Dalam suatu seminar bagi para guru sekolah dan guru sekolah minggu, seorang pembicara melontarkan pertanyaan berikut ini kepada para peserta.

“Adakah yang masih mengingat guru sekolah / guru sekolah minggu semasa kecil dulu? Ingatan seperti apakah yang ada di benak saudara tentang guru tersebut?”

Hanya separuh peserta atau kurang dari separuh yang mengacungkan tangannya. Ada yang diingat karena kekonyolannya, penampilannya yang menarik, baik hati, dan bagus cara mengajarnya. Ada pula yang diingat karena sikap dan perilakunya yang negatif seperti suka marah, judes, killer, dsb.

Dari jawaban para peserta seminar tersebut yang menarik perhatian adalah HANYA guru yang BERKESAN di hati para peserta yang sangat diingat jelas.

Bila kita adalah guru yang mampu MENGESANKAN hati murid-murid, maka kehadiran kita yang singkat dalam hidup mereka sebagai seorang guru akan terbawa terus sepanjang hidup mereka. Masalahnya adalah : “Kesan seperti apakah yang sudah atau akan kita tinggalkan dalam diri murid-murid kita?”

Mari kita lihat pengalaman dua guru berikut ini.

Ms. Philips vs Ms. Alexa
Bagi seorang guru (barangkali) tidak ada yang lebih menjengkelkan daripada harus mengatasi murid yang nakal dan bandel di kelas. Begitu juga yang dirasakan oleh Ms Philips pada waktu itu. Dia benar-benar capek dan habis akal menghadapi muridnya yang ‘spesial’ bernama Peter Daniels. Hingga suatu kali saat kesabarannya sudah habis, Ms Philips mengucapkan sebuah kalimat yang sedemikian berkesannya hingga kemudian diingat oleh si murid yang nakal dan bandel itu. Kalimat itu adalah :”Peter Daniels, kamu anak nakal yang tidak akan pernah menjadi apa-apa”.

Bila anda adalah orang yang dibentak seperti itu, kira-kira apa yang anda rasakan?

Singkat cerita Peter Daniels tumbuh menjadi seorang remaja, pemuda dan akhirnya seorang dewasa yang.. tunggu dulu… Benarkah dia “tidak akan pernah menjadi apa-apa” seperti yang dikatakan oleh Ms Philips?

Peter Daniels tidak hanya menjadi seorang dewasa yang sukses dalam bisnisnya, melainkan juga seorang yang sangat berprestasi dalam hal membantu orang lain untuk mengembangkan dunia wira usaha. Kata-kata yang menyakitkan dr Ms Philips bahwa dirinya adalah “anak nakal yang tidak akan pernah menjadi apa-apa” masih membekas dalam dirinya. Ia kemudian menyempatkan diri menulis buku bagi gurunya tersebut. Buku itu diberinya judul: “Ms Philips You were Wrong!”

Saya percaya setiap guru menginginkan yang terbaik bagi murid-muridnya. Namun kadangkala di tengah segala permasalahan yang ada, emosi menguasai kita dan keluarlah kata-kata / sikap atau tindakan yang tidak tepat. Mungkin tujuan si guru marah-marah adalah agar si anak nakal memperbaiki tindakannya, tetapi mari kita belajar dari pengalaman Peter Daniels bersama Ms Philips.

Anak-anak, terlebih anak yang nakal adalah titipan Tuhan untuk kita bina dan didik. Justru karena anak-anak itu nakal dan kurang pandai lah maka TUHAN menempatkan Anda sebagai guru yang akan membimbing mereka di jalan yang benar bukan?

Bukan berarti bahwa sebagai guru kita harus tampil manis demi “menyenangkan” anak-anak, melainkan.. berhati-hatilah dengan segala sikap, ucapan dan tindakan kita. “Jagalah hatimu dari segala kewaspadaan, karena dari sana lah terpancar kehidupan (Amsal 4.23)” Segala sikap kita, kata-kata kita maupun tindakan kita merupakan ekspresi dari apa yang ada di dalam hati kita.

Kalau Peter Daniels punya kesan yang buruk dengan gurunya, Robert J. Sternberg lain lagi ceritanya. (Robert ini benar-benar seperti Robert, do you know Robert? I think he still study there). Robert gagal menghadapi tes IQ sewaktu ia masih di kelas 1 SD. Nilainya rata-rata. Guru-gurunya memperlakukan dia sebagai anak yang rata-rata. Nilai Robert pun mencerminkan bahwa dia adalah anak yang ‘rata-rata’ saja. Hingga suatu hari dia mendapatkan seorang guru baru yang namanya Ms Ellen, eh.. Ms Alexa. Guru baru ini sama sekali tidak mau tahu dengan yang namanya hasil tes IQ. Ms. Alexa berkata kepada Robert. “Robert, kamu anak yang pandai, kamu pasti bisa.” Aneh bin ajaib, sejak itu nilai Robert meroket hingga mencapai nilai A dan prestasi akademiknya meningkat hingga ia dewasa.

Saat ini Robert J Sternberg adalah direktur dari PACE (Psychology of Abilities, Competencies and Expertise) di Tuft University, profesor di bidang psikologi, dan mendapat gelar kehormatan dari Heidelberg University. Salah satu bukunya yang terkenal, berjudul “The Successful Intelligence” didedikasikannya kepada guru tercinta, Ms Alexa. “To Mrs. Alexa, my fourth grade teacher at Tuscan Elementary School in Mapplewood, New Jersey. Thank you for turning my life around”. Semua prestasi Robert J Sternberg diawali dengan kehadiran seorang guru SD yang mampu meninggalkan KESAN yang luar biasa mendalam dan yang mampu mengubah serta melejitkan dirinya mencapai prestasi yang gemilang.

Ms Philips dan Ms Alexa sama-sama meninggalkan kesan yang mendalam dalam diri murid-muridnya. Namun KESAN seperti APA yang mereka tinggalkan sungguh berbeda bagaikan langit dan bumi.

Nah sebagai seorang GURU, KESAN apa yang ingin Anda tinggalkan bagi murid-murid Anda?

Banyak orang beranggapan bahwa seseorang akan menjadi guru yang hebat kalau…
dia memiliki karisma…
dia mampu memukau perhatian murid-muridnya…
dia pandai bercerita…
dia pandai mengajar…
dan berbagai hal yang tampak hebat lainnya…

Ketrampilan mengajar itu memang penting. Memiliki banyak keahlian dan kepandaian memang bagus, tetapi yang membuat seorang guru menjadi guru yang hebat, yang mampu meninggalkan kesan yang luar biasa dalam diri murid-muridnya, bukanlah segala kepandaian dan penampilan lahiriahnya, melainkan bila guru tersebut memiliki HATI seperti GURU AGUNG kita, Tuhan Yesus.

Inilah panggilan yang sesungguhnya dalam menjalankan tugas sebagai seorang guru, yaitu mengajak anak-anak untuk juga menjadi pengikut Kristus. Uniknya tugas ini tidak membutuhkan seorang guru yang berkharisma, yang pandai mengajar, yang pandai memikat hati anak dan segala macam kepandaian lainnya.

Tugas ini hanya membutuhkan seorang guru yang sepanjang hidupnya telah menunjukkan bahwa dia telah mengikut Kristus…

Diceritakan kembali oleh Ellen,
dari sebuah buku yang sedang dibacanya,
sambil chatting dengan seorang teman yg kebetulan adalah guru,
are you guru, buddy?

“Membangun Anak untuk Membangun Bangsa”