BAB DUA
PEMBUNUHAN ATAU BUNUH DIRI ?

Senin pagi yang cerah. Udara begitu segar. Burung-burung berkicau riang menyambut datangnya pagi yang menyenangkan. Sinar matahari yang hangat membelai penduduk kota Bogor yang sibuk dengan segala aktivitasnya sendiri-sendiri. Di pusat kota tampak ramai. Orang-orang menjajakan barang dagangannya. Ibu-ibu asyik menawar harga dari barang yang disukainya. Demikianlah kehidupan. Selalu dinamis dan tidak terikat oleh waktu. Orang-orang selalu saja sibuk dengan urusan masing-masing.
Dalam suatu bis kota yang sedang berjalan, seorang penjual koran berteriak-teriak menawarkan koran,
“Pos Kota… Pos Kota. Berita hangat. Seorang jutawan meninggal dunia pada malam pesta pernikahan anaknya. Ayo… ayo, jangan sampai ketinggalan .”
“Beli korannya ,” kata salah seorang penumpang.
Ia menyerahkan sejumlah uang dan penjual koran segera beralih ke penumpang lainnya.
Laki-laki itu mencari artikel yang disebutkan si penjual koran. Tidak sulit untuk menemukannya karena pada halaman depan, tertulis dengan huruf besar yang tercetak tebal ‘TRAGEDI DI MALAM PESTA PERAYAAN PERNIKAHAN’. Ia segera terbuai membaca artikel tersebut.
Tiba-tiba ia bangkit dari sandaran kursinya. Sambil mengerutkan dahi, ia terus membaca berita itu dengan seksama. Nama-nama yang disebutkan di dalam koran, walaupun hanya inisialnya saja terasa tidak asing baginya.
“Jadi… memang benar kata-katanya dalam surat itu. Orang yang disebutkan dalam surat itu benar-benar meninggal. Sayang aku tidak mempercayainya… ” gumam laki-laki itu.
Ia pun terbenam dalam lamunannya di dalam bis yang sedang melaju menuju pusat kota.

Terdengar ketukan di pintu. Inspektur Budi meletakkan koran yang tengah dibacanya. Saat itu ia berada dalam ruang kerjanya.
“Silakan masuk .”
Pintu terbuka dan Letnan Haris masuk ke dalam ruangan kerja atasannya dengan membawa sebuah map yang berisi berkas-berkas catatan tentang kejadian itu.
“Ini laporannya, Inspektur. Anda dapat menelitinya ,” kata Letnan Polisi itu.
Inspektur mengambil map yang disodorkan oleh Letnan Haris, lalu membacanya sekilas. Katanya,
“Akan kupelajari dulu. Kau boleh pergi .”
Letnan Haris hendak beranjak pergi, ketika tiba-tiba Inspektur menahannya.
“Sebentar, Letnan. Apakah mobil sedan putih itu sudah diperiksa dengan cermat ?” tanya Inspektur Budi.
Letnan Haris mengangguk. Katanya,
“Sudah kami periksa dengan teliti. Dan tampaknya ada yang menyabot mekanisme rem mobil tersebut sehingga tidak berfungsi sebagaimana mestinya .”
“Sudah kuduga ,” sahut Inspektur. Ia termenung.
Kata Letnan Haris,
“Apakah anda dapat menduga kira-kira siapa orangnya ?”
Inspektur Budi menggeleng.
“Terlalu banyak yang dapat dicurigai sehingga membuatku bingung. Tapi siapa pun dia, pasti menginginkan kematianku atau kematian gadis itu .”
“Mengapa ia, maksud saya orang itu menginginkan kematian anda, Inspektur ?”
“Ada beberapa hal yang masih merupakan tanda tanya. Aku benar-benar bingung .”
Inspektur mengepulkan asap rokoknya.
“Tinggalkan aku sendiri, Letnan ,” kata Inspektur Budi. Letnan Haris segera keluar dari ruangan itu.
Inspektur Budi mengenang kejadian malam sebelumnya. Sepertinya segala kesialan itu sengaja disusun untuknya. Secara kebetulan sekali, seorang Inspektur Polisi seperti dirinya diundang ke suatu pesta yang tidak enak. Dan kecelakaan itu… kecelakaan yang nyata-nyata ditujukan terhadap dirinya. Itu persoalan yang lain. Seseorang pasti tidak menyukai kehadirannya dalam pesta itu.
Inspektur terus berpikir keras.
Tumpukan pasir di tengah jalan … Itulah yang telah menyelamatkan hidupnya. Ketika itu ia begitu panik namun tidak sampai kehilangan akal sehatnya. Ia langsung membanting setir keluar jalur dan mobil terhambat oleh tumpukan pasir itu. Sungguh suatu pengalaman yang menegangkan. Beberapa saat berikutnya, petugas polisi segera datang dan membawa mobil sedan putih itu, sementara gadis itu diantar pulang.
“Kira-kira begitulah kejadiannya ,” gumam Inspektur.
Ia mematikan rokoknya, lalu diambilnya berkas-berkas itu. Ia membolak-balik kertas yang ada di dalamnya sambil sesekali menganggukkan kepalanya.
Inspektur meletakkan kembali map tersebut.
“Aneh sekali… Apakah sabotase terhadap mobil itu ada hubungannya dengan kejadian yang menimpa Pak Yohanes ? Benarkah Pak Yohanes telah bunuh diri ? Apakah tidak ada kemungkinan bahwa ia telah dibunuh ?”
Inspektur Budi berjalan mondar-mandir dalam ruangan kerjanya.
“Motif untuk bunuh diri itu begitu kuat. Kurasa …”
Inspektur berhenti mendadak. Matanya terbelalak seperti baru saja menemukan sesuatu.
“Kecelakaan itu bukan ditujukan kepadaku tetapi kepada gadis itu. Jadi kecelakaan yang nyaris terjadi semalam tidak ada hubungannya dengan kejadian yang menimpa Pak Yohanes. Pak Yohanes memang benar-benar bunuh diri, namun penyabotan rem mobil itu adalah suatu usaha pembunuhan. Mengapa ada orang yang ingin membunuh gadis itu ?”
Inspektur Budi mendesah,
“Kasus ini benar-benar membingungkan .”
Ia kembali memeras otak. Pikirannya dipenuhi kebimbangan.
“Aku akan kembali ke rumah itu. Barangkali ada beberapa hal yang dapat kutemukan …”

Maria duduk di ranjangnya. Ia masih merasa sedih dengan kepergian ayahnya. Ia agak terkejut ketika pintu kamarnya terbuka perlahan. Sosok suaminya muncul di ambang pintu.
“Selamat pagi, sayang ,” tegur Henry. “Mari kita sarapan bersama-sama .”
“Aku tidak berniat, Henry .”
Henry begitu prihatin dengan keadaan istrinya. Didekapnya Maria ke dalam pelukannya. Maria kembali terisak.
“Aku mengerti perasaanmu … ” kata Henry dengan lembut. “Tapi jangan lupa, kau masih punya aku, suamimu yang sangat mencintaimu .” Dibelainya rambut Maria.
Maria merasa lebih tenang.
“Kalau keadaanmu sudah agak tenang, mari kita turun ke bawah. Semuanya sudah menunggu dari tadi ,” ujar Henry.
Maria menyeka air matanya.
“Baiklah ,” katanya.
Henry membimbing istrinya. Lalu mereka berdua bersama-sama menuju ke ruang makan. Di sana sudah berkumpul Patricia, Helen, Jenny dan Viola. Patricia yang pertama kali melihat mereka.
“Maria… Kau tidak apa-apa ?”
Maria menggeleng lemah. Kemudian dengan dibantu suaminya, ia duduk di kursinya. Seorang pelayan dengan sigap melayaninya.
Suasana makan pagi itu begitu kaku dan dingin. Tak ada seorang pun yang berbicara. Sunyi dan sepi … Begitu sunyinya sehingga napas mereka dapat terdengar.
Mereka menyelesaikan sarapan masing-masing.
Viola meneguk gelas yang berisi susu yang ada di hadapannya. Patricia menoleh,
“Oh… ya, kemana kau setelah pertemuan di ruangan itu ?”
Viola mengusap mulutnya dengan serbet.
“Maksudmu ?” balas Viola.
“Apakah kau bersama dengan Andre ?” tanya Patricia.
Viola tampak gugup.
“Oh.. eh, ya tentu… tentu saja ,” katanya. Ia beranjak hendak meninggalkan ruangan makan. Sejenak ia berpaling,
“Oh.. ya, Patty… aku ingin menanyakan sesuatu padamu. Tentang puisi Shakespare yang sering kita bicarakan itu. Kutunggu kau di taman .”
Patricia mengerutkan dahinya. Ia merasa heran.
Viola berjongkok di dalam taman. Ia merasa terpesona dengan indahnya bunga-bunga yang bermekaran di taman itu. Ia memetik setangkai lalu diciumnya.
“Bunga-bunga tulip di Belanda tidak dapat dibandingkan dengan keindahan bunga-bunga ini ,” gumamnya.
Gadis itu mencabut rumput liar yang tumbuh di dekatnya. Ia menggigit-gigit rumput itu. Ia merebahkan tubuhnya menikmati belaian sinar matahari yang hangat. Ia tidak mempedulikan celana jeansnya yang kotor. Ia hanya ingin dekat dengan alam, menikmati karunia Tuhan yang agung.
“Bagaimana reaksi Patty kalau ia tahu mobilnya rusak ?” gumamnya sendirian.
Kemarin malam tidak ada yang mengetahui kalau ia memakai mobil Patricia untuk mengantarkan Inspektur Budi. Juga tidak ada yang mengetahui saat ia diantar oleh seorang petugas polisi. Viola tidak ingin menceritakan hal tersebut kepada yang lain. Ia merasa hanya Patricia yang boleh tahu.
Gadis itu memejamkan matanya.
“Andre pasti akan memarahiku kalau ia tahu hal ini .”
Ia bangkit lalu melihat Patricia berjalan ke arahnya. Wajahnya menandakan kebingungan.
“Ada apa sih ?” tegurnya.
Viola masih diam saja.
“Ayolah …” bujuk Patricia. “Kau kan tahu bahwa kita tidak pernah membicarakan puisi-puisi Shakespare seperti yang tadi kau katakan. Pasti ada sesuatu yang ingin kau ceritakan kepadaku .”
Dengan berat hati Viola berkata,
“Kau sudah masuk ke dalam garasi ?”
Patricia bertambah bingung. Ia menggeleng.
“Mobilmu sekarang sedang direparasi .”
“Apa.. apa maksudmu ?” tanya Patricia.
Akhirnya Viola tidak dapat menahan diri. Ia lalu bercerita tentang kejadian itu dan juga meminta maaf karena menggunakan mobil itu tanpa seizin pemiliknya. Diluar dugaannya ternyata Patricia sama sekali tidak marah. Gadis itu malah mencemaskan keadaannya.
“Ya Tuhan… Siapa yang berbuat sekeji itu ? Untung sekali kau bersama polisi itu. Kalau tidak, kau pasti akan mengalami kecelakaan, Viola .”
“Menurut Inspektur Budi, itu adalah tindakan sabotase ,” kata Viola. “Kapan kau terakhir memakai mobilmu ?”
Patricia berpikir sebentar. Katanya,
“Kemarin pagi masih kupakai buat belanja. Aku yakin betul akan hal itu… Oh ya, sorenya sebelum pesta dimulai aku pergi ke rumah Roni untuk mengundangnya. Ya… saat itu terakhir kalinya kupakai mobilku dan remnya masih baik-baik saja .”
Viola termenung.
“Jadi menurutmu …” katanya. “Penyabotan itu dilakukan pada saat pesta berlangsung atau setelah pesta usai ?”
“Kira-kira begitulah ,” kata Patricia. “Agaknya ada orang yang tidak menyukai kehadiranmu di sini. Tapi siapa orang yang tidak mengharapkan kepulanganmu ?”
Terbayang sebuah nama dalam pikiran Viola.
“Pak Kosasih… ” desisnya.
Patricia terkejut.
“Mengapa kau mencurigainya ?” tanyanya.
“Mungkin saja dia. Orang itu mempunyai waktu yang paling lama berada di luar rumah. Bisa saja ia menyelinap masuk ke dalam garasi dan melakukan tindakan sabotase itu .”
“Tapi… mengapa ?”
Viola mengangkat bahu.
“Entahlah …” katanya pelan.
“Tapi Viola, mengapa kau begitu santai ? Ada orang yang ingin mencelakakanmu ! Tahukah kau ?” kata Patricia.
Viola bangkit.
“Dengarkan baik-baik, Patty… Tidak ada seorang pun yang mengetahui aku meminjam mobilmu semalam. Jadi, mengertikah kau, Patty ? Kalau ada orang yang telah menyabot mobil sedan milikmu tentunya orang itu bermaksud mencelakakan orang yang paling sering menggunakan mobil itu. Jelasnya, usaha kecelakaan itu bukan ditujukan kepadaku, tapi ditujukan kepadamu !”
Patricia ternganga.
“Oh.. Tuhan, mengerikan sekali. Tapi, aku sama sekali tidak mengerti. Selama ini aku tidak memiliki musuh. Mengapa ada orang yang menginginkan aku celaka ?”
“Itulah sebabnya aku ingin memperingatkan agar kau lebih berhati-hati ,” kata Viola.
“Mengapa ? Katakanlah, Viola .”
“Aku juga tidak tahu, Patty. Mungkin ada hubungannya dengan meninggalnya Paman ,” kata Viola.
Tahu-tahu wajah Patricia berubah.
“Ada apa, Patty ?” tanya Viola.
“Kecelakaan… Kurang lebih sebulan yang lalu, Jenny juga mengalami kecelakaan .”
“Apa ??? Mengapa kau tidak pernah menceritakannya kepadaku, Patty ?” Viola tampak terkejut.
Patricia menatap Viola dalam-dalam.
“Apakah menurutmu kecelakaan yang kau alami semalam ada hubungannya dengan kecelakaan yang dialami Jenny ?”
“Bisa jadi ,” ujar Viola.
“Hei… apa yang kalian lakukan disini ?” tanya Helen yang tiba-tiba berada disitu.
Patricia melihat ke arah Viola. Katanya,
“Apakah Helen boleh mengetahuinya ?”
“Terserah kaulah ,” kata Viola.
Patricia menceritakan hal kecelakaan yang nyaris mencelakakan Viola itu kepada adiknya.
“Masa sesungguhnya kau yang menjadi sasaran kecelakaan itu, Patty ?” tanya Helen dengan nada kurang percaya.
“Agaknya begitu… Tapi siapa pula yang ingin menyakitiku ? Aku selalu baik pada siapa saja. Jenny sendiri telah kehilangan ingatannya akan kejadian itu ,” kata Patricia.
“Ia menderita amnesia ?” tanya Viola.
Patricia dan Helen mengangguk.
“Kalian terlalu ,” kata Viola berapi-api. “Kalian tidak pernah menceritakannya kepadaku. Setidaknya kalian kan bisa telepon atau kirim surat. Kalau begitu kecelakaan itu berat sekali sampai Jenny kehilangan ingatannya .”
“Kepalanya terbentur cukup keras ,” kata Patricia.
Helen merenung.
“Jenny yang malang ,” katanya. “Dirinya menjadi pendiam sejak kecelakaan itu menimpanya .”
“Bagaimana tepatnya kejadian itu ?” tanya Viola.
“Aku tidak tahu pasti. Yang jelas, menurut keterangan seseorang yang telah menolongnya, mobilnya didesak oleh mobil lain sampai terguling .”
“Mobilnya ?” ulang Viola.
“Sebenarnya mobil itu milikku ,” sahut Helen. “Tapi Jenny kadang-kadang juga ikut mengendarainya. Karena sudah rusak berat, mobil itu sudah dijual oleh papa .”
“Dan orang itu ?” desak Viola.
“Siapa ?” tanya Patricia.
“Orang yang telah menyelamatkan Jenny. Apakah kalian mengenalnya ?”
“Kami bahkan tidak bertemu dengannya. Menurut Dokter Sam yang merupakan dokter kepercayaan papa, orang itu terburu-buru pergi setelah menyerahkan Jenny ke Rumah Sakit ,” kata Helen.
Patricia merasa curiga. Katanya,
“Mengapa kau begitu tertarik sekali terhadap masalah ini ? Apa kau ingin jadi detektif yang menyelidiki masalah kriminalitas seperti ini ?”
Viola tertawa.
“Tentu saja tidak, Patty. Aku hanya ingin tahu. Soal penyelidikan dan lain-lainnya, serahkan saja pada polisi. Itu kan sudah menjadi tugas mereka .”
“Tapi terus terang… ” lanjut gadis itu. “Aku merasa agak aneh dengan orang yang telah menolong Jenny waktu itu. Mengapa ia buru-buru pergi setelah menyerahkan adik kalian ke Rumah Sakit ?”
Helen menjawab sekenanya,
“Mungkin ia sedang ada urusan yang mendesak .”
“Itu mungkin saja… Tapi, coba kalian pikir. Setelah urusannya beres, tentunya ia akan datang lagi ke Rumah Sakit untuk menjenguk keadaan korban yang telah ditolongnya. Setidak-tidaknya itulah reaksi logis dari orang yang telah menjadi pahlawan. Sedikit banyak, ia akan mempunyai perasaan bangga karena telah melakukan tindakan yang berarti. Dan karena perasaan itu, ia akan muncul kembali dan mengharapkan ucapan terima kasih ataupun sedikit imbalan atas perbuatannya. Tapi, tidak demikian yang terjadi. Orang itu tidak pernah muncul lagi. Sepertinya ia sengaja agar dirinya tidak dikenali .”
“Tapi kadang-kadang ada beberapa orang yang memang tidak ingin dikenali setelah menolong orang lain. Orang itu telah menolong tanpa pamrih ,” kata Patricia.
“Benar juga katamu, Patty ,” kata Viola.
Patricia mencoba mengalihkan bahan pembicaraan.
“Ngomong-ngomong, apakah kau masih mencintai Andre, Viola ?”
Viola memejamkan matanya.
“Tentu saja, Patty. Aku sangat mencintainya. Ia segala-galanya bagiku .”
“Pertemuan kalian semalam sepertinya biasa-biasa saja. Padahal kalian sudah setahun tidak berjumpa, sejak acara wisuda Andre tahun lalu ,” ujar Helen.
“Kupikir, cinta kami tidak perlu diperlihatkan kepada semua orang ,” kata Viola sambil tertawa. “Laki-laki di Belanda tidak ada yang mampu menyainginya .”
Lanjutnya,
“Kami merasa cocok pada banyak hal, karena itulah kami memutuskan untuk meneruskan hubungan kami. Andre memang banyak mengerti diriku. Sekarang ia adalah Dokter Andre. Aku sangat bangga jika suatu saat akan menikah dengannya ,” kata Viola.
“Kalian adalah pasangan yang sangat serasi ,” kata Helen.
“Aku juga sangat mencintai Roni ,” kata Patricia sambil menyungging senyum. “Ia laki-laki yang betul-betul sempurna .”
“Aku mengerti perasaanmu, Patty ,” kata Viola. Ia bangkit lalu mengambil napas dalam-dalam.
Viola berkata,
“Bagaimana denganmu, Helen ? Kulihat kau sangat akrab dengan pria itu. Aku belum sempat mengenalnya lebih dekat gara-gara peristiwa itu. Siapa namanya … aku lupa .”
“Namanya Fredy ,” kata Helen dengan wajah bersemu merah. “Ia pria yang tampan dan sangat luar biasa .”
“Jadi kita bertiga telah memiliki kekasih… tinggal Jenny yang belum ,” gumam Viola.
Dengan nada sedih Patricia menyambung,
“Mungkin ia sempat berpacaran sebelum kecelakaan itu menimpanya .”
“Mungkin… ” gumam Viola.
“Tapi sudahlah ,” lanjutnya. Ia menyibakkan rambutnya yang panjangnya sebahu. “Lebih baik kita berbicara hal yang lain. Oh.. ya, Patty, apakah kalian sudah menghubungi Bibi Laras ?”
“Maria berkata akan menghubunginya seusai sarapan tadi. Jadi kurasa sekarang Bibi Laras pasti sudah tahu masalah itu. Bagaimana dengan orang tuamu sendiri, Viola ?” kata Patricia.
“Andre yang akan menjemput mereka. Ia sudah bilang kepadaku kalau hari ini ia akan ke Sukabumi untuk suatu masalah .”
“Kau ini nakal ,” kata Helen. “Dari Bandar Udara Jakarta kau langsung menuju kemari. Tidakkah kau merasa rindu dengan kedua orang tuamu ?”
“Tidak ada waktu lagi. Kupikir mereka juga akan datang kemari. Ternyata mereka berhalangan. Demikian juga dengan Bibi Laras. Lagipula aku kan bukan anak mami lagi ?” kata Viola.
“Ya, benar juga. Eh… lihat ! Jenny menuju kemari ,” kata Patricia.
Jenny berjalan bergegas menuju mereka.
“Oh… ya, apakah Bibi Laras sudah diberi kabar ?” tanya Patricia kepada Jenny.
“Baru saja Maria meneleponnya. Ia akan datang secepat mungkin dari Bandung ,” jawab Jenny.
Tahu-tahu Jenny menubruk kakaknya.
“Patty… Aku sangat sayang pada papa ,” bisiknya sambil terisak.
“Ya… Kita semua mencintai papa ,” kata Patricia sambil berbisik pula. Dibelainya rambut adiknya yang indah itu.
Helen menyaksikan kedua saudaranya itu dengan perasaan haru.
“Jenny telah menjadi dewasa sekarang ,” pikirnya. Diusapnya air mata yang mengalir sebelum ada seseorang yang melihatnya.
Viola mendekati Patricia dan Jenny.
“Sudahlah ,” katanya. “Lebih baik sekarang kita masuk ke dalam rumah. Panas matahari mulai terasa menyengat. Kita duduk-duduk sambil menunggu kedatangan Bibi Laras .”
Patricia dan Jenny menganggukkan kepala.
“Bagaimana dengan orang tuamu ?” tanya Jenny.
“Mereka akan datang nanti sore, bersama Andre ,” jawab Viola dengan perasaan enggan. Kentara sekali bahwa saat itu ia tengah memikirkan hal yang lain.
Keempat gadis itu berjalan menjauhi taman. Namun ada sesuatu yang tidak diketahui mereka. Bahwa ada sepasang mata yang mengawasi mereka sejak tadi.
Begitu keempatnya sudah masuk ke dalam rumah, sesosok bayangan muncul dari gerumbulan semak yang subur. Ia menegakkan tubuhnya menandakan kalau ia sudah cukup lama meringkuk dalam semak itu.
Orang itu melihat ke arah rumah. Pandangannya kelihatan sangat aneh dan tidak wajar …

Hari semakin siang. Matahari hampir mencapai titik tertinggi sementara kesibukan orang-orang sudah mulai berkurang. Dari kejauhan, seorang perwira polisi tengah mengendarai sepeda motornya. Orang itu tidak lain adalah Inspektur Budi. Ia bermaksud akan kembali ke rumah Pak Yohanes, namun rupanya perutnya belum mengizinkan. Maka begitu melihat ada sebuah kedai hamburger di pinggir jalan, Inspektur segera membelokkan arah sepeda motornya.
“Panas sekali hari ini ,” keluhnya. Sapu tangannya yang telah basah tetap saja dipakainya untuk mengelap keringat di dahinya.
Ia segera masuk dan mendapat pelayanan. Tak berapa lama, Inspektur kepolisian itu telah menikmati makanannya. Kurang lebih selama lima belas menit Inspektur menikmati makan siangnya, kemudian ia menuju ke kasir untuk membayar harga makanan tersebut.
“Seharusnya aku berangkat lebih pagi ke rumah Pak Yohanes ,” gumam Inspektur Budi. “Siang-siang begini lebih enak bersantai .”
Ia baru saja hendak menjalankan sepeda motornya ketika dilihatnya seseorang yang dikenalnya di Supermarket di seberang jalan.
Inspektur Budi mengurungkan niatnya. Ia kembali mengunci sepeda motornya, lalu berjalan dengan langkah agak tergesa-gesa menyeberang jalan.
Viola, yang tadi terlihat oleh Inspektur Budi, sekarang beralih ke bagian Supermarket yang lain. Buru-buru Inspektur mencegatnya. Gadis itu sedikit terkejut.
“Astaga… Suatu kebetulan berjumpa dengan anda di sini, Inspektur ,” kata gadis itu. Penampilannya masih tetap seperti semalam. Ia mengenakan kaos tanpa lengan dan celana jeans yang agak ketat. Wajahnya yang dilapisi make-up tipis tampak menawan, sementara rambutnya yang panjangnya sebahu dikuncir ke belakang.
“Anda sangat cantik ,” puji Inspektur Budi. Viola hanya tersenyum-senyum mendengar pujian itu.
“Oh.. ya, apa yang anda lakukan di sini ? Bukankah anda seharusnya berada di rumah paman anda ?” lanjut Inspektur.
“Sejak pagi kami, maksud saya, saya dan saudara-saudara saya terus berada di rumah itu. Menjelang makan siang, kami baru menyadari kami tidak mempunyai apa-apa lagi untuk menyambut kedatangan Bibi Laras dan orang tua saya. Oleh karena itulah saya ada di sini untuk berbelanja barang-barang kebutuhan kami .”
“Oh begitu. Tapi ngomong-ngomong siapa Bibi Laras itu ?” tanya Inspektur Budi ingin tahu.
“Dia adalah kakak paman. Bibi Larasati yang malang. Suaminya meninggal dunia setahun setelah pernikahan mereka .”
“Bibi Laras tidak memiliki anak ?”
Viola menggeleng perlahan.
Kata Inspektur Budi,
“Selain Bibi Laras dan mamamu, adakah saudara yang lain ?”
“Tidak ada ,” jawab Viola singkat.
“Mengapa suaminya sampai meninggal ? Apa yang menyebabkan kematiannya ?” Inspektur Budi terus mengejar.
“Saya dengar akibat kecelakaan .”
“Kecelakaan ,” ulang Inspektur. “Lagi-lagi kecelakaan .”
Viola seperti diingatkan akan sesuatu hal saat Inspektur Budi mengatakan kata itu.
“Saya baru ingat. Ada sesuatu hal yang ingin saya sampaikan kepada anda ,” kata gadis itu.
“Katakanlah ,” kata Inspektur dengan lembut.
“Masalah kejadian semalam .”
Inspektur terkejut.
“Bukankah anda baik-baik saja ? Saya rasa anda tampak sehat tidak kurang dari suatu apa pun juga .”
“Tapi kalau bukan karena anda yang bertindak tepat pada waktunya, barangkali saja kita tidak akan bercakap-cakap di sini, bukankah begitu ?”
Viola melanjutkan,
“Ada hal lain yang mengganggu pikiran saya sejak semalam berkaitan dengan kecelakaan yang nyaris terjadi .”
Inspektur Budi terus mendengarkan kata-kata gadis itu.
“Apakah anda merasa yakin bahwa kita dan bukan orang lain yang menjadi sasaran dari kecelakaan semalam ?” tanya Viola.
“Saya merasa yakin tidak akan ada orang yang menaruh dendam terhadap saya. Setelah saya berpikir, tidak ada orang yang tidak menginginkan kehadiran saya di pesta itu. Jadi… kemungkinannya terletak pada anda. Saya rasa kecelakaan semalam ditujukan kepada anda dan bukan kepada saya ,” kata Inspektur Budi.
Lagi-lagi Viola menggeleng perlahan.
“Bukan… Bukan saya, tapi seseorang yang lain .”
Inspektur ternganga.
“Siapa lagi ? Bukankah di dalam mobil itu tidak ada orang lain lagi selain kita ? Tentunya usaha penyabotan itu ditujukan kepada salah seorang dari kita, bukan ?”
Viola terdiam. Lalu katanya,
“Lebih baik kita mencari tempat yang nyaman untuk berbincang-bincang. Di sini terlalu ramai .”
Inspektur menyetujuinya. Mereka meninggalkan Supermarket dan menuju ke kedai dimana Inspektur telah mengisi perut sebelumnya.
“Lanjutkan cerita anda ,” kata Inspektur saat mereka telah duduk di salah satu bangku dalam kedai itu.
Kata Viola,
“Memang kelihatannya kita-lah yang menjadi korban kalau kecelakaan itu terjadi. Tapi bagaimana seseorang tahu kalau kita akan mengendarai mobil itu semalam ? Padahal mobil itu masih dalam kondisi baik pada sore harinya. Berdasarkan fakta tersebut, saya yakin bukan kita yang diharapkan akan menjadi korban kecelakaan itu melainkan… seperti yang sudah saya katakan tadi, seseorang yang lain. Seseorang yang lebih masuk akal untuk dijadikan korban dalam suatu kecelakaan .”
“Gadis ini berbakat menjadi seorang penyelidik ,” pikir Inspektur Budi. “Gaya bicaranya mengingatkanku pada seorang remaja sahabatku yang juga sangat menggemari menyelidiki hal-hal semacam ini .”
Sementara itu Viola masih terus berbicara.
“Itulah yang saya maksud… Kecelakaan itu bukan ditujukan kepada kita melainkan kepada pemilik mobil itu ,” kata Viola.
Inspektur Budi merenung. Pikirnya,
“Terus terang saja, gagasan itu sangat mungkin .”
Inspektur berkata lagi,
“Anda cukup cermat mengamati keadaan. Tapi mengapa ada orang yang ingin mencelakakan pemilik mobil itu, maksud saya, saudara anda Patricia ?”
“Itulah yang belum saya ketahui sebabnya. Tapi saya menduga kejadian semalam pasti berhubungan dengan kecelakaan yang menimpa Jenny kurang lebih sebulan yang lalu. Ada yang tidak beres pada peristiwa saat itu .”
Inspektur Budi mengerutkan keningnya.
“Apa maksud anda ?” tanyanya tidak mengerti.
Kemudian Viola menceritakan percakapannya dengan Patricia dan Helen pagi itu. Inspektur Budi mengangguk-angguk setelah Viola selesai bercerita.
“Jadi orang yang telah menyelamatkan Jenny tidak pernah datang menampakkan dirinya lagi. Ini sungguh aneh .”
“Ya, saya juga merasa begitu. Namun Patty dan Helen tidak menaruh perhatian yang besar terhadap masalah ini ,” kata Viola.
Viola menopang dagunya dengan kedua tangannya.
“Apakah anda tidak merasa aneh dengan kejadian-kejadian ini, Inspektur ? Saya rasa, kejadian-kejadian ini terjadi begitu sering. Saya curiga ada seseorang yang mendalangi semua ini. Juga terhadap kematian Paman Yohanes. Saya kurang sependapat dengan teori anda, Inspektur. Bagaimanapun juga saya yakin, Paman tidak akan bertindak sampai sejauh itu sekalipun pada saat itu ia dalam keadaan sangat putus asa. Saya sependapat dengan Jenny kalau peristiwa itu adalah suatu pembunuhan yang direncanakan dengan baik sekali sehingga seolah-olah seperti tindakan bunuh diri. Hanya saja, saya tidak dapat menerangkan bagaimana tepatnya ia dibunuh. Dan kecelakaan-kecelakaan itu adalah rentetan dari rencana jahat orang itu. Bagaimana menurut anda, Inspektur ?”
Inspektur Budi meminum kopi yang ada di depannya.
“Saya tahu, saya sendiri juga berpikiran sama seperti anda. Tapi yang kita butuhkan dalam suatu kasus adalah bukti-bukti dan fakta-fakta. Jadi… maafkan kalau kita harus kembali lagi pada teori yang saya kemukakan semalam .”
Viola mendesak. Katanya,
“Lalu bagaimana pendapat anda tentang tindakan sabotase terhadap mobil Patty ?”
“Mungkin peristiwa itu tidak ada sangkut pautnya dengan kematian Pak Yohanes, bahkan juga tidak ada sangkut pautnya dengan kecelakaan sebulan yang lalu yang menimpa Jenny ,” kata Inspektur Budi. Tampak jelas ada sedikit keraguan pada wajah Inspektur saat mengutarakan pendapat itu.
“Barangkali kita nanti akan menemukan alasan mengapa seseorang mau melukai saudaramu, Patricia. Mungkin saja karena dendam pribadi seseorang terhadapnya. Kita kan tidak pernah tahu jika Patricia mempunyai seorang musuh ,” sambung Inspektur.
“Menurut saya ,” kata Viola. “Patty anak yang baik. Ia tidak mungkin punya seorang musuh .”
Inspektur Budi tersenyum.
“Bagaimana jika Patricia tidak menyadari kalau ada seseorang yang menaruh dendam kepadanya ? Bagaimana jika ia tanpa sengaja melakukan perbuatan yang membuat seseorang menjadi benci dan dendam kepadanya ?
Bagaimana kalau orang itu berpura-pura baik di depannya padahal di belakangnya ia memiliki niat untuk menyingkirkan gadis itu ? Itulah yang mungkin dialami oleh Patricia. Ia tidak tahu kalau ada seseorang, entah temannya, kenalannya atau bahkan mungkin saudaranya sendiri yang akan mencelakainya .”
Viola termenung memikirkan ucapan Inspektur Budi.
“Dengar… ” kata Inspektur. “Saya menerima teori anda yang mengatakan kalau kecelakaan itu ditujukan kepada saudara anda. Tapi teori itu, sekali lagi harus didasarkan kepada bukti dan fakta. Tanpa adanya kedua unsur itu, teori itu hanya akan menjadi sebuah cerita yang tidak mengandung kebenaran .”
“Saya rasa anda benar ,” kata Viola kemudian.
“Jadi… ” kata Inspektur Budi. “Kita akan mengusut perkara ini. Bersediakah anda membantu saya ?”
Viola tertawa riang.
“Saya ? Apa yang dapat saya lakukan ?” katanya.
“Apa saja. Baru saja anda telah membantu saya dengan mengemukakan pendapat anda yang selama ini tidak terlintas dalam pikiran saya. Itulah yang saya sebut dengan membantu. Kita akan segera mencari kebenaran bersama-sama. Bagaimana ?”
“Dengan segala senang hati. Siap, Pak !” kata Viola. Kedua orang itu lalu tertawa bersamaan.
“Sekarang sebaiknya anda menyelesaikan tugas anda ,” kata Inspektur Budi. “Dan segeralah kembali ke rumah itu. Saya akan segera menyusul .”
Viola mengangguk. Ia berlalu dari hadapan Inspektur Budi.
Inspektur Budi menghabiskan kopinya sebelum kemudian ia bangkit meninggalkan kedai itu.
“Sekarang aku akan ke Rumah Sakit menemui Dokter Husin. Barangkali saja ada perkembangan baru ,” gumam Inspektur Budi.
Tidak lebih dari lima belas menit berikutnya, petugas kepolisian itu telah berada di Rumah Sakit yang dimaksud. Ia segera diantar oleh petugas untuk menemui Dokter Husin.
Dokter Husin menyambut kedatangan Inspektur Budi.
“Selamat datang, Inspektur ,” tegurnya.
“Bagaimana Dokter ? Apakah ada perkembangan baru ?” tanya Inspektur Budi. Ia duduk di sebuah kursi.
“Kebetulan sekali anda datang kemari. Saya baru saja menelepon kantor polisi dan petugas yang jaga mengatakan kalau anda sedang keluar. Jadi beruntung anda sendiri datang kemari. Anda pasti tidak akan menduga hasil otopsi kami terhadap tubuh korban .”
Inspektur Budi terkejut.
“Adakah sesuatu yang aneh ?” tanyanya.
Dokter Husin tidak menyahut. Ia mengambil berkas laporan mengenai hasil otopsi itu dan menyerahkannya kepada Inspektur.
“Hasil pemeriksaan terhadap tubuh korban menyatakan, selain terkontaminasi dengan obat tidur, korban juga telah memakan obat lain yang mempunyai efek menimbulkan sakit di kepala yang luar biasa jika diminum secara berlebihan. Setelah diteliti, ternyata obat itu termasuk salah satu anestesi , dimana akan menimbulkan akibat-akibat yang tidak diinginkan terhadap pemakainya kalau dosisnya tidak sesuai .”
Inspektur Budi menyeka keringatnya.
“Apakah anda dapat memastikan kalau korban betul-betul terkontaminasi zat-zat tersebut ?”
“Sangat yakin ,” sahut Dokter Husin. “Menurut dugaan saya, anestesi itu telah terlebih dahulu masuk ke dalam tubuhnya sebelum pil-pil obat tidur itu .”
Inspektur Budi bertanya,
“Apakah ada kemungkinan zat tersebut dimakan oleh korban secara tidak sengaja ? Maksud saya, ada yang mencampurkan zat tersebut ke dalam makanan ataupun minuman korban ?”
“Itu sangat mungkin, Inspektur ,” kata Dokter Husin dengan nada yakin.
“Seandainya saja itu benar, pasti ada seseorang yang telah mencampurkan zat itu ke dalam makanan atau minuman dalam pesta itu. Tapi siapa ? Setiap orang dalam pesta itu berpeluang untuk melakukan hal itu. Mustahil kita menyelidiki setiap tamu. Tamu yang datang semalam tidak kurang dari seratus orang. Jadi, satu-satunya kemungkinan hanyalah motif ,” gumam Inspektur Budi.
“Sebaiknya anda kembali ke sana untuk menyelidiki lebih lanjut ,” Dokter Husin menasihati.
“Saya rasa juga begitu… Oh ya, catatan ini akan saya bawa ke kantor, Dokter. Apakah anda berkeberatan ?”
“Sama sekali tidak, Inspektur. Catatan yang anda pegang itu merupakan salinan dari yang asli, sementara berkas yang asli sudah masuk ke dalam arsip Rumah Sakit ,” kata Dokter Husin.
“Sekarang, kalau anda tidak berkeberatan, Inspektur ,” sambung Dokter itu. “Perkenankanlah saya meneruskan pekerjaan saya. Pasien-pasien saya sudah menanti saya .”
“Silakan Dokter ,” kata Inspektur Budi.
Dokter Husin menganggukkan kepala dan segera berlalu dari ruangan itu. Inspektur Budi tidak membuang waktu lagi. Ia segera keluar dan memacu kendaraannya kembali ke kantor polisi. Sesampainya di kantor polisi, Ia menyerahkan catatan itu kepada Letnan Haris.
“Tolong anda pelajari, Letnan ,” kata Inspektur.
“Baiklah, Pak ,” ujar Letnan Haris. Ia menerima berkas-berkas itu dari tangan Inspektur Budi.
“Aku tidak habis pikir… ” gumam Inspektur Budi.
Letnan Haris mengurungkan niatnya untuk keluar dari ruangan kerja Inspektur Budi karena disadarinya atasannya itu menginginkan pendapatnya akan sesuatu hal.
“Ada apa, Pak ?” tanya Letnan Haris.
“Bukti dan fakta telah menyatakan korban bunuh diri dengan minum obat tidur. Tapi mengapa sekarang ada fakta baru yang lebih membingungkan ? Sebenarnya apa yang telah terjadi ? Benarkah Pak Yohanes telah membunuh dirinya sendiri ? Tidak adakah kemungkinan kalau itu adalah pembunuhan ?”
Inspektur Budi mendesah.
“Pembunuhan atau bunuh diri ?” desisnya.
Letnan Haris menyimak sebentar berkas yang berada di tangannya. Ia baru mengerti apa yang tengah dipikirkan Inspektur Budi.
Inspektur Budi duduk di kursinya.
“Bagaimana pendapatmu, Letnan ?” tanyanya.
“Saya rasa, ada seseorang yang menginginkan kematiannya .”
Inspektur Budi bertambah bimbang.
Katanya lambat-lambat,
“Apakah kaupikir kejadian penyabotan mobil semalam ada hubungannya dengan kematian Pak Yohanes ?”
Letnan Haris berpikir,
“Kemungkinan itu ada, tapi saya tidak melihat bagaimana kedua kejadian itu saling berkaitan .”
“Lalu ada lagi ,” kata Inspektur. “Adik mereka, pernah mengalami kecelakaan tidak lama berselang. Kelihatannya seperti sesuatu yang direncanakan. Kejadian-kejadian itu disusun dengan rapi oleh seseorang yang menginginkan agar tujuannya tercapai .”
“Astaga… ” seru Letnan Haris. “Ternyata kasus ini jauh lebih rumit dari dugaan kita semula .”
“Yah… kau memang benar. Semula aku terlalu meremehkan kasus ini. Tapi sekarang aku baru tahu bahwa kasus ini bukan sembarang kasus ,” kata Inspektur Budi.
“Apakah anda akan menyusun teori baru berkenaan dengan munculnya fakta yang terakhir itu, Inspektur ?”
Inspektur terdiam. Lalu katanya,
“Aku akan kembali lagi ke rumah itu ,” gumamnya. “Sekarang kau boleh pergi, Letnan .”
Inspektur Budi menyulut rokoknya setelah Letnan Haris keluar dari ruangannya. Ia berusaha memeras otak.
“Kalau memang benar ada seseorang yang berdiri di belakang semua ini, bagaimana ia mengatur pembunuhan terhadap Pak Yohanes terlihat seperti bunuh diri ? Tunggu dulu… “
Inspektur memikirkan gagasan yang baru saja terlintas di benaknya.
“Apakah Pak Yohanes benar-benar meninggal akibat pil-pil obat tidur itu ? Bagaimana kalau ia sudah meninggal sebelum menelan pil-pil itu ?”
Inspektur menggelengkan kepala.
“Bodoh sekali… Kalau ia sudah mati sebelum menelan pil-pil itu, lalu siapa yang memasukkan pil-pil itu ke dalam tubuhnya kalau bukan ia sendiri ?”
“Pak Yohanes pasti meninggal akibat pil-pil itu .” Inspektur membuang dugaannya yang pertama. Tiba-tiba ia teringat akan sesuatu hal yang diabaikannya.
“Apa yang dirasakan Pak Yohanes sehingga ia harus meninggalkan permainan catur yang merupakan kegemarannya ? Aku berani bertaruh tepat pada saat itulah ia merasakan pengaruh dari zat itu .”
Inspektur Budi berjalan mondar-mandir. Lalu ia teringat akan hal yang lain.
“Saat pertama kali menyambutku, sekilas ada sedikit perubahan pada wajahnya. Aku sempat mencurigainya. Dan lagi… kata-kata Jenny di luar rumah saat itu telah terbukti kebenarannya. Aku menyesal telah mengabaikannya. Sayangnya ia menderita amnesia. Aku yakin, semua teka-teki ini akan tersingkap kalau ingatan gadis itu telah kembali .”
Inspektur menghisap rokoknya dalam-dalam, kemudian ia mematikan rokok itu dan menaruh puntungnya di atas asbak yang ada di meja kerjanya. Inspektur Budi melihat arlojinya.
“Hmmm… jam setengah tiga. Lebih baik aku segera ke sana .”
Inspektur Budi meraih jaketnya lalu bergegas keluar.

Pukul tiga lebih beberapa menit.
Inspektur Budi meletakkan sepeda motornya di halaman rumah Pak Yohanes. Kembali ia terpukau akan keanggunan rumah itu.
Kepala Polisi itu mendongak ke atas. Dilihatnya Patricia dan Helen melambai-lambaikan tangan mereka dari balkon. Inspektur Budi membalas lambaian mereka, lalu ia bergegas berjalan menuju ke rumah.
Seorang wanita yang usianya lebih dari lima puluh tahun berdiri di depan pintu. Badannya agak kurus dan perawakannya cukup tinggi. Rambutnya yang beruban digelung ke atas menunjukkan kepribadiannya yang keras. Kerutan di wajahnya tidak begitu tampak. Sekalipun demikian, wanita itu masih kelihatan sehat dan kuat.
Inspektur Budi membungkukkan badannya sedapat mungkin.
“Maafkan atas kelancangan saya. Perkenankan saya memperkenalkan diri. Saya dari kepolisian Bogor .”
“Ah… Rupanya Pak Polisi. Kalau tidak salah anda adalah Inspektur Budi. Banyak orang yang telah membicarakan anda. Nama saya adalah Larasati. Keponakan-keponakan saya sering memanggil saya dengan sebutan Bibi Laras. Senang berkenalan dengan anda, Inspektur .”
Wanita itu mengulurkan tangannya dan Inspektur Budi menyambutnya dengan senang hati.
Kata Inspektur Budi,
“Rupanya anda yang dibicarakan Viola tadi siang. Saya tidak menduga kalau anda masih kelihatan kuat pada usia anda yang sekarang ini .”
Bibi Laras merasa tersanjung.
“Anda tidak perlu memuji seperti itu, Inspektur. Walaupun usia saya sekarang hampir mencapai enam puluh, tapi saya masih bersemangat seperti layaknya seorang gadis .”
Inspektur Budi tersenyum.
“Ngomong-ngomong ,” katanya. “Anda baru saja tiba ?”
“Kurang lebih sejam yang lalu ,” sahut Bibi Laras. “Saya masih mengerjakan beberapa tugas saat Maria menelepon saya tentang kejadian yang menimpa Yohanes. Setelah semua tugas terselesaikan, saya segera berangkat ke sini .”
“Sendirian ?” tanya Inspektur Budi.
“Sendirian. Saya tidak mempunyai anak. Suami saya meninggal beberapa tahun yang lalu yah… beberapa bulan setelah kami pindah ke Bandung .”
Mata wanita itu berkaca-kaca.
“Maafkan saya. Saya tidak bermaksud …”
“Sudahlah, Inspektur ,” potong Bibi Laras. “Kejadian itu sudah lama sekali .”
“Kalau boleh saya tahu ,” kata Inspektur Budi dengan hati-hati. “Anda adalah kakak Pak Yohanes dan Ibunya Viola. Tidak adakah saudara yang lain ?”
Bibi Laras menggeleng.
“Tampaknya anda sudah mengetahui latar belakang keluarga kami. Kami memang tiga bersaudara, Inspektur .”
Seperti biasanya, mata Inspektur yang tajam menangkap kebohongan pada kata-kata yang telah diucapkan oleh Bibi Laras. Perwira Polisi itu memendam rasa curiganya.
Wanita itu merasa kikuk. Lalu katanya,
“Saya merasa tidak enak berbincang-bincang di sini .”
“Sama sekali tidak apa-apa ,” hibur Inspektur Budi. Ia berjalan ke arah taman.
“Taman yang sangat indah ,” kata Inspektur.
“Pak Selo yang membuatnya. Ia memang berbakat dalam hal penataan taman dan tumbuh-tumbuhan .”
“Siapakah Pak Selo itu ?” tanya Inspektur.
“Dia adalah tukang kebun di rumah ini. Walaupun usianya sudah tua namun saya rasa ia masih kuat bekerja. Hampir sepuluh tahun lamanya ia menjadi tukang kebun di sini .”
“Mengapa ia tidak kelihatan ?”
“Kata Maria, sudah dua minggu ini ia mengambil cuti, pulang ke kampung halamannya ,” kata Bibi Laras.
Inspektur bergumam,
“Jadi ia tidak berada di sini semalam .”
Bibi Laras menatap Inspektur Budi.
“Apa yang anda katakan, Inspektur ?”
“Oh.. Bukan apa-apa. Lupakanlah ,” kata Inspektur Budi sedikit gugup.
“Jika ada sesuatu yang ingin anda kerjakan ..” lanjut polisi itu. “Saya tidak berkeberatan anda meninggalkan saya. Silakan anda masuk, nanti saya akan menyusul .”
Bibi Laras tersipu.
“Anda sangat pandai menebak jalan pikiran seseorang, Inspektur ,” katanya. Lalu wanita itu masuk ke dalam rumah.
Inspektur Budi masih tidak beranjak dari tempatnya semula. Ia merasa terpukau akan keindahan taman itu. Hampir dua puluh menit lamanya ia berdiri di situ. Matahari senja yang indah menerangi dan menghangatkan tubuhnya. Kenyamanan itulah yang membuat Inspektur Budi terbuai dalam angan-angannya sendiri. Ia baru tersadar saat angin berhembus kencang menerpa tubuhnya. Inspektur Budi melangkah ke dalam rumah. Kesan pertama yang diperolehnya adalah teguran kasar dari Maria.
“Inspektur… Untuk apa anda datang lagi kemari ? Bukankah sudah cukup kejadian yang kami alami ? Apakah anda ingin menginterogasi kami seperti kemarin malam ?”
Maria berdiri tegak menghadang Inspektur Budi. Gadis itu terlihat masih tenggelam dalam duka. Ia mengenakan pakaian yang berwarna hitam.
Inspektur berkata dengan lembut,
“Maafkan kalau kedatangan saya ini mengganggu. Saya datang untuk ikut berduka cita atas kematian papamu. Saya mengerti bagaimana perasaan anda. Sangat menyedihkan …”
Sikap Maria melunak.
“Maafkan saya, Inspektur. Saya.. Saya merasa kehilangan pegangan. Saya benar-benar bingung dan tidak tahu apa yang harus saya perbuat. Jadi saya lebih sering marah-marah untuk melepaskan emosi .”
“Dimanakah suami anda ?” tanya Inspektur Budi.
“Ia ada bersama dengan yang lainnya di ruang tengah ,” jawab Maria pelan.
“Sebaiknya kita juga bergabung bersama mereka ,” lanjutnya.
Inspektur Budi menyetujuinya.
Begitu memasuki ruangan, Bibi Laras berjalan ke arah mereka.
“Aduh, Maria. Darimana saja kau ? Kami sedang membicarakan hal pemakaman papamu .”
“Jenazah papa sekarang ada di Rumah Sakit. Barangkali untuk satu dua hari kita tidak dapat mengambilnya ,” kata Maria.
Inspektur Budi menyela,
“Saya rasa pemeriksaan sudah selesai. Anda dapat mengambilnya besok. Paling lambat pemakaman itu harus dapat dilaksanakan esok lusa .”
“Bagus… Makin cepat makin baik ,” sahut Bibi Laras. “Sementara itu aku akan mengurus dan mempersiapkan hal-hal lain yang berkaitan dengan pemakamannya .”
“Bibi… ” kata Maria. “Bibi tidak perlu repot-repot .”
Bibi Laras tersenyum.
“Tidak. Bibi tidak repot. Ini sudah menjadi kewajiban Bibi sebagai kakak tertua. Kau tidak perlu cemas, Maria .”
Kemudian mereka berjalan ke sudut dimana orang-orang berkumpul.
Viola dan lainnya berhenti berbicara ketika melihat tiga orang itu.
“Semuanya sudah berkumpul rupanya ,” kata Bibi Laras.
Henry menatap Inspektur Budi dengan pandangan agak curiga. Ia merasa tidak mengundang orang lain.
“Inspektur ,” katanya. “Saya harap anda mengetahui kalau pertemuan ini adalah pertemuan keluarga dan saya berkeberatan jika anda ikut hadir di sini .”
“Oh… Begitu ,” sahut Inspektur Budi. “Baiklah, saya akan meninggalkan anda sekalian. Tapi bolehkah saya melihat-lihat ke sekeliling rumah ?”
“Untuk apa ? Kan persoalannya sudah selesai. Mertua saya bunuh diri. Bukankah anda sendiri yang menyatakannya semalam ?” kata Henry.
Maria mencoba menenangkan suaminya.
“Sudahlah, kau jangan marah-marah seperti itu .”
“Perkataan Henry ada benarnya ,” kata Bibi Laras. “Menyesal sekali saya harus mengatakan hal itu. Saya rasa anda dapat menunggu di ruang tamu. Tapi kami tidak bermaksud bersikap kurang ramah terhadap anda, Inspektur. Saya harap anda tidak tersinggung karenanya .”
“Tentu saja tidak ,” potong Inspektur cepat-cepat. Ia segera beranjak meninggalkan ruangan itu.
Henry mendengus kesal.
“Mentang-mentang polisi lalu bertindak semaunya ,” katanya.
Patricia kurang sependapat. Katanya,
“Kurasa tidak. Ia hanya seorang petugas yang sangat setia menjalankan tugasnya. Bukankah begitu, Viola ?”
Viola mengangguk.
“Dia hanya ingin mengadakan penyelidikan terhadap kasus yang dihadapinya. Mungkin untuk meyakinkan teorinya .”
“Apa lagi yang harus diselidiki ?” kata Henry.
Viola bergumam sendirian,
“Ada hal lain …”
Henry tidak mendengar gumaman itu. Ia begitu gelisah menanti kedatangan orang tua Viola.
“Mengapa mereka belum datang juga ?” katanya. “Kalau mereka belum datang, pertemuan ini tidak dapat kita mulai .”
Bibi Laras memegang bahu laki-laki itu.
“Bersabarlah… Sebentar lagi mereka pasti datang .”
Setelah itu semuanya membisu. Ruangan itu menjadi sunyi. Henry berjalan mondar-mandir di sepanjang ruangan itu. Maria dan Bibi Laras berdiri di sudut ruangan. Viola bersandar pada dinding sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Patricia, Helen dan Jenny duduk di sofa dengan perasaan tegang. Menit-menit berlalu tanpa ada seorang pun yang bersuara. Hentakan kaki Henry yang sedang gelisah terdengar menggema di ruangan itu. Semua yang ada di ruangan itu kelihatan begitu gelisah dan tegang seakan tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
Sementara itu, matahari hampir tergelincir di batas cakrawala. Sinarnya yang indah masih dapat dinikmati pada saat itu. Tidak lama lagi malam akan menjelang. Angin berhembus semakin kencang.
Seorang pria berperawakan gendut berdiri di halaman rumah Pak Yohanes sambil menikmati rokoknya. Inspektur Budi seperti tidak terpengaruh dengan keadaan tegang yang dirasakan orang-orang lainnya. Ia tengah berpikir sendiri.
“Keluarga yang aneh ,” pikirnya. “Setiap orang dalam keluarga ini seakan-akan menyembunyikan sesuatu. Pandangan mereka seperti mengandung kebohongan. Pak Yohanes sendiri pernah berbohong kepadaku. Wanita itu, kakaknya… ia juga sepertinya tidak jujur. Lalu… “
Inspektur Budi menghisap rokoknya dalam-dalam. Kemudian ia melanjutkan pemikirannya.
“Sikap Henry sepertinya aneh sekali. Mengapa ia berkeras mengatakan kalau perkaranya sudah selesai ? Sepertinya ia merasa bersyukur dengan terjadinya tragedi itu. Jelas-jelas ia menolak kedatanganku. Pasti ada sesuatu yang disembunyikannya .”
“Ada lagi. Jenny… Gadis ini harus segera sembuh. Aku sangat yakin, ia akan membantu memberikan keterangan yang kubutuhkan. Bagaimanapun juga, ada orang yang mengatur kecelakaan semalam. Dan siapa pun dia, telah mempunyai sifat sebagai seorang pembunuh .”
Inspektur Budi mendesah.
“Aku tidak tahu apakah peristiwa kecelakaan yang nyaris terjadi itu ada hubungannya dengan kematian Pak Yohanes. Ah.. perkara ini jadi semakin memusingkan saja .”
Baru saja Inspektur hendak beranjak dari tempatnya saat ada seseorang yang menegurnya.
“Rupanya kau ,” kata Inspektur Budi.
Jenny berdiri tegak di hadapan perwira polisi itu. Rambutnya yang hitam dan panjang dibiarkan tergerai dipermainkan angin. Wajahnya yang cantik tampak indah diterpa sinar matahari sore. Gaunnya yang putih bersih berkibar-kibar. Gadis itu sungguh mempesona bagaikan seorang puteri Raja yang anggun.
“Apa yang kau lakukan di sini ?” tanya Inspektur Budi.
Jenny tidak segera menjawab. Ia membalikkan tubuhnya membelakangi Inspektur.
“Saya harus mengatakannya kepada anda…” keluar juga kata-kata itu dari bibirnya yang mungil.
Inspektur Budi mendekati gadis itu.
“Ceritakanlah agar beban di hatimu berkurang ,” bisiknya.
Jenny membalikkan tubuhnya.
“Tapi anda tidak akan percaya kepada saya seperti kemarin malam ,” katanya.
“Sekarang tidak. Aku sangat percaya kepadamu. Kupikir kau membutuhkan seseorang sebagai teman bicara .”
“Sebelumnya ,” sambung Inspektur Budi. “Apakah kau tidak dicari oleh yang lainnya ? Mengapa kau meninggalkan mereka ?”
“Saya merasa tidak betah ,” kata Jenny. “Suasananya… seperti mencekam. Penuh dengan ketegangan. Saya katakan kalau saya ingin berjalan-jalan sejenak .”
“Kalau begitu mereka tidak akan mencarimu. Nah, sekarang ceritakan apa yang ada di benakmu .”
Jenny terdiam. Inspektur Budi bisa membaca kebimbangan dari pandangan matanya.
“Ayolah… kau tidak akan bisa memendam perasaan itu seorang diri. Kau harus menceritakannya kepadaku. Apakah masalah ini berkaitan dengan kematian papamu ?”
Jenny mengangguk.
“Lalu ?” Inspektur berusaha membujuk gadis itu.
Jenny mulai bercerita,
“Kemarin malam, saya pernah mengatakan kepada anda, bahwa saya merasakan akan terjadi sesuatu pada pesta Maria. Tahukah anda, mengapa saya bisa memiliki firasat semacam itu ? Karena selama seminggu sebelumnya, setiap malam saya selalu bermimpi buruk. Sejak terjadi kecelakaan itu, saya selalu dihantui perasaan-perasaan takut yang tidak beralasan. Dan mimpi-mimpi itu, begitu… mengerikan .”
Gadis itu menguatkan hatinya.
“Mimpi itu selalu sama. Dalam mimpi, saya melihat pesta Maria sudah berlangsung. Orang-orang tampak bergembira dan suasananya begitu menyenangkan .”
Jenny menarik napas. Kelihatannya ia tidak sanggup lagi menceritakannya kepada Inspektur Budi.
“Bagaimana selanjutnya ?” desak Inspektur Budi.
“Tiba-tiba dari arah pintu, papa muncul. Papa berjalan sempoyongan dan berusaha meminta bantuan. Yang mengerikan adalah pakainnya robek-robek dan wajahnya berlumuran darah .”
Mata gadis itu berkaca-kaca. Ia terus melanjutkan ceritanya,
“Anehnya, semua orang yang hadir justru tertawa-tawa sementara papa berteriak minta tolong. Dan yang lebih menyakitkan Maria dan suaminya, juga Patty dan Helen ikut tertawa bersama dengan lainnya. Saya tidak habis pikir. Saya ingin menolong papa tapi rasanya tidak bisa. Saya seperti berada di alam lain. Semua orang yang hadir tidak dapat melihat ataupun mendengar saya. Kemudian papa roboh ke lantai. Ia seperti mengucapkan kata-kata sumpah yang ditujukan kepada orang lain. Tangannya menggapai-gapai lalu papa terbaring diam. Saya menjerit sekuatnya melihat keadaan papa seperti itu. Kemudian saya terbangun…”
“Mimpi yang sangat aneh ,” komentar Inspektur Budi.
“Mimpi itu begitu nyata seolah-olah telah terjadi dan ternyata memang terjadi walaupun tidak sama persis .”
Jenny menarik napas panjang. Katanya,
“Tahukah anda, Inspektur ? Saya begitu berkeras mengatakan kalau papa telah dibunuh. Entah bagaimana caranya seseorang pasti mendalangi semua kejadian ini .”
Kata Inspektur Budi,
“Kalau pendapatmu benar, apakah kau mempunyai dugaan siapa kira-kira yang melakukan tindakan itu ?”
“Saya mencurigai teman papa …” kata Jenny.
Inspektur Budi mengerutkan dahi.
“Maksudmu, Pak Kosasih ?”
Jenny mengangguk.
“Sikapnya terhadap papa terlalu berlebihan. Saya yakin ada sesuatu yang disembunyikannya dibalik sikapnya itu .”
“Aku pun berpikir begitu ,” kata Inspektur.
Inspektur Budi menyambung kata-katanya,
“Dengarkan baik-baik … Dapatkah kau mengingat siapa orang yang telah menyelamatkanmu saat kecelakaan itu menimpamu ? Mengapa orang itu tidak pernah lagi menampakkan dirinya setelah menolong dirimu ?”
Jenny termenung sesaat.
“Entahlah… Yang pasti saya merasakan tubuh saya digendong oleh seseorang. Setelah itu saya tidak ingat apa-apa lagi .”
“Sayang sekali ,” kata Inspektur Budi. “Aku berharap kau dapat mengingat-ingat kejadian itu .”
“Apakah hal itu ada hubungannya dengan kejadian ini ?”
“Mungkin saja …” gumam Inspektur. “Bagaimana dengan peristiwa kecelakaan itu sendiri. Apakah kau tidak dapat mengingatnya sedikit pun ?”
“Saya sudah mencoba berkali-kali. Tetap tidak bisa. Nanti kalau saya sudah mengingatnya saya akan menelepon anda .”
Inspektur Budi menyerahkan sebuah kartu namanya kepada gadis itu. Kemudian ia berkata lagi,
“Apakah kau sudah mengetahui kejadian lain yang nyaris terjadi semalam ?”
Jenny terkejut.
“Astaga… Ada apa lagi ?” tanyanya. Viola, Patricia dan Helen memang tidak menceritakan hal tersebut kepada Jenny. Inspektur Budi menceritakan peristiwa yang menimpa dirinya dan Viola pada malam sebelumnya.
“… dan karena tidak ada alasan seseorang akan mencelakakan salah seorang diantara kami, aku yakin kecelakaan itu ditujukan kepada kakakmu, pemilik mobil itu .”
“Mengerikan… Ini betul-betul mengerikan ! Semula saya, lalu papa dan Patricia setelah itu mungkin Maria. Oh … Tuhan, sepertinya ada orang yang menginginkan kematian kami. Padahal keluarga kami sangat baik kepada orang-orang. Dan kami sama sekali tidak mempunyai musuh .”
“Begitulah kehidupan. Kejam dan tidak berperasaan. Tapi kau tidak perlu merasa khawatir. Aku akan membantu menguak kasus ini. Terus terang kasus ini adalah kasus paling rumit yang pernah kutangani .”
Tiba-tiba Jenny tampak tegang. Bibirnya bergetar saat ia mengucapkan kata-kata.
“Jangan-jangan orang itu …”
Inspektur Budi terkejut.
“Siapa ?” tanyanya.
Jenny menoleh ke arah polisi itu. Matanya yang bening dan indah menatap mata Inspektur Budi.
“Orang itu… Tidak tahu siapa dia. Orang itu berada di taman ikut mendengarkan pembicaraan kami, maksud saya Patricia, Helen, Viola dan saya. Ketika kami meninggalkan taman, saya sempat berpaling dan melihat orang itu keluar dari semak-semak yang rimbun. Tapi ia segera menghilang .”
“Satu petunjuk lagi ,” gumam Inspektur Budi. “Laki-laki atau perempuan ?”
Jenny mengangkat bahu.
“Dari jauh, saya hanya tahu kalau orang itu mengenakan celana. Tapi itu kan belum membuktikan kalau orang itu laki-laki, kan ? Bisa saja perempuan yang menyamar .”
“Yang jelas… ” kata Inspektur Budi. “Orang yang mencuri dengar pembicaraan orang lain pasti memiliki maksud-maksud yang tidak baik. Bisa jadi dialah yang mengatur semua kejadian ini .”
“Semua masalah ini saya serahkan kepada anda, Inspektur .”
Inspektur tersenyum.
“Jangan cemas… Aku akan memecahkan kasus ini. Aku berjanji, percayalah .”
Inspektur Budi memegang bahu gadis itu untuk memberikan semangat kepadanya. Saat itu, matahari sudah hampir terbenam. Suara bedug bertalu-talu terdengar dari kejauhan memanggil umat Islam untuk melaksanakan sembahyang. Kegelapan malam mulai membayang. Bersamaan dengan itu, angin berhembus semakin kencang.
Sebuah mobil melintas masuk ke halaman rumah. Inspektur menangkap sosok Andre keluar dari mobil. Tidak berapa lama, seorang pria yang agak tua disertai dengan seorang wanita keluar dari mobil.
Inspektur Budi berdiri diam tanpa reaksi sementara ketiga orang itu berjalan semakin mendekat.
Wanita itu menurunkan gagang kacamata yang dipakainya lalu berseru,
“Jenny…Betulkah kau Jenny ?”
Jenny menghambur ke pelukan wanita itu lalu menangis tersedu-sedu. Wanita itu berusaha menenangkan perasaannya. Ia membelai rambut gadis itu dengan lembut. Inspektur Budi hanya melihat ke arah mereka tanpa melakukan sesuatu.
Yang disebut sebagai Pak Gregorius dan Andre berjalan ke arah dimana Inspektur berdiri.
“Oh… Inspektur. Rupanya anda di sini ,” sapa Andre. Pemuda itu memperkenalkan Inspektur Budi dengan Pak Gregorius.
“Laki-laki yang gagah. Walaupun ia lebih tua dariku namun jelas ia lebih kuat karena ia seorang keturunan Belanda. Tidak heran kalau anaknya dapat bersekolah di negeri kincir angin itu. Ia cukup lancar dalam berbahasa Indonesia .” Inspektur Budi berbicara dengan dirinya sendiri.
“Mengapa anda memandangi saya ?” kata Pak Gregorius.
Andre menyahut,
“Ia adalah papanya Viola, Inspektur .”
Inspektur Budi mengangguk.
“Saya sudah menduganya ,” katanya. “Dan maafkan saya, Pak. Saya tidak bermaksud menyinggung perasaan anda .”
Pak Gregorius tertawa.
“Tidak apa. Saya senang dapat berkenalan dengan anda, Inspektur .”
Sementara itu, istrinya dan Jenny berjalan berdampingan menuju ke arah mereka. Inspektur Budi melihat bahwa wanita itu adalah wanita asli dari Indonesia. Kulitnya kuning langsat. Perawakannya tidak begitu pendek tetapi juga tidak dapat dikatakan tinggi. Rambutnya dipotong pendek dan masih kelihatan hitam walaupun usianya sudah empat puluh lima tahun lebih. Wajahnya yang masih tampak cantik dilapisi make up yang agak berlebihan. Ia juga mengenakan perhiasan cukup menyolok. Pakaian yang dikenakannya juga tidak bisa dibilang murah. Dari penampilan wanita itu, Inspektur Budi dapat menerka kepribadiannya yang gemar bermewah-mewah. Sangat berbeda dengan penampilan Viola yang sederhana atau bahkan terlalu santai.
Dilihat dari penampilan Bu Gregorius, Inspektur menarik kesimpulan keluarga Viola adalah keluarga yang cukup mampu. Ia merasa agak enggan ketika harus berjabatan tangan dengan wanita itu.
“Baiklah ,” kata Bu Gregorius. “Sekarang kita masuk ke dalam rumah .”
Ia mendahului masuk sebelum yang lain-lainnya.
Inspektur Budi berjalan ke samping rumah. Ia berharap dapat bertemu dengan seseorang yang dapat diajaknya bercakap-cakap.
Harapannya terkabul. Di bagian belakang rumah, ternyata ada pekarangan yang cukup luas. Pekarangan itu cukup terawat. Rumput yang tumbuh selalu dijaga agar tidak tumbuh. Namun pekarangan itu tidak seluas yang ada di depan. Seorang wanita berbadan gembrot duduk di sebuah bangku. Dari penampilannya Inspektur dapat memastikan kalau ia adalah salah seorang pelayan yang bekerja di rumah itu.
Inspektur menegur wanita itu.
“Selamat petang ,” katanya.
Wanita itu tergagap. Sepertinya ia sedang melamun dan teguran Inspektur Budi telah membuyarkan lamunannya.
“Maaf saya tidak melihat anda ,” kata wanita itu.
“Tak apalah ,” kata Inspektur Budi. “Anda pelayan di sini ?”
“Begitulah… Nama saya Lusi, tapi mereka selalu memanggil saya dengan panggilan Bibi. Dan saya lebih suka dipanggil seperti itu. Saya kepala pelayan di rumah ini. Dulu Pak Yohanes sangat mempercayai saya. Tapi… mungkin sekarang saya tidak akan bekerja lagi di sini .”
“Mengapa demikian ?”
“Suami Maria mengambil alih segala sesuatu setelah kematian mertuanya. Saya tidak suka dengan laki-laki itu. Sepertinya ia sangat gembira atas kematian Pak Yohanes. Sebaliknya saya merasa sangat kehilangan. Kira-kira lima belas tahun saya bekerja di sini. Saya yakin, Henry akan bertindak semaunya. Saya tidak habis pikir mengapa Maria bisa jatuh cinta dengan orang seperti dia .”
“Mengapa anda tidak suka kepadanya ? Saya rasa, ia laki-laki yang baik .” Inspektur berusaha memancing emosi wanita itu.
Mata wanita itu terbelalak.
“Baik ? Huh… Itu yang selalu dikatakan orang kepadanya. Ia tidak lebih hanyalah seorang laki-laki yang haus akan harta. Laki-laki yang mata duitan ! Saya bahkan meragukan apakah ia benar-benar mencintai Maria. Dan sebenarnya ia tidak cocok dengan Pak Yohanes. Coba anda pikir, kemarin pagi ia sempat bertengkar dengan mertuanya itu. Apakah itu tidak gila namanya ?”
Reaksi Inspektur cukup tanggap. Katanya,
“Mereka bertengkar ? Mengapa ?”
“Saya tidak tahu pasti. Barangkali masalah warisan. Henry memang orang yang berambisi. Mungkin saja ia ingin menguasai seluruh harta kekayaan Pak Yohanes. Setelah itu tercapai, Maria akan dicampakkannya. Ia tahu kalau saya tahu rencananya yang busuk, karenanya ia berusaha menyingkirkan saya .”
“Tapi.. eh, mungkin anda keliru menilai Henry ? Mungkin semua itu hanya perasaan anda belaka ?”
“Saya tidak pernah keliru ,” kata wanita itu dengan tegas.
“Ngomong-ngomong… ” kata Inspektur Budi. “Anda cukup lama bekerja di sini. Jadi anda tahu betul seluk beluk keluarga ini .”
“Tentu saja. Saya bekerja di sini sejak Jenny masih kecil. Saya ikut merawatnya. Ibunya sendiri sudah meninggal kira-kira dua atau tiga tahun sebelumnya. Masa kanak-kanak mereka sangat menyenangkan. Patty, Helen dan Jenny sangat akrab sejak dulu. Mereka benar-benar cocok satu sama lain. Tapi saya rasa, perhatian Pak Yohanes lebih tercurah kepada Maria. Ia memang gadis yang baik. Tapi menurut saya, Jenny lebih cantik daripada Maria. Beberapa bulan setelah saya bekerja di sini, Ibunya Maria sakit keras dan meninggal. Pak Yohanes merasa sangat kehilangan atas kepergian isterinya. Sejak saat itu, semua tugas merawat anak-anak menjadi tanggung jawab saya sepenuhnya. Saya merasa berbahagia menjadi bagian dalam keluarga ini. Waktu berlalu begitu cepat. Sekarang Maria telah menikah di usianya yang kedua puluh lima ini. Patty sendiri akan merayakan ulang tahunnya yang kedua puluh enam bulan depan. Usia Helen dua puluh dua tahun, terpaut empat tahun dari kakaknya. Kalau Jenny… Ia masih remaja. Usianya baru sembilan belas tahun .”
Wanita itu menarik napas lalu melanjutkan,
“Anda lihat ? Saya begitu mengenal anak-anak Pak Yohanes seperti mengenal anak-anak saya sendiri .”
Inspektur mengangguk-anggukkan kepalanya. Sedikit banyak ia sudah mulai mendapatkan informasi tentang keluarga Pak Yohanes.
“Bagaimana dengan Viola, sepupu mereka ?” tanya Inspektur. “Apakah anda juga mengenalnya secara dekat ?”
“Siapa ? Oh… Gadis itu, anak Pak Gregorius. Saya tidak begitu mengenalnya. Ia sebaya dengan Maria. Tapi saya mengakui gadis-gadis itu berteman sangat akrab sejak kecil .”
Inspektur mengalihkan pembicaraan.
“Berapa orang yang bekerja di sini ?”
Wanita itu berpikir sebentar lalu menghitung-hitung dengan jari tangannya.
“Sebentar… Saya, Susi, Sinta, Erni, Herman, Pak Selo. Semuanya ada enam orang .”
Wanita itu melanjutkan,
“Herman itu sopir pribadi Pak Yohanes. Setahun lebih ia bekerja di rumah ini. Pak Selo adalah tukang kebun. Ia telah bekerja di sini kira-kira sepuluh tahun lalu. Susi dan Erni adalah pelayan rumah. Mereka telah bekerja di sini dua atau tiga tahun lalu. Sementara Sinta baru bekerja kira-kira sebulan yang lalu. Ia juga membantu pekerjaan saya. Tapi gadis itu seperti tertutup dan selalu merasa curiga apabila ada orang yang ingin mengetahui tentang dirinya .”
“Mengapa semalam ada banyak pelayan ?”
“Sebagian besar mereka adalah pelayan rumah makan yang disewa oleh Pak Yohanes untuk melayani para tamu .”
“Anda tinggal di sini ?”
Wanita itu mengangguk. Katanya,
“Sejak dulu. Bukankah saya sudah mengatakan kalau saya sudah dianggap menjadi anggota keluarga oleh Pak Yohanes ? Saya tinggal di belakang. Pak Yohanes menyediakan kamar yang cukup luas untuk saya tempati. Saya memang sebatang kara, tidak mempunyai siapa-siapa lagi .”
“Kalau begitu, anda tidak mengetahui kejadian semalam. Anda baru tahu pagi ini kalau Pak Yohanes meninggal. Benarkah kata-kata saya ini ?”
“Benar… Setelah minum beberapa gelas, kepala saya terasa berat sekali. Saya memang ceroboh. Saya tidak biasa minum anggur tapi saya paksa juga. Lalu saya segera masuk ke dalam kamar dan tertidur pulas sampai pagi .”
“Bagaimana para pelayan lainnya ?”
“Mereka kebanyakan kost atau punya rumah sendiri. Saya kira mereka sudah pulang sebelum saya masuk kamar. Pak Selo tidak hadir semalam. Ia mengambil cuti selama dua minggu dan sampai sekarang belum kembali. Dan saya sempat mendengar Pak Yohanes mengatakan kepada Herman kalau ia tidak melarangnya pulang, tapi ia akan memanggilnya lagi untuk mengantarkan seseorang .”
Inspektur tersenyum sendiri. Ia menyadari kalau ialah yang dimaksud Pak Yohanes dengan mengantarkan ‘seseorang’ itu.
“Herman juga mengatakan sebenarnya ia ingin tinggal tapi kepalanya terasa pusing dan ia ingin segera tidur .”
“Ingatkah anda kapan anda meninggalkan pesta untuk masuk ke kamar anda ?”
“Saya tidak tahu pasti. Sekitar jam sebelas .”
“Bagaimana dengan pelayan lainnya ?”
“Mereka telah pulang lebih dulu dari lain-lainnya .”
“Oh.. ya, bagaimana pendapat anda sendiri tentang kejadian itu ? Maksud saya, tentang kematian Pak Yohanes .”
Wanita itu bangkit dari tempat duduknya selama ini.
“Saya sungguh tidak mengerti. Selama ini, saya mengenalnya secara dekat. Pribadinya begitu tegar. Saya tidak habis pikir mengapa ia sampai melakukan tindakan itu. Hampir-hampir tidak masuk akal .”
Inspektur Budi memotong.
“Tidak terpikirkah oleh anda bahwa kejadian itu ada yang mengaturnya ?”
Wanita itu ternganga.
“Maksud anda, ia telah dibunuh ?”
Inspektur Budi mendesah.
“Kemarin, saya tidak ragu mengatakan bahwa Pak Yohanes telah membunuh dirinya sendiri. Tapi setelah kejadian-kejadian lain terjadi secara misterius, saya menjadi bimbang. Benarkah Pak Yohanes telah bunuh diri ? Atau adakah seseorang yang menginginkan kematiannya ? Itulah pertanyaan yang kita hadapi sekarang. Pembunuhan atau bunuh diri ?”
Wanita itu menggaruk-garuk kepalanya.
“Saya tidak habis pikir… Tapi, kalau memang ada yang membunuh majikan saya, saya bersumpah akan meremukkan tulang-tulangnya seperti ini.. Hih !”
Ia membuat suatu gerakan seperti meremukkan sesuatu. Inspektur merasa geli. Dengan badannya seperti itu, wanita itu akan mampu meremukkan siapa saja.
Inspektur kembali bertanya,
“Adakah seseorang dalam keluarga Pak Yohanes yang begitu membencinya ?”
“Setahu saya, semua anak-anaknya sangat mencintai papanya. Kalau saudara sepupu mereka, saya rasa ia juga gadis yang baik. Jadi tidak ada alasan bagi mereka menginginkan kematian Pak Yohanes. Jadi, tinggal Henry. Ya… Itu dia ! Ia sempat bertengkar dengan Pak Yohanes. Mungkin itulah penyebab malapetaka ini. Selain dia saya rasa tidak ada orang lain yang dapat dicurigai. Oh.. ya, ngomong-ngomong apakah anda seorang polisi ?”
Inspektur Budi tidak menjawab. Ia menyodorkan kartu namanya di depan wanita itu.
“Jadi anda harus mengerti. Saya berusaha mencari kebenaran. Dan saya harap anda membantu memberikan informasi yang saya butuhkan .”
“Saya merasa dihargai ,” kata wanita itu bangga.
“Baiklah… Bagaimana dengan orang lain selain Henry ? Misalnya sahabat Pak Yohanes, dua orang itu ?”
“Oh… mereka. Kedua orang itu bersahabat baik dengan Pak Yohanes sejak beberapa tahun lalu. Saya tidak melihat alasan mereka atau salah seorang dari mereka untuk mencelakai Pak Yohanes. Kecuali kalau ada kejadian-kejadian yang tidak saya ketahui .”
“Lalu bagaimana dengan teman pria dari puteri-puteri Pak Yohanes ? Kenalkah anda dengan mereka ?”
“Saya tidak begitu akrab dengan mereka. Jadi saya tidak berani memberikan penilaian. Tapi saya rasa tidak ada yang patut dicurigai dari mereka .”
“Apakah anda merasa yakin tidak ada orang lain lagi setelah pesta usai di belakang rumah selain anda ? Mungkin ada salah seorang pelayan kembali ke rumah untuk mengambil sesuatu ?”
Wanita itu tampak bimbang.
“Terus terang, Inspektur. Saya tidur nyenyak sekali jadi saya tidak berani memastikan. Tapi, saya rasa tidak .”
“Satu hal lagi ,” kata Inspektur Budi. “Anda sebagai pelayan di sini pasti tahu betul seluk beluk rumah ini. Apa yang biasanya dikerjakannya saat berada di kamar kerjanya ?”
“Ia mengarang. Saya juga tidak mengerti mengapa ia begitu tekun dalam pekerjaan itu. Kalau sudah berada di kamarnya biasanya ia tidak suka diganggu oleh siapa pun .”
“Apakah ia selalu mengunci pintunya saat berada di kamar kerjanya ?”
“Tepat. Bagaimana anda bisa tahu ?”
Inspektur tidak mengacuhkan pertanyaan wanita itu. Ia terus mengejar.
“Siapa yang biasanya memegang kunci pintu itu ?”
“Pak Yohanes sendiri yang memegang kunci itu .”
Inspektur berkata lambat-lambat.
“Kalau pernyataan saya salah, tolong anda benarkan. Kamar Pak Yohanes selalu dalam keadaan terkunci baik pada saat ia berada di dalamnya ataupun tidak. Tidak ada seorang pun yang pernah masuk ke dalam kamar itu tanpa seizinnya. Jadi seandainya tidak ada Pak Yohanes, tidak ada orang yang mampu masuk ke dalam kamar itu karena jalan masuk ke kamar itu hanya melalui pintu .”
“Hebat… Penalaran anda sungguh cermat, Inspektur. Pernyataan anda memang benar, tapi anda melupakan sesuatu. Pintu kamar itu mempunyai dua buah kunci. Yang satu selalu dibawa oleh Pak Yohanes dan yang lain saya pegang. Setiap hari saya selalu menggunakannya untuk membersihkan kamar kerja itu. Seperti yang saya katakan sebelumnya, Pak Yohanes sangat mempercayai saya .”
Inspektur Budi terkejut.
“Dimanakah anda biasanya menyimpan kunci kamar itu ?”
“Kunci itu selalu saya simpan di dalam lemari pakaian saya setelah saya menggunakannya. Tidak seorang pun yang tahu dimana tepatnya kunci itu saya simpan .”
“Seandainya ada seseorang yang berhasil mengambil kunci itu semalam, ia dengan mudah akan masuk ke dalam kamar kerja itu. Bukankah demikian ?”
Wanita itu menggelengkan kepalanya.
“Saya rasa tidak ada orang yang tertarik untuk masuk ke dalam kamar pembantu untuk mengambil kunci itu .”
“Mengapa tidak ?” sergah Inspektur Budi. “Apakah anda mempunyai kebiasaan tidak mengunci pintu kamar anda ?”
“Kamar saya selalu dapat dibuka oleh siapa pun. Bahkan Maria, Patty dan lainnya sering juga datang ke kamar saya untuk mendengarkan cerita-cerita saya .”
“Dan kunci itu ? Apakah kunci itu masih ada di kamar anda ?”
“Tentu saja. Tadi pagi saya baru akan menggunakannya untuk membersihkan kamar itu sebagaimana yang saya lakukan tiap pagi, ketika tiba-tiba saya mendengar berita buruk itu .”
“Tapi ada kemungkinan seseorang telah meminjam kunci itu untuk melaksanakan keinginannya .”
“Entahlah…” Wanita itu menyerah.
Inspektur bergumam,
“Seandainya memang ada seseorang yang ada di dalam kamar itu. Apa yang dilakukannya ? Pasti orang itu akan menukar obat di dalam botol itu sehingga Pak Yohanes segera minum sebelum kemudian ia baru sadar apa yang sudah diminumnya .”
Rupanya wanita itu mendengar gumaman Inspektur.
“Pak Yohanes orang yang sangat teliti. Saya tidak yakin ia dapat bertindak ceroboh seperti itu .”
“Kadang kala seseorang dapat menjadi sangat ceroboh. Bahkan orang yang paling cermat sekalipun. Dan saya rasa itulah yang terjadi pada Pak Yohanes ,” kata Inspektur Budi.
Kata Inspektur selanjutnya,
“Apakah Pak Yohanes mengidap suatu penyakit ?”
Wanita itu berkata cepat-cepat,
“Tidak. Tentu tidak. Mengapa anda berpikiran semacam itu, Inspektur ?”
“Ini hanya dugaan saya. Tapi Pak Hartono mengatakan kalau Pak Yohanes mengeluh sakit kepala sebelum kemudian ia masuk ke dalam kamar kerjanya. Begitulah …”
“Benar-benar aneh. Sepertinya pada pesta semalam, semua orang merasa sakit kepala .”
Inspektur berpendapat untuk tidak menceritakan hasil tes pemeriksaan terhadap tubuh Pak Yohanes kepada wanita itu.
“Baiklah ,” kata Inspektur. “Saya rasa tidak ada yang dapat kita bicarakan lagi sekarang. Tapi saya mohon jika anda teringat sesuatu hal yang belum anda ceritakan kepada saya atau anda memiliki pandangan lain terhadap kasus ini, anda dapat menghubungi saya secepatnya .”
Inspektur menyerahkan kartu namanya kepada wanita itu.
“Bi… Bibi .” Terdengar suara seseorang.
Saat berikutnya, Viola muncul di ambang pintu. Ia kaget melihat Inspektur berdiri disitu.
“Lho… anda belum pulang, Inspektur ?” tegurnya.
“Saya baru akan pulang ,” jawab Inspektur kalem.
Viola beralih kepada Bibi Lusi.
“Bi.. Sekarang sudah waktunya makan malam. Tolong Bibi siapkan. Susi dan Erni akan membantu Bibi .”
Setelah itu Viola kembali masuk ke dalam rumah. Ia sempat menundukkan kepalanya kepada Inspektur Budi.
“Wah.. maafkan saya. Saya harus buru-buru. Sampai jumpa, Inspektur .”
Wanita itu bergegas mengikuti Viola. Inspektur Budi masih belum beranjak dari tempatnya berdiri. Ia tampak berpikir keras. Perlahan-lahan ia mulai melangkah.
“Ini betul-betul kasus yang membingungkan ,” pikirnya.
Ia melirik arlojinya.
“Hmmm… tepat waktu makan .”
Inspektur meraih sepeda motornya yang diparkir di halaman depan rumah itu. Tidak lebih dari lima detik kemudian, ia segera menghilang bersama sepeda motornya di kelokan jalan. Selama di perjalanan, pikirannya terus berkisar antara kejadian-kejadian yang menimpa keluarga Pak Yohanes. Mungkinkah ada orang yang bertanggung jawab atas kematian laki-laki itu ? Lagi-lagi ia masih merasa bimbang. Ia kembali dihadapkan pada sebuah pertanyaan yang sulit untuk menemukan jawabannya. Pembunuhan atau bunuh diri ???

Oleh: Wahyu Kurniawan, 1998