Cerita ini saya adaptasi dari cerita2 Abunawas yang pernah dimuat di majalah Bobo pada saat saya masih kecil dulu, sekitar tahun 1980an. Saya lupa edisinya dan majalahnya juga sudah hilang.

***

Alkisah, di sebuah kerajaan yang diperintah oleh Raja yang arif dan bijaksana. Rakyat hidup aman, tentram dan sejahtera. Raja mempunyai penasihat yang bernama Abunawas dan menteri-menteri yang membantunya untuk menjalankan roda pemerintahan.

Semua berjalan dengan lancar sampai tersiar kabar ada beberapa menteri yang mulai bertindak semena-mena terhadap rakyat. Beberapa kali Raja berusaha untuk menyelidiki menteri-menterinya, namun selalu gagal. Menteri-menteri tersebut sangat licin dan Raja tidak berhasil mengetahui siapa diantara menteri-menterinya yang berbuat kejam terhadap rakyat. Masalah ini membuat Raja menjadi gundah. Bagaimana caranya mengetahui menteri-menteri yang tidak jujur ini?

Saat itu datanglah Abunawas kepada Raja. Sebagai penasihat, Abunawas mengenal kebiasaan Raja dan dia sudah mengetahui masalah yang membuat Raja gelisah. Karena itu dia menghampiri Raja, mengeluarkan selembar sorban yang sudah usang dan membisikkan beberapa kalimat ke telinga Raja.

Lewat tengah hari saat Raja mengundang seluruh menterinya ke aula istana untuk sebuah pertemuan. Kelima menterinya datang dengan bertanya-tanya ada apa gerangan mereka diundang ke aula istana.

Setelah semuanya lengkap, Raja mengajak mereka semua untuk santap siang bersama. Setelah acara makan, Raja berkata: “Menteri-menteriku, aku mengundangmu semua ke sini untuk menghadiri jamuan makan, karena penasihatku baru saja pulang dari negeri yang jauh dengan membawa benda ajaib.”

Kemudian Raja mengeluarkan selembar sorban usang dan ditunjukkannya kepada menteri-menterinya.

“Sorban ini dapat menilai orang yang memegangnya. Jika orang tersebut jujur, sorban ini akan mengeluarkan aroma yang harum dan dalam penglihatannya, dia akan melihat hal yang indah-indah bagaikan melihat Sorga. Sebaliknya, apabila orang itu tidak jujur, dia akan mencium bau busuk.”

Raja kemudian menunjuk satu ruangan dan berkata kepada menteri-menterinya, “Sekarang kalian akan masuk ke ruangan itu sambil membawa sorban ini, lalu aku ingin kalian ceritakan pengalaman kalian saat memegang sorban ini.”

Demikianlah, satu persatu menteri-menteri itu masuk ke ruangan yang ditunjuk Raja sambil membawa sorban sakti itu.

Beberapa saat kemudian, kelima menteri tersebut telah masuk ke ruangan sambil membawa sorban tersebut.

Datanglah menteri pertama di hadapan Raja dan mulai berkisah,”Baginda yang hamba muliakan, sorban itu benar-benar sakti. Hamba bisa mencium bau wewangian yang begitu semerbak. Dan dalam penglihatan hamba, hamba dapat melihat pekarangan luas yang hijau subur yang menyegarkan mata. Hamba dapat merasakan suasana yang nyaman dan menyejukkan. Luar biasa .” Baginda Raja pun mengangguk-angguk, kemudian mempersilakan menteri berikutnya untuk menceritakan pengalamannya.

“Baginda, pengalaman hamba hampir sama dengan teman hamba. Selain mencium bau yang wangi, hamba melihat burung-burung berkicau, rerumputan hijau dan air terjun. Bunga-bunga yang indah bermekaran dimana2. Ingin rasanya hamba memetiknya, namun hamba takut Paduka tidak berkenan.”

Menteri selanjutnya bercerita,”Selain bau wangi, hamba juga melihat bidadari menari2, Paduka. Hamba merasa berada di Sorga. Hamba bahkan sempat ikut menari bersama mereka.”

Lalu datanglah menteri yang agak tua. Dengan terbata2 dia berkata,”Ampun Baginda Raja. Seberapa pun hamba berusaha, namun hamba tetap tidak dapat melihat keistimewaan sorban ini. Hamba tidak melihat apa2, dan hamba mencium bau yang kurang sedap karena sorban ini sudah usang.” Tiga menteri yang sudah menceritakan pengalamannya tampak tersenyum2.

Menteri yang terakhir juga maju dengan bimbang. Katanya,”Ampun Yang Mulia. Nasib hamba tidak jauh berbeda dengan teman hamba. Hamba tidak dapat melihat apa2, selain bau yang kurang sedap dari sorban ini.”

Setelah itu, Baginda Raja mengumpulkan mereka semua dan berkata,”Menteri2ku, aku sudah mendengar semua kisah kalian pada saat memegang sorban ini. Sebenarnya sorban ini hanyalah sorban biasa. Tidak ada kesaktian, karena sorban ini adalah milik Abunawas yang sudah lama tidak terpakai. Karena itu, alangkah kurang ajarnya menteri2ku yang berani mengarang cerita tentang wewangian dan Sorga.”

Raja lalu menatap tajam ketiga menteri yang pertama, sementara wajah mereka menjadi pucat dan tubuh mereka gemetar.

“Pengawal!!! Tangkap ketiga orang ini dan jebloskan ke penjara,” titah Raja. “Dan untuk menteri2ku yang setia, akan kusediakan imbalan yang pantas untuk kesetiaan kalian.”

Pesan: Kejujuran mengalahkan keculasan.

Diadaptasi dari majalah Bobo.