Apakah yang disebut berkat Tuhan itu? Atau bahkan lebih dalam lagi apa yang disebut berkat Tuhan dalam hidup kita itu? Sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, marilah kita lihat terlebih dahulu kisah berikut ini.

Pernah terjadi sebuah keluarga yang anak-anaknya sudah percaya Tuhan, tetapi orangtuanya belum di dalam Tuhan, mengalami sebuah peristiwa dimana sang ayah mengalami sakit gawat dan sudah divonis tidak akan bertahan hidup lebih lama lagi oleh dokter yang merawatnya. Pada saat itu sang ayah berjanji akan percaya Tuhan bila sembuh dari penyakitnya ini. Ternyata Tuhan bermurah hati memberikan kesembuhan secara ajaib pada sang ayah. Sebuah mujizat telah terjadi dalam keluarga ini.

Apa yang terjadi selanjutnya? Logikanya sang ayah jadi percaya Tuhan sepulang dari rumah sakit. Tapi kenyataannya hidup ini seringkali banyak yang tidak cocok dengan logika. Sang ayah tetap tidak percaya Tuhan. Kenapa? Tidak ada yang tahu jawabannya.

Selanjutnya yang terjadi lebih mengherankan lagi. Beberapa lama kemudian, salah satu anaknya yang sudah di dalam Tuhan mengalami sakit yang juga dokter angkat tangan dalam menghadapinya. Saudara-saudaranya berdoa untuk anak ini, berharap kalau Tuhan melakukan mujizat menyembuhkan anak ini, dan sang ayah akan sadar dan menjadi percaya Tuhan. Tapi yang terjadi malah sebaliknya, anak ini malah tidak tertolong dan meninggal. Sang ibu sangat sedih dan peristiwa ini makin membuat dia yakin bahwa Tuhan tidak ada dan tidak berkuasa. Tapi aneh, sang Ayah justru menjadi percaya Tuhan lewat peristiwa ini. Sang ayah bersaksi bahwa kematian anaknya ini justru malah menyadarkan dia bahwa setiap saat kita bisa dipanggil Tuhan dan dia ingin dipanggil Tuhan dalam kondisi seperti anaknya ini. Sang ayah sangat terkesan dengan sikap anaknya yang menghadapi kematian dengan kondisi tenang dan yakin pasti bertemu Tuhan di Surga karena sudah menerima keselamatan.

Sang ibu masih tidak bergeming. Celakanya, sang Ayah tidak lama kemudian malah meninggal juga karena satu penyakit yang malah tidak terlalu berat dan bahkan sebelumnya dokter mengatakan bahwa dia masih punya harapan hidup.

Secara logika, tidak ada harapan lagi bagi sang Ibu untuk percaya Tuhan. Dan memang kelihatannya demikian. Selama masa perkabungan sang Ibu hanya mengurung diri di dalam kamar dan sama sekali tidak mau menemui orang. Banyak orang menduga bahwa sang Ibu ini bisa menjadi gila kalau tidak ada orang yang menolongnya.

Tapi, inilah mujizat Tuhan. Cara Tuhan bekerja seringkali tidak sesuai dengan pemikiran kita. Beberapa hari setelah penguburan sang ayah, hari itu seperti hari-hari sebelumnya masing mengurung diri di kamar, ada seorang tukang becak yang datang bertamu ke rumah itu. Sang Ibu yang masih linglung menerima tamu yang notabene adalah tukang becak yang sama sekali belum dikenalnya. Tukang becak ini sama sekali tidak mempunyai penampilan yang berbeda dengan tukang becak lainnya. Penampilannya yang sederhana, pakaian yang lusuh, bau keringat dan semua tipikal penampilan tukang becak pada umumnya. Namun setelah sang Ibu bertemu dengan tukang becak ini, wajahnya berubah jadi berseri-seri, dia tidak lagi mengurung diri di kamar dan sang Ibu ini secara ajaib mau menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat pribadinya.

Apa yang sebenarnya terjadi disini? Ternyata tukang becak itu bukanlah sembarang tukang becak. Dia adalah seorang Hamba Tuhan yg miskin, yang untuk mencukupkan kebutuhan hidupnya sehari-hari ia menjadi tukang becak. Rupanya sejak sang Ayah percaya Tuhan, secara diam-diam dia mendukung pelayanan beberapa Hamba Tuhan yang miskin termasuk Hamba Tuhan yang menjadi tukang becak ini. Tukang becak ini hanya mengatakan kalimat yang singkat pada sang Ibu., bahwa hidup sang Ayah di dunia ini tidak sia-sia karena melalui para Hamba Tuhan yang didukungnya, sang Ayah sudah menjadi berkat dan memenangkan banyak jiwa untuk kemuliaan Tuhan. Rupanya sang Ibu menjadi sadar bahwa yang paling penting dalam hidup ini adalah mempunyai arti, bukan hanya hidup yang sekadar ‘numpang lewat’ di dunia ini. Sepulangnya sang tukang becak ini, sang Ibu masuk ke dalam kamarnya dan melihat sebuah Alkitab yang sudah sangat berdebu karena memang sang Ibu ini belum pernah membaca Alkitab ini. Kuasa Tuhan mengerakkannya untuk membuka Alkitab itu dan membacanya. Sang Ibu bertobat dan percaya Tuhan melalui pimpinan Roh Kudus.

Jadi kesimpulannya, apapun yang terjadi di dalam hidup kita, baik itu hal yang kelihatannya menyenangkan ataupun tidak menyenangkan, yang penting bukanlah peristiwanya ataupun bagaimana Tuhan bertindak dalam peristiwa itu, bahkan bukan juga mujizat apa yang Tuhan lakukan untuk memberkati kita atau menolong kita dalam menyelesaikan sebuah masalah kita, tapi yang terpenting adalah bagaimana respon kita pada peristiwa yang dialami itu dan sikap kita pada Tuhan saat menjalani peristiwa itu dan setelah peristiwa itu berlalu.

Semua peristiwa yang terjadi didalam hidup kita (baik yang terasa menyenangkan oleh kita, ataupun yang terasa kurang atau bahkan tidak menyenangkan) hanya bermanfaat bila peristiwa itu dapat mengubah atau menolong kita untuk lebih dekat dengan Tuhan dan lebih mengenal Tuhan.

Mujizat yang terbesar bukanlah kesembuhan atau bahkan orang yang mati dibangkitkan, tetapi mujizat terbesar dalam hidup seorang anak Tuhan adalah pada saat dia bisa merespons dengan benar, mengerti dan bersyukur pada Tuhan atas semua hal yang Tuhan ijinkan terjadi dalam hidupnya baik itu yang menyenangkan ataupun yang paling tidak menyenangkan sekalipun. Mengapa? Karena tidak mudah seseorang bisa mengerti makna terdalam dari semua pengalaman hidupnya. Hanya anugerah Tuhan yang memampukan semua anak Tuhan untuk mengerti semua itu. Dan untuk mendapatkan semua pengertian itu, dibutuhkan penyerahan dan kepasrahan yang sungguh-sungguh dalam semua aspek kehidupan. Itulah sebuah mujizat yang yang dapat dialami oleh semua orang yang menginginkannya.

Mujizat tidak selalu berarti kesembuhan, tapi mungkin justru berarti sebuah kematian. Mujizat tidak selalu berarti keberhasilan secara materi, tapi mungkin justru berarti sebuah kerugian secara materi. Masa depan yang cerah hanya dapat kita peroleh bila kita sudah bisa merespons secara tepat terhadap setiap peristiwa yang Tuhan ijinkan terjadi dalam hidup kita, karena dengan demikian kita akan merasakan keindahan sejati dari setiap peristiwa yang terjadi dalam hidup kita.