi itu berada di dalam ruangan kerjanya. Saat itu, Letnan Haris tengah menerima tamu yang sedang dinanti-nantikan oleh Inspektur Budi.
“Mari ikuti saya ,” kata Letnan Haris. “Inspektur Budi telah sejak tadi menanti kedatangan anda .”
Orang itu tidak menyahut. Namun ia tetap mengikuti Letnan Haris yang menunjukkan jalan menuju ke ruangan Inspektur Budi. Letnan Haris mengetuk pintu dan membentangkan pintu itu lebar-lebar untuk memberi jalan kepada laki-laki itu agar masuk ke dalam.
“Silakan anda masuk ,” kata Letnan Haris.
“Terima kasih ,” sahut laki-laki itu.
Letnan Haris segera berlalu setelah merasa yakin bahwa keberadaan dirinya tidak dibutuhkan lagi disitu.
Inspektur Budi mengamat-amati pemuda yang berdiri di hadapannya sejenak sebelum kemudian mempersilakan pemuda itu duduk di kursi di depannya.
Memang betul apa yang dikatakan oleh Letnan Haris kemarin. Pemuda itu berusia kira-kira antara dua puluh lima sampai tiga puluh tahun. Rambutnya dipangkas cukup rapi. Badannya tegap dan gagah. Wajahnya juga tampan dan kelihatan bersinar. Ia seperti seorang pria idaman yang selalu didambakan oleh gadis-gadis. Inspektur juga tidak melihat adanya ciri yang spesifik pada diri laki-laki itu. Dalam hati, Inspektur memuji pengamatan Letnan Haris yang terlatih.
Sementara itu, laki-laki itu pun tengah mengamati Inspektur Budi. Ia melihat dihadapannya seorang perwira Polisi yang cukup sering dibicarakan oleh masyarakat. Keadaan Polisi itu jauh diluar bayangan laki-laki itu. Ternyata yang disebut-sebut sebagai Inspektur Budi itu tidak lain hanyalah seorang pria agak tua bertubuh gendut serta berperawakan agak pendek dan sepertinya tidak cocok menjadi seorang polisi. Namun laki-laki itu merasakan adanya kewibawaan dari diri Inspektur Budi. Bagaimanapun juga ia mengaguminya.
Beberapa menit lamanya mereka saling bertatap muka, namun tidak ada sepatah kata pun yang terlontar dari mulut mereka. Akhirnya Inspektur mengalah. Ia mulai membuka perbincangan.
“Selamat pagi. Kemarin anda mencari saya. Saya sama sekali belum mengenal anda. Karena itu, mari kita berkenalan lebih dahulu sebelum anda menyatakan maksud anda mencari saya. Saya adalah Inspektur Budi. Sekarang kalau boleh saya tahu, siapakah anda dan ada urusan apa anda mencari saya ?”
Laki-laki itu diam. Inspektur menangkap ada sedikit keraguan terlukis di wajahnya yang tampan.
“Sebelumnya saya ingin minta maaf karena telah bersikap misterius. Saya sebenarnya ragu apakah keterangan saya akan membantu atau justru akan mengacaukan kasus kematian Oom Yohanes .”
Inspektur menaikkan alisnya yang sebelah.
“Apa maksudmu ? Mengapa kau memanggil Pak Yohanes dengan sebutan Oom ? Siapa kau sebenarnya ?”
Laki-laki itu mengatur nafasnya sejenak.
“Nama saya Michael. Saya biasa dipanggil dengan Mike. Terus terang, hubungan saya dengan keluarga itu tidak begitu akrab. Saya hanya kenal dengan Oom Yohanes dan salah seorang puterinya yang bernama Jenny .”
Inspektur Budi manggut-manggut.
“Lanjutkan ceritamu ,” katanya.
“Dua bulan yang lalu, Jenny dan papanya pergi berlibur di Tasikmalaya. Kebetulan saat itu, saya juga sedang berada di sana karena tengah liburan semester. Dan secara kebetulan pula, kami… maksud saya, saya dengan Jenny berjumpa di sebuah Supermarket. Sejak pertama melihatnya, saya langsung menyukainya. Ia gadis yang sangat sempurna. Cantik, anggun dan baik hati. Dan saya rasa, Jenny pun berpikiran sama terhadap diri saya. Pendek kata, kami saling menyukai .”
Inspektur Budi merasa kedua orang itu, Jenny dan Mike memang benar-benar pasangan yang serasi.
“Hari demi hari saya semakin akrab dengan gadis itu. Gadis itu juga memperkenalkan saya dengan papanya. Karena itulah saya memanggil beliau dengan sebutan Oom Yohanes. Beliau sangat suka kepada saya dan merestui hubungan kami berdua. Di pihak orang tua saya pun tidak ada masalah. Selama dua minggu di Tasikmalaya, kami benar-benar menjadi sepasang kekasih yang saling mengasihi satu sama lain. Suatu hari, Jenny berpamitan pada saya, bahwa ia dan papanya akan kembali ke Bogor. Waktu itu saya masih ingat kalau saya berkata bahwa saya akan ke Bogor bulan depan. Lalu dua minggu berikutnya, kurang lebih satu bulan yang lalu datanglah sepucuk surat dari Jenny .”
Mike kembali terdiam.
Inspektur Budi merasa tidak sabar. Katanya,
“Apa isi surat itu ?”
“Lebih baik anda baca sendiri, Inspektur ,” kata Mike seraya menyerahkan secarik kertas pada Inspektur.
Inspektur Budi menerima kertas itu dan membacanya,

Buat Kakak Michael,

Kak… Kumohon kau segera datang ke Bogor. Aku sangat membutuhkan pertolonganmu. Banyak kejadian-kejadian aneh yang terjadi akhir-akhir ini. Aku merasa amat takut. Suatu malam, aku mendengar percakapan orang di belakang rumah. Mereka bilang akan membunuh papa. Aku takut kalau hal itu benar-benar terjadi. Apa yang harus kulakukan, Kak ? Kalau mereka tahu bahwa aku mengetahui rencana mereka, mungkin aku akan dibunuhnya pula. Aku benar-benar merasa ketakutan. Maukah kau menolongku ? Apa yang kutulis di surat ini bukan hanya khayalan semata. Kuharap kau mau mempercayaiku. Aku tunggu kabar darimu secepatnya…

Jenny

Inspektur Budi melipat kertas itu lalu memasukkannya ke dalam amplop seperti semula.
“Lalu bagaimana tanggapanmu ?”
Mike mendesah.
“Saya mengakui disinilah letak kebodohan saya. Saya tidak mengindahkan isi surat itu. Saya kira itu hanyalah semata-mata khayalan dari Jenny. Saya sama sekali tidak pernah menduga kalau apa yang dikatakannya dalam surat itu benar-benar menjadi kenyataan .”
“Lalu minggu berikutnya, saya baru teringat akan surat itu. Agar Jenny tidak merasa cemas, saya menulis sepucuk surat yang dialamatkan kepadanya. Namun surat saya tidak pernah terbalas. Surat yang kedua saya kirimkan beberapa hari berikutnya. Anehnya tidak ada balasan. Saya merasa aneh. Saya yakin mungkin telah terjadi sesuatu terhadap keluarga Oom Yohanes. Karena itu, saya segera datang ke Bogor dan sampai pada hari Senin kemarin. Begitu membaca berita di Pos Kota, saya baru menyadari kekeliruan saya. Pada hari itu juga saya mencari alamat Oom Yohanes. Setelah ketemu, saya melihat di pekarangan rumah, gadis-gadis itu tengah bercakap-cakap. Tapi saya tidak melihat adanya Jenny. Karena itu, saya tidak ingin mengejutkan mereka. Saya menyelinap lalu bersembunyi dibalik semak-semak yang rimbun dan mendengarkan sedikit-sedikit pembicaraan mereka. Namun karena mereka berbicara agak jauh dari tempat saya bersembunyi, saya kurang jelas menerima suara mereka. Yang sempat membuat saya bingung adalah mereka membicarakan masalah kecelakaan yang dikaitkan dengan Jenny. Inspektur, apakah anda tahu apa yang telah terjadi terhadap diri Jenny ?”
Inspektur Budi merasa harus memberitahukan masalah gadis itu kepada pemuda di depannya.
“Sebulan yang lalu, Jenny mengalami kecelakaan. Untunglah badannya tidak cedera, namun ia menderita amnesia akibat kecelakaan itu .”
“Apa ??? Kalau begitu saya ini memang benar-benar bodoh. Jika saja… Jika saja saya langsung datang waktu saya menerima surat itu, barangkali semua ini tidak perlu terjadi .”
Mike menundukkan kepalanya.
Inspektur Budi bangkit dari kursi yang didudukinya selama ini lalu menghampiri laki-laki itu dan menjamah lengannya.
“Sudahlah… ,” katanya dengan nada kebapakan. “Semua itu bukan kesalahanmu .”
“Pantas… Pantas surat saya tidak terbalas. Ia merasa tidak pernah mengenal saya. Dan pandangannya terhadap saya seperti memandang orang asing .”
“Ia sudah pernah menceritakan kepada saya. Ia bahkan merasa curiga kepadamu saat ia melihat kau keluar dari semak-semak itu. Ia benar-benar telah kehilangan ingatannya. Namun tidak semua. Ingatan-ingatan itu muncul kembali di bawah alam sadarnya. Ia menceritakan kepada saya tentang mimpi-mimpinya yang seolah sebagai pertanda bahwa Pak Yohanes akan dibunuh .”
Mike berkata,
“Apakah anda percaya kalau kejadian tersebut ada yang mendalangi ?”
“Saya rasa begitu .”
Inspektur melanjutkan,
“Sayangnya, sampai saat ini kami belum mendapatkan bukti-bukti yang akurat yang dapat menerangkan bagaimana pembunuhan itu terjadi. Satu hal yang pasti, ada seseorang yang telah memasukkan anestese ke dalam minuman yang diedarkan pada malam itu. Kita hanya perlu menunggu penyelidikan Laboratorium lebih lanjut .”
Tepat pada saat itu, telepon di meja kerja Inspektur berdering. Inspektur segera mengangkatnya.
“Hallo… Ya, betul… Oh, rupanya anda… Bagaimana, apakah ada perkembangan baru dari pengusutan anda ? … Oh, begitu… Hmmm… Ya, ya saya mengerti… Baiklah, jika ada sesuatu yang penting, tolong segera hubungi saya atau Letnan Haris .”
Inspektur meletakkan kembali gagang telepon di tempatnya semula.
“Kebetulan sekali itu tadi dari Laboratorium .”
Mike menunggu kelanjutan kata-kata dari Inspektur Budi. Namun polisi itu sedang menyalakan rokoknya.
“Kita menemukan fakta baru. Pihak Laboratorium telah menyelidiki dengan seksama. Ternyata bahwa zat anestese tersebut dimasukkan ke dalam minuman anggur yang terakhir diedarkan setelah para undangan pulang. Dan ada lagi… Jika zat tersebut bercampur dengan pil-pil obat tidur jenis… ah, saya tidak tahu namanya. Pokoknya yang telah diminum oleh Pak Yohanes. Jika terjadi seperti itu, akibatnya sangat fatal. Orang yang meminumnya akan langsung meninggal. Sekarang timbul pertanyaan, mengapa Pak Yohanes bermaksud minum obat tidur ? Asal anda tahu saja bahwa saat itu ia sedang terlibat dalam permainan catur bersama Pak Hartono. Permainan itu adalah permainan kegemarannya dan tidak mungkin ia meninggalkannya begitu saja. Kecuali kalau ia benar-benar terpaksa .”
“Zat itu menimbulkan sedikit rasa pusing. Hal itu juga menjawab pertanyaan mengapa banyak orang yang merasa kurang sehat pada malam itu. Dan karena Pak Yohanes yang paling banyak minum anggur, ialah yang merasa lebih menderita dari lain-lainnya. Jika seluruh dugaan itu benar, maka salah seorang dari kami yang terakhir pulang pada malam itu adalah orang yang berniat untuk membunuh Pak Yohanes, tetapi bagaimana caranya ?”
Inspektur Budi terdiam.
Beberapa saat berlalu namun kedua orang itu tetap diam di tempatnya. Semua tenggelam dalam pikiran masing-masing. Inspektur Budi berpikir sambil menikmati rokoknya. Ruangan itu telah penuh dengan asap rokok. Dan membuat ruangannya penuh dengan asap seperti diselimuti kabut merupakan salah satu kegemaran Inspektur Budi.
Tidak berapa lama Mike bangkit.
“Saya rasa hanya itu yang dapat saya sampaikan pada saat ini. Apakah keterangan saya dapat berguna ?”
Inspektur tersenyum.
“Keterangan anda tadi sangat membantu. Anda telah memberikan fakta-fakta baru yang sangat bermanfaat dalam kasus ini. Saya sangat berterima kasih kepada anda. Dan jika anda tidak keberatan bolehkah saya meminjam surat ini ?”
Mike mengangkat bahu.
“Silakan Inspektur. Saya senang dapat membantu anda .”
“Terima kasih, Mike .”
Mereka berjabatan tangan sebentar.
“Oh..ya, apakah kau datang pada pemakaman Pak Yohanes besok pagi ?”
“Sebenarnya saya tidak enak jika berjumpa dengan Jenny, namun saya usahakan datang .”
Inspektur mengambil ballpoint dan kertas.
“Dimana saya bisa menghubungimu ? Tuliskan alamatmu di kertas ini .”
Mike menuliskan alamatnya. Sambil menulis, ia berkata,
“Saya tinggal di Bogor dengan salah seorang saudara jauh papa. Tempatnya tidak begitu jauh dari sini. Nah… Ini alamatnya, Inspektur .”
Mike menyerahkan kertas itu kepada Inspektur Budi.
“Jika tidak ada hal-hal lain, saya mohon pamit .”
Inspektur mengangguk dan dilihatnya sosok Mike yang tegap dan gagah itu keluar meninggalkan ruangannya.
“Aku pun punya urusan sendiri. Hari ini aku harus sudah tahu bagaimana persisnya kecelakaan yang menimpa Jenny itu .”

“Matamu merah… Apakah kau tidak tidur semalam ?”
Viola menggeleng.
“Tidak apa-apa, Ma. Mungkin Viola hanya kurang enak badan saja. Badan Viola terasa capai semua .”
Pak Gregorius melipat koran yang ada di tangannya lalu meletakkannya di atas meja.
“Mungkin kau terlalu memikirkan Andre .”
Viola cemberut.
“Ah, papa bisanya cuma menggoda Viola saja ,” gerutunya.
Saat itu jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan. Viola dan kedua orang tuanya tengah duduk-duduk di teras di rumah Pak Yohanes. Rumah itu kini penuh dengan orang-orang. Viola dan orang tuanya, Bibi Laras, Patricia, Helen, Jenny dan tentu saja Maria dan Henry suaminya.
Viola meneguk habis susu coklat yang tersedia.
Papa dan mama Viola bangkit hampir bersamaan.
“Kau yakin tidak mau ikut dengan kami ?” tanya Pak Gregorius.
Viola menggelengkan kepalanya.
“Ya sudah kalau begitu. Papa sama mama masih punya sedikit urusan. Semoga nanti malam sudah dapat diselesaikan sehingga besok kita bisa bersama-sama menguburkan pamanmu, betul kan Ma ?” kata Pak Gregorius.
Bu Gregorius hanya mengangguk.
Tidak berapa lama kedua orang itu berjalan menjauh dan terdengar deru mobil meninggalkan pekarangan rumah itu.
Viola masih duduk di tempatnya. Ia mengayun-ayunkan kakinya dengan sikap bosan. Benar-benar membosankan. Tidak ada yang dapat dikerjakannya saat itu.
“Bagaimanapun aku harus tahu kelanjutan penyelidikan Inspektur Budi terhadap kasus ini ,” gumamnya sendirian.
Ia berjalan masuk ke dalam rumah. Kemudian ia menengok ke dalam ruangan tengah. Maria, Henry, Patricia, Helen dan Jenny sedang berkumpul dalam ruangan itu. Namun Bibi Laras tidak kelihatan sejak tadi.
“Barangkali Bibi Laras sedang mengurusi persiapan upacara pemakaman untuk besok .” Viola mencoba menebak-nebak sendiri. Semua yang ada di ruangan itu tidak menyadari kehadiran Viola di ambang pintu. Mereka sibuk bercakap-cakap sendiri atau mempersiapkan segala sesuatunya untuk pemakaman Pak Yohanes. Merasa kehadirannya tidak dibutuhkan, Viola keluar dari ruangan itu dan berjalan di sepanjang lorong rumah. Tiba-tiba terdengar dering telepon.
Viola merasa ragu sesaat. Namun kemudian ia mengangkat gagang telepon itu.
“Hallo… ” kata Viola.
“Hallo… ” kata suara seseorang di seberang sana. “Dengan Inspektur Budi, apakah saya dapat berbicara dengan nona Viola ?”
Viola merasa senang mendengar dirinya ternyata masih dibutuhkan oleh Inspektur kepolisian itu.
“Ya, Inspektur. Ini saya sendiri ,” sahut Viola.
“Oh… Rupanya anda. Saya benar-benar tidak mengenali suara anda… ” kata Inspektur Budi.
“Bagaimana Inspektur ? Ada perkembangan baru ?”
Terdengar suara tawa pelan.
“Anda sangat antusias, nona. Begini saja… Jika anda ingin mengetahui hasil penyelidikan polisi, saya tunggu anda di kedai di depan kantor polisi. Bagaimana… anda setuju ?”
Viola berpikir sejenak.
“Mengapa tidak anda saja yang kemari, Inspektur ?”
“Maaf… saya tidak ingin mengganggu keluarga yang lainnya. Jika anda memang keberatan untuk datang… “
“Saya akan segera datang, Inspektur ,” potong Viola.
“Bagus ,” sahut Inspektur. “Saya benar-benar membutuhkan pendapat dan saran-saran dari anda. Baiklah, sampai nanti .”
Setelah itu hubungan terputus.
Viola meletakkan gagang telepon di tempatnya semula. Ia bergegas kembali ke kamarnya untuk mengambil jaket. Dikenakannya jaket itu lalu ia membenahi wajahnya di depan cermin. Tidak lama kemudian ia masuk kembali ke ruang tengah. Dihampirinya Patricia yang sedang bercakap-cakap dengan Helen. Gadis itu kelihatan sedikit terkejut.
“Eh… Viola, mau kemana kau ?”
“Aku mau keluar sebentar. Tolong sampaikan pada yang lain ,” kata Viola yang kemudian bergegas pergi.
Patricia hanya melongo keheranan.
“Mau kemana dia ?” tanya Helen.
“Sikapnya pagi ini benar-benar misterius. Kedua orang tuanya telah duluan pergi, sekarang ia ikut-ikutan pergi. Yah… biarkan saja. Toh kita tidak berhak untuk melarangnya pergi .”

Beberapa menit kemudian, Viola telah sampai ke tempat yang dituju. Setelah membayar ongkos angkutan, ia segera masuk ke dalam kedai itu. Kedai itu memang tidak terlalu besar, namun cukup banyak orang yang mampir di sana untuk mengisi perut ataupun hanya sekedar minum. Gadis itu menoleh kesana kemari mencari Inspektur Budi. Ia tersenyum melihat orang yang dicarinya duduk di sudut ruangan sambil melambai-lambaikan tangannya. Viola bergegas berjalan ke arah tempat duduk dimana Inspektur Budi berada.
“Selamat siang, Viola ,” sapa Inspektur Budi ramah.
“Selamat siang Inspektur ,” balas Viola tak kalah ramah.
“Apakah saya tidak menyita waktu anda ?”
“Sebaliknya… saya merasa dihargai mendapat panggilan anda untuk ikut membantu penyelidikan anda. Terus terang, tadi waktu anda menelepon, saya sedang tidak ada kerjaan. Jadi saya gembira sekali dapat berbincang-bincang dengan anda di tempat ini .”
Inspektur Budi tersenyum.
“Maafkan jika tempat ini kurang layak untuk anda .”
Viola tertawa.
“Saya justru sering makan di tempat-tempat sederhana seperti ini. Anda jangan mengira saya selalu makan makanan mewah. Saya justru lebih suka sayur lodeh daripada masakan Barat yang sering berbau keju .”
Inspektur Budi ikut tertawa. Dalam hati ia mengagumi kepribadian Viola. Walaupun setahun di negeri Belanda, tidak melunturkan rasa cintanya terhadap makanan-makanan rakyat dari negeri sendiri. Itulah salah satu kelebihan dari Viola.
“Sebelum kita lanjutkan, bagaimana kalau kita pesan sesuatu untuk pengisi perut ? Lontong balap atau gado-gado barangkali ?”
Viola mengambil daftar menu dari tangan Inspektur Budi lalu melihat daftar makanan yang tertera di situ. Diam-diam Inspektur Budi memperhatikan gadis itu. Penampilan gadis itu masih tetap seperti sebelumnya, bahkan kali ini penampilannya terkesan agak berani. Ia mengenakan kaos oblong putih yang longgar dan celana pendek jeans warna hitam yang agak ketat dan terlihat sedikit lusuh. Rambutnya dikepang ke belakang. Sepatu pun tidak lepas dari pengamatan Inspektur Budi. Gadis itu memakai sepatu lars hitam yang panjangnya hampir mencapai lutut. Penampilannya memang sedikit terpengaruh adat Barat. Namun soal watak dan kepribadian, ia benar-benar gadis yang baik dan ramah.
Gadis itu mendongak dan mengetahui bahwa dirinya sedang diperhatikan oleh Inspektur Budi.
“Ada yang aneh, Inspektur ?” tanyanya.
“Saya hanya kagum dengan kepribadian anda ,” kata Inspektur Budi.
“Anda terlalu melebih-lebihkan, Inspektur. Saya merasa tidak ada yang istimewa dengan diri saya. Namun jika anda berkata seperti itu, saya merasa sangat tersanjung .”
Viola menyerahkan daftar menu kepada Inspektur Budi.
“Maaf… ” katanya. “Saya merasa kenyang. Saya hanya pesan minuman saja .”
Inspektur mengangguk.
“Baiklah. Kalau begitu kita pesan minuman saja. Bagaimana kalau es kelapa muda ?”
Viola langsung menyetujuinya.
Inspektur melambaikan tangannya ke arah seorang pelayan yang kebetulan lewat di dekat mereka. Beberapa saat kemudian, pelayan itu sudah membawakan pesanan Inspektur Budi.
“Jadi, apa yang hendak anda bicarakan ?”
Inspektur menceritakan segala sesuatu yang berkaitan dengan kedatangan Michael, kekasih Jenny dan ditunjukkannya pula surat Jenny yang ditujukan kepada Michael.
“Benar juga kalau Jenny sudah memiliki kekasih ,” kata Viola mengomentari setelah Inspektur selesai bercerita.
“Tapi saat ini, gadis itu menderita amnesia. Segala pengalaman yang dialaminya bersama Mike di Tasikmalaya sudah terhapus dari ingatannya. Dan entah sampai berapa lama lagi ingatannya baru benar-benar pulih .”
Inspektur melanjutkan,
“Ada satu fakta lagi yang telah kami peroleh. Ternyata memang benar ada orang yang telah mencampurkan suatu zat ke dalam minuman anggur yang diedarkan malam itu. Zat itu sebenarnya tidak berbahaya. Malam itu, kita semua telah terkontaminasi oleh zat tersebut. Ingatkah anda, mengapa semua orang merasa kurang sehat pada malam itu ? Nah, itulah pengaruhnya… hanya sebentar. Namun paman anda adalah orang yang paling banyak minum anggur malam itu. Jadi tidak heran jika ia yang paling menderita. Sebenarnya zat itu tidak berbahaya. Tapi jika zat tersebut bercampur dengan tablet penenang dosis tinggi, yang meminumnya akan segera meninggal tidak lama setelah itu .”
Inspektur Budi berhenti sejenak.
“Tidakkah anda lihat bahwa kejadian-kejadian tersebut begitu kebetulan ? Seperti sebuah balok yang disusun secara rapi. Kejadian-kejadian itu seperti ada yang mengatur. Saya merasa bahwa memang ada orang yang menginginkan kematian Pak Yohanes. Sejak tadi saya belum dengar pendapat anda. Sekarang, bagaimana menurut anda ?”
Viola termenung sesaat.
“Saya rasa fakta yang terakhir ini memang menunjukkan kalau ada seseorang yang berniat jahat terhadap paman. Tapi ada sesuatu yang aneh. Kita tahu bahwa saat itu paman tengah merasakan sakit dan ia pamit kepada Pak Hartono untuk… yah, barangkali untuk minum obat. Yang harus diminumnya seharusnya obat sakit kepala dan bukan obat tidur. Namun mengapa ia justru minum pil-pil itu ? Bukankah ini suatu keanehan, Inspektur ?”
“Satu hal yang pasti ,” kata Inspektur menambahkan. “Orang yang telah mengatur kejadian pada malam itu benar-benar mengerti ilmu kimia. Dan jangan lupa dengan peristiwa penyabotan mobil yang hampir mencelakakan kita malam itu .”
Viola mengaduk-aduk minumannya.
“Jelas kasus ini bukanlah kasus biasa. Kita menghadapi seseorang yang berdarah dingin. Masih banyak kejadian-kejadian aneh yang membingungkan. Apakah anda benar-benar yakin kalau paman telah dibunuh dengan darah dingin ?”
Kata Inspektur Budi,
“Dugaan itu semakin kuat. Namun coba perhatikan satu hal. Jika Pak Yohanes benar-benar hendak minum obat lain dan bukannya obat tidur, mengapa ia justru minum obat tidur ? Jawabannya adalah ia tidak menyadari bahwa pil-pil di dalam botol itu adalah obat tidur. Apalagi ia langsung menelan beberapa pil sekaligus. Nah, jika memang demikian kejadiannya, seseorang telah menukar isi botol tersebut dengan yang lain. Obat yang benar dikeluarkan lalu obat tidur itu dimasukkan ke dalam botol itu. Pekerjaan yang sederhana. Bahkan seorang anak kecil pun sanggup melakukannya. Namun apakah akibat dari pekerjaan yang mudah itu ? Nyawa seseorang telah melayang .”
Viola menanggapi.
“Persoalannya sekarang adalah bagaimana seseorang dapat masuk ke dalam ruangan pribadi Pak Yohanes ? Padahal kita tahu tidak ada jalan lain kecuali sebuah pintu yang selalu terkunci. Kuncinya selalu dipegang oleh Pak Yohanes. Jadi kita hanya melihat kemungkinan kunci yang dipergunakan adalah kunci yang dipegang oleh Bibi. Itu pun kalau memang persis seperti itu kejadiannya .”
Inspektur Budi mendesah.
“Kita tidak punya pilihan lain. Untuk sementara kita menerima bahwa seseorang telah masuk ke dalam kamar itu dengan menggunakan kunci duplikat yang dipegang pembantu Pak Yohanes. Tetapi kapan ia dapat melakukan hal itu ?”
Viola mengemukakan dugaannya.
“Apakah tidak mungkin, peristiwa penukaran isi botol itu terjadi jauh-jauh hari sebelum malam pernikahan itu ?”
Inspektur mengangkat tangannya.
“Penukaran itu pasti terjadi pada hari itu. Berdasarkan keterangan dari pembantu Pak Yohanes, pagi itu ia memasukkan obat itu ke dalam botol. Katanya waktu itu, di dalam botol hanya tersisa dua butir pil. Obat itu adalah obat yang diberikan oleh Dokter pribadi Pak Yohanes. Obat itu habis dalam jangka waktu kurang lebih dua bulan dan obat yang baru selalu dikirim setelah jangka waktu tersebut. Pak Yohanes harus rutin meminumnya karena ia mempunyai penyakit yaitu gangguan di kepala yang kronis atau menahun. Dan malamnya, mungkin ia menduga penyakitnya itu kambuh, karena itu ia langsung minum obat dalam botol itu tanpa memperhatikan lagi. Jadi, seseorang pasti telah masuk ke dalam ruangan itu sepanjang hari itu. Namun menurut saya, orang itu menyelinap masuk pada saat pesta tengah berlangsung. Kesempatannya lebih besar karena semua orang berkumpul dalam satu ruangan dan tidak ada orang lain di bagian lain dalam rumah itu. Itulah fakta… “
Viola menopang dagunya dengan sebelah tangannya.
“Lalu bagaimana cara orang itu masuk ke ruangan itu ? Apakah benar bahwa ia meminjam kunci duplikat yang dipegang Bibi ? Mengapa Bibi sampai tidak menyadarinya ?”
Inspektur menyambung,
“Sebelumnya ada yang ingin saya tanyakan kepada anda. Apakah wanita gendut itu dapat dipercaya ?”
“Tentu saja, Inspektur ,” kata Viola. “Anda tidak perlu meragukannya. Ia telah ikut paman kira-kira lima belas tahun lamanya. Saya tidak habis pikir kalau ia yang melakukan segala kejahatan ini. Hal itu sedikit pun tidak terlintas dalam pikiran saya .”
“Saya mengerti ,” kata Inspektur. “Saya pun berpendapat sama dengan anda terhadap wanita itu. Saya tidak meragukan sedikit pun akan kesetiaannya terhadap Pak Yohanes. Pertanyaan saya tadi adalah untuk mendapatkan kesaksian anda terhadap wanita itu. Saat ini anda berembuk dengan saya sebagai seorang kawan. Namun anda adalah juga seorang saksi yang amat penting karena anda hadir di tempat dan pada saat terjadinya pembunuhan. Seorang saksi harus selalu siap memberikan kesaksiannya apabila diperlukan .”
Viola tersenyum tipis.
“Soal itu anda tidak perlu ragu, Inspektur. Saya selalu siap memberikan kesaksian atau bertukar pikiran dengan anda .”
“Bagus ,” kata Inspektur Budi.
Inspektur melanjutkan,
“Sekarang, maukah anda menyatakan pendapat anda tentang kasus ini ?”
“Andaikan benar seseorang telah menyelinap masuk ke dalam ruangan itu pada malam terjadinya tragedi itu, orang itu pasti salah satu diantara orang-orang yang pulang belakangan. Anda pun bisa juga melakukannya .”
Inspektur mengernyitkan hidung.
“Saya ?” ulang Inspektur. “Memang saya mungkin melakukannya. Tapi untuk apa ? Saya memiliki peluang namun tidak mempunyai motif untuk melakukan perbuatan itu. Apakah saya ingin merusak reputasi saya dengan berbuat seperti itu ? Dan bagaimana dengan anda sendiri ?”
Viola terkejut.
“Saya kira anda mempercayai saya, Inspektur. Saya berpeluang melakukannya, tapi saya tidak memiliki motif. Demikian pula dengan Maria, Patty, Helen dan Jenny …”
“Belum tentu ,” kata Inspektur. “Dalam kasus-kasus sering terjadi bahwa pelaku kejahatan itu adalah orang yang berhubungan dekat dengan korban .”
“Anda memang benar. Tapi saya tegaskan bahwa saya tidak melakukan perbuatan apa-apa malam itu .”
“Hei… mengapa anda menjadi tegang ? Saat ini kita sedang memperhitungkan orang-orang yang mungkin melakukan perbuatan itu. Jadi kita harus memperhitungkan semua orang. Namun saya percaya kalau anda bukanlah orang tersebut .”
Viola menarik nafas lega.
“Terima kasih atas kepercayaan anda, Inspektur .”
“Sekarang saya ingin melihat sejauh mana keakraban anda dengan paman anda. Apa saja yang anda ketahui tentang dia ?”
Viola tidak langsung menjawab. Ia sedang menikmati es kelapa muda yang ada di hadapannya.
Inspektur Budi mengulang pertanyaannya.
“Apa anda tahu sesuatu dibalik kehidupan Pak Yohanes ?”
“Saya tidak tahu apa-apa. Hubungan saya dengan paman tidak begitu dekat. Apalagi terakhir, kami tidak berjumpa selama setahun lamanya. Saya rasa tidak ada keanehan yang terjadi padanya saat saya bertemu dengannya di pesta itu. Ia tampak wajar dan kelihatan biasa-biasa saja. Paman memang orang yang suka bisnis. Saya mengakui kehebatannya dalam hal itu .”
Inspektur bertanya lagi,
“Bagaimana dengan Henry, suami Maria ?”
Viola mengangkat bahu.
“Apalagi dia. Saya tidak begitu mengenalnya. Sebelumnya saya tidak pernah tahu tentang calon suami Maria .”
“Tapi anda pasti memiliki kesan-kesan tersendiri terhadap pria itu ,” desak Inspektur Budi.
“Yah… Saya pikir, Henry orang yang baik walaupun seperti agak kasar dan sulit mengendalikan emosi. Namun saya percaya, Maria bisa berbahagia hidup bersamanya .”
Inspektur terus mendesak.
“Saya lihat anda sangat akrab dengan puteri-puteri Pak Yohanes. Apa yang dapat anda ceritakan kepada saya tentang gadis-gadis jelita tersebut ?”
“Kami memang telah akrab sejak kecil. Menurut penilaian saya, mereka gadis-gadis yang baik dan ramah. Mereka juga sangat mencintai dan mengasihi paman. Saya tidak akan dapat membayangkan jika salah seorang dari mereka menginginkan kematian paman .”
Inspektur meneguk minumannya.
“Lalu bagaimana penilaian anda terhadap sahabat Pak Yohanes, maksud saya Pak Hartono dan Pak Kosasih ?”
“Saya tidak begitu mengenal mereka, Inspektur. Tapi saya akan memberikan pendapat saya sendiri. Saya rasa, Pak Hartono orang yang baik dan ramah. Penampilannya sederhana dan tidak bermewah-mewah. Sebaliknya, saya kurang menyukai Pak Kosasih. Sikapnya misterius dan sulit ditebak. Kelihatannya ia mempunyai kepribadian ganda. Entah mengapa saya menaruh curiga kepada orang itu. Ia yang paling besar mempunyai peluang untuk melakukan kejahatan itu. Barangkali saja penyabotan mobil itu juga dilakukan olehnya .”
“Itu mungkin sekali ,” sahut Inspektur Budi. “Sekarang yang kita butuhkan adalah motif. Mengapa Pak Kosasih sampai tega membunuh sahabatnya sendiri ?”
Viola mengutarakan pendapat.
“Barangkali ia ingin menyingkirkan saingan ?”
“Segala kemungkinan memang bisa diterima ,” kata Inspektur.
“Sekarang… ” lanjut Inspektur Budi. “Bagaimana dengan kekasihmu ?”
Viola terbelalak.
“Andre ? Andre, maksud anda ? Tidak mungkin, Inspektur. Saya sangat mengenalnya sebagaimana saya mengenal diri saya sendiri. Ia orang yang baik walaupun kadang-kadang hatinya penuh curiga. Namun saya yakin bukan ia yang melakukannya. Lagipula untuk apa ia melakukannya ? Ia tidak mendapatkan keuntungan apa-apa dengan kematian paman .”
“Baiklah… saya mempercayai ucapan anda. Lalu bagaimana dengan kedua laki-laki yang lain ?”
“Pasangan Helen dan Patty ?” ulang Viola.
Inspektur mengangguk.
“Saya rasa mereka juga orang yang baik. Dan mereka tidak mempunyai motif untuk melakukan perbuatan itu .”
“Jadi tersangka utama kita adalah Pak Kosasih. Ia yang paling dapat dicurigai dari dua belas orang yang hadir pada malam itu .”
“Saya setuju dengan anda, Inspektur .”
“Satu hal lagi… Ada seorang tukang kebun yang bekerja di rumah Pak Yohanes. Kalau tidak salah, namanya Pak Selo. Apakah anda mengenalnya ?”
Viola menggeleng.
“Sayang, saya tidak begitu mengenalnya. Ia jarang sekali masuk ke rumah. Ia lebih sering berada di kebun. Pernah sekali saya bercakap-cakap dengannya. Orangnya ramah dan penuh humor. Ia bukan orang yang harus diperhitungkan. Orang itu tidak hadir pada pesta pernikahan Maria, bukan begitu, Inspektur ?”
“Saya hanya ingin mengenal orang-orang yang dekat dengan Pak Yohanes. Itu sangat membantu penyelidikan saya .”
Kata Inspektur,
“Bagaimana dengan orang tua anda ?”
“Hubungan papa dan mama kurang akrab dengan paman. Mereka hanya sekali-sekali datang ke Bogor .”
“Bibi Laras ?” sambung Inspektur dengan pandangan mata penyelidik.
“Bibi Laras pun jarang datang. Tapi itu menurut Patty. Saya sendiri tidak tahu karena saya tidak tinggal di rumah itu .”
Inspektur menganguk-angguk.
“Sejauh ini, saya rasa tidak ada alasan apa pun juga salah seorang dari kerabat Pak Yohanes menghendaki kematiannya. Jadi pasti orang lain… “
Viola mengusap keringat di lehernya dengan saputangannya.
“Panas sekali ,” desahnya.
Inspektur menanggapi,
“Yah.. di dalam sini memang terasa gerah. Rupanya hujan akan segera turun. Coba anda lihat keadaan di luar sana. Langit tampak kelam karena tertutup mendung. Saya yakin di luar keadaannya jauh lebih menyegarkan. Bagaimana kalau kita duduk-duduk di bangku yang ada di luar ?”
“Usul yang bagus, Inspektur .”
Mereka meninggalkan tempat dimana mereka duduk selama ini. Inspektur berjalan menuju kasir untuk membayar minuman. Setelah itu mereka berdua berjalan keluar dari kedai itu.
Ucapan Inspektur memang benar. Di luar, hawa terasa lebih menyegarkan. Angin berhembus cukup kencang. Suara gemuruh halilintar mulai terdengar. Dari kejauhan tampak kilat menyambar-nyambar. Mendung semakin rapat bergantung di angkasa.
Viola berdiri dengan tegak membelakangi Inspektur. Ia menarik nafas panjang.
“Ahhh… Segar rasanya ,” katanya.
Beberapa orang pemuda yang melewati jalanan di depan kedai itu menoleh memperhatikan Viola. Tampak jelas mereka terpesona dengan kecantikan gadis itu.
Inspektur Budi berdiri agak jauh dari gadis itu. Ia melipat kedua tangannya di depan dada.
“Ada satu hal lagi ,” kata Inspektur Budi.
Viola menoleh.
“Ada hal lain, Inspektur ?”
“Saya ingin agar anda mengingat-ingat segala sesuatu yang terjadi pada pesta malam itu. Barangkali saja ada keanehan yang anda lihat, namun tidak anda sadari ?”
Viola berpikir sesaat.
“Saya pikir tidak ada sesuatu yang aneh pada malam itu. Saya tidak melihat sesuatu kejanggalan. Semua orang hadir sebagaimana mestinya. Semua tampak wajar dan biasa-biasa saja. Juga waktu semua orang pulang. Saya hanya melihat keanehan pada diri Jenny. Gadis itu seperti sedang memikirkan sesuatu. Perhatiannya seperti sedang berada di tempat lain. Namun itu tidak aneh lagi setelah saya mengetahui kalau ia kehilangan ingatannya. Satu-satunya yang terasa aneh adalah Pak Kosasih yang agak lama berada di luar. Apa yang dilakukannya selama berada di luar ? Sikapnya sangat misterius. Selain itu tidak ada hal-hal lain yang saya lihat. Semuanya berada di ruangan pesta. Tapi mungkin saja ada sesuatu yang luput dari pengamatan saya. Yang penting saya sudah mengungkapkan apa yang saya ketahui. Begitulah… “
Inspektur menatap Viola.
“Jadi… menurut anda, Pak Kosasih yang harus kita curigai ? Mungkinkah ia menyelinap keluar untuk melakukan penyabotan terhadap mobil Patricia dan mengambil kunci itu untuk melakukan penukaran obat itu ?”
Viola tampak sedang menghitung-hitung.
“Kalau memang demikian yang terjadi, saya rasa hal itu sangat masuk akal. Ia juga punya motif yang kuat. Mereka berdua sama-sama seorang usahawan. Barangkali Pak Kosasih telah lama menaruh dendam kepada Pak Yohanes. Mungkin dibalik sikapnya yang ramah tersembunyi sikap yang jahat. Sekarang yang menjadi masalah adalah bagaimana kita dapat membuktikan bahwa memang benar Pak Kosasih orang yang berada dibalik semua ini ?”
“Sebentar… Ini adalah sebuah dugaan sementara. Sebuah asumsi. Yang paling penting adalah bagaimana cara Pak Yohanes dibunuh. Itulah yang merupakan kunci dari semua ini .”
Kedua orang itu terdiam, tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Sementara itu, mendung di angkasa semakin rapat. Angin berhembus semakin kencang. Orang-orang di jalanan mulai berjalan cepat-cepat menuju tujuannya masing-masing. Jalanan tampak agak sepi. Dedaunan yang gugur beterbangan dipermainkan angin. Bunyi petir menggelegar terdengar beberapa kali.
Saat berikutnya, tetes-tetes hujan mulai turun.
Viola merentangkan kedua tangannya.
“Ahh.. saya selalu menyukai hujan. Bagi saya hujan adalah karunia dari Tuhan yang tiada duanya .”
Inspektur Budi teringat akan Stefanus. Anak itu juga sangat senang jika hujan turun. Katanya, hujan dapat membuat perasaan seseorang menjadi lega dan mengurangi beban pikiran. Bagi Inspektur sendiri, ia lebih suka cuaca yang cerah dan hangat untuk bermalas-malasan. Ia sangat tidak menyukai hujan. Inspektur tidak menyukai hawa dingin.
Beberapa saat kemudian, hujan bagaikan dicurahkan dari langit. Viola dan Inspektur Budi berlari-lari menuju kedai itu untuk berteduh. Orang-orang yang berada di jalan juga sedang sibuk mencari tempat berteduh. Jalanan tampak sepi. Hanya ada beberapa kendaraan yang terus nekat melanjutkan perjalanan. Beberapa anak sekolah tidak mempedulikan derasnya hujan yang turun. Mereka menyanyi-nyanyi dan menari-nari di tengah derasnya air hujan. Seragam sekolah yang dikenakannya benar-benar basah kuyup. Mereka terus melanjutkan perjalanan. Ada juga beberapa dari mereka yang berlari menuju ke kedai dimana Inspektur berteduh untuk menghindari hujan. Anak-anak yang tadi mengejek dan mencemooh mereka. Saat berikutnya, anak-anak itu berbelok ke jalan lain dan tidak kelihatan lagi.
Bagian depan kedai itu semakin dipadati orang. Mereka berdesak-desakan. Angin berhembus semakin kencang sementara hujan juga belum berhenti. Suara guntur semakin sering terdengar. Pohon-pohon yang ada di halaman kedai itu meliuk-liuk dipermainkan angin. Suara angin menderu-deru di tengah lebatnya guyuran air hujan. Kelihatannya hujan itu benar-benar deras.
Inspektur Budi merasa tidak enak.
“Apakah anda perlu saya antar pulang ?”
Viola menoleh. Kelihatannya ia masih merasa senang menyaksikan hujan yang baginya begitu indah.
“Anda tidak perlu repot, Inspektur. Di rumah saya juga tidak ada pekerjaan .”
Inspektur menghembuskan nafas lega.
“Jadi… Kita tunggu hujan ini sampai reda, begitu ?”
Viola mengangguk.
Inspektur merasa sangsi.
“Bagaimana jika mereka yang ada di rumah Pak Yohanes mulai mencemaskanmu ?”
Viola mengibaskan tangannya dengan santai.
“Tidak mungkin. Mereka pasti sibuk dengan urusan masing-masing. Mereka kan tahu sifat saya yang sering bepergian. Jadi saya rasa tidak ada masalah .”
“Apakah semua orang ada di rumah itu ?”
“Tidak… Tidak semua. Papa dan mama malah sudah berangkat tadi pagi. Ada sedikit urusan, kata mereka. Lalu Bibi Laras juga pergi entah kemana. Yang lainnya tetap ada di rumah .”
Inspektur mengangguk-angguk.
Hujan masih saja belum berhenti. Kedua orang itu berdiri agak memisah dari kerumunan orang yang berteduh, jadi mereka bisa melanjutkan percakapan mereka.
“Saya kira tidak ada hal-hal lain yang bisa saya katakan tentang meninggalnya paman ,” kata Viola.
Inspektur menyentuh bahu gadis itu.
“Semua yang telah anda katakan pada saya sangat membantu penyelidikan saya. Bagaimanapun saya sangat berterima kasih kepada anda. Anda berbakat menjadi seorang penyelidik .”
Viola tersipu mendengar pujian itu.
“Ah… Anda terlalu memuji, Inspektur .”
Inspektur buru-buru memotong,
“Tidak… Saya tidak melebih-lebihkan. Pendapat-pendapat anda terkadang tidak pernah terlintas dalam benak saya .”
Wajah Viola semakin memerah.
“Terima kasih atas pujian anda, Inspektur ,” katanya.
Kata Inspektur Budi,
“Pembicaraan kita belum selesai. Kita akan segera berjumpa lagi untuk membicarakan masalah ini .”
Viola menyahut,
“Saya akan merasa senang jika bisa memberikan kesaksian ataupun bertukar pikiran dengan anda .”
“Saya juga merasa senang bisa mendengarkan pendapat-pendapat anda .”
Kedua orang itu kembali terdiam.
Sementara itu hujan masih turun dengan deras. Jalanan benar-benar sepi. Beberapa orang yang semula hanya berteduh di depan kedai itu, akhirnya memutuskan untuk masuk ke dalam kedai. Mungkin saja mereka merasa kedinginan dan memutuskan untuk membeli sesuatu yang dapat menghangatkan tubuh mereka. Dengan cepat, kedai yang tidak begitu besar itu sudah dipenuhi oleh orang-orang. Kebanyakan dari mereka memesan kopi panas. Para pelayan tampak repot melayani mereka.
Inspektur Budi dan Viola masih tetap berdiri di tempatnya semula. Viola mengosok-gosokkan kedua belah tangannya. Lalu ia berjongkok sambil melipat kedua lengannya di depan dada.
“Apakah tidak sebaiknya kita masuk ke dalam ? Jika terus berada di sini, saya cemas salah seorang dari kita akan jatuh sakit ,” kata Inspektur Budi dengan nada prihatin.
Setelah berpikir-pikir sejenak, akhirnya Viola menerima usul Inspektur Budi. Mereka berdua kembali masuk ke dalam kedai itu. Kebetulan masih ada satu tempat kosong. Mereka segera duduk di tempat tersebut.
Inspektur segera memesan minuman hangat. Tak berapa lama, minuman itu sudah ada di depan mereka.
Sementara hujan yang turun masih juga belum berhenti.
Viola sedang menikmati minumannya.
“Teh ini lumayan nikmat ,” katanya. “Saya merasa kehangatan menjalar di seluruh tubuh .”
Ia melanjutkan,
“Suasana seperti inilah yang paling saya sukai. Santai sambil menikmati minuman hangat, sementara hujan turun dengan deras. Dada terasa lapang .”
“Anda terlalu berlebihan ,” kata Inspektur Budi. Ia meneguk minumannya sendiri.
Viola tidak begitu mendengarkan ucapan Inspektur Budi yang terakhir. Ia sedang melihat ke arah luar dimana titik-titik air hujan turun dengan derasnya. Sesekali tampak cahaya petir menyambar dan disusul dengan suara guntur yang menggelegar.
“Menyenangkan… ” gumam gadis itu.
Inspektur Budi merasa tidak sependapat dengan gadis itu. Ia, seorang polisi gendut yang selalu memikirkan masalah makan dan tidur, lebih menyukai cuaca yang hangat daripada cuaca apa pun. Namun ia tetap diam, tidak berkomentar sedikit pun juga.
Kedai itu masih padat akan pengunjung. Ada juga diantara mereka yang nekat meninggalkan kedai untuk melanjutkan perjalanan mereka. Namun banyak juga yang masih tetap tinggal untuk menghangatkan tubuh atau sekedar mengobrol.
Seperempat jam kemudian, hujan mulai agak reda. Titik-titik hujan masih turun sedikit. Banyak dari orang-orang yang berteduh di kedai itu, pergi untuk melanjutkan perjalanannya.
Inspektur bangkit dari kursinya.
“Biar saya panggilkan Taxi untuk mengantar anda pulang ,” katanya kepada Viola.
“Terima kasih, Inspektur ,” kata Viola.
Setelah membayar ongkos minuman, Inspektur pergi keluar dan berdiri di pinggir jalan. Ia menengok ke kanan dan ke kiri untuk mencari Taxi. Kebetulan sekali saat itu ada Taxi kosong yang melintas. Inspektur Budi segera melambaikan tangannya untuk menghentikan kendaraan tersebut.
Tak berapa lama Viola masuk ke dalam Taxi itu.
“Terima kasih atas segala bantuan anda ,” kata Inspektur Budi sesaat sebelum Viola masuk ke dalam Taxi.
“Jangan terlalu sungkan, Inspektur ,” kata gadis itu.
“Jika kali lain anda membutuhkan saya, saya akan bersedia membantu sebisanya ,” sambungnya.
Taxi itu segera berlalu dan menghilang di kelokan jalan.
Inspektur berdiri tegak di tempatnya semula. Tetes-tetes hujan membasahi pakaiannya.
“Aku harus segera kembali ke kantor ,” gumamnya.
Lalu ia menyeberang jalan dan masuk ke dalam kantor Polisi.
Sesampainya di dalam, ia segera melepaskan jaket yang dikenakannya.
Letnan Haris menghampirinya.
“Ada sepucuk surat untuk anda .”
Inspektur bertanya,
“Dari siapa ?”
Letnan Haris mengangkat bahu.
“Tidak ada nama maupun alamat pengirimnya. Tampaknya ada seseorang yang bermain-main dengan anda .”
Inspektur menatap Letnan Haris dengan tajam.
“Jadi… Surat kaleng ?”
“Ya… Begitulah saya kira ,” sahut Letnan Haris.
Letnan Haris segera berlalu sementara Inspektur Budi masuk ke dalam ruangan kerjanya. Dilihatnya sepucuk surat yang dikatakan oleh Letnan Haris tadi tergeletak di atas mejanya. Inspektur mengerutkan kening.
“Hmmm… Suatu misteri baru ,” desisnya.
Ia mengambil surat tersebut. Sejenak, diamat-amatinya surat itu. Keadaan surat itu tampak tidak terawat dan lusuh. Nama dan alamat yang dituju ditulis dengan tulisan tangan yang kikuk dan tidak rapi. Tampaknya hal tersebut disengaja oleh pengirimnya.
Inspektur tidak menunggu lebih lama lagi. Ia menyobek sampul surat itu dan mengeluarkan sehelai kertas yang ada di dalamnya.
Dahi Inspektur Budi berkerut setelah membaca isi surat itu. Ia terdiam sejenak memikirkan isi surat itu. Seperti sebuah pesan atau amanat yang ditujukan kepadanya. Supaya lebih yakin, sekali lagi dibacanya surat itu.
“Inspektur yang baik, mengenai kasus yang anda tangani sekarang, itu adalah pembunuhan. Sebaiknya anda lebih berhati-hati… “
Surat itu hanya berakhir sampai disitu. Sangat singkat. Tentu saja surat itu tidak ditandatangani.
Inspektur duduk di sudut mejanya. Tangannya masih memegang kertas surat yang misterius itu. Pikirannya menerawang jauh.
“Siapa yang mungkin telah mengirim surat ini ?” gumamnya.
“Dengan demikian, dugaan bahwa Pak Yohanes benar-benar dibunuh semakin kuat. Cara meninggalnya pun sudah diketahui. Lalu siapa yang melakukannya dan kapan ia bertindak ? Itulah yang menjadi masalah sekarang .”
Inspektur Budi melihat arlojinya. Kelihatannya ia menimang-nimang sesaat. Akhirnya ia bangkit dan melangkah keluar meninggalkan ruangan kerjanya.
“Anda hendak pergi, Inspektur ?” tegur Letnan Haris saat mereka berpapasan.
Inspektur mengangguk.
“Benar, Letnan. Kurasa ada beberapa hal yang masih kurang dan harus ditemukan. Jika ada sesuatu lagi tolong segera kau beritahu aku. Aku akan pergi ke rumah itu lagi .”
“Baik, Inspektur .”
Inspektur Budi naik ke dalam mobilnya. Mobilnya memang sering ia tinggalkan di kantor Polisi, sementara ia bersepeda motor. Tapi pernah pula terjadi, mobil itu dibawanya pulang ke rumah. Segera saja mobil itu melaju meninggalkan halaman kantor Polisi.
Awan mendung masih saja belum hilang dari langit. Langit masih kelihatan gelap. Tetes-tetes hujan masih sering jatuh walaupun hanya sedikit-sedikit. Jalanan tampak lengang. Inspektur Budi menyetir kendaraannya sedikit kencang. Pikirannya terus dipenuhi dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi sejak beberapa hari yang lalu. Sejak malam yang naas itu…
Entah karena apa, Inspektur Budi membelokkan kendaraannya ke sebuah Plaza. Ia bermaksud untuk masuk ke dalam supermarket dan membeli barang-barang kebutuhan sehari-hari. Disadarinya bahwa sabun mandi dan pasta gigi di rumah sudah hampir habis.
Setelah memarkir mobilnya dan sekaligus menguncinya, Inspektur berjalan dengan langkah tergesa-gesa masuk ke dalam Plaza tersebut. Keadaannya cukup ramai walaupun cuaca hari itu tidak bisa dibilang cerah dan membuat orang malas keluar rumah. Inspektur memperhatikan, kebanyakan pengunjung yang datang adalah remaja dan anak-anak muda. Ia tidak mengacuhkan semua itu. Dengan langkah pasti ia berjalan menuju ke bagian supermarket.
Tidak terlalu sulit untuk menemukannya karena Inspektur Budi memang terbiasa berbelanja di Plaza itu. Inspektur segera masuk setelah menitipkan jaketnya di bagian penitipan barang.
Inspektur meraih tas belanja dan segera memperoleh barang-barang yang dibutuhkannya.
“Sabun… Odol… Apa lagi, ya ?” gumamnya pada dirinya sendiri.
Akhirnya Inspektur membeli mie instant dan sedikit camilan. Tanpa disadarinya, tas belanjanya sudah berisi barang-barang diluar rencananya semula.
Ia segera menuju kasir untuk membayar barang-barang belanjaannya kali ini. Namun sesaat matanya menangkap sosok seseorang yang pernah dikenalnya.
“Apa yang dilakukannya di tempat ini ?” gumamnya.
Inspektur Budi melihat dengan jelas sekali bahwa orang itu adalah Renny, puteri Pak Kosasih. Gadis itu asyik sekali melihat-lihat kesana kemari tanpa menyadari bahwa saat itu dirinya sedang diperhatikan oleh Inspektur Budi.
Seperti biasanya, mata Inspektur yang terlatih segera melakukan pengamatan. Gadis itu berpakaian santai. Ia mengenakan celana jeans dan T-Shirt yang diselubungi dengan rompi yang berwarna hitam mengkilap. Penampilannya biasa-biasa saja. Rambutnya yang panjangnya menyentuh bahu dibiarkan tergerai.
Inspektur buru-buru membayar harga dari barang-barang belanjaanya.
“Ini benar-benar kebetulan… Sangat kebetulan ,” gumam Inspektur Budi.
Dengan sedikit berlari, Inspektur Budi mengejar gadis yang dari tadi menjadi perhatiannya.
“Halo… ” sapa Inspektur Budi.
Gadis itu tampak kaget.
“Eh… Rupanya anda, Inspektur. Suatu kebetulan kita dapat berjumpa di tempat ini .”
Gadis itu melirik tas hitam yang dijinjing Inspektur.
“Wah… Rupanya anda gemar berbelanja juga, Inspektur ?”
Inspektur Budi tersenyum.
“Begitulah ,” sahut Inspektur. “Eh… Ngomong-ngomong, apa yang kau lakukan di tempat ini ? Sedang belanja, ya ?”
Gadis itu mengangkat bahu.
“Sebenarnya saya hanya ingin jalan-jalan saja. Jika saya mau, saya bisa membeli apa saja. Tapi rasanya sudah bosan. Habis saya tidak punya teman yang baik untuk menemani saya ,” kata gadis itu terus terang.
Inspektur melanjutkan pembicaraan,
“Bagaimana dengan temanmu tempo hari ?”
Gadis itu mengibaskan tangan dengan sikap meremehkan.
“Lebih baik lupakan saja dia ,” katanya.
Inspektur melihat adanya suatu peluang.
“Jika kau membutuhkan teman, saya bersedia menemanimu ,” katanya dengan nada kebapakan.
Renny menoleh.
“Sungguh ? Kalau begitu saya merasa senang sekali .”
Mereka berjalan dengan santai.
“Bagaimana kalau saya traktir minum. Mau kan ?” kata Inspektur saat mereka melewati sebuah depot.
Renny kelihatan senang.
“Wah… mau sekali. Ayo kita masuk .”
Gadis itu mendahului Inspektur Budi masuk ke dalam depot tersebut. Inspektur hanya mengangkat bahu melihat polahnya.
“Rumah makan ini lumayan juga ,” kata Renny.
Mereka berdua duduk berhadapan dan sedang menunggu pesanan mereka. Inspektur juga memesan makanan karena saat itu sudah tengah hari walaupun keadaan diluar tetap gelap.
Inspektur Budi melanjutkan pembicaraan.
“Baiklah ,” katanya. “Oh… Hampir lupa. Bagaimana keadaan papamu ? Sudah sembuhkah ia dari penyakitnya ?”
Renny mengangkat alisnya.
“Sembuh ? Memangnya papa sakit ? Saya rasa papa tidak apa-apa. Tadi pagi sebelum saya pergi ia juga tidak apa-apa. Anda pasti bercanda, Inspektur .”
“Saya serius ,” tukas Inspektur Budi. “Apa saya kelihatan seperti orang yang main-main ?”
“Tapi betul kok. Papa sehat-sehat saja. Kalau tidak, ia pasti membatalkan kepergiannya ke Bali… “
“Apa ?” potong Inspektur Budi. “Kapan ia berangkat ?”
“Tadi, pagi-pagi sekali. Memangnya ada apa sih ?”
Inspektur terdiam sejenak.
“Papamu seakan-akan menghindar dari pemeriksaan Polisi .”
“Saya rasa tidak, Inspektur ,” sahut Renny. “Kata papa, ia akan menjumpai seorang rekan bisnisnya yang ada di sana. Paling tidak, dua hari lagi ia pasti sudah kembali .”
“Semestinya ia tidak boleh pergi kemana-mana sebelum kasus ini selesai. Sebab papamu tersangkut dalam kasus itu sebagaimana orang-orang yang lain, termasuk saya .”
Pembicaraan mereka terhenti karena pada saat itu seorang pelayan mendatangi meja mereka sambil membawakan pesanan mereka.
“Silakan Tuan… Nona… ” kata pelayan itu. Ia pun segera berlalu untuk melayani para pengunjung lainnya.
Inspektur Budi makan dengan lahap, seperti biasanya. Kasus yang tengah dihadapinya sekarang benar-benar telah menguras otak dan tenaganya. Karena itu harus segera diisi energi baru.
Seperempat jam berikutnya, Inspektur Budi telah menyikat habis hidangannya. Ia merasa amat kenyang. Beberapa saat kemudian Renny juga telah menyelesaikan makannya.
Sekarang mereka berdua duduk berhadapan sambil menikmati minuman masing-masing.
Inspektur kembali membuka pembicaraan,
“Apakah hari ini kau tidak sekolah ?”
Renny menggeleng.
“Hari ini ada pertemuan Guru sehingga seluruh siswa diliburkan .”
“Kalau libur, biasanya apa yang kau kerjakan ?”
“Tidak pasti… Kadang ke rumah teman atau jalan-jalan sendiri seperti sekarang .”
Inspektur Budi berdehem.
“Kukira kau bolos sekolah ,” katanya kalem.
“Bolos ? Kata-kata itu tidak pernah ada di dalam kamus saya. Kalau tidak percaya anda boleh tanya kepada Guru saya di sekolah. Saya jarang sekali absen .”
“Saya percaya ,” sahut Inspektur Budi.
Katanya kemudian,
“Oh.. ya, apakah Bibi pembantu yang bekerja di rumahmu itu sudah lama ikut keluargamu ?”
Renny berpikir sejenak.
“Ya… Cukup lama juga, sih. Kalau papa dan mama pergi, saya senang sekali bercakap-cakap dengannya. Bibi selalu mengerti akan diri saya dan mengerti segala sesuatu yang saya butuhkan. Ia orang yang paling baik sedunia .”
“Dan papamu ?”
Renny mendesah.
“Papa sebenarnya orang yang baik. Hanya saja ia terlalu serius dengan pekerjaannya. Ia adalah orang yang sangat sibuk. Sebenarnya saya sangat merindukan saat-saat dimana saya dan keluarga saya dapat nepergian bersama. Ke Bali, ke Puncak atau kemana saja deh. Pokoknya darmawisata bersama-sama. Namun sayang sekali saya tidak akan pernah dapat mengalami masa-masa seperti itu. Papa memang selalu mencukupi segala keperluan saya. Bahkan lebih dari cukup. Namun semua itu belum cukup untuk seorang gadis seperti saya. Anda sependapat dengan saya, Inspektur ?”
Inspektur mengangguk tanda ia sependapat.
“Lalu bagaimana dengan mamamu ?”
“Mama orangnya agak egois. Ia sering mengutamakan kepentingannya sendiri daripada mengurus keluarga. Namun bagaimanapun juga, saya mencintainya sebagaimana cinta seorang anak terhadap ibunya .”
Mereka terdiam selama beberapa menit menikmati minuman masing-masing. Tanpa berkata apa-apa lagi, Inspektur membayar makanan mereka di kasir dan mereka berdua segera meninggalkan rumah makan itu.
“Bagaimana ? Apakah kau menyukai makanan yang kita makan baru saja ?”
“Ya… Masakannya cukup lezat. Tidak heran karena harganya juga agak mahal ,” kata Renny.
Inspektur Budi melihat arlojinya. Ia hampir melupakan rencananya semula untuk pergi ke rumah Pak Yohanes.
“Kau mau pulang ?” tanya Inspektur Budi. “Biar saya akan mengantarmu .”
Renny menggeleng.
“Tidak usah, Inspektur. Saya takut akan merepotkan anda .”
“Baiklah kalau begitu. Terima kasih banyak atas segala kesaksian yang kau berikan tentang keluargamu. Lain waktu, kita akan segera berjumpa lagi .”
Renny tersenyum.
“Dan terima kasih banyak buat makanannya, Inspektur. Saya benar-benar menikmatinya .”
Gadis itu berlari-lari kecil meninggalkan Inspektur Budi setelah sebelumnya melambaikan tangannya ke arah perwira Polisi tersebut.
Inspektur Budi memutar arah. Ia segera menuju ke tempat parkir.
“Aku membutuhkan kesaksian dari beberapa orang gadis lain, puteri-puteri Pak Yohanes ,” gumamnya sambil tersenyum.
Inspektur Budi masuk ke dalam mobilnya dan mengendarainya meninggalkan kawasan Plaza itu.
Cuaca masih tetap, tidak berubah. Mendung masih terus menutupi langit. Hujan mulai turun lagi walaupun tidak begitu deras. Inspektur mengemudikan mobilnya dengan hati-hati. Tidak jarang ia harus menekan pedal remnya kuat-kuat ketika beberapa anak kecil yang tengah berhujan-hujan menyeberang jalan dengan seenaknya. Mereka tertawa-tawa dan menari-nari di tengah guyuran air hujan. Inspektur Budi merasa dongkol. Namun ia terus melanjutkan perjalanannya tanpa memikirkan apa yang baru saja terjadi.
Ketika melewati Rumah Sakit, Inspektur Budi membelokkan mobilnya. Ia bermaksud menemui Dokter Husin dan menanyakan jika ada sesuatu yang baru yang telah ditemukan berkenaan dengan pemeriksaan terhadap mayat Pak Yohanes.
Ternyata Dokter Husin sedang tidak berada di tempat. Perawat yang menemui Inspektur Budi mengatakan bahwa sejauh ini tidak ada hal-hal penting yang ingin disampaikan kepada Inspektur Budi.
Inspektur Budi segera melanjutkan perjalanannya. Ia berharap hujan segera berhenti dan matahari segera muncul. Namun harapannya tidak terpenuhi. Bahkan hujan yang turun semakin deras dan jalanan hampir-hampir tidak terlihat karena tertutup oleh rapatnya hujan.
Inspektur Budi mengemudikan mobilnya perlahan-lahan dengan hati-hati dan waspada.
“Cuacanya buruk sekali ,” katanya pada diri sendiri sambil mengusap keringat di dahinya. Sekalipun hujan turun dengan deras, Inspektur sempat berkeringat juga.
Kira-kira dua puluh menit kemudian, Inspektur Budi membelokkan mobilnya memasuki pekarangan rumah Pak Yohanes. Mesin mobilnya menderu-deru di tengah derasnya hujan.
Dengan berlari-lari Inspektur Budi menerobos derasnya hujan. Ia segera sampai di teras rumah Pak Yohanes. Tak pelak, jaket yang dikenakannya sempat menjadi basah. Ia segera melepaskannya. Sambil melepas jaketnya, ia melihat sekelilingnya. Suasana rumah itu sepi. Mungkin semua penghuninya ada di dalam.
Inspektur Budi memberanikan diri mengetuk pintu depan.
“Ah… Bukankah ada bel ?” gumamnya lalu menekan bel yang terletak di samping pintu.
Saat berikutnya, pintu itu terbuka dan Patricia muncul di ambang pintu.
“Astaga, Inspektur… Apa yang anda lakukan pada saat cuaca seperti ini ?”
“Saya sengaja mampir saat melewati daerah ini ,” kata Inspektur Budi menjelaskan. Tentu saja hal itu tidak benar karena polisi itu tidak bermaksud untuk sekedar mampir.
Patricia membentangkan pintu lebar-lebar.
“Cepatlah masuk ke dalam, Inspektur. Cuacanya buruk sekali. Jangan-jangan anda nanti malah jatuh sakit .”
Inspektur bergumam,
“Terima kasih .”
Inspektur Budi mengikuti Patricia dan kemudian ia duduk di ruang tamu.
Sebelum Patricia berlalu, Inspektur Budi bertanya,
“Apakah semua orang ada di rumah ini ?”
Yang dimaksud Inspektur Budi adalah orang-orang yang terlibat pada pesta malam itu. Namun tampaknya Patricia kurang mengerti dengan ucapan Inspektur Budi.
“Apa maksud anda ?” tanyanya.
“Yah… Maksud saya, saudara-saudaramu .”
“Yang ada di rumah ini adalah saya, Helen, Jenny dan Maria. Dan Bibi, tentu saja. Papa dan mama Viola sudah pergi sejak pagi tadi. Lalu Viola sendiri juga menghilang sejak pagi dan belum kembali sampai sekarang. Bibi Laras pergi mengurus segala sesuatu untuk pemakaman papa dan Henry pergi beberapa waktu yang lalu sebelum hujan mulai turun. Sebenarnya Maria sudah berusaha mencegahnya namun ia tetap berkeras akan keluar. Entah apa yang akan diperbuatnya .”
“Kau tidak tahu kemana Henry pergi ?”
Patricia menggeleng perlahan.
“Ia tidak mengatakan apa-apa .”
“Bagaimana dengan kawan priamu ? Apakah ia tidak pernah muncul lagi sejak kejadian malam itu ?”
Lagi-lagi Patricia menggelengkan kepalanya.
“Roni tidak pernah datang, demikian pula dengan Fredy, temannya Helen. Entahlah, saya tidak tahu .”
Inspektur Budi menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya untuk mendapatkan rasa hangat. Ia sempat merasa kedinginan karena angin berhembus cukup kencang selama di perjalanan tadi.
Patricia melihat bahwa Inspektur Budi merasa kedinginan.
“Lebih baik kita pindah ke ruangan dalam. Di ruangan itu, anda bisa menghangatkan diri anda di depan perapian. Maria dan saudara-saudara saya yang lain juga ada di sana .”
Inspektur Budi tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia mengikuti Patricia menuju ke ruang tengah.
Begitu masuk ke dalam ruang tengah, pandangan Inspektur Budi menangkap orang-orang yang sangat dikenalnya. Maria, Helen dan Jenny spontan menoleh ke arahnya.
“Inspektur… ” kata Maria. “Apakah anda datang sehubungan dengan kejadian malam itu ?”
“Sebenarnya, saya hanya ingin mampir. Tapi tampaknya kalian keberatan. Kalau begitu… “
Helen buru-buru menyela,
“Anda jangan salah paham, Inspektur. Kami sangat senang menerima anda di rumah ini. Saya yakin kedatangan anda kali ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan… “
Kali ini giliran Inspektur Budi yang memotong pembicaraan Helen.
“Nanti dulu ,” sergahnya.
“Saya sebenarnya merasa segan untuk mengatakan hal ini. Namun apa boleh buat. Saya harus mengatakan pada kalian semua karena kalian adalah puteri-puteri Pak Yohanes. Siapa tahu ada diantara kalian yang dapat memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan saya yang selama ini belum terjawab dan masih merupakan teka-teki .”
Maria tak tahan lagi.
“Sebenarnya apa sih yang akan anda katakan ?”
Inspektur mengatur nafasnya lalu berkata dengan perlahan,
“Ada kemungkinan bahwa papa kalian telah sengaja diracun ,” kata perwira polisi itu.
Patricia ternganga.
“Astaga… Siapa yang melakukannya ?”
“Setahu saya, papa selalu baik kepada semua orang. Siapa yang tega melakukannya ?” kata Helen.
Jenny berdiri dengan angkuh.
“Akhirnya… Akhirnya anda sadar juga kalau itu adalah pembunuhan ,” katanya dengan nada mengecam.
Inspektur Budi memandang gadis cantik itu dengan pandangan yang seolah-olah menyesal.
Tiba-tiba Maria berkata,
“Inspektur, apakah anda tidak memiliki dugaan sama sekali tentang siapa yang paling mungkin membunuh papa ?”
Maria begitu tenang. Ia sudah dapat mengendalikan diri. Sedikit banyak, Inspektur Budi merasa kagum kepadanya.
“Untuk sementara ini, saya tidak ingin terburu-buru mengungkapkan teori baru. Saya tidak ingin salah lagi. Hal ini pasti akan saya bicarakan dengan seorang teman saya yang logika, daya ingat dan penalarannya jauh melebihi saya. Saya sama sekali tidak menyangka kalau kasus ini akan berkembang sedemikian rumitnya .”
Inspektur Budi berpaling kepada Jenny.
“Mengapa dari semula kau seolah-olah telah mengetahui kalau akan terjadi suatu pembunuhan di pesta Maria ?”
Jenny mengangkat bahu.
“Entahlah… ” katanya. “Saya seperti teringat akan kejadian di masa lalu. Dan juga mimpi-mimpi itu terus menghantui saya sepanjang malam. Coba anda pikir, Inspektur. Jika anda mengalami situasi seperti yang saya alami saat ini, saya yakin sepenuhnya anda akan bertindak seperti yang saya lakukan .”
Patricia menggamit lengan Helen dan mengajaknya pindah ke ruangan lain setelah sebelumnya berpamitan dengan Inspektur Budi. Tidak berapa lama, Maria juga mengatakan bahwa ada sedikit urusan yang harus diselesaikannya di dapur. Sekarang di ruangan itu hanya ada Inspektur Budi dan Jenny.
Jenny duduk dengan santai sambil sekali-sekali mempermainkan ujung rambutnya yang tergerai. Gadis itu tetap diam sampai Inspektur Budi kembali membuka percakapan.
“Apakah tidak ada sedikit pun yang telah kau ingat ? Maksud saya, tentang kecelakaan itu ?”
“Sampai saat ini… Tidak ada .”
Inspektur Budi mencoba memancing ingatan gadis itu.
“Apakah kau tahu seseorang yang bernama Michael ?”
Jenny agak terkejut.
“Nama itu sepertinya tidak asing bagi saya. Michael… Micahel… Ah, ingatan itu kabur lagi .”
Jenny kelihatan sangat kesal.
Inspektur Budi mencoba menenangkan gadis itu.
“Saya akan mencoba membantu memulihkan ingatanmu. Ngomong-ngomong, pernahkah kau keluar kota ?”
Jenny menggeleng.
“Seingat saya, belum pernah ,” katanya.
“Salah… ” sahut Inspektur Budi. “Kau pernah keluar kota, tepatnya ke Tasikmalaya. Kau pergi dengan papamu dan di kota kecil itu kau berkenalan dengan seorang laki-laki ganteng yang bernama Michael. Apakah hal itu belum cukup untuk menyegarkan ingatanmu ?”
“Saya… saya tidak tahu. Sepertinya saya tidak pernah mengalami hal-hal seperti itu. Tapi… nama Michael… Michael, sepertinya nama itu begitu mempunyai arti bagi saya .”
Inspektur Budi menyambung,
“Tidak heran… Kau sangat akrab dengan Michael bahkan saya percaya kalau kalian saling menyukai satu sama lain. Jauh di bawah alam sadarmu, kenangan-kenangan itu belum terhapus sama sekali. Itulah sebabnya kau merasa tidak asing dengan nama itu .”
Jenny merasa bimbang.
“Benarkah ?” tanyanya. “Benarkah saya telah berpacaran dengan laki-laki yang bernama Michael itu ?”
“Hal itu seperti yang dituturkan oleh laki-laki itu sendiri. Dan tampaknya ceritanya dapat dipercaya .”
Jenny kelihatan senang.
“Hampir tak dapat kupercaya kalau aku telah mempunyai seorang kekasih ,” gumamnya pada dirinya sendiri.
Inspektur Budi melanjutkan,
“Ingatkah kau kalau kau juga pernah mengirim surat kepadanya dan ia juga pernah mengirim surat kepadamu ?”
“Sudah saya katakan saya tidak ingat apa-apa. Yang saya ingat hanyalah nama Michael itu. Jadi kami juga bersurat-suratan, Inspektur ? Romantis sekali… “
“Tentunya kau pernah menerima surat dari Michael dan kau pasti ingat karena surat-surat itu tiba setelah kecelakaan yang menimpamu, yah… kurang lebih dua atau tiga minggu yang lalu .”
Jenny merasa heran.
“Saya tidak menerima surat dari siapa pun belakangan ini .”
Inspektur Budi mengerutkan kening.
“Aneh sekali… Lalu kemana larinya surat-surat yang dikirim oleh Michael itu ?”
Jenny tidak begitu memikirkan surat-surat itu.
“Seperti apakah Michael itu, Inspektur ?”
Inspektur menghela nafas.
“Sulit sekali mengatakannya. Pokoknya kalian berdua sangat serasi. Kau gadis yang cantik dan anggun sedangkan ia pemuda yang tampan dan gagah .”
Wajah Jenny memerah karena pujian itu.
“Oh.. ya, kau pernah melihatnya sendiri walaupun dari kejauhan, kalau tidak salah kemarin atau kemarin lusa. Kau bahkan merasa curiga kepadanya karena telah masuk ke dalam pekarangan rumah orang tanpa permisi dan ikut mendengarkan pembicaraan orang lain .”
“Oh… Jadi dia orangnya… ” gumam Jenny.
Inspektur Budi mendesah.
“Tidak ada yang dapat diharapkan darimu karena sampai saat ini, kau masih belum mengingat apa pun mengenai kejadian-kejadian di masa lalumu yang mungkin menjadi kunci dari semua ini .”
“Saya menyesal ,” kata Jenny.
“Bagaimanapun saya ingin mendengar pendapatmu tentang kasus ini. Sejak semula kau berkeras bahwa ada seseorang yang menghendaki kematian papamu lalu merencanakan suatu pembunuhan yang berhasil dengan sangat sempurna. Apakah ada orang yang kau curigai ? Kau tidak perlu cemas. Perkataanmu tidak akan merugikan dirimu. Saya berani menjamin .”
Setelah terdiam, Jenny berkata,
“Ya… Ada seseorang .”
“Siapa ?” tanya Inspektur Budi.
“Pak Kosasih ,” jawab Jenny kalem.
“Mengapa kau mencurigainya ?” desak Inspektur Budi.
“Ia yang paling mungkin melakukan kejahatan itu. Ia berada di luar selama tidak kurang dari setengah jam. Ia mempunyai peluang untuk melakukan segala-galanya entah dengan cara yang bagaimana. Yang jelas saya merasa ada keanehan yang tersembunyi dibalik pribadinya. Ia kan saingan bisnis papa. Jadi bagaimanapun ia pasti mempunyai hasrat untuk menyingkirkan saingan-saingannya dengan cara apa pun. Siapa tahu dibalik segala sikapnya yang ramah, ia adalah seorang penjahat yang keji, yang tidak segan-segan melakukan segala cara agar keinginannya dapat terpenuhi .”
Dalam hati, Inspektur Budi merasa sependapat dengan gadis itu.
“Tidak kuduga, dibalik kelembutan, keanggunan dan sekaligus kecengengannya ternyata gadis ini adalah gadis yang cukup cerdas dan tegas dalam mengambil keputusan ,” pikir Inspektur Budi dalam hati.
Lalu Inspektur Budi berkata,
“Pendapatmu mungkin saja benar. Namun yang kita butuhkan sekarang adalah bukti. Bukti yang dapat menyingkap kedok pembunuh yang sebenarnya. Lalu bagaimana dengan orang-orang lainnya ?”
“Saya rasa sangat kecil kemungkinannya kalau orang lain yang melakukan kejahatan itu. Satu-satunya orang yang paling mungkin melakukannya adalah Pak Kosasih… Titik !”
Inspektur Budi menepuk bahu gadis itu.
“Percayalah, gadis cantik… Siapa pun pelakunya, lambat laun pasti akan terungkap ,” katanya dengan lembut.
Hujan di luar masih saja belum berhenti. Inspektur Budi sebetulnya tidak ingin berlama-lama di tempat itu, namun ia bertekad untuk mengetahui pendapat-pendapat dari gadis-gadis lainnya.
Saat berikutnya, Patricia dan Helen kembali ke ruangan dimana Inspektur Budi dan Jenny berada.
“Apa saja yang kalian bicarakan ?” tanya Helen.
Jenny langsung menyahut,
“Banyak hal… ” katanya lantang.
Inspektur Budi membiarkan Jenny bertutur tentang pembicaraan mereka beberapa waktu yang lalu. Juga tentang laki-laki yang bernama Michael. Kentara sekali kalau Jenny sangat gembira ketika Inspektur Budi mengatakan bahwa dirinya sudah memiliki kekasih. Dengan demikian, ia tidak dapat dianggap anak kecil lagi.
Diam-diam, Inspektur Budi berdiri dan beringsut meninggalkan mereka bertiga yang asyik terlibat dalam suatu pembicaraan.
Ketiga gadis itu bahkan tidak melihat saat Inspektur Budi meninggalkan ruangan tersebut.
Inspektur bergumam sendirian,
“Sebenarnya aku tidak pantas menyelinap ke dalam rumah orang seperti ini walaupun aku seorang Polisi. Tapi… aku kan tidak bermaksud jahat .”
Ia menelusuri lorong rumah Pak Yohanes dan berhenti di depan sebuah kamar. Pikirannya kembali menerawang ke malam itu.
“Ruangan ini… “
Inspektur Budi membayangkan bahwa jika pada saat itu dirinya adalah pembunuh, apa yang akan dilakukannya ? Pelan-pelan ia mencoba membuka pintu itu. Terkunci… dan kuncinya ada di kantor Polisi.
“Pintu ini juga terkunci saat itu… Mungkinkah seseorang dapat masuk ke dalamnya ? Satu-satunya kemungkinan adalah kunci yang dipegang oleh pembantu itu. Seseorang telah mengambil kunci itu dari kamarnya dan memepergunakannya untuk masuk ke dalam ruangan ini dan menukar obat-obatan itu. Tapi ia harus pula mengembalikannya dengan cepat karena pembantu itu mengaku kalau kunci itu masih ada ketika ia masuk kamar. Jadi, orang itu bekerja cepat sekali. Seluruh perbuatan itu mungkin dilakukannya tidak lebih dari sepuluh menit. Jadi… Orang lain selain Pak Kosasih pun mungkin bisa melakukannya. Dan ada lagi… Siapa yang melakukan penyabotan terhadap mobil itu ? Kemungkinan, kedua peristiwa itu dilakukan oleh orang yang sama .”
Inspektur Budi tetap berdiri di depan ruangan itu seraya pikirannya mencoba merangkaikan fakta-fakta sehubungan dengan peristiwa yang terjadi malam itu.
“Sulit… Benar-benar sulit… Bagaimanakah penjabaran dari kasus ini ?” pikirnya dalam hati.
Inspektur Budi merogoh sakunya dan mengeluarkan sebungkus rokok yang lalu diambilnya sebatang dan dinyalakannya. Ia menghisap dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.
Tiba-tiba ia terkesiap. Telinganya menangkap suara aneh.
Pegangan pintu itu… Pegangan pintu itu bergerak-gerak…
Maria muncul dibalik pintu. Gadis itu terpekik.
“Oh… Rupanya anda, Inspektur ,” katanya dengan lega.
Inspektur pun menghembuskan nafas lega. Ia sempat terkejut juga saat tadi dilihatnya pegangan pintu itu bergerak-gerak.
“Jadi, sejak tadi kau ada di dalam. Apa yang kau lakukan dalam ruangan itu ?”
“Tidak ada ,” kata Maria. “Saya hanya menghabiskan waktu sambil melamun dan membaca-baca karangan papa .”
Perkataan Maria begitu wajar dan tenang karena itu Inspektur Budi sama sekali tidak menaruh curiga kepadanya.
“Oh… Begitu ,” komentar Inspektur.
Lalu katanya lagi,
“Kau kelihatan begitu lelah .”
“Ah… Tidak, Inspektur. Barangkali karena saya terlalu bersedih atas kematian papa. Kepergiannya begitu cepat .”
Inspektur Budi tidak melanjutkan kata-katanya. Ia mengalihkan pembicaraan ke hal lain.
“Oh… ya, Kemana suamimu ?”
“Entahlah… Katanya tadi cuma sebentar tapi sampai sekarang ia belum kembali .”
Inspektur menengok ke dalam ruangan itu dan memasukinya. Maria mengikuti polisi gendut itu.
Inspektur Budi menebarkan pandangannya ke sekeliling ruangan itu. Pada malam itu, ia belum sempat memperhatikan keadaan ruangan itu dengan seksama. Sekarang ia mencoba mendeskripsikan ruangan kerja Pak Yohanes. Ruangan itu tidak terlalu luas. Di sudut ruangan, dekat jendela terdapat rak buku yang cukup besar dan menampung cukup banyak buku-buku di dalamnya. Di hadapannya adalah meja kerja Pak Yohanes. Di atasnya ada kertas-kertas, alat tulis dan berbagai perlengkapan penulis. Semuanya tersusun dengan rapi. Dan kursi yang ada di belakang meja itu. Disitulah Pak Yohanes ditemukan sudah tidak bernyawa pada malam itu.
Inspektur Budi mengalihkan perhatiannya ke dinding. Banyak lukisan-lukisan mahal dipajang di dinding. Inspektur sempat terpukau akan keindahan lukisan-lukisan itu.
“Ruangan yang menyenangkan ,” kata Inspektur Budi.
Maria mengangguk.
“Benar… ” katanya. “Papa sangat suka akan keindahan .”
Inspektur berkata lagi,
“Apakah kau akrab sekali dengan papamu ?”
“Ya… Saya sangat mencintainya. Demikian pula dengan papa. Ia juga sangat mencintai saya. Ada sebagian orang yang menganggap papa lebih mengasihi saya daripada anak-anaknya yang lain. Tapi menurut saya, papa mencintai kami semua… saya, Patty, Helen maupun Jenny. Saya tidak habis pikir mengapa ada orang yang ingin mencelakakannya. Semasa hidupnya, papa sangat baik. Ia juga seorang dermawan. Rasanya tidak ada alasan bagi siapa saja untuk menyingkirkannya .”
Inspektur mengomentari,
“Kadang-kadang… Seseorang tidak sadar bahwa dirinya telah menyakiti atau mencelakakan orang lain tanpa sengaja. Dan celakanya, orang yang telah dicelakakan itu tidak mau terang-terangan mengatakannya. Ia memilih untuk merencanakan balas dendam dimana ia seolah-seolah tidak terlibat .”
“Dan saya rasa, hal seperti itulah yang telah menimpa papamu. Ada seseorang yang telah lama sekali menaruh dendam kepada papamu, namun papamu tidak menyadarinya sampai akhirnya datanglah kesempatan yang ditunggu-tunggu oleh orang itu. Papamu sama sekali tidak sadar karena selama ini orang itu selalu bersikap baik terhadapnya. Maka dengan tenang dan darah dingin, orang itu telah memainkan perannya dengan baik sekali dan berhasil melaksanakan rencananya dengan sempurna. Benar-benar sempurna… “
“Kasihan papa… ” gumam Maria. Matanya mulai berkaca-kaca. Ia cepat-cepat mengusapnya sebelum Inspektur Budi sempat melihatnya.
“Apakah kau tidak ingat barangkali sesuatu telah terjadi sebelum pesta pernikahanmu malam itu ?”
Maria berpikir sesaat.
“Saya rasa tidak ada sesuatu yang aneh, Inspektur. Pada pagi harinya, papa sempat berselisih dengan Henry. Saya tidak tahu masalahnya, namun setelah itu keduanya berbaikan kembali. Oh.. ya hampir saya lupa. Sehari sebelumnya, papa berdebat dengan Pak Kosasih. Mereka saling berbeda pendapat. Meskipun papa sudah mundur dari pekerjaannya, namun akhir-akhir ini, ia selalu ikut campur dalam urusan perusahaan. Dan ia terlihat juga cepat naik darah. Saya sendiri heran. Mungkin ada masalah yang menekannya sehingga ia begitu emosional. Biasanya papa selalu terbuka. Segala masalah selalu dibicarakan bersama. Demikian pula dengan kami. Jika kami memiliki masalah berat, kami selalu membicarakan masalah itu dengan papa. Tanpa saya sadari, akhir-akhir ini papa kelihatan aneh. Saya tidak mengerti mengapa saya sampai berpikir demikian… “
Inspektur berkata,
“Barangkali ia tertekan masalah hutang itu. Apakah diantara kalian tidak ada yang mengetahui kalau ia punya hutang sedemikian besar ?”
Maria menggeleng.
“Tidak… Tak seorang pun dari kami yang mengetahui hal itu. Papa tidak pernah membicarakan masalah itu .”
“Selanjutnya… ” kata Inspektur Budi. “Bagaimana pendapatmu tentang masalah ini ?”
Maria tampak gugup.
“Saya ? Mengapa anda bertanya kepada saya ? Apa yang saya ketahui tentang kasus ini ?”
“Bisa jadi kau bahkan tahu segalanya. Namun kau tidak tahu bahwa kau sebenarnya tahu. Itulah… Kau bebas mengemukakan pandanganmu tentang kasus ini dan siapa tahu dari pendapatmu, saya bisa mendapatkan suatu sudut pandang baru mengenai masalah ini .”
Maria kebingungan.
“Yah.. Eh.. Oh.. Saya tidak tahu bagaimana harus memulainya, Inspektur .”
“Baiklah.. saya bantu. Kau tinggal menjawab pertanyaan-pertanyaan saya. Tapi saya harap kau berkata sejujur-jujurnya .”
Inspektur Budi melanjutkan,
“Apakah kau percaya bahwa papamu telah dibunuh seseorang ?”
“Mungkin.. benar begitu kenyataannya .”
Inspektur menyipitkan matanya.
“Mungkin ? Jadi kau tidak yakin ?”
“Entahlah, Inspektur… ” sahut Maria.
“Baiklah ,” kata Inspektur Budi. “Lalu seandainya saja papamu telah dibunuh oleh seseorang, menurut pendapatmu siapa yang paling mungkin melakukannya ditinjau dari motif dan peluang ?”
“Saya tidak mempunyai dugaan apa pun .”
Kata Inspektur Budi,
“Baiklah… Menurut ceritamu, sebelum malam itu papamu sempat berselisih paham dengan dua orang. Apakah mungkin salah seorang dari mereka merasa dendam dan akhirnya memutuskan untuk membunuh papamu ?”
“Saya kira tidak mungkin ,” jawab Maria. “Masalah yang diperdebatkan tidak terlalu besar. Itu menurut Henry. Sedangkan masalah antara papa dengan Pak Kosasih, saya tidak tahu .”
“Jadi menurutmu, Henry tidak mungkin melakukan perbuatan tersebut ?”
Maria terbelalak.
“Apakah anda sudah gila, Inspektur ? Henry kan suami saya, menantu papa. Masa dia tega membunuh mertuanya sendiri ?”
Inspektur Budi tidak terpengaruh dengan perkataan Maria.
“Dalam kasus ini, semua berpeluang melakukan perbuatan itu. Bahkan saya ataupun kau sendiri bisa melakukannya .”
Maria kaget sekali.
“Saya… Saya benar-benar tidak mengerti jalan pikiran anda, Inspektur ,” katanya.
“Seringkali terjadi bahwa seorang pembunuh mempunyai hubungan yang sangat erat dengan korban sehingga ia mempunyai motivasi kuat untuk menghabisi korbannya .”
Maria tidak mengacuhkan perkataan Inspektur Budi.
Inspektur melanjutkan,
“Bagaimana dengan Pak Kosasih ?”
Maria menjawab hampir berbisik,
“Saya lebih cenderung mencurigainya, Inspektur .”
“Mengapa ?”
“Saya sendiri juga tidak tahu. Namun yang jelas, saya merasa ada sesuatu yang aneh pada diri Pak Kosasih .”
“Tidak adakah orang lain yang menarik perhatianmu ?”
“Saya rasa tidak ada .”
Inspektur Budi menghela nafas. Ia masih belum mendapatkan pegangan dalam penyelidikan kasus ini. Kasus ini sepertinya lebih rumit dari benang kusut sekalipun.
Hujan di luar sudah agak mereda. Namun langit masih saja kelihatan hitam karena tertutup mendung. Inspektur Budi melihat keluar dari jendela ruangan itu. Ia melihat pekarangan Pak Yohanes yang begitu luas dan taman yang begitu indah. Tanaman-tanaman beraneka ragam tumbuh dengan subur dan kelihatan sedap dipandang.
Inspektur melihat arlojinya. Hampir jam dua siang.
“Mengapa suamimu belum kembali juga ?”
Terbayang rasa cemas di wajah Maria.
“Entahlah… Mengapa ia pergi lama sekali ? Padahal ia tadi mengatakan hanya sebentar .”
“Sebaiknya kita kembali ke ruang tengah ,” kata Inspektur.
Mereka berdua keluar dari ruangan kerja Pak Yohanes. Maria kembali mengunci pintu itu dan memasukkan kunci itu ke dalam saku bajunya. Inspektur Budi memperhatikannya. Kelihatannya ia sedang memikirkan sesuatu.
Kemudian mereka berdua kembali ke ruang tengah. Patricia, Helen dan Jenny masih mengobrol dengan santai. Namun mereka segera berhenti saat melihat Inspektur Budi dan Maria.
“Maria… Darimana saja kau ?” tegur Helen.
Maria hanya mengangkat bahu.
Mereka duduk di dekat perapian sambil membisu. Ruangan itu menjadi lengang. Tidak ada seorang pun yang memulai membuka pembicaraan.
Akhirnya Inspektur Budi yang berbicara,
“Mengapa semua orang belum kembali ?”
Patricia menjawab,
“Mereka mempunyai kesibukan sendiri-sendiri, Inspektur. Mungkin mereka mempersiapkan untuk pemakaman papa besok. Saya harap anda juga menghadirinya, Inspektur .”
Inspektur Budi menatap gadis itu. Ia gadis yang cantik. Namun ia juga kurus dan tinggi.
“Saya akan datang… ” kata Inspektur Budi.
“Ngomong-ngomong… ” sambungnya lagi. “Apa pendapatmu tentang kejadian yang menimpa papamu ? Apakah kau percaya kalau semua itu ada yang mendalangi ?”
“Saya sependapat dengan Jenny… Saya rasa dugaannya beralasan dan memang ada orang yang mengatur semua ini .”
Inspektur berpaling ke arah Helen.
“Bagaimana denganmu ?”
Helen tergagap.
“Ya.. Eh, saya juga sependapat dengan Patty… “
“Jadi… kita semua percaya bahwa kejadian itu adalah pembunuhan dan bukan bunuh diri .”
Jenny menyahut,
“Papa tidak akan bertindak konyol seperti itu. Saya yakin ada orang yang telah merencanakan semua ini .”
Inspektur Budi kembali bertanya kepada Patricia.
“Sejauh mana hubunganmu dengan papamu ?”
“Kami semua sangat dekat dengan papa. Kami mencintai papa dan papa juga mengasihi kami. Saya mengenal papa sebagaimana saya mengenal diri sendiri. Papa adalah orang baik, jujur dan dermawan. Ia selalu mengutamakan kepentingan kami. Namun papa juga seorang usahawan yang sukses dan mempunyai bakat sebagai seorang usahawan. Saya rasa tidak ada alasan baginya untuk bunuh diri pada pesta pernikahan Maria. Papa tidak akan tega membuat Maria sedih .”
“Apakah kalian selalu terbuka satu sama lain ?”
Kali ini Helen yang menjawab,
“Benar… Kami selalu terbuka. Jika kami mempunyai masalah yang berat, kami selalu menceritakannya kepada papa dan papa selalu memberi nasehat untuk mengatasi masalah kami. Demikian pula dengan papa .”
“Tapi, mengapa tidak diceritakannya masalah hutang itu kepada kalian ?”
Suasana menjadi hening sejenak.
Kata Patricia,
“Mungkin papa tidak ingin membuat kami cemas. Ia juga tidak mau menambah beban Maria karena saat itu adalah pesta pernikahan Maria. Jadi papa tidak menginginkan Maria bersedih di pesta pernikahannya .”
Inspektur Budi mengangguk.
“Masuk akal juga ,” gumamnya.
Saat itu terdengar deru mobil memasuki halaman rumah itu.
“Itu Henry datang ,” kata Maria.
Serentak, mereka berlima bangkit dari tempat duduknya.
Tak lama kemudian, Henry masuk ke dalam ruang tengah. Di belakangnya Viola menyusul.
Henry tampak agak terkejut melihat kehadiran Inspektur.
“Inspektur… Apa yang anda lakukan di sini ? Apakah anda sedang menginterogasi gadis-gadis ini ? Lebih baik anda segera kembali ke kantor Polisi. Pekerjaan anda menumpuk di sana. Masalah ini kan sudah selesai… “
Inspektur membungkukkan badannya.
“Maafkan kalau kedatangan saya tidak pada saat yang tepat. Namun masalah ini belum selesai .”
Henry mengerutkan kening.
“Apa maksud anda ?”
“Saya terlalu terburu-buru menyimpulkan. Sekarang saya ingin mulai dari awal lagi. Saya rasa ada hal yang terlewatkan dari penyelidikan saya .”
“Oh… begitu ,” kata Henry. “Jika ada sesuatu yang dapat saya bantu, saya siap. Namun saya tidak tahu apa-apa. Jadi jangan banyak berharap kepada saya .”
Henry berlalu dari hadapan Inspektur Budi dan melangkah menuju Maria. Mereka berdua berbicara serius.
Viola menghampiri Inspektur Budi.
“Rupanya anda disini, Inspektur. Sudah lama ?”
“Yah… Lumayan ,” kata Inspektur Budi.
Inspektur Budi merasa sudah cukup penyelidikannya untuk hari itu. Ia segera mohon diri.
“Jangan lupa untuk hadir dalam upacara pemakaman papa besok, Inspektur ,” kata Maria sebelum Inspektur Budi keluar dari ruang tengah.
“Saya akan berusaha untuk datang ,” kata Inspektur.
Inspektur segera berlalu dari ruangan itu. Ia berjalan keluar dan masuk ke dalam mobilnya.
“Gadis-gadis jelita telah memberikan kesaksiannya. Namun tidak ada seorang pun dari mereka yang memberikan keterangan yang berharga. Hanya waktulah yang dapat memastikannya .”
Sambil menyungging senyum di bibir, Inspektur Budi menghidupkan mesin mobilnya dan saat berikutnya, mobilnya sudah melesat meninggalkan pekarangan rumah Pak Yohanes. Selama di perjalanan, pikirannya tidak lepas dari kasus tersebut.

Pukul tiga kurang beberapa menit.
Inspektur Budi baru saja kembali dari rumah Pak Yohanes. Sekarang ia sedang berhadapan dengan Letnan Haris. Wajahnya memancarkan sikap yang tidak enak. Di tangannya tergenggam sepucuk surat.
“Apakah kau punya dugaan siapa yang telah menulis surat ini, Letnan ?” tanya Inspektur Budi.
“Saya tidak tahu, Inspektur. Tapi kita juga tidak tahu apa yang ditulis dalam surat itu benar atau salah .”
“Tapi jika dipikir-pikir… kejadian itu begitu dramatis dan seolah-olah telah diatur sedemikian rupa. Aku cenderung mengatakan ada orang yang telah mengaturnya. Bagaimana pendapatmu, Letnan ?”
Letnan Haris mengangguk.
“Benar… Saya sependapat. Namun sekali lagi, bagaimana caranya melakukan perbuatan itu ?”
“Dan apa pula maksud seseorang mengirim surat kepadaku ?” sambung Inspektur Budi.
“Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab. Saya cemas jika kasus ini tidak dapat kita selesaikan secepatnya. Jelas-jelas ada orang yang sengaja melakukan penukaran obat itu. Tapi siapa yang melakukannya ?”
Inspektur bangkit.
“Ah… Aku benar-benar pusing. Aku mau pulang dan beristirahat. Barangkali aku akan mendapatkan ilham atau gagasan baru .”
“Baiklah, Inspektur. Jika ada sesuatu, saya akan menghubungi anda secepatnya .”
Inspektur beranjak pergi dan terus keluar dari kantor Polisi. Ia mengendarai sepeda motornya menuju rumahnya.

Saat itu hampir tengah malam. Inspektur Budi masih terjaga di atas tempat tidur. Ia tidak dapat memejamkan matanya barang sekejap pun. Sepanjang sore ia mengisi kegiatan dengan berkebun, sementara malamnya diisi dengan bersantai sambil menonton televisi. Biasanya setelah berkebun, ia akan langsung tidur nyenyak. Namun kali ini tidak. Sudah beberapa jam berada di atas ranjang, namun pikirannya masih penuh dengan beraneka ragam pertanyaan sehubungan dengan kasus kematian Pak Yohanes.
Akhirnya Inspektur bangkit. Ia menanggalkan piyamanya dan kembali mengenakan pakaiannya. Lalu dipakainya pula jaket yang cukup tebal.
Kira-kira seperempat jam kemudian, perwira polisi itu sudah berada dalam ruangan kerjanya di kantor polisi sambil merokok. Lampu ruangan itu dipadamkan agar ia bisa berpikir. Namun tetap saja ia tidak memperoleh gagasan. Ruangan itu dipenuhi dengan asap rokok. Hal itu memang disengaja oleh Inspektur Budi. Ia masih berdiam selama beberapa menit lamanya sampai akhirnya tangannya meraih gagang telepon. Diputarnya sebuah nomor. Setelah agak lama ia sudah berbicara dengan orang yang ditujunya. Tidak sampai semenit kemudian, gagang telepon itu sudah kembali pada tempatnya semula. Terbayang rasa puas di wajah Inspektur Budi.

Oleh: Wahyu Kurniawan, 1998